Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Menerima Kembali


__ADS_3

Happy Reading guys😁


Suasana sarapan pagi di mansion terasa lebih baik dari biasanya, kekeluargaan, kehangatan menjadi satu.


Meskipun sedikit kekurangan anggota keluarga, setidaknya lebih menyejukkan tapi terasa hangat. Berbeda dengan selama ini.


"Sayang.. yang banyak makannya, biar energi nya cukup untuk beraktivitas hari ini"


"Iya ayah" jawab Zico tersenyum lebar.


"Daddy.. kami di antar mang Kardi aja boleh ya? jangan pisah pisah mobilnya"


"Tapi.."


"Daddy kami ingin pergi bersama" Jeno mengiba dengan wajah yang di buat seimut mungkin.


"Hmmm... baiklah. Tapi nanti Daddy yang jemput ok?"


"Ok Daddy" Jeno mengacungkan jempol nya.


"Dani nanti setelah pulang sekolah mau jumpa mama bolehkan pa?"


"Boleh dong, nanti papa jemput biar sekalian kita jalannya"


"okeh pa"


"khemmm... mau gerak cepat ya bang?" tanya Angga dengan terkekeh


"Iya dong" balas Ryan menaikkan kedua alisnya.


"Semoga kalian berhasil ya, ibu senang melihat kalian akur dengan anak anak kalian"


"Iya.. ayah juga, sekali lagi maafkan ayah" suasana menjadi hening.


"Ayah.. sudahlah.. semua sudah berlalu, tidak ada yang perlu di salahkan" Balas Zidan.


"Iya ayah.. yang penting kami sudah saling memaafkan" timpal Ryan.


"Yang penting ayah bantu doa agar kami bisa meluluhkan hati wanita yang sedang kami perjuangkan" saut Angga.


"Iya"


"Semangat untuk Daddy, papa dan ayah!!" Jeno menyemangati.


Angga mengelus rambut Jeno karena gemas dengan ucapan anak nya.


......................


Tiga serangkai sedang di dalam mobil, mereka dalam perjalanan menuju sekolah.


"Ternyata sangat menyenangkan juga ya bang kalau kita berbaikan dengan ayah kita" ucap Dani.


"Iya.. aku juga merasa begitu, aku kira Daddy gk mau sayang sayangan. Tapi aku baru tau sisi lain Daddy. Daddy sangat penyayang"


"Semua ayah akan menyayangi anaknya karena kita adalah darah daging nya"


"Iya bang. meskipun mommy belum bisa bersama setidaknya kita masih bisa merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari tiga CEO tampan itu" ujar Jeno.


"Kenapa mereka sangat tampan ya? terkadang aku memikirkan hal itu" tanya Dani.


"Ya jelaslah mereka tampan, karena mereka adalah ayah kita" canda Jeno.


Dani ikut tertawa, Zico hanya menggelengkan kepalanya.


......................


"Vin.. kita jemput Dani sama Syasya yok?"


"Boleh... aku duluan ya keluar nya, aku tunggu di depan"


"Kok gitu sih Vin?"


"Ya biar nantinya orang perusahaan gk lihat aku naik mobil kamu"


"Gk apa kali Vin, kan mereka tau kalau kamu sekretaris aku, jadi tidak masalah"


"Tapi.... "


"Tidak ada tapi lagi, ayo buruan kita ke sekolah Dani dan Syasya"


Ryan menarik tangan Vina yang masih berdiri.


"Aduh.. bagaimana ini? mereka pasti akan kembali mengumpat diriku. Aku akan trending topik di perusahaan" gerutu Vina dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju mobil, banyak tatapan sinis yang diberikan kepada Vina. Meskipun mereka menyapa Ryan dengan sopan tapi tidak dengan Vina.


Vina berpura-pura tidak tahu saja. Jika ia menolak maka Ryan akan lebih berbuat seenaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dani dan Daisya sudah berada di mobil.


"Mama... besok kita piknik bersama ya ma?" ujar Dani.


"Eh.."


"Boleh juga tu sayang ide nya" Ryan menjawab antusias seakan ia tidak tau, padahal itu adalah idenya.


"Kakak suka kan?" tanya Ryan pada Syasya.


"Suka pa.. Kakak suka banget"

__ADS_1


"iya kan ma? Mama mau kan?" tanya Dani kembali pada sang mama.


"Em.. tapi mama ada kerjaan di kantor"


"Tapi kata Dani papa yang punya kantor nya jadi bisalah di atur sedikit, iya kan pa?" saut Daisya.


"Iya sayang"


"Ikut saja Vin, lagian ya nanti ada Dimas yang menghandle semuanya"


"Baiklah.."


"Hore..!!" teriak kembar D kegirangan.


...****************...


Zico sudah berada di toko roti Dita. Zidan memberitahu pada Dita kalau ia tidak bisa menjemput Zico. Nanti Zico akan di jemput di toko Roti.


