Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 96 Berita Buruk


__ADS_3

Esok hari, Aditia pamit. Inayah mengantar Aditia hingga sampa di bandara bersama Rayyan yang kebetulan hari minggu.


"Sayang, aku pasti akan cepat pulang." Aditia memeluk Inayah, lalu beralih mengecup kening Inayah. dan berakhir pada perut Inayah yang sudah nampak


"Anak ayah, yang pintar." Lalu, Aditia beralih menatap Rayyan.


"Ayah janji, jangan lama."


"Baik, Bos!" ucap Aditia. "Rayyan jaga Bunda. Jangan....


"Tenang, ayah. Rayyan akan menjaga Bunda."


Hingga pada akhirnya mereka berpisah. Inayah memeluk Rayyan.


Beberapa jam kemudian pesawat aditia lepas landas. Rayyan melihat pesawat ayahnya terbang tinggi.


***


Hingga malam tiba, Inayah tidak percaya dengan barusan Aditia katakan, jika dirinya baru sampai di tujuan dengan tiga kali transit akibat cuaca buruk. Dan sekarang dia bisa bernafas lega setelah tahu keadaan Aditia.


Barusan Aditia memberi kabar, kembali Aditia menelepon Inayah yang berikutnya. "Sudah minum susunya? Sudah minum obatnya?" Sahut Aditia di ujung telpon dengan pertanyaan menyerbu.


Belum sempat Inayah menjawab, kembali Aditia bertanya. "Tadi siang makan apa?" tanya Aditia dibalik percakapan telepon mereka. "Sayang, kenapa diam?"


"Aku tidak tahu harus Jawab yang mana dulu, pertanyaan suamiku membuatku bingung," ujar Inayah membuat Aditia di ujung telepon terkekeh.


Hingga percakapan telepon itu, Aditia alihkan video call. Tampaklah wajah Inayah terlihat murung.


"Sekarang jawab pertanyaan-ku yang tadi," ulang Aditia di balik layar.


"Aku sudah makan, Mas."


"Susunya, sudah di minum?"


"Iya, semua sudah.


"Vitaminnya?"


"Sudah, Mas. Pagi dan malam. Terimakasih perhatiannya."


Keduanya saling menatap di balik layar. Aditia cukup mengerti kondisi Inayah sekarang. Ia sudah bisa tebak mood istrinya sekarang, jika mood Inayah kurang baik. Semenjak kehamilan keduanya terkadang Mood Inayah berubah. ingin bertanya, akan tetapi diurungkan niat Aditia.


Kembali Aditia bertanya. "Sedari tadi aku menelpon tidak dijawab.


Kenapa melamun? Coba tanya Ibu, Di mana kamu simpan ponselmu?"

__ADS_1


"Iya, aku menyimpannya di atas meja makan. Tadi aku ke pondok setelah mengantar Rayyan pulang ke rumah. Ibu juga mengatakan jika kamu menelpon."


"Ya sudah. Pergilah istirahat," ujar Aditia dibalik layar.


"Tunggu, ini kamu di hotel, kan?" Inayah hanya ingin memastikan. Entah mengapa kata HOTEL membuat kepalanya menyimpan rasa curiga. Inayah juga heran dengan dirinya mengapa dirinya sekarang berbeda. Entah mengapa Inayah begitu posesif.


"Lalu, kalau bukan di hotel, saya harus tidur di mana, Sayang? Apakah kita punya rumah di sini? Atau kamu mau kita beli rumah di sini?"


"Tidak."


"Lantas, kenapa wajahmu berubah seperti itu, Sayang?"


"Tidak," elak Inayah. "Awas saja ya jika kamu sampai aku tahu memiliki perempuan lain."


Aditia tertawa. mentertawakan Inayah yang memanyunkan bibirnya. Di balik tawa Aditia dirinya memikirkan masalah pekerjaan. Inayah tidak tahu jika perusahaan milik Keluarga Tuan Subari dalam masalah tegang.


"Sayang, aku butuh doamu. Doakan aku urusan cepat selesai." ujar Aditia.


Selama pernikahannya, Aditia tidak pernah mengatakan tidak ada saat Inayah meminta uang belanja. begitu juga dengan Inayah, dirinya tidak pernah menuntut suaminya. Apakah ada uang belanja diberikan atau tidak. Selama ini Inayah membantu keuangan Aditia dengan hasil desainnya tanpa sepengetahuan Aditia. walau suaminya orang kaya bukan berarti Inayah hanya diam.


"Mas, kenapa menatapku seperti itu?"


Aditia tersenyum. Ia merasa bahagia, Inayah menyimpan rasa cemburu padanya. Seakan Inayah mengungkapkan, bahwa dia tidak ingin kehilangan Aditia.


