Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 55. Penjelasan Amira


__ADS_3

"Mas, aku... aku ingin minta maaf." Raka melihat Amira.


"Baiknya kita pulang. ini sudah hampir masuk magrib. Besok kita akan kembali kekota. Aku harus kembali secepatnya megingat Ujian semester semakin dekat." Raka tersenyum dan mengusap kepala istrinya.


Amira benar-benar merasa bersalah. "Mas, Apa kau tidak ingin mendengarku?"


"Sayang, baiknya kita tenangkan dulu pikiran kita masing-masing. Aku tidak ingin membahasnya sekarang." Raka meminta Amira untuk tidak dulu membahas masalah mereka.


Tiba di villa, Raka dan Amira mendengar Ibu Hanum sibuk di dapur. Amira menuju dapur dan melihat Bibi Sumi dan Ibu Hanum sibuk di sana. Entah di mana Tuan Subari. Amira belum berani bertatapan langsung dengan Tuan Subari.


"Nona Amira...." Bibi Sumi melihat Amira masih sama seperti dulu.


Ibu Hanum menoleh dan melihat Amira. "Nyonya sedang masak apa?"


"Aku sedang memasak sup ayam untuk Inayah. Mungkin dengan ini dia mau makan. Selama dirumah sakit, Inayah sama sekali jarang makan. Hanya makan buah." Ibu Hanum terlihat bersemangat di dapur.


Merasa tidak enak, Amira meninggalkan dapur dan bertemu dengan Tuan Subari. "Tuan?" panggil Amira yang terlihat masih takut. Melihat mata elang itu, mengingatkan Amira hari bersejarah yang sulit untuk Amira lupakan.


Amira langsung masuk kamarnya dan kembali teringat dengan permintaan Aditia. Sementara Inayah, kini terlihat sedikit membaik dibandingkan hari sebelumnya.


Inayah menyantap masakan Ibu mertua dengan lahap. Sebenarnya makanan itu tidak mampu ditelan olehnya. Namun, Inayah ingat ada sebuah kehidupan di dalam perutnya yang butuh nutrisi.


***


Pagi sekali Inayah memilih jalan-jalan di tepi pantai. Inayah cukup terkejut seseorang memberinya sebuah jaket. Ianayah menoleh.


"Amira?"


"Tidak baik Ibu hamil jalan sendiri dan tidak memakai jaket. Takutnya kamu akan masuk angin," kata Amira mengikuti langkah Inayah.


Inayah berhenti dan menoleh ke arah Amira. "Terimakasih."


"Sama-sama," jawab Amira.


"Apa kau masih punya perasaan sama Mas Adit?" tanya Inayah secara tiba-tiba.


Amira tidak percaya dengan pertanyaan Inayah.


"Mengapa diam, kak?" tanya Inayah. "Aku tahu. Tidaklah mungkin mudah bagimu melupakan masa indah kalian saat bersama."

__ADS_1


"Itu tidak benar, Inayah. Aku dan Aditia dulu memang hampir menikah," ujar Amira. "Sudahlah Inayah, itu masa lalu." Amira kembali diam.


"Kemarin kakak Amira dan Kak Raka dari menemuinya, kan?" tanya Inayah lagi.


"Kamu tahu?"


"Kak Raka yang mengatakan padaku." Inayah dan Amira kembali melanjutkan langkahnya menyusuri bibir pantai pagi hari.


Sebagai ibu hamil, Inayah suka melihat pantai lebih dekat dan tertiup angin. Hingga hijab yang dikenakan melambai-lambai.


"Kenapa, kak? Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Inayah yang terlihat Amira sukar untuk bersuara.


"Tidak.aku hanya ingin mengatakan, jika hari ini kami akan kembali ke kota. Jaga dirimu baik-baik."


"Tenaga saja. Aku akan baik-baik disini. Aku akan menunggu suamiku. Aku percaya dengannya."


Kalimat itu seakan ditujukkan untuk dirinya. Amira terdiam. Lalu, kembali menyusul Inayah yang tengah mengambil batu karang.


Inayah menatap batu karang itu dan mengingatkan dirinya pada perkataan Aditia yang mengatakan 'Bersifatlah seprti baru karang yang tidak mampu dirobohkan oleh obak walau ombak itu berkali-kali menerjangnya.'


"Kak Amira, lihatlah batu karang ini. batu karang ini sebuah contoh untuk tidak mudah goyah. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku walau badai datang menghalau. Apa pun yang terjadi. Mas Aditia adalah suamiku. Semua suami tentu punya kekurangan dan kelebihannya." Inayah berjalan menyusuri tepi pantai degan Amira masih di sampingnya.


