
Tika berbalik badan, alangkah terkejutnya dia saat melihat kepala Angga yang berada tepat di belakangnya.
"Apa Angga tidak pegal jika tidur di posisi ini?" gumam Tika pelan.
Angga sedikit terusik karena pergerakan tubuh Tika. Angga bergeser mendekat pada Tika yang terlentang.
Angga memeluk tubuh mungil Tika dengan kepalanya sudah bertengger di dada Tika dalam keadaan mata masih tertutup.
"Yang... jangan pergi" Angga mengigau dalam tidurnya. Tika menatap terkejut, pasalnya Angga masih mengingat dirinya meskipun dalam keadaan tidur.
Tika mengembangkan senyuman menatap wajah tampan dan manis suaminya.
"Ya ampun.. kenapa dia sangat manja bahkan dalam tidurnya" geleng-geleng kepala Tika.
"Apa dia akan nyaman dengan posisi ini?" cemas Tika, ia tidak ingin Angga merasakan kesemutan seluruh tubuhnya besok pagi.
Angga semakin memeluk erat dan mendekatkan kepalanya di ceruk leher Tika. Tika bergerak karena kegelian. Ingin Tika melepaskan pelukan Angga tapi Angga makin erat memeluk dirinya.
Tika mengubah posisi tangannya hingga ia memeluk tubuh Angga.
"Aku tau kamu sekarang sangat mencintai diriku, tapi aku penasaran kenapa kamu menutupi hal yang terjadi kemarin dari aku. Kenapa tidak jujur saja kalau sebenarnya kita tidak melakukan apapun malam itu, kau tau aku paling tidak suka jika seseorang berbohong padaku. Kau tau betapa takut nya aku, aku benci jika kita melakukan kesalahan itu." ucap Tika mengelus belakang Angga dan mengecup puncak kepala Angga dengan sayang.
Tika mengetahui semuanya tepat sebelum acara pernikahan nya di gelar. Lebih tepatnya ia baru saja mengetahui kebenaran nya.
Tika mengetahui semuanya karena tidak sengaja mendengar ucapan Dimas dan Dion.
Ada niat ingin membatalkan pernikahan nya tapi Tika mencoba berpikir positif dan memberikan Angga kesempatan untuk menjelaskan padanya.
Tika bernafas lega karena malam itu tidak terjadi apa-apa. Tapi Tika tidak habis pikir bagaimana bisa Angga tega membohongi dirinya.
Tak ingin berkutat dengan pikirannya sendiri, Tika memeluk erat tubuh Angga dan mencoba untuk tidur kembali karena jam masih menunjukkan pukul dua pagi.
๐
Di jam yang sama, kamar yang berjarak agak sedikit jauh darinya. Dita sedang berusaha melepaskan pelukan Zidan pada nya.
Dita tidak tahan untuk ke kamar mandi membuang air seninya.
"Zi... lepasin dulu ya.. mau ke kamar mandi" ucap Dita mengelus rambut Zidan.
"Eughh...."
"Mau kemana?" tanya Zidan tanpa membuka matanya.
"Mau ke kamar mandi, aku sudah tidak tahan" jawab Dita.
Zidan melepaskan pelukannya dan segera duduk.
"Kenapa kamu duduk, lanjutkan tidurnya"
"Aku akan ikut kamu ke kamar mandi"
"Ngapain ikut? kamu lanjutkan saja tidurnya. Aku hanya sebentar"
"Benarkah hanya sebentar?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Iya" angguk Dita.
"Baiklah... " Zidan merebahkan kembali tubuhnya di ranjang.
Dita berjalan menuju kamar mandi dengan segera ia membuang air seninya. Dita merasa sangat lega.
Zidan tidak tertidur ia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Zidan kembali tersenyum setelah melihat Dita mulai berjalan menuju ranjang mereka.
"Kenapa tidak tidur kembali" ujar Dita dengan posisi sudah berada di selimut yang sama.
"Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kamu sayang" ucap Zidan memelas.
"Ck.. Dasar.. ya sudah mari tidur" ucap Dita.
Zidan segera mendekati Dita dan memeluk nya. Zidan mendekap tubuh Dita di pelukannya.
"Zi... biar aku saja yang memeluk mu" pinta Dita diangguki oleh Zidan dengan cepat.
"Percuma kamu memeluk ku ujung ujungnya nanti kamu yang berada di pelukanku" batin Dita.
