
Alina yang usai dalam mengikuti kegiatan pertemuan tiba-tiba merasa mual dan semau mata menatapnya. Alina berlari menuju toilet.
"Urus istrimu. Sebentar kita lanjutkan pembahasan ini. Saya juga mau melihat Rayyan." Pamit Aditia dan Teo segera menyusul Alina.
"Alin, kau tidak apa-apa?"
"Sepertinya perutku tidak enak, Kak. Apa aku hamil?"
"Kamu hamil?" Teo tidak tau harus berbuat apa. Padahal Alina sangat berharap Teo berteriak atau apalah seperti suami lainnya yang begitu terlihat bahagia.
Dalam hati, Teo begitu bahagia. Sudah lama menunggu kabar itu dan berharap Alina Benar-benar hamil.
"Kak Teo, apa kamu tidak bahagia aku hamil?" tanya Alina setelah keluar dari kamar mandi.
"Siapa tidak bahagia, Alin." timpal Teo.
"Kenapa wajahmu menggambarkan seperti kurang bahagia?" ujar Alina duduk di kursi yang ada di ruang pertemuan tersebut.
"Mmm... kak Teo, kenapa , sih kamu masih terlihat kaki padaku. Bahkan aku merasa kamu masih seperti Teo yang dulu. Kak Teo, aku istrimu."
"Aku tahu Alin, maafkan aku. Aku mencintaimu. Setelah dari sini, kita ke rumah sakit untuk memastikan keadaan kamu."
"Ok, tapi ini dulu." Alaina menunjuk bibirnya.
"Alin, ini di kantor."
"Jadi kalau bukan di kantor berarti boleh, dong." goda Alina pada suaminya, Teo.
Alina tertawa melihat Teo.
"Kenapa sifatmu sangat berubah saat kita belum menikah. hah?" Teo menarik hidung Alina.
Lalu, keduanya meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruang Aditia.
***
"Mara, di mana Rayyan?" tanya Aditia.
"Tuan kecil ada dengan nyonya, Tuan direktur. Di ruangan tuan direktur..." belum selesai ucapan Maira, Aditia sudah menghilang.
Adita melangkah cepat menuju ruangannya untuk menemui Rayyan dan Inayah.
Sementara Inayah, sibuk mengamati pemandangan kota dari lantai atas. Dan Rayyan sedari tadi tertidur di kamar istirahat yang ada di ruangan aditia.
Inayah terkejut begitu tangan kokoh itu melingkar penuh di perutnya. Inayah bisa menebak siapa pemilik tangan itu dari bau parfum yang tidak asing dari indra penciumannya.
__ADS_1
"Apa dari tadi kamu menungguku? laku, di mana Rayyan?"
"Iya, dari tadi aku menunggumu. Rayyan tidur. Dan aku membawakan makan siang untukmu, Mas. ayo makan." Inayah oun lepas dari Aditia dan membuka bekal yang di bawah olehnya.
"Mas, Besok pernikahan Sifa. Aku akan datang ke rumah Ibu dan bermalam di sana. Apa mas mau ikut?"
"Baiklah, kita akan bermalam di sana. Setelah pernikahan Sifa, aku akan membawamu terbang jauh. kita menikmati hari kita yaitu... untuk Rayyan."
"Mas,"
"Ok aku tidak akan membahasnya. Hari ini aku tidak bisa pulang cepat, bersamamu, Sayang. Aku masih ada pertemuan degan Tuan Zaki."
"Tidak mengapa, Mas. aku pulang bersama pak Mamat."
Usai makan siang dan Rayyan sudah bangun, Inayah akan pamit. Namun, Alina dan Teo datang.
"Alin, kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Inayah melihat wajah Alina terlihat pucat.
"Aku kemari mau pamit duluan. Kita bahas masalah pekerjaan sebelumnya di rumah, Mas. Aku harus membawa Alina ke rumah sakit." lapor Teo merangkul Alina.
"Istrimu mungkin hamil, Teo. baguslah. Akhirnya kamu berhasil." ujar Aditia terlihat santai. "Ibu tidak akan menuntutmu lagi memberinya cucu." Tawa Aditia dan perutnya di siku oleh Inayah.
"Apa yang aku katakan itu benar, Sayang. Kamu tahu ibu sifatnya bagaimana. Setelah cucu-cucunya besar nanti, lihat saja, pasti dia akan minta cicit." Aditia kembali tertawa."
