Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Mereka Di Culik


__ADS_3

"Ayok kak Afa, Ifa kita di jemput Tante Tania dengan om Dion kalau tidak salah namanya" tunjuk El pada Afa.


"Kenapa bunda gk jemput, biasanya kita pulang terpisah"


"Mungkin bunda ada kerja jadi di suruh tante Tania yang jemput"


"Em.. tapi aku senang, nanti bisa minta dibelikan es krim sama tante Tania pasti bunda tidak akan marah. "


"Iya El.. aku suka ide itu. Aku juga menginginkan es krim"


"Ayok kita hampiri mereka" ajak El.


Ketiga nya pun berjalan melangkah menuju Tania dan Dion yang berada di depan gerbang sekolah.


"Sayang!!!" panggil Tania melambaikan lambai tangan nya.


Dion sedikit tersentak mendengar ucapan "sayang" dari ucapan Tania pada cucu Malik itu.


"Sepertinya dia sudah sangat dekat dengan mereka" batin Dion menatap Tania dengan wajah datar.


"Tante.." balas ketiga anak tersebut setelah mendekat pada Tania dan Dion.


Tania mensejajarkan tubuhnya dengan tiga tubuh mungil di depannya. "Sayang.. hari ini tante yang jemput ya. Em.. bunda sama mommy sedang ada kerjaan yang harus membantu ayah dan Daddy. Jadi mungkin Bunda dan mommy akan pulang ke rumah dalam beberapa nanti. Jadi saat ini ikut Tante ke rumah lama ya, nanti kita juga akan tinggal di Mansion"


Ketiga anak tersebut mengangguk. "kalau mama kemana Tante? apa juga membantu papa bekerja?" tanya El.


"Iya sayang.. kalau El gk percaya tanya sama om Dion. Om Dion kan sekretaris papa Ryan."


"Beneran om?"


"Iya El. Memang sedang ada kerjaan yang sedikit mendadak." balas Dion.


"Owh.. okelah"


"Kalau gitu kita pulang ya"


"Iya Tante, tapi tante kami boleh minta dibelikan es krim gak? soalnya kami sudah lama tidak memakannya" ujar Ifa dengan imutnya.


"Kamu manis sekali sayang. Baik.. nanti tante belikan. Kalian boleh pilih berapa pun, tante tidak akan melarangnya"

__ADS_1


"Hore...!! makasih banyak Tante Tania. Kamu sayang Tante" ujar Ifa sehingga ketiga anak tersebut memeluk tubuh Tania.


Tania terharu merasakan pelukan hangat tubuh mungil itu. Ia teringat akan adik laki-lakinya yang berada di kota lain yang juga dulu selalu memberikan pelukan hangat untuk nya.


Dion hanya diam setelah menjawab pertanyaan El tadi. Namun tatapan nya tidak jauh dari pada menatap Tania yang nampak sendu. Tapi lagi lagi Dion tidak memunculkan wajah simpati melainkan bertahan dengan wajah dingin nya.


...****************...


Di lorong rumah sakit nampak Angga dan Zidan berlarian menuju parkiran. Mereka ingin segera memastikan kejadian seperti apa yang di timpa oleh sang istri.


Zidan di buat panik, cemas, dan gelisah. Begitu juga dengan Angga, ia merasakan hal yang sama dengan Zidan. Bagaimana tidak orang yang disayangi tidak ada kabar dalam beberapa jam ini.


"Sayang.. kamu baik baik saja kan? maafkan aku, aku terlambat menyadari akan dirimu" ujar lirih Zidan.


"Aku mohon kamu kembali, aku tidak bisa memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk menimpa mu sayang" ucap Angga di mobilnya.


Zidan memasuki mobilnya, Angga juga melakukan hal yang sama. Mereka menuju tempat Dimas yang lebih dulu menemukan jejak sang istri. Kedua mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya.


...****************...


Sedangkan di rumah sakit terlihat Vina yang masih dengan tangisnya menatap sang suami yang masih terbaring lemah di kasur.


Vina merutuki dirinya. Ia menyalahkan semua yang terjadi pada Ryan disebabkan oleh dirinya.