Amira tersenyum. Bagaikan pukulan untuknya. Mengapa dirinya kurang bersyukur sudah memiliki Raka yang mungkin wanita lain ingin memiliki pria seperti Raka, rajin ibadahnya, membantunya dalam merawat anaknya, memberinya Nafkah. walau sejujurnya Raka mungkin bukan tipe seromantis Aditia.


"Aditia sumiku, mungkin tidak seprti suamimu," kata Inayah lagi.


"Jika membandingkan pria atau suami satu dan lainnya sebenarnya tidak akan pernah sama. Begitu juga dengan wanita atau istri. Satu hal yang aku tanamkan diriku adalah bahwa, aku bersyukur atas kelebihan suamiku dan aku cukup harus bersabar menerima kekurangan suamiku," lanjut Inayah


"Aku ingat kata Almarhum Aba bahwa tidaklah mudah peran sebagai istri. Siapa yang tidak ingin masuk surga Allah. Semua wanita bercita-cita. Intinya Sabar dalam menerima kekurangan pasangannya masing-masing." Ianyah meneteskan air mata.


Begitu juga degan Amira. Amira langsung memeluk Inayah. "Maafkan aku Inayah. Aku sadar diri. Aku masih minim."


"Aku juga sama, Kak. Aku juga wanita yang masih butuh bimbingan. Aku hanya berkata apa yang ada dalam pikiranku."


Amira melepaskan pelukannya. Lalu, menatap Inayah.


"Inayah, Sebenarnya hari itu... Adit tidak pernah...."


"Cukup, kak. Jangan diteruskan bila itu menyakitimu. Aku sudah tahu. Aku mengerti perasaanmu. Sejak dulu aku katakan, aku sangat mengerti kondisimu."

__ADS_1


"Maafkan kakak Inayah. Jangan kau menganggap aku sebagai kakak iparmu, Tapi, anggaplah aku juga seperti saudari perempuanmu. Walau kita tidak sedarah." Amira meneteskan air mata mengatakan hal itu. sudah lama dirinya ingin mengatakan pada Inayah.


Inyah ikut berlinag air mata mendengar kalimat Amira. Kedua wanita berhijab syar'i itu kembali saling mengasihi. Amira menjelaskan semua tentang awal pertemuannya dengan Aditia hingga bertemu dengan Raka.


Dari jarak jauh Raka sedari tadi melihat dua wanita tersebut. Raka tersenyum melihat keduanya saling bergandengan tangan.


"Aku mengerti Amira. Sejak dulu Aku mehamimu," lirih Raka yang di dengar oleh Ummi Humairah di belang Raka.


"Aku bangga padamu, Nak. Harusnya sebagian suami memang harus seperti itu. Memiliki sifat bijaksana. Kamu adalah pemimpin dalam keluargamu. tetaplah mejadi suami yang bijak.


Raka tersenyum medengar Ibu tirinya berujar. Raka sangat bersyukur memiliki Ibu Fatimah dan Ummi Humairah sebagai Ibunya.


"Setiap kejadian ada hikmahnya, ya Ummi?" kata Raka pada Ummi Humairah.


"Iya. Bahagia atau sedih sebenarnya adalah Ujian. suka mau pun duka kita harusnya mensyukuri. Namun, ya... sebagai manusia biasa kita sudah tahu tetap saja melakukannya."


Raka mengangguk dan paham maksud Ummi Humairah. Melihat senyum Inayah dan Amira, Raka cukup bahagia.


"Semoga saja keluarga kita tetap seperti ini, Ummi. Aku ingin melihat semua wanitaku tersenyum?"


"Wanitamu?" tanya Ummi Humairah salah paham.


"Iya." jawab Raka.


"Raka, kau punya istri lagi?" tanya Ummi Humairah.


"Apa? Raka punya istri? Apa Amira tahu? Apa Amira menyetujui?" tanya Ibu Fatimah. dan Ibu Hanum di belakang ibu Fatimah membawa gorengan untuk di nikmati pagi hari.


"Siapa yang punya istri lagi, Ibu?tanya Amira dan Ianyah juga menatap tajam Raka.


"Mas, kamu meghianti aku?" tanya Amira melihat kearah Raka.


"Astaghfirullah. Kenapa salah paham. Maksud aku kalian ini wanitaku. Aku mencintai kalian."


"Kacuali istriku. Bukan wanitamu, Raka," sahut Tuan Subari merangkul pinggang istrinya yang tiba-tiba nongol dengan pakaian baju olahraga.


Ianyah tersnyum melihat keluarganya bahagia. Namun, ada yang kurang.


'Mas, Apa kau juga merindukan aku?'

__ADS_1


Ibu Hanum melepaskan diri dari suaminya dan merangkul Inayah. Hingga wajah mereka tersenyum.


__ADS_2