
Inayah merasa terpuji dengan kata-kata Aditia setelah mengkonsumsi Vitamin yang diberikan oleh suaminya.
"Kenapa menatapku? Apa kau ingin diriku?" goda Aditia.
"Siapa yang mau dirimu? Aku mau es krim." Inayah tersenyum dengan mengangkat kepalanya menatap Aditia lamat-lamat sambil senyum-senyum.
"Kamu yakin, kamu tidak mau diriku?" goda Aditia.
Inayah geleng kepala sambil kembali memperlihat gigi-giginya yang putih dan kembali berujar, "aku mau es krim."
"Kamu tidak menginginkanku?"
"Tidak, aku mau es krim."
"Benar. kamu tidak mau aku?" Aditia mulai menatap intens Inayah.
"Tidak!" Inayah menutupi wajahnya. "Mas, kau akan terlambat ke kantor."
Aditia terus menggoda Inayah. "Dengan aku saja, Ya."
"Tidak! ayo, mas, ke kantor sana!" Inayah mendorong tubuh Aditia hingga Aditia pun beranjak.
Inayah mengantar sampai di depan pintu utama.
***
Pulang dari kantor, Aditia mencari Inayah. Ternyata Inayah ada dibelakang sedang bersantai. Rayyan berlari memeluk Inayah.
"Bunda, bikin apa?" tanya Rayyan duduk di samping Inayah.
"Bunda membuat kesibukan."
"Sayang, lagi apa?"
"Mas yang jemput Rayyan?"
"Iya." Aditia melihat Inayah sedang meronce dari mutiara sintetis.
Bibi Sumi datang dan memanggil Rayyan untuk berganti.
"Tadi, aku dari rumah ibu, lalu aku ke pondok. Santri bertanya-tanya tentang dirimu," ujar Aditia memberikan mutiara-mutiara itu pada Inayah.
"Kata Ibu, dia akan kemari besok menemanimu. Aku juga dari panti asuhan mengunjungi Ummi dan anak-anak di sana." Aditia terus bercerita seputar perjalanannya bersama Rayyan setelah pulang dari kantor.
"Mas, kenapa ya, aku gak bisa kamu pergi."
"Sayang, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan denganku. Aku akan kembali dengan selamat. Lakukan apa yang kamu sukai di belakang untuk menghibur dirimu saat aku tidak di rumah. Aku percaya denganmu, kau akan amanah saat aku tidak ada."
Mata Inayah terlihat berkaca-kaca melihat dan menyimak setiap kata yang terucap dari bibir tipis milik Aditia. Aditia terus berujar menatap istrinya yang terlihat menahan air matanya.
"Makan makanan yang disukai, lakukan hal kamu sukai. Jangan bebankan pikiranmu dengan yang tidak-tidak. Aku mencintaimu. Jadi, aku ingin kau mejadi Inayah yang aku kenal." Aditia menggenggam tangan Inayah.
__ADS_1
Inayah terus menatap Aditia hingga Air mata Inayah lolos begitu saja dengan perlakuan manis Aditia.
Aditia memperbaiki posisi hijab Inayah. "Terimakasih, dengan menutup aurat-mu seperti ini, kau sudah meringankan aku kelak di akhirat.
"Jangan berkata seperti itu, Mas," timpal Inayah menggenggam tangan Aditia, lalu menempelkan di pipinya.
Aditia tersenyum. "Sayang, jangan seperti ini, jangan menyiksa dirimu dengan pikiran yang tidak perlu dipikirkan. Ok." sambil terus mengelus pipi Inayah dengan lembut.
Inayah kembali meneteskan air mata. Ia tidak yakin mampu berpisah dengan Aditia walau itu hanya sementara.
"Ayo, buka mulutnya," pinta Aditia memberikan buah yang ada di samping Inayah sudah terkupas Hingga akhirnya, Inayah membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu terasa hambar dengan perasaan berkecamuk tidak ingin di tinggal oleh Aditia.
Malam tiba, Aditia memberikan vitamin yang harus di konsumsi oleh Inayah malam itu.
"Kenapa sih, setiap hari aku harus konsumsi obat ini? Aku baik saja," protes Inayah lagi di umur kehamilannya yang menginjak 3 bulan.
Inayah sudah merasa muak dengan obat yang harus dikonsumsi setiap waktu.
Aditia menyodorkan Beberapa botol vitamin dan penambah darah serta obat lainnya.
"Pilihlah. Yang mana harus kamu konsumsi lebih dahulu! Sesuka hatimu." Aditia menatap jari-jari Inayah mulai memilih.
"Aku tidak tahu yang mana dulu. Aku bingung. Toh juga semua akan aku konsumsi, 'kan?"
Aditia tersenyum. Kemudian berkata, "Bagaimana, jika kamu konsumsi yang cair dulu," tawar Aditia.
