Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab. 74 Kembalinya Aditia dan Inayah


__ADS_3

Ketika semua orang tertawa, terdengar suara Tuan Subari menyambut nenek Sofia dan Zaki.


Semua perhatian tertuju pada tamu yang baru tiba. Sifa kembali terperanjat dengan kehadiran Zaki dan nenek Sofia.


"Hai nyonya Sofia, Tidak lama lagi kita semua akan jadi keluarga." sambut Tuan Subari pada nenek Sofia.


Sifa yang mendengar itu, Sedikit bingung. Apa sebenarnya hubungan Zaki dan nenek Sofia. Benarkah Nenek Sofia adalah nenek Zaki?


Sifa terus berfikir. Lalu, nenek Sofia menyalami semua orang yang ada di sana. Sementara Zaki, melangkah dan bergabung dengan Teo dan Aditia.


"Bagaimana kabarnya, Tuan?" tanya Zaki.


"Seperti yang anda lihat, Tuan Zaki," jawab Aditia.


Inayah datang dan akan meminta suaminya untuk beristirahat.


"Hai Inayah, apa kabarmu?" tanya Zaki dan Aditia langsung merangkul pinggang istrinya.


"Hai, Tuan Aditia. Sebentar lagi kita akan satu keluarga. Mengapa kau begitu takut aku akan mendekati istrimu. Aku juga punya wanita yang akan segera aku nikahi." Zaki melirik Sifa dengan Alina yang tengah duduk menikmati cemilan yang ada.


Teo tertawa melihat dua pria di depannya. Hingga pada akhirnya Teo menawarkan minuman dingin pada Zaki.


"Segarkan tenggorokannya, Tuan. Sepertinya kakak ipar saya harus beristirahat," ujar Teo mempersilahkan Aditia dan Inayah.


"Maaf, Tuan Zaki. silahkan menikmati pestanya." Aditia merangkul Inayah.


Zaki mengangguk dan mempersilahkan Aditia untuk beristirahat. Inayah dan Aditia pamit pada semua keluarga. Dan para tamu yang merupakan kerabat jauh dan kerabat dekat lainnya.


"Jadi, kapan pernikahannya, Tuan Zaki? Sepertinya ada sorot mata mengarah kemari. Apa anda tidak jujur pada pasangan anda?" tebak Teo yang tahu tentang Zaki.


"Biarkan saja dia tahu seiring waktu berjalan. Aku suka melihat ekspresinya."


"Apa anda mencintai Nona Sifa?" tanya Teo penasaran.

__ADS_1


Zaki terdiam. Diamnya Zaki, Teo tidak bertanya lagi.


***


Inayah dan Aditia menuju kamar mereka. Aditia dan Inayah seperti dari perjalanan cukup panjang. Aditia duduk di atas kasur melihat Inayah sibuk dengan dirinya.


Aditia masih penasaran mengenai Zaki. Siapa sebenarnya Zaki? Bagaimana bisa Sifa akan menikah dengan Zaki yang baru dikenalnya? Ada yang mengganjal di pikiran Aditia. Namun, Aditia tidak membahasnya pada Inayah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas? Baiknya Mas membersihkan diri dulu." Inayah segera membantu suaminya melepaskan pakaian Aditia.


Begitu Inayah membuka kancing baju Aditia, Aditia langsung merangkul pinggangnya. Hingga tubuh mereka saling merapat.


"Apa kau tahu, Inayah, aku sangat merindukan momen ini. Hanya dua bulan kita bersama setelah hari pernikahan kita dan kita berpisah. Dan hari ini, aku baru seperti menemukan kembali hatiku yang pernah hilang."


Inayah mengalungkan tangannya dileher suaminya. keduanya tersenyum. Inayah menelisik wajah Aditia. Aditia merasakan tangan halus Inayah hingga matanya tertutup.


"Seperti yang aku katakan pada Rayyan. Aku ingin memenuhi janjiku pada Rayyan. Kita pergi bulan madu."


Inayah tertawa mendengarnya. "Bulan madu apaan, Mas? Jangan bercanda. umur Rayyan, sekarang sudah berapa tahun? Mas tidak sadar?"


Wanita siapa tidak berbunga mendengar kalimat seperti itu. Apakah Inayah termasuk wanita beruntung? Semua punya cara yang berbeda membahagiakan pasangannya.


Hidup ini mudah. Yang sulit pikiran kita. hidup ini lapang. Yang sempit hati kita. Hidup ini murah. Yang mahal adalah gengsi kita.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aditia pada Inayah.


"Terimakasih, kau selalu membuatku bahagia dan tersanjung." Inayah menjinjit.


Seketika, Aditia mematung dengan tidak percaya yang barusan dilakukan Inayah. Cukup lama Inayah melakukannya hal itu. Inayah melepaskan diri dari pelukan suaminya dan menutupi wajahnya.


"Kau sudah mulai nakal, Sayang?" Aditia menangkap Inayah.


"Siapa yang nakal, ayah?" Tiba-tiba Rayyan masuk di kamar mereka.

__ADS_1


"Ayah, kenapa menangkap bunda Rayyan? Apa salah Bunda?" Rayyan ikut memeluk Inayah.


"Bunda nakal." timpal Aditia.


"Bunda nakal?" ulang Rayyan.


"Bunda tidak nakal, sayang. Bunda hanya sayang sama Rayyan dan ayah." ujar Inayah berjongkok. lalu, mengecup kening Rayyan.


"Bunda, kalau banyak orang jangan seperti ini, ya. Rayyan nanti malu loh...."


"Woi, Boy! Siapa yang ajar kamu. Ayah saja tidak malu."


Rayyan naik di atas kasur. lalu berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Aditia. Kemudian berkacak pinggang.


"Namaku bukan boy, Ayah! Namaku, Rayyan Attaqi. Aku sudah besar, ayah. Untung di kamar ini hanya ada ayah dan ibu." Rayyan geleng kepala.


"Sayang, waktu kamu hamilkan dia makan apa, sih?" bisik Aditia.


"Ayah, dilarang bicarakan orang lain. Dosa, ayah. Iya kan, bunda?"


"Mmm... benar sekali. Anak bunda memang pintar." Inayah menggelitik tubuh Rayyan hingga Rayyan terkekeh.


***


oh, Rayyan. ganggu aja, lho...


😄😄😄😄😄😄


Tidak Terima Rayyan dikatain Boy. 🤣🤣🤣🤣


kata Rayyan, berikan supportnya untuk Author. Biar Authornya dapat ide.


Salam dari Author.

__ADS_1


Untuk semua pembaca setiaku... sehat selalu.🥰🥰🥰🥰😘😘


__ADS_2