Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 47. Berat Berpisah


__ADS_3

Aditia menyentil dahi Alina usai acara resepsi diselenggarakan. Bukan tanpa alasan. Mengingat sebelumnya, Alina mengerjainya masalah sandal sepatu doraemon.


"Sakit, kak. kenapa, sih, suka sekali sentil dahi aku," protes Alina mengusap dahinya.


"Itu hukuman untukmu."


Mengingat kata hukuman, Aditia terdiam dengan janjinya pada Raka.


"Ya, Maaf. Lagi iseng, kak," cakap Alina melihat Inayah di gandeng oleh Ibu Hanum.


"Kak Inayah?" panggil Alina meninggalkan Aditia yang sedang melamun.


Inayah melihat Aditia sedang memikirkan sesuatu dan Inayah pikir mungkin Aditia dalam kelelahan. Aditia menoleh dan menampakkan senyum terbaiknya untuk Inayah.


"Adit, Kita ke rumah ibu mertuamu dulu mereka sudah menunggu di luar."


Inayah dan Aditia pada akhirnya meninggalkan gedung tersebut menuju rumah Inayah. Terlihat ramai di rumah Inayah menunggu kedatangan mereka.


Usai acara adat dari keluarga Inayah, Inayah pun meminta sebentar saja untuk bermanja pada sang Ibu. Lalu, berbalik bermanja pada Ummi Humairah, Sementara Raka dan Aditia entah apa yang mereka bicarakan berdua di sebuah ruangan.


lepas dari itu, Inayah pamit. Ibu Fatimah tidak sanggup putrinya di bawah pergi dan Ummi Humaira meminta Ibu Fatimah untuk melepaskan putri tercinta. Dan Sifa ikut bersedih dengan perpisahan itu.


Inayah kembali berbalik melihat Ibu Fatimah. Inayah hanya menatap dari jarak jauh raut wajah Ibu paruh baya tersebut dan pada akhirnya Inayah pun masuk di dalam mobil begitu pun dengan Aditia di mana Teo sebagai supir mereka.


'Maafkan kakak Inayah. Hukum akan tetap berjalan untuk suamimu.' batin Raka. yang kemudian menoleh pada istrinya, Amira.


"Mas? Apa kamu yakin?" tanya Amira memperhatikan suaminya yang tampak sedih.


.


"Aku yakin, Aditia akan memenuhi janjinya. Dan aku yakin, Inayah akan mengerti." Raka mengecup kening sang istri.


"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Amira lagi.


"Sayang, Di dunia ini ada namanya hukum dunia dan hukum akhirat. Keputusan Aditia dan aku itu sudah yang seharusnya memang di lakukan olehnya. Aditia harus mempertanggung jawabkan pembuatannya." Raka merangkul bahu Amira dengan penuh kasih.


"Mana Habibi? Apa dia sudah tidur?" tanya Raka yang sedang merindukan putranya. Satu hari penuh tidak pernah di gendong olehnya karena kesibukan pernikahan adiknya, Inayah.


"Habibi tidur, mas," kata Amira.


"Ya sudah, ayo kita masuk! Aku sangat lelah hari ini," ajak Raka masuk dalam rumah dan melihat ibunya menatap foto keluarga mereka.


Sementara keluarga lainnya sebagian masih ada yang bermalam untuk membantu membersihkan rumah dan sebagainya sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing.


"Ibu, Aba sudah bahagia. Aku yakin, Inayah juga akan bahagia setelah ini."


"Tapi, nak. Apa Inayah bisa menerima keputusanmu dan Aditia?"


"Ibu juga harus pahami posisi aku dan Amira sekarang. Namun, siapa yang sangka dengan skenario Allah untuk Inayah akan seperti ini. Andai kemauan kita aku juga tidak pernah mau. Tapi, lihatlah, Inayah kembali bertemu dengan Aditia satu tahun setelahnya."


***

__ADS_1


Aditia sendiri dan Inayah kembali ke hotel untuk beberapa malam dan rencana akan membawa Inayah ke suatu tempat beberapa hari akan datang. Semua sudah masuk dalam agenda Aditia.


Usai berganti, Inayah dengan pelan berjalan menuju tempat tidur di mana Aditia terlihat serius dengan ponselnya.


"Bersandarlah di sini." Aditia memindahkan kepala inayah di bahunya. Lalu, tangan keduanya disematkan.


"Inayah, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan aku apa pun yang terjadi. Kamu pasti tahu semua tentang diriku. Aku tidak lain pria brengsek di masa lalu." Aditia menatap jari jemari mereka.


"Apa kamu tidak menyesal menikah denganku, Inayah?" tanya Aditia menyadarkan kepalanya di kepala Inayah, semetara kepala Inayah masih posisi yang sama bersandar di bahu Aditia.


"Malam ini akau akan terbuka padamu tentang perasaanku, Mas."


"Katakanlah, aku siap mendengarnya."


Inayah memposisikan dirinya berhadapan dengan Aditia. pertama kalinya Inayah memegang dada Aditia dan berkata,


"Hatimu dan hatiku sekarang sudah bersatu. Apa pun yang terjadi, kita akan bersama menghadapinya. Namun, satu hal yang kupinta, jangan pernah menghianati cinta aku, Mas. Aku tidak suka kepura-puraan, Mas, dan aku butuh kejujuran dalam membangun rumah tangga kita," Ungkap Inayah dengan penuh kesungguhan.


Aditia menangkap tangan Inayah lalu mengecupnya.