Tapi hati Vina masih takut, ia sangat takut jika sang suami tidak akan bangun lagi.


Suara telapak kaki menuju ke arah Vina. Disana terlihat Nyonya Malik dan Tuan besar Malik. Mereka tergesa-gesa menghampiri sang menantu.


"Nak.." panggil ibu.


Vina mendongak, kemudian menghampiri sang ibu dengan air mata yang berjatuhan.


"Sabar sayang.. kamu harus kuat, semuanya akan baik baik saja" ujar ibu memeluk dan mengelus punggung Vina yang bergetar karena menangis.


"Maafkan aku ibu, Ryan seperti itu karena aku. Seharusnya aku saja yang mengalami itu. Maaf kan aku" ucap Vina lirih.


Ibu tak dapat menahan air matanya, tetapi ia sebisa mungkin tidak menangis. Ia mencoba kuat agar sang menantu kuat. Ia tidak ingin jika semua sedih. nanti siapa yang akan menguatkan sang menantu jika bukan dirinya.


"Nak.. jangan menyalahkan dirimu, ini semua bukan salahmu. Ini adalah takdir. Kita hanya bisa mendoakan dan memberikan dukungan terbaik untuk kesembuhan Ryan" balas ibu.

__ADS_1


Ibu merasa ada yang ganjal, ia memperhatikan sekeliling. Ibu bingung kenapa dua menantu dan putranya tidak hadir di sini.


Tuan besar Malik pun merasakan hal yang sama. Tuan besar Malik melirik dokter Damian yang seperti nya ingin mengabari sesuatu. Ia tau betul jika dokter Damian adalah orang andalan Zidan.


Dokter Damian yang menyadari tatapan mata tuan besar Malik. Sedikit berbisik, "Tuan.. mari ikut saya sebentar, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan".


Tuan besar Malik mengangguk dan mengikuti langkah dokter Damian.


"Sebentar ya sayang, aku ingin bicara dengan Damian mengenai putra kita" pamit tuan besar Malik pada sang istri. Ibu Malik hanya mengangguk tanda setuju.


Mereka berjalan agak berjauhan dari Nyonya Malik dan Vina.


"Ada apa Damian? apa Ryan terluka sangat parah? kemana putraku yang lain dan istrinya?"


"Itulah yang ingin saya sampaikan Tuan. Tapi sebelum saya ingin menyampaikan bahwa keadaan tuan Ryan sudah agak membaik meskipun ia masih belum sadar"


"Untuk tuan Zidan dan Angga mereka berdua sedang mencari istri mereka"


"Apa! maksudmu?"


"Kedua menantu anda hilang kontak, tidak bisa di hubungi semenjak tuan Ryan di larikan kerumah sakit. Padahal Tuan Angga telah mengabari mereka. Bisa di bilang bahwa kedua menantu anda sedang di culik oleh seseorang. Kejadian Ini sudah memakan waktu sekitar 5 jam lebih kedua menantu anda tidak di temukan. Kedua putra anda sedang mencari istri mereka" jelas Damian.


"Siapa mereka yang dengan berani nya menyerang menantuku itu" geram tuan besar Malik.


"Aku juga tidak tau, sejauh ini tuan Zidan tidak mengabari apa pun. Aku hanya diminta untuk mengatakan hal yang tadi jika anda kerumah sakit"


"Baiklah.. kalau begitu kamu hubungi asisten ku dan minta dia segera bergabung dengan putra ku untuk mencari keberadaan menantu ku itu"


"Baik Tuan, saya akan melakukan nya" pamit Damian dengan mengangguk kepalanya


"Siapa mereka? dilihat dari polanya sepertinya ketiga kasus ini berhubungan erat. Jika begitu maka kemungkinannya pelakunya satu orang atau mereka melakukan hal ini secara bersama atau lebih dari satu orang" pikir tuan Malik.


"Aku harus memberikan hukuman yang sangat luar biasa untuk para pelaku yang sudah berani menyakiti ketenangan keluarga ku ini. Kalian lihat saja bagaimana cara aku menghancurkan kalian" geram tuan besar Malik.


...****************...


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Komentar


And Vote πŸ˜‰πŸ€­


__ADS_2