Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 54. Kabar Gembira


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Inayah langsung diperiksa. Dari hasil pemeriksaan Dokter Eka tersenyum sendiri.


"Bagaimana dokter?" tanya Ibu Hanum.


"Selamat, Ibu. Anak mantu Ibu hamil. Kehamilan Ibu Inayah sudah memasuki satu bulan," ungkap dokter Eka setelah Inayah selesai melakukan pemeriksaan.


Ibu Hanum mengembangkan senyum di wajahnya. Akhirnya dia akan segera menjadi nenek. Sungguh kabar bahagia yang patut dirayakan.


'Aku akan menjadi Nenek? Ya Allah, kabar ini sangat membahagiakan.'


Berbeda dngan Inayah. Dirinya tidak sama sekali tersenyum. Padahal sebagai Ibu yang pertama mengalami yang namanya hamil pasti bahagia.


Ibu Hanum menoleh ke arah Ianyah yang masih berada di atas bad pasien. Senyum itu tiba-tiba pudar begitu saja melihat anak menantunya duduk terdiam.


'Ibu paham kesedihanmu, Inayah.'


Ibu Hanum memeluk menantunya. Inayah langsung mengeluarkan kesedihannya. Dokter yang sudah memeriksa Inayah ikut larut dalam drama anak mantu dan ibu mertua tersebut.


"Baiknya Ibu Inayah di rawat inap dulu. Mengingat kondisi dan keadaannya sangat lemah," ujar Dokter Eka.


"Itu lebih baik, Dok. Aku setuju." Ibu Hanum menatap Inayah. Inayah hanya mengangguk.


"Semoga saja setelah mendapatkan penanganan, Ibu Inayah bisa lebih baik," lanjut Dokter Eka.


"Baiklah. berikan yang terbaik untuk anak menantu saya."


"Tentu, nyonya." Dokter Eka tersenyum dan beralih nenatap Inyah. melihat kondisi Inayah Dokter Eka berharap Inayah bisa mengimbangi kesedihannya.


Hingga pada Akhirnya Inayah di antar menuju ruang rawat Inapnya setelah pemeriksaan selesai. indara penciuman Ianyah berada di ruang rawat membuat Inayah kembali akan mual. untungnya Ianyah memakai cadar, jadi bau tidak sedap itu tidak terlalu tecium olehnya.


'Mas adit, Apa kamu merasakan apa yang aku rasakan? Andai kau ada di sini, Mas. Aku akan sangat bahagia.' batin Inayah.


"Beristirahatlah. Kamu pasti butuh banyak istirahat. Ingat, janin yang ada di dalam perutmu, Inayah. Kamu harus kuat. Berjuanglah." kata dari ibu mertua mampu membuat Inayah kembali bersemangat.


"Baiklah Mas Adit, aku akan berjuang demi calon anak kita. Aku akan berjuang sendiri membesarkan dia. Aku bukan wanita yang lemah, Mas." batin Inyan memeluk perutnya sendiri.


Rasa mual terus menyiksanya. Hingga malam tiba, Ummi Humairah dan Ibu Fatimah datang menjenguk Inayah yang di jemput langsung oleh supir pribadi Aditia yang sudah disiapkan untuk Inayah sebelum Aditia meninggalkan inyan menyelesaikan urusannya.


"Nak, Apa kau mau makan sesuatu?" tanya Ummi Humairah mengingat dirinya dulu waktu hamilkan Asifa.


"Jika pun aku mengingikan sesuatu mungkin tidak bisa, Ummi."


"Memangnya apa yang kamu inginkan."


Inayah tersenyum renyah. "Aku ingin suamiku di sisiku. Aku ingin bermanja dengannya."


"Nak, bersabarlah. Akan ada saatnya kalian bersama lagi. Kamu tidak akan pernah tahu apa rencana indah yang disediakan untukmu dan suamimu." ujar Ummi Humairah.


"Apakah itu akan ada untukku?" Inayah dilema.