"Itu sangat pahit," protes Inayah menutup mulutnya
"Bunda, Jangan malas makan obat," sahut Rayyan yang sedang belajar dan melihat ibunya sulit sekali dibujuk.
"Tidak." jawab Inayah.
"Ayo! Pahitnya hanya sementara, sayang. Setelah minum air, pahitnya akan hilang." Aditia mulai memberikan obat itu pada Inayah.
"Sekarang yang ini." Aditia memberikan lagi obat dalam bentuk kapsul yang terlihat cukup besar berwarna putih.
"Ini sangat pahit, melebihi yang sebelumnya," protes Inayah lagi.
Aditia kembali geleng kepala begitu juga dengan Rayyan.
"Semangat, Ayah!" teriak Rayyan sambil belajar matematika.
Dengan penuh sabar menjadi suami yang siap siaga menghadapi sifat Inayah yang begitu manja. Aditia kembali membujuk hingga berhasil.
Usai meminum obatnya, Aditia berdiri dan mengusap kepala istrinya. Lalu mengecup kening istrinya.
"Ayah, kasihan bunda, ya. Mana nafsu makan tidak ada."
Aditia duduk di dekat Rayyan dengan Inayah ikut duduk melihat Rayyan belajar.
"Itulah mengapa Ibu sangat harus dihormati, Rayyan. Jangan pernah Rayyan membuat Ibu meneteskan air mata."
__ADS_1
"Tenang saja, Ayah. Aku mengerti." Rayyan memperlihatkan hasil pekerjaannya pada Aditia.
"Ayah, penaikan kelas nanti, saya mau masuk pondok. apa masih bisa?"
"Tumben."
"Belum terlambat, kan?" Rayyan tertawa.
Rayyan bercengkrama dengan Aditia, sementara Inayah sibuk saling menanyakan lebar Dengan Sifa. mereka saling menanyakan kabar kehamilan mereka.
***
"Itu artinya kehamilan aku lebih tua sedikit, kak. Aku sudah masuk 3 bulan dua minggu," jawab Sifa melihat Inayah dibalik layar.
Cukup lama keduanya saling berbincang lewat video call. Melihat ada Aditia Zaki menyahut.
"Bagaimana kabar, Tuan Aditia."
Zaki memperlihatkan kemesraannya pada Aditia.
untungnya Rayyan tidak melihatnya. Sifa seketika mencubit pinggang Zaki hingga percakapan lewa video call itu terputus.
Sifa sendiri yang hampir sama umur kehamilan Inayah semakin hari dirinya terasa malas untuk berbuat apa-apa.
Setelah beberapa bulan, Zaki berjuang mendapatkan hati dan kepercayaan Sifa, Akhirnya Sifa pun mengakui perasaannya. Apa lagi Sifa sudah tahu, jika ternyata Zaki pria yang selama ini ditunggu olehnya.
***
"Aku mencintaimu, Sifa." bisik Zaki melihat Sifa termenung di taman belakang. setelah esok harinya.
Sifa menoleh. "Aku juga mencintaimu, kak. Sangat."
Keduanya saling mengungkapkan perasaan.Hingga larut dalam kecupan yang berlangsung cukup lama. Lepas dari itu Zaki mengajak Sifa menuju rumah nenek Sofia.
***
"Ma ... pa ..." Ghifari begitu berbinar melihat Zaki dan Sifa datang. Ghifari merupakan anak angkat Yolanda. Semua saran dari Zaki dan meminta pengertian Nenek Sofia. Semenjak hadirnya Ghifari, Yolanda terlihat sudah membaik walau belum sepenuhnya.
Zaki langsung mendekat ke arah Ghifari yang tampak girang menyambutnya. Usai bercengkerama dengan Ghifari, Nenek Sofia meminta Sifa untuk duduk.
Mbak Pur tersenyum melihat kemesraan sepasang sumi istri itu yang setiap hari bikin baper. "Lihatlah tuan dan nyonya, aku jadi baper oleh mereka," kata Mbak Pur pada pengasuh Ghifari.
"Wajar saja, Tuan terlihat begitu perhatian dengan Nona Sifa.
"Pastinya," sahut Mbak Pur.
Sementara Sifa, kini sudah duduk di depan meja makan dengan Zaki di depannya.
Sifa sama dengan Inayah tidak ada selera makan. Melihat makanan di depannya.
"Aku tidak bisa memakannya." Entah mengapa kali ini, Sifa tidak memiliki Selera makan.
__ADS_1
"Aku akan membantumu memakannya," timpal Zaki. "Kita habiskan bersama," pinta Zaki lagi begitu sabar yang kemudian meminta Sifa membuka mulutnya.
"Ayo, buka mulutmu!" Zaki mulai menyodorkan satu sendok makanan mengarah ke mulut sifa, akan tetapi Sifa masih belum juga membuka mulutnya.