Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 92. Kado Spesial


__ADS_3

Entah sudah berapa lama menunggu di depan pintu, Namun pintu tersebut tidak kunjung terbuka. Menelpon orang di rumah, tidak ada jawaban.


Aditia kembali bersungut. "Kemana kalian?" Aditia mencoba menelpon Inayah akan tetapi, hal yang sama tidak ada jawaban.


"Oh, bundanya Rayyan, apakah kamu ada di rumah Tuan Subari?" Aditia menyimpan benda pipih itu dalam saku celananya.


Tangannya mulai memegang Handel pintu. Mencoba mendorongnya. "Lho pintu bisa dibuka. Tadi terkunci." Aditia heran.


Begitu pintu terbuka, musik ulang tahun dalam irama yang berbeda membuat Aditia tercengang tidak percaya.


"Barakallah fii umrik! Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat di sepanjang fase kehidupan kamu ke depannya, termasuk kesehatan dan umur yang panjang untuk suamiku tersayang, ayahnya Rayyan dan calon anak aku."


"Oh, jadi ini semua rencanamu, Sayang?"


Inayah mengumbar senyum manis dibalik cadarnya. Sedari tadi saat Aditia pertama datang mentertawakan suaminya melalui CCTV.


"Mas, kau curang. kata Ibu kamu pasang kan CCTV di kamar rumah kita?"


"Iya, kenapa?"


"Mas!"


"Cuma aku yang lihat. Jadi aman dari mata pak pak didit." Senyum di wajah Aditia menghias.


"Mas Adit!" Inayah memukul lembut dada bidan Aditia yang langsung memeluknya begitu erat. takutnya akan keguguran karena terjepit dengan perut Aditia yang memeluk dirinya begitu erat.


Semua orang tertawa melihat hal itu. Dan Aditia, langsung memeluk istrinya kembali sambil mengucapkan terimakasih atas kejutan yang diberikan untuknya.


"Tadi aku dengar...." ucapan Aditia terhenti ketika Inayah memberinya sebuah kado istimewa.


"Bukalah, Mas! Semoga suka." kata Inayah menatap binar suaminya.


Semua berteriak, agar Aditia membuka kado spesial dari Inayah.


"Sayang, kamu sedang tidak kembali mengerjai aku, kan?" Aditia sedikit curiga.


"Mas, apa aku sedang tidak serius?" ujar Inayah.


kebahagiaan terpancar pada Tuan Subari dan Ibu Hanum serta Amira dan Raka juga Ibu Fatimah dan Ummi Humairah. Perjalanan cinta keduanya begitu rumit. Ada banyak lika liku ujian yang datang.


"Ayo, bukalah!" pinta Inayah lagi.


Aditia mulai membuka kertas kado itu. Ada begitu banyak pembungkus kado tersebut.


"Sayang, kenapa banyak sekali sih bungkusannya. Ini sudah lima kotak," protes Aditia sudah sangat penasaran isi dari kado tersebut.

__ADS_1


"Ayo buka!" pinta Inayah lagi.


Terlihat kotak kecil di sana. Aditia kembali membuka pembungkus kado berwarna merah terebut.


Aditia tidak percaya dengan kado dari istrinya. "Sayang, kamu hamil? Hamil adiknya Rayyan? di sini ada anak kedua aku. Alhamdulillah!" Seketika Aditia memeluk Inayah penuh cinta dan kasih.


"Mas, anak aku kejepit. Aku tidak bisa bernafas."


"Sayang, melihat ini rasa lelah ku hilang. Pantas saja beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan, apa kerena dia? Anak ini lebih parah dari Rayyan mungkin Cerewetnya. Bisanya masih dalam kandungan sudah mengerjai aku."


Semua keluarga yang hadir mentertawakan Aditia.


"Mana pak wawan dan pak Samsul?" Aditia mencari keberadaan dia orang tersebut.


"Aku tuan." sahut pak wawan sebagai satpam bagian pintu gerbang yang baru memperlihatkan dirinya bersama pak Samsul.


"Nona yang memaksa tuan, jadi bukan salahku. Jangan dipotong, gajiku, Tuan." pak Samsul dengan cepat menjelaskan.


"Gajimu akan tetap aku potong. Lihat saja sebentar rekeningmu!" ujar Aditia mengedipkan matanya ke arah Inayah.


"Tenang saja pak wawan, pak Samsul. Jika dia berani memotong gajimu, maka dia juga akan dapat potongan.


Aditia dan Inayah saling menatap. Kembali tawa didalam ruangan itu terdengar.


Pak Samsul dan pak wawan begitu terkejut melihat saldo Rekeningnya seketika. Bukannya terpotong, malahan nolnya bertambah banyak.


"Alhamdulillah, Tuan. semoga panjang Umur, sehat selalu dan terus dimudahkan rezekinya." Pak Samsul dan pak Wawan begitu bahagia.


"Amin, Pak. jawab Inayah.


