
Sementara Teo sendiri, kini sejak tadi menunggu Alina di depan sebuah ruangan dimana Alina sedang mengikuti ujian skripsi.
Alina cukup terkejut melihat Teo sedang menunggunya. Ada begitu banyak teman kampus wanita Alina menatap Teo.
"Hai Alina, Apa dia pacarmu?" Sapa teman-teman Alina. Bahkan begitu banyak pertanyaan lainnya.
Alina menarik tangan Teo untuk segera pergi. Entah mengapa Alina tidak suka Teo mengumbar senyum. Ada apa dengannya?
"Kenapa kak Teo di sini?!" Suara Alina terdengar marah dalam pertanyaannya.
Teo tidak menyahut. Teo melihat tangan Alina yang terus menariknya. Teo tersenyum. Hal itu sudah biasa bagi Teo saat Alina memperlakukannya seperti itu.
Namun kali ini, Teo merasa berbeda. Alina berhenti dan meminta Teo menunggunya.
"Mau ke mana, Nona?"
"Beli air minum."
Teo menarik Alina menuju mobil.
"Kak, aku haus."
"Ada air di mobil. Aku sudah membelikan untuk Nona." Tei melepaskan tangan Akina sadar akan perbuatannya yang mungkin tidak seharusnya.
"Kok kak Teo tahu?"
"Nona kan, kebiasaan. Kalau gugup pasti haus."
"Benar, aku sangat gugup menghadapi ujian tadi. Menurut kak Teo, aku lulus tidak, ya?"
"Tanyakan pada diri, Nona. Jika Nona yakin dengan kerja kerasnya? tanya Teo.
Terlihat Alina berfikir dan Teo kembali berujar, " Nona pasti lulus." Teo berjalan mendahului Alina.
"Tenang saja Nona, aku yakin Nona akan lulus." Teo terkadang merasa berbeda sikapnya pada Alina.
Alina tersenyum menatap punggung pria itu. Dan segera menyusul Teo. Alina menarik ujung jas yang dikenakan Teo. Teo berhenti yang membuat Alina menabrak punggung Teo.
"Sakit, Kak,Teo!"
"Jika aku jalan terus, yang ada jas aku bisa robek, Nona."
Alina melepaskan tangannya. Tiba di parkiran Mobil, Teo membukakan pintu untuk Alina. Namun, Alina justru membuka pintu mobil bagain depan.
Teo tidak lagi berkata. Dirinya menyusul masuk. Sepanjang perjalanan Teo terlihat diam.
"Kak, Teo, apa benar kak Teo akan menikah?" Alina memecahkan kesunyian.
Teo tidak tahu harus berkata apa. Dirinya tidak yakin, jika Alina juga memiliki perasaan yang sama. Yang ada Alina akan mentertawakan dirinya.
"Semua pria mau menikah, Nona," jawabnya.
'Apa aku menanyakan dia menikah dengan siapa?' batin Alina.
"Kak Teo, bolehkah aku bertanya lagi."
"Apa itu, Nona?"
"Hm... Apa... " Alina sedikit ragu. Hingga Alina tidak jadi bertanya dan merubah pertanyaannya.
"Aku dengar, Kak Teo ditinggal kawin dengan pacarnya, ya? sakit pastinya."
Teo tersenyum kecut. Lalu, kembali diam. Melihat Teo diam, Alina mencari cara menghibur Teo.
"Kak, Kita singgah di mall, Yuk?".
"Buat apa, Nona?"
"Aku mau menghibur diri. Semalam aku belajar keras. Bahkan beberapa hari ini aku kerja keras. tidak ada waktu shoping dan bermain."
Tiba di pusat perbelanjaan, Alina langsung menuju wahana permainan. Dirinya dan Teo menikmati momen itu.
__ADS_1
"Ayo kak, lagi...! Aku harus mendapatkan boneka dolphin itu." Alina begitu menyemangati Teo bermain Capit boneka.
"Yey, kita dapat!"
