
"Bukannya hati ini tak sakit dan bukannya hati ini tak hancur. Bukan pula hati ini tak perih. Namun, hanya kepasrahan yang mengiringi.Kadang-kadang kita harus memilih jalan yang tidak kita suka, tapi jalan itu akan menyelamatkan kita dari keterpurukan yang panjang. Jalan itu adalah perpisahan.Perceraian bukan hal buruk, justru itu adalah keputusan terbaik ketika pernikahan tidak lagi memberi kedamaian apalagi kebahagiaan. Namun ingat, jika masih bisa din pertahankan, pertahankanlah."
"Perceraian dalam pandangan Islam bukan sesuatu yang dilarang. Namun, ingatlah Allah membenci adanya sebuah perceraian. Jika terpaksa, perceraian memang adalah jalan terakhir ketika semua upaya mempertahankan rumah tangga telah dilakukan dan tidak membuahkan hasil."
***
Tepat satu tahun pernikahan perceraian pun terjadi antara Inayah dan Adam. Tuan Danu terlihat sedih. Pernikahan putranya dan Inayah yang harusnya di pupuk bersama justru berakhir dengan perceraian. Dan Ibu zahra memeluk erat Inayah setelah Inayah menerima surat cerainya dari Adam.
Sejujurnya Ibu Zahra begitu kecewa keputusan Adam yang memilih Karin dari pada Inayah. Ibu Zahra terlanjur menyayangi Inayah sebagai menantunya.
"Inayah, bolehkah Ibu minta sesuatu darimu?" Tanya Ibu Zahra pada Inayah.
"Apa itu, Ibu?"
"Inayah, sering-seringlah mengunjungi kami. Walau antara kau dan Adam sudah tidak ada hubungan, akan tetapi Ibu masih menganggap kamu sebagai mantu Ibu dan Ayah." Ibu Zahra, manatan mertua Inayah menangis tidak terima dengan putranya menceraikan Inayah yang dianggapnya sudah seperti anak sendiri.
Ibu Zahra menoleh kearah Adam yang baru keluar dari persidangan.
"Ibu kecewa denganmu, Adam! benar-benar kecewa! Inayah wanita yang tepat mendampingimu. Namun, kau menyia-nyiakannya!"
"Sudah Bu, tidak enak di lihat orang." Tuan Danu mencoba meredam emosi istrinya.
"Jangan menyentuh Ibu. Pergi saja dan urus istri pilihanmu!" Ibu Zahra menepis tangan Adam ketika Adam hendak meminta maaf pada Ibunya.
Raka pun mengajak Inayah untuk pulang setelah semua urusan selesai. Namun, tangan Adam meraih Inayah dan langsung memeluknya.
Inayah berusaha untuk lepas. Semakin Inayah minta dilepaskan Adam semakin memeluk Inayah.
__ADS_1
"Ini pelukan terakhirku, Inayah."
"Mas, lepaskan aku. Kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Aku dan kamu sudah kembali mejadi bukan mahram. Jaga ibu. Jangan buat dia larut dalam kesedihan. Aku pamit."
"Jangan menyesal pernah mengenalku, Inayah."
Adam melepaskan Inayah. Inayah tidak pernah lagi menoleh hingga tidak terlihat lagi oleh Adam.
***
Semenjak Inayah bercerai Aba Abdulah sudah sering sakit-sakit dan bahkan sudah jarang masuk pondok. Mau tidak mau Raka mengambil alih tangung jawab sebagai kepala pondok Al hikmah.
"Bagaimana keadaan Aba, Ummi, Ibu. Apa sebaiknya Aba kita bawah ke rumah sakit?" tanya Inayah yang baru tiba dari mengambil sisa barangnya yang tertinggal di rumah mantan mertua.
"Aba tidak ingin ke rumah sakit, nak," Ummi Humaira menyahut.
Lalu, Inayah duduk di sisi ranjang Aba Abdullah terbaring dan menoleh ke arah Aba Abdullah. "Aba, kita ke rumah sakit, ya?" bujuk Inayah.
Namun, justru Aba Abdullah hanya meneteskan air mata.
"Aba, jangan terlalu berfikir. Inilah jalan hidup Inayah. Aku tidak mengapa, Aba. Aba, percayalah pada Inayah, Cinta Allah lebih besar. Ketika Allah mencintai hambanya maka di turunkanlah cobaan untuk menyucikan dosa.
Ujian yang datang kepada seorang hamba, merupakan salah satu tanda jika Allah sangat mencintai seorang hamba tersebut. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW berkata, βSesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya pahala. Dan apabila Allah mencintai sesuatu kaum, ia memberi cobaan kepada mereka. Maka barang siapa yang ridho, maka baginya ridho dan siapa yang marah, maka baginya kemarahanβ (HR Bukhari)."
Inayah menggenggam tangan Abanya. "Aba percayalah pada Inayah. Inayah ingat saat Aba mengatakan bahwa Allah SWT memiliki sifat Al Mahabbah (cinta), yakni mencintai hamba atau umatnya yang beriman dan bertaqwa. Namun cinta Allah tidaklah seperti cinta seorang mahluk. Cinta Allah itu telah dibuktikan dalam kitab dan hadist.
Setiap orang tentunya selalu mengharapkan keridhaan dari Allah SWT. Sebab, sejatinya, tidak ada kebahagiaan yang dicari, selain dicintai sang pencipta. Iya kan, Aba?"
__ADS_1
Aba Abdullah mengangguk lemah dengan kedua bola matanya menatap putri tercinta.
"Teruslah berjuang menghadapi hidup, Nak. Allah selalu bersamamu," cakap Aba Abdullah dengan suara melemah.
"Doakan Inayah, Aba. Jangan pernah putus doa Aba untuk kami sebagai anak-anakmu." Inayah menahan tangisnya melihat Aba tercinta terlihat tidak berdaya.
"Maka dari itu, Inayah minta, Aba masuk rumah sakit, ya?" bujuk Inayah lagi.
Asifa datang dari kampusnya dan melihat apa yang terjadi? Mengapa kamar abanya terlihat ramai.
"Aba, Aba cepat sembuh." Asifa duduk di samping Aba Abdullah bersebelahan dengan Inayah.
"Tidak apa-apa, dek. Aba hanya sakit baik." Raka mengusap kepala adiknya. Dan Amira berdiri di samping Raka.
Aba Abdullah melihat satu persatu anggota keluarganya.
"Apa yang Aba lihat?" tanya Ummi Humaira sebagai istri pertama.
"Alhamdulillah, keluargaku masih utuh," kata Aba Abdullah. lalu, kembali melihat ke arah Ibu Fatimah sebagai istri kedua dan berkata, "Andai umurku tidak panjang, jaga anak-anak dan teruslah bersatu.
kalau, Aba Abdullah menoleh ke arah Raka dan berwasiat, "Sampaikan maafku pada keluarga Tuan Danu dan juga pada keluarga Tuan Subari. Juga sampaikan terimakasihku pada beliau yang sudah memberikan dana pembangunan mushalla."
Inayah menoleh ke arah Raka. Inayah tidak tahu tentang hal tersebut. Jika selama ini Tuan Subari juga aktif sebagai donatur di pondok Al Hikmah. Bukan hanya di panti asuhan milik Ummi Humairah.
"Akan saya sampaikan Aba," sahut Raka.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak terus cerita selanjutnya. Untuk mendapat info up terbarunya, jangan lupa masukkan dalam Daftar favorit ya. berikan penilaian kalian pada buku ini di pojok kanan atas. TERIMAKASIH ππππππππππππ