
Hari ini adalah bulan ke tiga mereka menyandang gelar suami istri Tidak ada perubahan di dalam hubungan itu.
Tidak ada yang spesial. Kalau urusan cinta seperti nya ada tapi masing-masing masih mengukuhkan hati. Tidak memberikan sedikit celah agar rasa itu tumbuh dan berkembang.
Mereka tetap saling mengabaikan pasangan nya. Mereka seolah sibuk dengan dunia masing-masing. Sibuk dengan kegiatan masing-masing.
...****************...
"Dit.. bangun dong." Panggil sang suami yang sedang mengikat dasi.
Zidan sudah beberapa kali mencoba membangunkan sang istri.
Dita tak merespon panggilan suaminya. Masih asik bergelut di dalam selimut.
Melihat Dita tidak merespon Zidan mendekat dengan tatapan keheranan. Biasanya Dita tidak pernah bangun telat. Tapi kejadian ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu.
"Dita... kamu kenapa gk bangun bangun sih? udah jam berapa ini? oi??" Zidan menggoyang kan lengan Dita pelan.
Dita akhirnya membuka mata karena sentuhan Zidan pada lengannya.
"Emang ini jam berapa mas?" tanya Dita dengan suara khas bangun tidur.
"Udah jam delapan pagi" Zidan menunjuk jam yang ada di samping ranjang.
"Ya ampun aku terlambat membantu ibu" Dita panik dan langsung berlarian ke kamar mandi.
Zidan menggeleng geleng kan kepala melihat kelakuan istrinya.
"Dasar... " ujarnya merapikan dasi. Hari ini Zidan akan kekantor untuk ikut meeting dengan sang ayah.
Sudah beberapa bulan belakangan Zidan mulai aktif untuk turun bekerja di perusahaan sang ayah. Ia juga tidak meninggalkan kuliahnya yang tinggal menghitung bulan Ia akan lulus.
Tak lama setelah itu terlihat lah Dita yang keluar dari kamar mandi.
Zidan menatap wajah Dita yang terlihat pucat.
Zidan mendekat ke arah Dita.
"Kamu kenapa?? wajah kamu kok kelihatan pucat ?" tanya Zidan .
"Gk tau mas.. belakang ini kepala ku sering sakit" balas Dita.
"Kamu muntah??" tanya Zidan memegang dahi istri untuk mengecek suhu tubuh tapi ia tidak menemukan hal aneh di sana.
"Iya" Dita menjawab dengan lemah.
"Kok bisa??" tanya Zidan.
"Gk tau" balas Dita.
Zidan menggiring istrinya ke arah tempat tidur. Ada rasa kasihan dan sedikit khawatir melihat keadaan sang istri.
"Kamu tidak usah ke bawah. Nanti aku suruh bibi untuk menyiapkan makanan mu" Ujar Zidan sambil menuntun Dita agar berbaring kembali.
"Makasih mas" balas Dita dengan senyum lemah.
__ADS_1
"Iya. Ingat,, aku hanya khawatir keadaan kamu. Kalau dengan keadaan begini kamu juga ikut turun apa kata ibu nanti. Jangan anggap perhatian ku ini spesial, paham kan kamu" ketus Zidan mengingat kan.
"Iya mas, aku tau kok" balas Dita.
Zidan beranjak dari kamar dan segera turun untuk sarapan bersama.
Dikamar Dita belum terlelap. Ia hanya berbaring menatap langit kamar. Sekilas ia merasa senang dengan perhatian sang suami. Tapi ia juga tau diri ini bukan pernikahan yang dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai tetapi hanya sebuah pernikahan yang terjadi untuk mencapai tujuan bersama. Zidan memenuhi perintah ayahnya sedangkan Dita menyelamatkan ibunya.
Dita menghela napas berat dan mencoba untuk tidur lagi agar sakit kepala nya berkurang.
...----------------...
"Dita mana nak?" tanya ibu melihat Zidan makan sendiri dan kursi di samping nya terlihat kosong.
"Sebentar bu.. bibi" panggil Zidan.
"Iya tuan" jawab bibi.
"Siap kan makanan ya untuk Dita. nanti aku yang akan mengantarnya" ujar Zidan. bibi yang mendapat perintah hanya mengangguk dan langsung melakukan apa yang di suruh Zidan.
"Kenapa Dita?? sakit??" tanya ibu kembali.
"Iya Bu.. aku juga gk tau kenapa Dita. Sudah seminggu ini Dita sering tidur, pagi hari muntah dan kepalanya juga sakit" jawab Zidan santai.
Mendengar ucapan itu seketika Angga dan Ryan bersitatap. Mereka bertanya melalui tatap an "bukankah itu tanda tanda hamil?? tapi bagaimana bisa??" begitulah kurang lebih ya๐คฃ.
Sedangkan Vina dan Tika terkejut apalagi dulu Dita pernah bercerita bahwa mereka sudah berhubungan suami istri.