"Mas Adit, berjanjilah juga padaku, mas, selalu menjaga komitmen untuk bahtera dalam rumah tangga kita. Dan bila kamu marah jangan pernah menyingung penutup auratku. Aku juga sadar, Mas, bahwa aku juga memiliki banyak kekurangan. Dan bukankah suami istri itu saling melengkapi bila mereka bisa saling memahami?"


Aditia menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, Inayah." Aditia kembali mengungkapkan kata itu.


Cukup lama saling merasa, saling memaknai perasaan masing-masing, dan inayah pun kembali berkata,


"Aku... aku... juga... sama, Mas. Aku cinta Mas Adit." Inayah sangat malu mengakui perasannya.


"Mas Adit jangan mengujiku seperti itu." Nada manja itu mejadi candu untuk Aditia.


"Benar, Sayang. Aku tidak mendengarnya. Bahkan kata itu tidak terdengar."


"Sudah, ah! Aku mau tidur," Inayah terlihat kembali malu-malu saat Aditia kembali menatapnya begitu dekat. Deru napas keduanya sangat jelas.


Namun, sekilas hal tak terduga oleh Inayah menyambarnya. Mata Inayah membulat hingga jantungnya kemabli berpacu yang kesekian kalinya. Malam yang indah dalam peraduan. Bisikan angin malam mejadi saksi bisu.


Aditia melepaskan panutannya. Inayah berbalik membelakangi Aditia. Aditia kembali berujar,


"Maafkan jika...."


"Tidak, Mas! Jangan ucapkan kata itu." Inayah menutup bibir Aditia dengan jari telunjuknya.


Malam itu mereka hanya banyak bercanda. Aditia juga memahami posisi Inayah saat sekarang.


"Tidurlah, Beristirahatlah disini." Aditia menepuk bantal itu agar Inayah mendekat degannya.


Inayah mengangguk.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?" tanya Inayah yang mendengar deru napas Aditia terdengar gelisah.


"Aku memikirkan wanita dalam pelukanku yang sekarang. Wanita yang sudah menjadi istriku semenjak tadi siang."

__ADS_1


Inayah kembali tersenyum, dan Aditia semakin mengeratkan pelukannya.


"Tutuplah matamu. Kamu pasti sangat kelelahan menyabut tamu dalam resepsi kita. Malam ini aku bebaskan."


Inayah terdiam. Bukan Inayah diam memikirkan takut akan hal itu. Namun, Apa tanggapan Aditia jika mengetahui sesuatu tetang dirinya yang sebenarnya.


Hingga pada akhirnya Inayah pun menutup matanya begitupun Aditia. Malam itu mereka benar-benar pulas dalam tidur masing-masing.


***


Subuh tiba, Aditia meraba tempat tidurnya dan tidak menemukan Inayah. Begitu pintu kamar mandi terbuka, terlihatlah sosok wanita yang dicari olehnya sudah lengkap dengan pakaiannya.


"Kenapa keramas? Bukankah kita tidak... sesuatu?" Aditia beranjak dari tempat tidur dan menangkap pinggang ramping itu.


'Apa jadinya tadi jika aku keluar hanya memakai baju kimono?' batin Inayah melihat pantulan mereka lewat cermin.


"Jangan mulai lagi, Mas Adit."


Semua wanita tentu bahagia bila pasangan kekasih halalnya memanjakannya. Namun, Cara para suami berbeda memanjakan sang istri.


Sebelumnya, Inayah lupa membawa baju ganti masuk kamar mandi, Sementara dirinya sudah berganti. Untungnya Aditia masih pulas dan pelan-pelan Inayah keluar mengambil baju ganti.


"Jangan terus menggodaku, Tatapan matamu itu membuat aku tidak percaya diri. cepatlah, Subuh sudah tiba."


"Cepat apa?" goda Aditia lagi.


"Shalat, Mas Adit."


"Aku sangat beruntung menjadi suamimu, Inayah?"


"Maksudnya Mas Adit?"


"Karena aku mendapatkan seorang istri yang tidak perlu lagi aku memintanya menutup auratnya juga shalatnya. Bukankah hal itu juga merupakan tangung jawab suami? Tidak akan di azab sang suami jika istrinya tidak pandai memasak, bersih-bersih ataupun tidak pandai menghias diri. Namun, Seorang suami akan di azab jika istrinya tidak menutup auratnya." Aditia kemabli memeluk istrinya.


Terlihat keduanya begitu romantis di depan cermin. Andai cermin punya mata mungkin cermin itu akan menutup mata.


"Dan sesuai yang pernah aku katakan padamu, Inayah. Bahwa aku akan memantaskan diriku menjadi suamimu. Walau ternyata, Aku...."


"Jangan diteruskan, Mas. Sebelumnya aku sudah katakan. Kita akan berjalan bersama. Kau dan aku."


Aditia terlihat begitu bahagia. Menurutnya, Tuhannya terlalu baik untuknya telah memberikan jodoh terbaik untuk dirinya. Setiap dalam rumah tangga pasti ada ujiannya.


"Kalau begitu biarkan aku yang mejadi iman dalam shalatmu." Aditia pun melepaskan Inayah dan bersiap untuk shalat berjamaah.


Inayah menatap punggung itu hingga tidak terlihat olehnya.


Tersirat senyum di wajahnya penuh syukur. Hingga terucap bait-bait doa.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak di bawah kolom komentar untuk Author. Buka di dalam buku ini masih banyak kekurangan. Sadar akan penulis bahwa, masih dalam tahap latihan. Masalah hukum dalam perbuatan, Author juga masih belajar.

__ADS_1


__ADS_2