Teo menatap Alina. Dan Alina sadar begitu sangat menikmati jalan bersama Teo. Alina semakin bingung dengan dirinya.
"Baiknya kita pulang, Nona."
Sesekali Alina melirik Teo jalan bersamanya. Dan sesekali Alina mencium boneka dolphin itu.
***
"Ayah, dimana Alina. Mengapa sesore ini belum datang?" tanya Ibu Hanum khawatir.
"Teo mungkin ada halangan, Ibu. bisa saja kena macet, kan?"
"Ia, Sih. Tapi ayah, Apa Alina tidak akan menolak?"
"Kita lihat saja nanti. Jika dia menolak, kita coba memberinya pengertian."
Ibu Hanum tersenyum. Begitu juga dengan Tuan Subari.
"Dimana Aditia?" tanya Tuan Subari.
"Mereka di kamarnya. Tadi dari rumah sakit, dan Aditia memutuskan akan segera keluar negri. Jika Alina dan Teo serius, secepatnya pernikahan mereka kita atur, ayah."
Terdengar suara mobil di luar tiba. Alina dan Teo tiba. Ibu Hanum sedikit heran dengan boneka dolphin terlihat cukup besar di bawah oleh Alina.
"Dari mana kalian?" tanya Ibu Hanum.
"Aku dan Kak Teo dari mal Ibu. Aku mandi dulu." Pamit Alina.
Alina menunju kamarnya dan Teo sendiri, kini sedang berbincang dengan Tuan Subari. Mereka membahas pertemuannya dengan Tuan Zaki.
Malam tiba, Alina cukup heran dengan banyaknya makanan di atas meja.
"Bibi, apa ada acara?" tanya Alina setelah dirinya turun dari lantai atas dan sudah terlihat segar.
Inayah berterima kasih pada Aditia dan Inayah yang juga memberinya ucapan selamat telah usai ujian skripsi.
"Anggaplah acara syukuran," bisik Inayah."
Aditia dan Inayah langsung menuju rung keluarga di mana Teo dan Tuan Subari masih di tempat.
"Nona Alina, Ibu dan ayah memanggil nona," lapor Bibi Sumi pada Alina yang sedang mengupas buah di ruang TV.
Melihat Alina datang, Ibu Hanum memanggil putrinya. Alina sedikit heran mengapa anggota keluarga berkumpul. Teo juga masih di sana. Apa yang terjadi? Apa tentang masalah kantor?
Itulah pikiran Alina sekarang. Alina duduk tepat di samping Inayah. Dengan terlihat gugup, Alina angkat bicara.
"Ada apa ini?"
Tuan Subari menoleh ke arah Alina.
"Alina, entah apa tanggapanmu. Namun, kami menganggap ini yang mungkin kami anggap baik.
"Ada apa, Ayah? Apa maksud Ayah? Alin tidak mengerti."
"Kami memilih Teo sebagai calon suamimu."
Alina menoleh kearah Teo yang merasa malu untuk melihat ke arah Alina. Teo sadar siapa dirinya. Entah mengapa dan angin apa Tuan Subari menyerahkan putrinya padanya dan memintanya menikahi putrinya.
"Memangnya... Kak Teo... Setu.. ju...?" Alina merasa sangat malu untuk bertanya hal itu. Sejatinya, Alina merasa bahagia.
"Maafkan saya, Nona. Jika saya lancang."
Alina seakan ingin mentertawakan Teo. Ia merasa gemas dengan pria itu. Ternyata Teo bisa juga serius. Alina paling suka jika Teo meledeknya.
"Aku mana saja ayah." ucap Alina. Dan Teo mengarahkan pandangannya tidak percaya jawaban Alina.
Tuan Subari dan Ibu Hanum Tersenyum. Inayah mengelus lembut punggung adik iparnya.
__ADS_1
"Baiklah, Teo, Alin. lima hari lagi acara resepsi kalian." Tuan Subari menatap Alina dan Teo.
Teo hanya mengangguk. Dan Alina menatap Teo. Tuan Subari meminta Teo untuk tinggal makan malam karena masih ada yang harus mereka bahas.