Terlihat wajah keduanya begitu bahagia. Semua ikut merasakan kebahagiaan.


"Terimakasih, Sayang. Hari terindah ini tak pernah aku lupakan. Aku mencintaimu, Inayah"


"Aku mencintaimu, Mas, suami aku, imam aku. Terimakasih juga semuanya."


Aditia mengecup kening Inayah. Keluarga kecil itu berfoto bersama.


Namun, Suara seorang wanita tiba memecahkan kebahagiaan itu.


"Marina?" lirih Aditia. Aditia merangkul Inayah dan Rayyan.


"Selamat ulang tahun untukmu. Hari ini sangat bersejarah dalam hidupku, Aditia. Kamu ingat, hari dimana tepat hari ulang tahun kamu, di ruangan ini, kita hampir saja menikah. Aku sangat bahagia hari itu." Marina masuk dengan buket buket bunga besar ditangannya.


"Siapa yang mengundangmu? Apa yang kamu lakukan di sini?"

__ADS_1


Marina tertawa melihat kedua tangan Aditia merangkul keluarga kecilnya. "Harusnya aku yang diposisi itu."


"Apa maksudmu, Marina?" Aditia menatap Marina yang terus melangkah menuju arahnya.


"Mas Adit, Semenjak hari itu, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Aku menyesali setiap saat hari-hariku. Aku terlalu bodoh tidak menghargai ketulusanmu hari itu. Aku ikut bahagia apa yang kamu rasakan hari ini. Sekarang, kamu sudah menemukan kebahagiaanmu bahkan kamu sudah memiliki keluarga yang lengkap. Tapi aku, Aku harus kehilangan anakku dan rahimku!"


"Apa urusannya denganku. Kau sendiri yang memutuskan hubungan kamu dengannya. Lalu, di mana salahku?"


Marina tertawa kemudian terus melangkah dan Aditia terus mundur kebelakang.


"Jangan maju marina!"


"Aku hanya kemari ingin memberikanmu ucapan selamat ulang tahun, Adit. Aku kemari juga akan pamit. Aku sudah berjanji pada Inayah akan pergi jauh dari kehidupan kalian." Marina menatap Inayah yang diam.


Sebelumnya, Marina datang ke rumah Inayah dan sempat kembali memakinya. Namun, Inayah bukanlah wanita yang mudah terprovokasi.


"Aku akui, Inayah istrimu wanita yang kuat dalam segala hal. Tidaklah sama denganku. Maafkan aku, Inayah. Aku sudah kalah. Kaulah pemenangnya. Aku tidak bisa merebut kembali cinta Aditia.


"Tidak ada kalah atau menang, Nona. Aku tidak merasa aku menang atau kalah. Kami hanya menjaga komitmen dalam rumah tangga kami."


Aku mengerti. Maafkan aku dengan keegoisanku. berbahagialah. Marina memberikan buket bunga besar itu pada Aditia. Awalnya Aditia tidak ingin menerima.


Hingga pada akhirnya, Aditia menerima buket bunga itu. Marina tersenyum.


"Terimakasih kau masih mau menerima bungaku. Aku pamit. Teruslah berbahagia. Putramu sangat tampan dan pintar. Bahkan dia sempat memujiku. Kstanya, Aku CANTIK jika tidak galak."


Marina mengusap kepala Rayyan dan berlalu. Semua perhatian tertuju pada Rayyan. Aditia berjongkok menatap Rayyan.


"Rayyan, kau menggodanya?"


"Tidak. Aku tidak menggodanya. jika pun aku menggodanya, apakah salah? bukankah tante itu cantik?


"Bunda akan cemburu jika anaknya seperti ini." Aditia menoleh melihat Inayah.


"Siapa yang cemburu? biasa saja. karena aku marasa istri dan Ibu paling cantik untuk suami dan anakku. Juga, Bunda hebat." puji Inayah bercanda.


"Benar, Bundaku hebat! Dia tidak kalah cantik dengan tante tadi. Buktinya ayah selalu sayang Bunda." Rayyan memeluk Inayah.


Adita kembali menyahut. "Apa ayah tidak dipeluk?"


"Berjongkoklah, ayah!"


Aditia berjongkok dan Rayyan langsung mengecup pipi Aditia dan berkata. "Ini kecupan dari bunda. Kami sudah sepakat. Dan kecupan kedua ini dari adik Rayyan yang masih ada di dalam perutnya bunda."


"Terimakasih, Ayah. Ayah sudah penuhi janjinya. Aku akan belajar dengan tekun biar Rayyan jadi kakak yang baik untuk Adik Rayyan Nanti."

__ADS_1


Aditia memeluk keluarga kecilnya. Acara terus berlanjut. Tidak hentinya Aditia Terlihat mengumbar senyum dan tampak terlihat tangan kokohnya. mengelus lembut perut Inayah.


✍️✍️✍️Selamat Membaca. 😉😉😉😉Salam manis dari Author buat pembaca setia aku....


__ADS_2