__ADS_1


"Mengapa tidak," ungkap Ibu Hanum menyemangati menantunya.


"Justru aku berfikir mungkin itu tidak akan bisa aku rasakan." Sebagai manusia biasa Inayah tentu berfikir diluar kendalinya. merasa kecewa dalam dirinya sendiri. "Aku tidak suka dengan keadaaku, Ummi."


"Jangan menyalahkan keadaan. Kamu juga tidak tahu bagaimana siksanya suamimu di sana," kata Ummi Humairah yang duduk di samping Ibu Hanum.


"Lantas, mengapa aku tidak bisa membesuknya. Mengapa?!" Inayah seakan kehilangan kesabaran.


"Nak, Terkadang seseorang diuji beberapa hal. Ummi paham keadaanmu sekarang. Namun, ingatlah kita juga harus memahami keadaan Amira, kakak ipar kamu dan Raka," Ummi Humairah memeluk Inayah.


Inayah baru sadar. bahwa apa yang dikatakan semua orang itu benar.


Melihat Inayah menatapnya, Ibu Fatimah pun beranjak di dekat Inayah. lalu, berkata, "Semua indah pada waktunya, Nak."


"Semoga saja, Ibu. Maafkan Inayah telah membuat kalian khawatir."


Ibu Fatimah dan Ummi Humairah pun mengerti. Inayah kembali mual. Betapa tersiksanya perasaan Inyah dengan rasa mual yang terus datang meyerangnya.


***


Mendengar kabar Inayah hamil Aditia sangat bahagia. Kehamilan Inayah merupakan hadiah terbesar baginya.


"Tuan, anda punya istri, tapi bagaimana bisa Anda melakukan hal yang mengantarkan anda masuk di tempat ini. Apa tidak cukup satu?"


Aditia menoleh dan melihat wajah pria itu. Darahnya mendidih mendengar kalimat tersebut.


"Kalau tidak tahu permasalahannya lebih baik anda diam, Tuan," geram Aditia.


Begitu Aditia akan membalas ucapan pria tersebut panggilan datang untuknya.


"Tuan Aditia. Seseorang datang membesuk anda." Aditia pun dikeluarkan untuk menemui siapa orang yang datang lagi membesuknya.


"Amira?" Aditia mengedarkan pandangannya mencari sesorang. Aditia bertanya dalam hati dengan siapa Amira datng di kota itu hingga Amira dayang membesuk.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Amira.!


"Aku baik," balas Aditia dan langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan di mana Amira sudah duduk di sana.


"Apa kau sudah mendengar kabar tentang Inayah? Dia hamil anakmu. Apa kau bahagia?"


"Siapa tidak bahagia mendengarnya," senyum Aditia menundukkan wajahnya.


"Terlihat kau sangat mencintainya. Walau kau tidak mengatakan aku bisa melihat itu. Semoga kalian terus bahagia." Sakit rasanya mengatakan itu. Mengapa dirinya cemburu. Bukankah sebelumnya dirinya memberikan Inayah semangat untuk memperjuangkan cinta Inayah bersama Aditia?


"Aku terpaksa mengatakan sesuatu yang harusnya meringankan hukumanmu. Kau tahu kenapa?" Amira berusaha sekuat menepis perasaan yang harusnya memag harus ditepis olehnya. Bukankah Raka yang terbaik untuknya.


"Kenapa kau menuduhku jika hari itu aku sempat menyentuhmu, Amira. padahal hari itu aku hanya...."


"Ya, Kau hanya mengabil bagian bi** dengan paksa. Dan aku merasa jijik dengan hal itu. Aku marah padamu, Adit!"

__ADS_1


"Amira, aku mengerti perasaanmu. Namun, kau secara tidak sengaja telah menghancurkan perasaan Inayah dan Raka."


"Aku puas melihatmu sekarang tersiksa." kata Amira yang sebenarnya menyesal atas persaksiannya. "Saat itu aku masih memiliki perasaan denganmu. Namun, kau tidak memperjuangkan cinta kita. Kau membiarkan aku pergi, Adit!"