Ibu mencerna apa yang di katakan Zidan
"Iya" jawab Zidan biasa saja
"Sayang.. mungkinkah cucu kita akan hadir" ujar ibu senang menatap sang ayah.
Duarrrrrr...
Semuanya terkejut apa yang mereka pikirkan di katakan oleh ibu.
"Benarkah cucuku akan hadir?" tanya ayah dengan senang hati.
"Mungkin saja iya sayang" jawab ibu.
"Hamil?" tanya Zidan melihat ibunya dengan ekspresi terkejut.
"Iya sayang.. mungkin saja. Kamu kan dokter masa begitu saja tidak tau. setidaknya kamu tau tanda tanda cucuku akan datang kan? " jawab ibu.
Semua masih tidak percaya apa lagi Ryan dan Angga. "kapan mereka melakukan itu??" Ryan membatin.
"Kok bisa ya??" Angga juga membatin.
Zidan masih dengan ekspresi tidak percaya. "Kenapa bisa?? padahal malam itu hanya 2 kali aku melakukan nya. langsung jadi rupanya?" Zidan membatin.
"Nanti kamu beli alat tes kehamilan dulu. coba kamu cek dulu, kalau dugaan ibu benar. Baru ke dokter" tutur ibu. Zidan masih mode diam. Ia sedang bergelut dengan pikiran nya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Zidan kembali ke kamar membawakan makanan untuk Dita. Zidan menatap Dita seolah tidak percaya apa yang di katakan ibu.
"Dita... makan dulu" ujar Zidan membangun Dita dengan lembut.
"Uhhmmm.. iya mas" Dita segera bangkit Zidan membantu nya bersandar di dasbor ranjang.
Zidan menyerahkan Napan yang berisi makanan kepada Dita. Zidan menatap perut Dita yang masih terlihat datar. Seketika Zidan senang ia akan menjadi seorang ayah meskipun belum ada bukti yang menunjukkan Dita hamil anaknya.
Dita melihat suaminya tersenyum tipis menatap kearah nya. Dita bingung kenapa suaminya tidak ke kantor padahal hari ini jadwal meeting.
Zidan membatalkan jadwalnya dan ayah mengizinkan hal itu.
Zidan masih menatap nya. Dita melihat itu entah perasaan dari mana Dita ingin rasanya memeluk suaminya tapi ia takut Zidan akan memarahi nya. Tapi Dita tidak tahan lagi ia memberanikan diri untuk meminta hal itu.
"Mas.. aku udah siap makannya. udah kenyang" tutur Dita. Zidan melihat kearah piring dan benar saja makanan nya sudah habis.
Zidan langsung mengambilnya dan meletakkan di meja samping ranjang.
"Mas.. boleh aku memeluk mu? " pinta Dita dengan menundukkan. Ia sungguh takut Zidan memarahi nya.
Zidan tertegun atas permintaan Dita. Zidan sudah yakin bahwa Dita benar sedang mengandung anaknya.
Tanpa di duga Dita. Zidan langsung memeluk tubuhnya. Dita merasa senang dan mengeratkan pelukannya. Dita mencium bau tubuh suaminya. Seketika sakit kepala nya berkurang dan ia merasakan kenyamanan dalam pelukan itu.
Setelah lama berpelukan akhirnya Zidan menguraikan pelukan itu.
"Kamu sudah datang tamu bulanan di bulan ini? " tanya Zidan.
"Belum mas.. udah 2 bulan aku tidak datang bulan" ujar Dita.
Zidan melotot, tidak salah lagi Dita memang sedang hamil.
"Dita.. aku tidak tau apakah ini benar atau tidak. Tapi kamu mau kan periksa dulu?" ujar Zidan sembari menyerahkan alat tes kehamilan ke Dita.
Dita tersentak kala melihat benda itu.
"Maksud mas?? aku?"
"Iya.. coba saja ya" ujar Zidan..
" Iya mas.. " Dita menurut karena ia juga penasaran.
Setelah beberapa menit Dita keluar dari kamar mandi dengan wajah tertunduk.
"Bagaimana?? apa dia benar ada disini? tanya Zidan.
Dita tak menjawab ia menyerahkan alat itu kepada Zidan. Zidan langsung melihat dan seketika perasaan senang menyeruak kepermukaan. Tanpa disadari Zidan memeluk Dita sembari mengucapkan terimakasih. Dita merasa senang setidaknya ia juga akan merasakan kasih sayang dari suaminya melalui anaknya.
"Baik baik di dalam ya" ujar Zidan mengelus perut Dita yang masih datar itu. Dita hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya.
"Kamu istirahat lah.. nanti kita ke dokter ya, aku turun dulu untuk memberitahu ibu kabar gembira ini" ujar Zidan senang. Zidan spontan mencium kening Dita dan berlalu pergi ke bawah.
"Beruntung sekali dirimu sayang. Setidaknya ayahmu tidak membenci kehadiran mu" ujar Dita sendu mengelus perut datar nya.
...***************...
__ADS_1
...Akhirnya Dede online udah nongol satu ๐๐selamat datang baik baik ya di sana ๐๐...