
Dita membawa nampan ke meja teman Daisya. Tiga serangkai duduknya membelakangi Dita sehingga ia tidak melihat wajah mereka dari jauh.
Dita meletakkan minuman dan makanan yang sengaja di buat untuk teman teman Daisya. Ia sengaja membuatnya mengingat Daisya masih baru di lingkungan sekolah mereka.
"Silahkan di minum ya" ucap Dita melihat ke tiga serangkai.
"Iya Tante, terimakasih banyak" Zico menjawab.
Alangkah terkejutnya Dita melihat wajah Zico. Ia tidak percaya atas apa yang ada kini di depan matanya
"Zico" lirih Dita.
Daisya dan Zafa yang memperhatikan raut wajah Dita. Mereka makin yakin bahwa benar mereka memiliki hubungan dengan tiga serangkai ini. Mereka memilih biasa saja agar bunda tidak curiga kalau ini adalah bagian dari rencana.
"Wah.. Tante udah tau aja ya nama abang Zico. Padahal belum kenalan lagi" Jeno memancing.
"Eh.. iya namanya Zico ya?" Dita menetralkan kembali suasana.
"Tante lihat di meja kepsek kemarin daftar daftar teman sekelas Daisya" kilah Dita.
"Sebegitu nya dirimu entah kamu ibuku atau bukan tapi hatiku rasanya sangat sakit mendengar ucapan dari mu" batin Zico.
"Kalau yang kalian berdua siapa namanya?" Dita mengubah topik pembahasan.
"Kenalin Tante saya Jeno ini adik saya Dani"
"Halo Tante salam kenal" sapa Dani.
Dita tersenyum melihat mereka berdua dan menatap sendu kearah Zico.
"Maaf kan bunda sayang, bunda tidak bisa berterus terang sekarang. Bunda hanya takut sekuat apa pun bunda berusaha tidak bisa memeluk mu lagi seperti kamu masih bayi dulu. Ingin sekali bunda minta maaf kepadamu tapi bunda tidak bisa. Maafkan bunda.. terimakasih sayang sudah tumbuh sebesar ini" lirih Dita membatin.
"Ya sudah, lanjutkan makan nya ya, bunda ke dapur dulu"
"Apa kami juga boleh memanggil Tante dengan sebutan bunda?" lirih Zico.
Zico yang sehari hari adalah anak yang mandiri dan kuat tiba tiba menjadi melow hari ini. Keadaan haru membuat dua adik Zico terkejut dengan perubahan sikap Zico.
"Boleh kok sayang" Dita tersenyum hangat.
"Terimakasih" ucap Zico.
"Iya.. sama sama".
Dita buru buru ke dapur ia ingin menumpahkan semua air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak jatuh.
"Afa rasa bang Zico beneran abang Afa, soalnya tadi lihat wajah bunda sangat terkejut bukan main dan ada kesedihan ketika melihat wajah bang Zico. Afa gk pernah melihat wajah bunda begitu" ujar Zafa.
"Aku juga setuju dengan mu dek, bunda tidak pernah seperti itu" balas Syasya.
"Wah.. selamat datang sepupu ku" ujar Jeno tersenyum lebar ke Zafa.
"Hehehe... iya" jawab Zafa.
"Berarti bisa kemungkinan kau juga adik atau kakak ku Sya" timpal Dani. Daisya mengangguk mengiyakan.
"Berarti jika si kembar adik bg Zico, Syasya saudara Dani, maka aku dengan bocah lelaki galak tu saudara juga dong" ujar Jeno ngeri melihat wajah marah El ketika ia memegang rambut Zifa.
__ADS_1
"Kau jangan seperti itu, biar bagaimanapun ia tetap adik mu" jawab Zico.
"Iya sih. Tapi bg Zico ini kulkas lo afa. Lihat lah setelah tadi ia tidak menyapamu" ledek Jeno
"Iya.. aku tau, mungkin bg Zico malu" Zafa terkekeh.
"Hmmm... ini belum bisa di tarik kesimpulan begitu saja. Kita harus melakukan tes DNA dulu baru kita putuskan" Zico datar.
"Bagaimana caranya ya kita tes DNA tanpa ketahuan" Dani bingung.
"Aku punya rencana, pokoknya besok pagi kalian harus memberikan sampel rambut atau kuku kalian untuk di tes dan jangan lupa ambil punya El sekalian" ujar Zico.
"Ok" Syasya mengangguk.
"Baiklah... sebaiknya kami pulang dulu sudah lama juga kami disini. Besok kita bicarakan lagi apa yang harus kalian lakukan" balas Zico. Syasya mengangguk.
"Eh.. mau kemana?? mau pulang ya?" Dita tiba tiba menghampiri mereka.
"Iya bunda.. soalnya udah lama disini , kasian ibu di rumah cariin kami nanti" jawab Dani.
"Ini bawa kue nya ya, kasih sama ibu kalian"
"Makasih banyak bunda" jawab Jeno.
Zico tidak menjawab apa apa. Ia hanya terdiam.
...****************...
Di seberang jalan ada Dimas yang sedang memperhatikan toko Dita.