"Kak, Apa menurut kakak ini yang terbaik?" bisik Alina.
"Semua keluarnganmu memilih Teo. Bisa saja dia yang terbaik untuk kamu. Kamu sendiri, bagaimana perasaanmu?"
"Sepertinya aku...."
"Baiklah. Kakak bisa melihatnya. Kau sudah memilihnya. Itu artinya kau yakin dengan keputusanmu, Alin."
Usai Magrib, Alina mencari Teo di kamar yang sering Teo tempati. yaitu di lantai atas dua kamar perantara dari kamar miliknya.
"Nona, ada apa?" tanya Teo yang kini sudah berganti. Terlihat rambut Teo masih basah. Itu artinya, Teo barusan selesai mandi dan Alina melihat wajah maskulin itu tanpa kacamata yang sering digunakan Teo, membuat Alina tidak berkedip.
"Aku diminta ayah memanggilmu. Bisakah tidak memanggil aku... Nona?"
"Tapi...."
"Kak Teo, panggil saja namaku."
"Baik Nona... maaf. Alina." panggilan baru Teo pada putri majikannya. Serasa lidah Teo terasa keluh memanggil putri tuannya tanpa embel NONA.
Teo mengikuti Alina turun ke lantai bawah untuk menyantap makan malam bersama. Usai makan malam, Teo pamit dan Alina mengantar Teo hingga sampai di depan.
"Nona... Maaf. Alin, saya pulang. Terimakasih."
"Terimakasih apa?"
"Alin, jangan membuat aku seperti tidak percaya diri."
"Kak Teo, Terimakasih juga."
Teo tersenyum dan pamit. Namun Alina menghentikan Teo. "Besok aku akan menemui nenek dan kakek."
Teo mengangguk. Dan kembali pamit. Alina terus melihat kepergian Teo.
Inayah dan Aditia mengintip mereka di jendela kamarnya.
"Aku ingat dulu bagaimana kamu terlihat malu-malu. Anggaplah dirimu Adalah Teo."
"Mas bisa saja meledekku." Inayah menutup gorden kamarnya. Sadar akan kelakuan tidak baiknya mengintip Alina dan Teo.
"Jika menunggu pernikahan mereka, Sepertinya itu terlalu lama, Sayang."
"Tali, terlihat Mas sudah tidak terlalu gemetar saat berdiri. lihatlah, Mas."
"Iya, mungkin karena aku juga akhir-akhir ini merasa rileks dengan kehadiranmu, Inayah. Aku bahagia kau disisiku. Coba Lihat Rayyan, dia sudah pulas setelah banyak makan sebelumnya."
Inayah dan Aditia menatap buah cinta mereka. "Dia bukti cinta kita, Mas."
"Iya. Dia amanah untuk kita berdua, Inayah." Aditia merangkul Inayah yang kini menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang kini duduk di atas kasur sambil menatap Rayyan pulas.
Inayah tersenyum. Aditia Mengecup kening istrinya. Hingga malam itu keduanya mengulang malam pertama mereka. Dan Rayyan dangan pulas dalam tidurnya.
Kondisi Aditia termasuk mengalami kemajuan. Namun, dokter menyarankan untuk tetap melakukan pengobatan yang terbaik untuknya dan Aditia memutuskan tetap berobat keluar negri.
"Ma... pa... "
"Mas, Rayyan."
***
π€π€π€Aduh, Rayyan bangun?
DILARANG MAIN Tebak-tebakan, YA... ππππ.
Terimaππ kasih supportnya. Author sadar, dan masih perlu belajar dari segala kekurangan Karya dan tulisan ini. Masalah hukum dan agamis yang ada di dalam karya ini, Author juga masih perlu banyak belajar. Semua ini tidak lain hanya hiburan Semata.
Jika ingin memberi saran pedas atau makian boleh langsung chat pribadi Author, Yaπ€π€π€. Author orangnya terbuka, kok.ππ.
__ADS_1