
Tersebar kabar meninggalnya pimpinan pondok Al Hikmah, Sontak Aditia menoleh ke arah Tuan Subari yang menerima telpon dari seseorang.
"Aba ayahnya Inayah, meninggal? Apa aku tidak salah dengar, Ayah?" tanya Aditia memastikan kabar barusan di dengar olehnya.
Tuan Subari terdiam. Sebelumnya, Ayah Aditia sempat menemui Aba Abdullah, satu hari setelah kepergian Aditia keluar negri dan meminta maaf mewakili Aditia mengenai masa lalu Aditia dan Amira, kakak ipar Inayah, Istri dari Raka.
"Ayah, apa yang terjadi? Mengapa wajah ayah terlihat sedih?"
"Ayah Inayah adalah orang yang sangat baik. Ayah minta maaf padamu. Satu hari ke pergianmu ke Amerika, ayah menemui beliau dan meminta maaf mewakili atas namamu."
"Lantas, Apa ayah meminta saat itu untuk membatalkan pernikahan Inayah?"
Tuan Subari geleng kepala. "Justru hari itu, aku menceritakan, jika saat itu kamu berniat untuk datang melamar Inayah. Dan jawaban beliau, 'kita terlambat'. Andai kau yang dahulu mendatangi Inayah saat itu, beliau akan mempertimbangkan."
"Jadi, maksud ayah, Aba Abdullah menerima maaf ayah?" tanya Aditia.
"Beliau hanya mengatakan bahwa, 'semua orang punya masa lalu yang kelam, Jika Allah bisa mengampuni dosa seorang pembunuh dan bertaubat, mengapa beliau tidak' itu yang di katakannya saat itu," imbuh Tuan Subari mengusap air matanya mengingat bagaimana Aba Abdullah memberikannya pencahayaan hingga pintu hati Tuan Subari terketuk untuk memperbaiki diri.
"Jadi, Ayah berguru pada beliau?"
Tuan Subari mengangguk lemah dan berkata, Ada banyak ilmu yang di berikan padaku."
***
Di pemakaman, terlihat begitu ramai. Ada begitu banyak yang datang melayak jingga Inayah tidak terlihat.
Aditia memakai kaca mata hitam. Ketika kaki berpijak, masa itu terkenang kembali oleh Aditia. Mengingat, bagaimana marahnya Raka dan bencinya orang itu padanya.
Aditia paham hal itu dan sangat mengerti atas kesalahannya di masa lalu. Aditia akui dirinya dulu bukanlah orang yang memikirkan akhirat. Dulu, Aditia semata hanya kesenangan di cari olehnya.
Dari jarak jauh, Aditia sempat melihat Inayah dan seorang pria di sampingnya. Namun, Aditia tidak bisa melihat wajah Inayah atau pun pria di samping Inayah.
Dari jarak jauh, Aditia hanya bisa melihat punggung Inayah dan sangat jelas Inayah terlihat tidak berdaya.
"Inayah, aku hanya bisa mendoakanmu untuk tetap tegar. pria di sampingmu mampu menguatkan. Kau wanita kuat, Inayah." batin Aditia. "Suamimu pasti orang yang bisa membahagiakanmu. Apalah aku ini, Inayah," batin Aditia lagi merasa kecil dan minimnya akan ilmu pengetahuan agama.
Usai pemakaman Aba Abdullah, Aditia dan ayahnya melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun netra Raka tidak luput melihat Aditia dan Tuan Subari. Raka sedari tadi melihat bagaimana Aditia melihat Inayah dari jarak jauh. Raka teringat dengan wasiat ayahnya.
***
Aditia meminta ayahnya untuk kembali dan dirinya pergi ke suatu tempat. Aditia duduk di tempat yang pernah didatangi Inayah.
"Inayah, entah kapan aku bisa melupakan namamu? Namun, aku berharap kau terus bahagia dengan pilihanmu. Mungkin memang baiknya aku melupakanmu." Aditia menatap bros milik Inayah. Aditia yakin, Inayah pernah datang sebelumnya di tempat tersebut.
Aditia menelpon Adam dan memberi kabar jika dirinya sudah tiba di indonesia dari kemarin. Aditia mengajak Adam untuk bertemu di kafe sebelumnya. Namun, Adam menolak karena ada kedukaan.
"Siapa yang meninggal?" tanya Aditia di balik telepon mereka.
"Ayah mertua," sahut Adam di ujung telepon yang memang masih menganggap Aba Abdullah adalah mertuanya.
__ADS_1
"lalu, istrimu bagaimana keadaannya? Pasti dia sangat terpukul," kata Aditia mengingat Inayah sangat terpukul dengan kepergian Abanya.
"Iya, maka dari itu, aku di sini." kata Adam yang seakan masih bersama Inayah. Adam tidak ingin saja sahabatnya tahu kondisi rumah tangganya.
"Aku paham dan sangat mengerti," ujar Aditia lagi di balik percakapan telepon mereka.
Usai menelpon Adam, Aditia memutuskan untuk kembali ke rumah beristirahat. Ibu Hanum yang melihat Aditia tidak beres segera bertanya?"
"Dari mana, Adit?"