"Itu bukan toko roti Rina ya, apa jangan jangan mantan istri pak Zidan Rina lagi. Tapi gk mungkin lah pak Zidan mau nikah modelan Rina. Anak kembar itu mana ya, kok gk nongol nongol." gumam Dimas.
"aduh.. mereka bicara apa sih, malah gk denger aku nya, seharusnya aku pura pura kesana saja tadi tapi kalau ketahuan sama tiga serangkai itu kan susah juga" gerutu Dimas.
"Sebaiknya untuk Tiga serangkai itu nanti saja aku selidiki sekarang aku cari dulu kebenaran si kembar" ujar Dimas.
Dimas masih setia di mobilnya menunggu si kembar keluar, Ia memakan mie instan cup untuk menunda laparnya karena sudah setengah hari menunggu. Tak lama setelah itu keluar lah empat bocah dengan seorang wanita yaitu Dita. Mereka menaiki mobil untuk pergi dan Dimas mengikuti.
Dimas berhenti di taman dekat dari toko roti itu, rupanya anak anak itu membelikan kembang ga pada pedagang yang berjualan dekat taman.
Dimas mendekatkan diri pada mereka agar mengetahui apa yang mereka bicarakan dan siapa posisi Dita di sana.
"unda... Ifa mau dua ya embang ula nya" Ifa meminta, ia tahu bunda hanya akan membelikan satu saja.
"Gk boleh banyak banyak satu saja, nanti gigimu sakit karena manis" timpal Afa.
"Ih.. oleh ya unda.. " Ifa memelas.
"Ok.. tapi hari ini saja ya, besok besok satu saja beli nya ya" ujar Dita. ia tidak sampai hati menolak keinginan anak nya yang manja itu.
"Ye...ye... kasih unda" ujarnya gembira.
"Iya sayang"
"Bunda??? kok bunda sih?? itu anak nya Dita ya?? gue foto in aja deh nanti kasih sama pak bos" Ujar Dimas dalam hati dan mengabadikan mereka di dalam kamera ponsel nya.
Dimas masih memperhatikan mereka.Tak lama ia terkejut melihat penampakan El yang menghadap padanya menjilati kembang gula. Ia tadi tidak melihat El dengan jelas hanya dari samping.
__ADS_1
"Kok wajahnya mirip dengan Jeno ya, itu anak siapa sih?? kok mereka malah mirip dengan salah satu dari tiga serangkai" gumam Dimas bingung.
El melihat ada yang memperhatikannya ia mendekat.
"Paman.. kenapa paman melihat ku seperti itu?" tatapan membunuh El.
"Eh.. paman hanya merasa kamu mirip dengan anak saudara paman, makanya paman melihat mu tapi kalau membuat mu tidak nyaman maaf ya" Dimas tak enak hati.
"owh... oklah"
"Kok disini sih sayang, kamu kenal dengan paman ini?" tanya Dita.
"Gk bunda.. tadi paman itu memperhatikan El ternyata kata paman ini El mirip dengan ponakan nya" santai El.
"Maaf mbak jika mengganggu, saya gk niat jahat kok mbak hanya melihat saja" ujar Dimas.
"Iya.. tidak apa apa"
"Ini anak mbak semuanya?"
"Iya.. mereka anak saya"
"Cantik cantik dan ganteng ya"
"Kasih om.. om uga anteng kok" timpal Zifa bahagia karena Dimas memujinya.
"Kau sangat manis dan imut" kekeh Dimas membuat Zifa tersenyum lebar.
"Ya udah anak anak... kita pulang ya udah sore ini"
"Iya bunda.. "
"Mari mas.. kami permisi dulu"
"Iya mbak"
Setelah mereka pergi Dimas masih merenung karena tadi sebelum mereka berpisah Dimas sempat melihat wajah Daisya. Ia makin bingung dengan keadaan ini. Tiba-tiba mereka sangat mirip dengan tiga serangkai.
Dimas mengecek hp nya dan membelalak matanya
"Aduh.. mati gue dari tadi pagi rupanya pak bos Angga nelpon gue, bisa bisanya gue jawab ya. Abis dari tadi siang gue terlalu fokus sama si kembar sih, ntar gue jawab apa ya kalau Angga nelpon gue"
Dimas membaca pesan Angga.
(Kemana sih Lo dim?)
(tumben Lo gk angkat telpon gue)
(*awas Lo ya ketahuan sengaja gk angkat telpon gue dari tadi, gue potong gaji Lo setengah!!)
Angga mengirim pesan ke Dimas dengan mengancam*.
Dimas hanya membaca pesan tanpa ada niat membalasnya dan mematikan ponselnya.
"Besok aja gue kasih tau sama pak bos kenapa gk jawab telpon dia" ujar Dimas dan berlalu pergi meninggalkan taman itu.
...****************...
__ADS_1
...Untuk pembaca setia ku, aku izin dulu sampai tanggal 27 karena ada hal yang perlu di urus. Maaf yang sebesar besarnya ๐ tapi kalau urusan udah selesai aku akan up lagi kok....
...Semoga masih suka dengan cerita ini๐...