"Cukup Amira! Itu masa lalu. Tidaklah pantas membahasnya sekarang. Raka adalah pria yang tepat untukmu! Aku ikut bahagia Raka menjadi pendamping hidupmu, Amira. Hadirnya Habibi dalam kehidupan kalian adalah pelengkap dalam rumah tangga kalian," kata Aditia melihat bulir bening yang seketika tertahan di sudut mata Amira.


"Aku terima dengan persaksianmu di sini, Amira. Namun, tolong jelaskan sesungguhnya pada Raka dan Inayah yang sebenarnya. Aku Mohon! Cukup aku yang merasakan hal ini atas perbuatanku. Andai aku bisa berterimakasih, karena kamu aku bisa bersama dengan Inayah. pertemuan kita ternyata merupakan perantara aku menemukan Ianyah. Dan terimakasih juga sebelumnya kau pernah hadir dalam kehidupanku. Kau pernah hadir mengisi hati kin hingga aku merasa damai dalam menjalani hari-hatiku. Namun ternyata, kau dan aku tidak sejodoh, Amira."


Amira semakin terisak. Jika mengingat momen mereka dulu Aditia begitu mencintainya.


"Tapi aku yakin, Amira. Kau cukup bahagia dengan Raka. Raka adalah pria yang baik dan penuh tanggung jawab."


"Iya, dia menerimaku apa adanya. Bahkan keluarganya menerimaku dengan tangan terbuka," kata Amira menyadari hal tersebut.


"Maafkan juga keluargaku, Amira. pernah meyakiti perasaanmu." lanjut Aditia.


Usai berbicara, Raka baru datang setelah sebelumnya Raka meminta Amira duluan menemui Aditia.


"Raka?" gumam Aditia melihat kehadiran Raka tiba-tiba. Aditia tidak berharap, Raka mendengar percakapannya dengan Amira sebelumnya.


segera Amira mengusap air matanya sebelum Amira menoleh ke arah Raka dan meminta izin untuk duluan keluar.


"Aku duluan, Mas," pamit Amira.


"Baiklah." Raka menatap kepergian Amira kemudian beralih melihat Aditia.


"Bagaimana kabarmu, Tuan Aditia?"


"Jika kau datang hanya meledekku lebih baik kamu kembali ke kotamu," timpal Aditia.


"Entah aku bahagia kau di sini atau justru aku tersiksa." ucapan Raka membuat keduanya saling diam.


"Aku serba salah dalam posisi ini. Aku melihat cinta kalian begitu kuat. Kalian seperti terikat satu sama lain. Aku tidak tahu." Raka menundukkan wajahnya.


"Maafkan aku, Raka. Aku telah menyiksa perasaan Inayah secara tidak sengaja."


"Ini Foto Inayah. Inayah sekarang sudah keluar dari rumah sakit. Aku dengar kamu tidak mengizinkan Inayah menjegukmu. Bagaimana bisa kamu bisa bertahan?"


Aditia menerima foto Inayah dan berkata. "Demi istriku untuk tidak menginjakkan kakinya di tempat ini. Aku rela untuk dia tidak datang kemari. Itu lebih baik untuknya. walau aku sangat merindukan mengusap wajahnya secara langsung."


Raka tidak lagi berkata. Sebenarnya Raka ingin menanyakan sesuatu pada Aditia. Namun, Diurungkan niatnya.


"Baiklah aku pamit pulang," kata Raka berdiri dari tempatnya.


Aditia menatap kepergian Raka. Berharap Amira menceritakan yang sebenarnya pada Raka dan Inayah.


"Amira? Apa yang sedang kamu lakukan disini?"


Amira mengusap air matanya. mengapa dirinya tidak logis dalam berfikir. Mengapa harus kembali meneteskan air mata? Mengapa ia mengingat kembali masa indah bersama Aditia dulu? Sungguh tidak benar.

__ADS_1


***


Mana kopinya buat Author. 😄😄😄


__ADS_2