"Kami dari melayat, Ibu. Aba Inayah meninggal." sahut Tuan Subari yang sudah berganti.
"Lalu, apa urusannya kalian?" tanya Ibu Hanum menatap suaminya dengan nada sedikit judes.
"Ibu, melayat orang meninggal sunnah dan pahala bagi kita. Tujuannya untuk keluarga orang meninggal, yaitu untuk meringankan kesedihannya, dan memudahkan urusan musibahnya," kata Tuan Subari.
Ibu Hanum menoleh ke arah Aditia dan berkata, "Lantas, apa kamu ketemu Inayah?" tanya Ibu Hanum terdengar judes pada Aditia.
"Ibu, kami tidak bertemu. Karena memang tujuan kami ke sana ituβ"
"Ok, baguslah. Harusnya emang begitu," ujar Ibu Hanum.
Aditia yang merasa lelah dengan ibunya segera pergi menuju kamarnya.
Namun, satu hal yang mencuri perhatian Aditia adalah sebuah kado yang pernah Aditia kirim untuk Adam berada di kamar ibunya.
"Aditia, kenapa kamu di kamar ibu?"
Aditia berbalik dengan benda di tangannya. Ibu Hanum terkejut.
"Katakan padaku ibu, mengapa barang ini tidak sampai ke pada Adam?"
Ibu Hanum tersenyum dan berkata, "Ibu lupa, Nak." dusta Ibu Hanum.
Sebelumnya Ibu Hanum sedang bongkar lemari dan tidak sengaja kado itu dia letakkan di atas kasur dan lupa memasukkan kembali pada tempatnya.
"Lupa?" ulang Aditia.
"Iya, sayang," elak Ibu Hanum.
Dulu aditia menitipkan kado pernikahan untuk Adam, sahabatnya sebelum pergi ke luar negri. Kado tersebut dia titipkan pada Alina adik Aditia.
Namun ternyata, ketika Ibu Hanum mengetahui saat itu siapa istri dari Adam, kado itu pun tidak diberikan oleh Adam. Ibu Hanum marah dalam dirinya atas keputusan Inayah telah menolak putranya.
"Ibu, katakan sejujurnya padaku, mengapa kado ini tidak ibu berikan pada Adam?"
"Adit, Ibu sudah katakan padamu ibu lupa," jawab Ibu Hanum diam setelahnya.
"Baiklah. Kado ini aku bawah. Kado ini akan aku berikan pada Adam bila aku bertemu dengannya." Aditia hendak keluar dari kamar ibunya.
__ADS_1
"Apa? Kamu akan berikan kado itu pada Adam? Sudah terlambat, Adit.
Aditia tidak mengerti dan menjawabnya. " Tidak ada kata terlambat, Ibu."
Aditia pun melenggang pergi dari kamar Ibunya. Ibu Hanum berfikir keras. Apa yang akan kamu katakan setelah mengetahui Faktanya, Adit?
di Kamarnya, Aditia meletakkan kado itu dan tersenyum. "Kupikir kado ini sudah sampai?"
Aditia melihat Alina. Aditia keluar dari kamarnya dan berdiri tepat di belakang Alina.
Alina keluar dari dalam kamarnya dan melihat Aditia ada di belakangnya.
"Kak, bikin kaget saja. Kirain hantu. Dasar!"
"Sini kamu!" Adit memanggil Alina dengan jari telunjuknya.
"Apa sih, kak. lebai deh. Aku terlambat, nih," gerutu Alina.
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Kencanlah. Emang kakak gak punya pacar," protes Alina.
"Kencan? dengan pakaianmu seperti ini?" tanya Aditia yang memang baru melihat lagi adiknya selama satu tahun belakangan ini.
"Tumben, kakak protes pakaian aku. Bukan dari dulu pakaian aku seperti ini?"
"Itu dulu. Sekarang, ganti pakaianmu. lihatlah, pakaianmu yang kurang bahan."
"Kak, ini sopan, loh. Memangnya apa, sih urusan kakak memanggil aku?"
"Ya, itu juga. Kamu punya kesalahan satu tahun belakangan ini,"kata Aditia menatap adiknya.
Tatapan itu, Alina paham, jika aditia marah padanya.
"Kami ingat barang ini?" tanya Aditia memperlihatkan kado tersebut.
Alina diam. Dia ingat jika sebenarnya kado itu untuk Adam. Dan Alina tahu jika sebenarnya istri Adam saat itu adalah Inayah.
"Kenapa tanya saya? Tanya sama Ibu dong, kak. Jangan tanya pada saya," imbuh Alina yang sedikit takut akan terbongkarnya rahasia selama ini mereka sembunyikan pada Aditia.
"Aku tanya sama kamu, dek. Karena amanah ini, kakak titip sama kamu saat itu." ujar Aditia.
Alina diam.
"Kenapa kamu diam?" Aditia menginterogasi adiknya.
BERSAMBUNG....
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak terus cerita selanjutnya. Untuk mendapat info up terbarunya, jangan lupa masukkan dalam Daftar favorit ya. berikan penilaian kalian pada buku ini di pojok kanan atas. TERIMAKASIH ππππππππππππ
__ADS_1