"Percayalah, Sayang. Jika seandainya aku yang mau selingkuh darimu sudah lama aku lakukan. Namun apa gunanya? aku mencintaimu karena Fillah.


Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena kutahu, ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku."


Wajah merona di wajah Inayah dan tersenyum.


"Inayah, aku tidak akan menuntut-mu lebih. Aku hanya ingin sehidup semati bersamamu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Cinta bukanlah hal yang kucari. Tapi, cinta adalah ketika aku bisa menemukanmu dan hidup bersamamu. Wanita pertama yang aku cintai selamanya di dunia ini adalah ibuku, setelah itu kau, Inayah. Sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tidak berubah."


Inayah tertegun mendengar kalimat yang terlontar.


Melihat raut wajah Inayah di balik layar, Aditia kembali berujar. "Jangan baper, Aku hanya membaca sebuah kalimat di sini." Aditia memperlihatkan sebuah buku yang ia baca. Entah buku siapa yang tertinggal di dalam kamar hotel yang ia tempati.


"Ha, Mas Adit! Kenapa kau suka sekali seperti itu!" Teriak Inayah di balik layar.


"Sayang, tapi itu benar, kok. Aku membacanya dengan hati dan perasaan." Aditia kembali serius.


Inayah memajukan bibirnya. Andai di dekat istrinya mungkin sedari tadi Aditia akan memberikan hukuman pada bibir istrinya. Ia paling gemas melihat tingkah Ianyah seperti itu.


"Bagaimana kabar Rayyan Apa yang kalian lakukan seharian? Apa Rayyan belajar?"


"Iya, Rayyan rajin mirip sama ayahnya. Bahkan gaya ayahnya hampir menyerupai."

__ADS_1


"Anakku rajin itu karena ibunya yang pintar mendidik. Aku hanya terima hasil."


Utami tersenyum. Kembali Aditia berujar. "Kau tidak mengatakan sesuatu sebelum aku menutup telpon-ku.


Inayah hanya memperlihatkan tangannya  yang membentuk sebuah istilah yang kerap terlintas yaitu saranghae. Inayah tersenyum dan membalasnya. Setelahnya sambungan telpon pun berakhir.


Suara dentingan jam dikamar terus berirama memecahkan kesunyian malam itu. Angin berembus masuk lewat cela-cela jendela hingga membuat hawa dalam kamar terasa dingin. Ditambah suara rintik hujan yang mengenai atap rumah menambah kesunyian malam itu. Inayah hanya bisa menatap layar ponselnya dengan wallpaper fotonya bersama keluarga kecilnya.


Inayah pun beranjak masuk kamar Rayyan yang masih belajar. Inayah mengusap kepala Rayyan.


"Bunda? kenapa bunda memelukku. Apa Bunda rindu pada ayah." goda Rayyan pada bundanya.


"Tidak. Bunda rindu dan mau tidur dengan Rayyan. Apa boleh?"


"Boleh.Tapi izin dulu dengan ayah. Nanti dia cemburu.


Ibu Fatimah masuk dan mendengar obrolan anak ibu tersebut.


"Biarkan saja ayahnya Rayyan cemburu. Nanti nenek jadi saksinya.


Rayyan tertawa hingga dirinya selsai belajar dan menyelesaikan hafalannya.


"Bunda ke kamar dulu. ambil changer ponsel Bunda."


Inayah masuk kamarnya dan netra-nya tertuju pada sebuah obat dengan tempat obat berwarna hijau di atas meja. Tulisan kecil tertempel di sana.


'Minum dulu obatnya, Sayang.'


Inayah tersenyum. "Terimakasih untuk semuanya, Mas. "


Satu kali diteguk olehnya obat tersebut, lalu minum air yang juga sudah disiapkan oleh Aditia sebelum Aditia berangkat keluar negri.


Subuh tiba, Inayah bangun lebih awal, Ia lupa jika Aditia tidak di sampingnya. Menatap Rayyan, lalu membangunkan Rayyan. Usai shalat subuh biasanya Aditia membawakan susu untuknya. Namun kali ini, Inayah hanya bisa menghembuskan napas panjangnya. Ia membuka pintu keluar kamarnya lalu mengintip kamar Rayyan kembali.


"Bunda sudah shalat?" sahut Rayyan yang usai melaksanakan kewajibannya.


"Sudah dong. Ayo cepat mandi, baru berangkat sekolah setelah sarapan."


" Baik bunda," kata Rayyan. "Bunda akan ke pondok?"


"Iya, Bunda akan ke pondok. Bunda akan mendaftarkan kamu di sana."


"Ok.Bunda."


Rayyan rencananya akan masuk pondok lepas semester satu. Dan akan tinggal asrama.

__ADS_1


__ADS_2