"Sayang... elus rambut ku" pinta Zidan mendongak ke arah Dita.
"Baiklah.. segera lah tidur bayi besar ku" ucap Dita mengecup kening Zidan.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa Zidan sudah kembali terlelap.
"Dia semakin manja sekarang" Dita gemas hingga menciumi pipi Zidan dengan sedikit keras.
"Eughhh" erangan Zidan sedikit terganggu.
๐บ๐บ๐บ
Ryan membuka matanya setelah mendengar suara alarm di ponselnya. Ryan menggapai alarm itu dan mematikan nya.
Ryan belum sadar dengan keadaan sekarang. Ryan memeluk kembali apa yang dipeluknya tadi.
Ryan merasa ada benda kenyal menyentuh pipi sebelah kiri nya. Ryan tersadar dan membuka kembali matanya.
Ryan tertegun melihat wajah Vina berada di atas kepalanya.
"Apa yang aku lakukan?" ucap Ryan bingung.
"aahh.." Ryan kembali mengingat bahwa mereka sudah sah bersama kembali.
Memori malam panas mereka semalam kembali berputar putar di otak Ryan. Ryan mengembangkan senyuman kala mengingat semua itu.
Ryan meluruskan kembali pandangan ke arah dada Vina, ia melihat penampilan dua gunung kembar milik istrinya secara jelas tanpa ada penghalang apa pun.
"Ukuran lebih besar daripada dulu" ucap Ryan. Seketika junior nya mulai menegang.
"Aduh .... kenapa aku malah jadi mesum sekarang" ujar Ryan kembali.
"Tapi tidak masalah kan kalau aku mesum pada istriku sendiri"
"Istriku sangat cantik, maafkan aku dulu pernah menyia-nyiakan dirimu" lirih Ryan.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kamu sudah kembali bersama denganku" Ryan mengembangkan senyuman nya.
"Aku tidak tau bagaimana hidupku jika kamu menolak perasaan ku. Tapi takdir ku tetap dengan dirimu sayang" gumam Ryan.
Ryan menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Ryan mengelus wajah Vina dengan pelan. Ia menatap wajah cantik Vina yang sedang terlelap dengan sangat dalam.
"Semoga kalian cepat hadir di rahim mama, agar mama tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan papa" Ryan mengelus perut Vina.
"Kok aku bilang nya kalian ya, kan belum tentu benih ku berhasil kembar lagi" Ryan terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
Vina membuka matanya. Ia terbangun dari tidurnya setelah mendengar gumaman Ryan.
"Pagi sayang" ucap Ryan.
Vina tertegun melihat wajah tampan suaminya yang menyapanya sebab ia lebih dulu terjaga dari Vina.
"Pagi juga" cicit Vina.
Vina sangat malu dengan penampilannya yang baru bangun tidur. Vina menarik selimut hingga menutupi mulutnya.
"Kenapa kamu menutupi mulutmu?"
"Mulutku bau"
Ryan tersenyum melihat tingkah Vina yang malu-malu. "Semua orang mulutnya juga kan bau sayang kalau pagi hari" balas Ryan.
"Tapi tetap saja" ucap Vina di balik selimutnya.
"Yang... aku mau lagi, boleh ya" pinta Ryan.
"Mau apa!" pekik Vina melotot matanya. Ia tidak habis pikir dengan pola pikir Ryan yang semakin mesum menurut Vina.
"Mau itu" ujar Ryan mendekati Vina dan mulai tangan nakal nya menjelajah masuk menyentuh tubuh Vina yang berada di balik selimutnya.
"Ini sudah pagi, kita mandi supaya cepat pulang. Kasian anak anak di jaga oleh mbak Rina" kilah Vina.
Ryan memicingkan matanya kemudian dia mengecup pipi Vina dengan cepat.
"Gk apa sayang, masih ada ayah dan ibu yang mengurus mereka" ujar Ryan.
Ryan masih sibuk menyentuh bagian sensitif Vina. Vina mulai masuk dalam jebakan batman yang di mainkan oleh Ryan.
Akhirnya pagi itu kembali terulang malam panas mereka semalam. Ryan tiada habisnya untuk menggempur tubuh istrinya. Vina menikmati setiap sentuhan Ryan pada tubuh nya.
...****************...
...Terimakasih kepada reader tercintah yang masih setia menunggu cerita ini๐น...
Jangan lupa untuk
Like
Komentar
and Vote ๐
__ADS_1