Alina dan Teo berlalu dan di susul oleh Inayah dan Rayyan. Namun, Rayyan kembali berceloteh sebelum pergi meninggalkan ayahnya.
"Tenang, Boy. Bunda lebih cantik dan lebih se ... " perkataan Aditia terhenti dengan mata Inayah melebar.
"Baiklah. Mulut di tutup." Aditia mengecup kening istrinya.
Satu jam setelah Inayah berlalu, Zaki datang menemuinya.
"Selamat sore, Tuan. Maaf aku terlambat. Apa Sifa ada di ruangannya?" tanya Zaki yang sebelumnya mencari Sifa di mana-mana dan tidak menemukan.
"Sifa ikut pemotretan," jawab Aditia yang penasaran hubungan Zaki dan Sifa.
"Mari duduk kita langsung membahas pekerjaan kita." Aditia mempersilahkan Zaki untuk duduk.
Sekitar dua jam pembahasan tersebut. Aditia kembali berujar.
"Tuan, kamu bisa menipu semua orang, tapi aku tidak bisa kamu bohongi."
Zaki hanya menanggapi dengan tawa tanggapan Aditia mengenai hubungannya degan Sifa.
"Aku peringatkan padamu, Tuan Zaki. Jangan pernah menyakiti perasaan Sifa. Dia adik istriku. kuharap kau pikirkan baik-baik hal itu." Aditia terlihat serius.
__ADS_1
"Apa aku tampak pria menyebalkan?" tanya Zaki.
"Apa kau mencintai Sifa?" tanya Aditia lagi.
"Itu bukan urusan anda, Tuan Aditia." Zaki menepuk bahu Aditia sebelum pamit. "Apa pun yang terjadi dalam pernikahan aku dengan Sifa, Tuan Aditia tidak berhak ikut campur."
"Tenang saja. Namun anda perlu ingat, pernikahan itu sakral, bukan mainan," timpal Aditia.
Kembali Zaki berbalik dan berkata, "aku tahu. Maslah hatiku itu urusanku. Permisi Tuan Aditia."
Aditia menatap kepergian Zaki. Apa yang dikatakan Zaki benar. Cukup Aditia memperingatkan Zaki. Dirinya tidak mungkin meminta Inayah membatalkan pernikahan Zaki dan Sifa. Takutnya, Ummi Humairah akan kecewa pada putrinya.
**
Zaki termenung di mobilnya. Zaki teringat kembali dengan perkataan Aditia. Zaki tidak sengaja melihat Sifa berbicara dengan seorang pria.
"Dengan siapa Sifa berbicara di sana. Mengapa Sifa terlihat serius dengan pria itu?" gumam Zaki.
Zaki turun dari mobilnya dan menghampiri Sifa.
"Tuan Zaki?" Sifa terkejut dengan Kehadiran Zaki memergoki dirinya bersama Arjuna yang datang meminta kejelasan berita yang di dengar olehnya jika Zaki dan Sifa akan menikah.
"Dia siapa?" tanya Zaki.
"Dia siapa? Bukan urusan anda, Tuan."
"Bukan urusan saya? Nona Sifa bukankah kita... "Ucapan Zaki segera di jawab oleh Sifa.
"Iya aku tahu, Tuan," ujar Sifa.
"Baguslah kamu tahu. Jelaskan padaku siapa dia?" tanya Zaki terlihat tidak suka dengan Arjuna.
"Saya Arjuna. Apa betul Sifa akan menikah dengan anda? Aku tidak percaya jika hal itu benar."
"Jika aku katakan itu benar, lantas apa yang anda akan lakukan?" tanya Zaki pada Arjuna.
"Aku tidak yakin dengan pernikahan kalian. Aku tahu bagaimana Sifa," ujar Arjuna.
"Anda begitu yakin. Aku yang lebih tahu bagaimana Sifa," kata Zaki lagi menatap Arjuna.
Arjuna menatap Sifa. Sifa meninggalkan dua pria tersebut.
"Sifa tunggu!" Arjuna mengejar Sifa.
"Juna, tolong berhentilah seperti ini. kamu tahu aku akan menikah. Berhentilah berharap. Maaf." Sifa berlalu. Sifa terlalu lemah dalam hal perasaan. Dia memilih menghindar. Di tambah dirinya cukup lelah dengan pekerjaan kantor hari itu.
__ADS_1
Tidak sadar, Aditia melihat tiga orang tersebut sedari tadi. Dirinya cukup penasaran siapa lagi Arjuna bagi Sifa. Sebuah panggilan masuk dan itu dari Inayah.