Zico sudah berganti dengan baju rumahannya. Semenjak tiga serangkai tinggal di rumah beberapa hari yang lalu, tiga serangkai sudah di belikan baju oleh ibu masing-masing.


"Bang Iko.. kenapa hanya Abang aja yang di bawa ayah? kenapa Ifa dan Kakak gk di ajak tinggal bersama?" tanya Ifa.


"Em.. em.. sekarang tidak dek, tapi nanti kita pasti tinggal bersama kok" Zico memberikan pengertian.


"Kenapa?? apa ayah gk suka dengan Ifa dan Kak Afa?" tanya Ifa kembali.


"Huss.. kamu bicara apa sih, gk boleh gitu. Ayah sayang kok sama kita, tapi sekarang itu belum bisa mengajak kita untuk tinggal bersama" jelas Afa.


"Em... ya udah"


Tidak jauh dari mereka Dita mendengar ucapan anak anaknya.


"Apa aku harus menerima Zidan kembali ya, aku sangat kasian dengan anak anakku. Tapi apa aku juga siap nantinya kalau sesuatu yang aku harapkan tidak terjadi" ucap Dita pelan.


Hari menjelang malam, Dita dan anak-anak nya masih setia menunggu Zidan di toko roti.


"Ayah!!" pekik Zifa dan Zafa.


"Eh.. putri cantik ayah, lagi ngapain sayang?"


"lagi nunggu ayah datang"


"Em.. kenapa kalian manis sekali"


"Ayah.. ayok masuk.. kita makan dulu, bunda udah masak tadi" Zifa dan Zafa menarik tangan Zidan.


Di sana terlihat Dita sedang membawa makan malam dan Zico duduk manis di meja.


"Bunda... ayah sudah datang"


"Em... ya sudah.. mari duduk dulu sambil menunggu makanan sebentar lagi siap"


"Silakan saja" balas Dita.


"Sayang... tolong ambilkan baju di kamar atas di lemari kecil bagian bawah ya, bawa saja ke sini dan berikan pada ayahmu" pinta Dita pada Zico.


"Baik bunda"


Dita membeli satu setelan baju santai laki laki ketika ia pergi ke pasar bersama Tania tadi pagi. Dita juga kurang mengerti alasan kenapa ia membeli baju itu.


"Ayah... ini baju untuk ayah"


"Terimakasih sayang"


"Kenapa Dita membeli kan aku baju? apa Dita sudah lama mempersiapkan nya? meskipun ini bukan baju mahal yang biasa aku pakai tapi ini sangat nyaman"


Zidan keluar dari kamar dengan setelan baju yang di belikan Dita. Zidan mendekati Dita.


"Terimakasih atas bajunya, kamu pasti sudah lama ya mempersiapkan ini semua"


"Jangan ngaco kamu ya, aku tuh gk sengaja kebeli tadi. Aku membeli nya karena harganya lagi diskon" balas Dita.


"Em.. meskipun begitu aku tetap senang, karena kamu pasti mengingat aku ketika membeli baju ini"


"Terserah kamu... ini bawa kemeja makan, kasian anak-anak sudah menunggu"


Zidan tersenyum dan mengerjakan apa yang di katakan Dita.


Dita dan Zidan berjalan menuju meja makan.


Dita yang ingin duduk di kursi yang bersebelahan dengan Zico tapi duluan Zafa yang duduk, sehingga mau tak mau Dita duduk di sebelah Zidan.


"Wah.. ini sangat enak bunda" puji Ifa.


"Masakan bunda kan memang selalu enak, kapan tidak enaknya" balas Afa.


"Em.. kalian bisa saja"


"Zafa seneng bisa makan bersama dengan ayah" ujar Zafa dengan senyum tipis nya.


"Ayah juga seneng kok bisa makan bareng dengan putra dan putri kembar ayah"


"Tapi apa bisa kita selamanya begini?" tanya Ifa dengan raut wajah sedih.


"Em.. bisa kok kalau ayah gk sibuk" alasan Zidan.


Dita hanya diam tidak menanggapi. Jauh di lubuk hati nya ia merasa bersalah karena memisahkan anaknya.


"Ayah.. apa malam ini kita bisa pergi ke mall sebentar? Ifa ingin membeli bang Iko es krim yang kemarin kita beli saat bang Iko gk ikut" pinta Ifa.


"Sayang.. besok saja ya, kasian ayah kalian, mungkin masih lelah dan ingin beristirahat" balas Dita tidak enak hati dengan Zidan yang lelah berkerja.

__ADS_1


"Gk apa Dit, malam ini juga boleh. Lagian ini masih sempat kok" balas Zidan.


"Yang bener Ayah?" tanya Ifa.


"Iya Sayang"


Zico hanya tersenyum melihat interaksi adik kembar dengan sang ayah.


"Sekarang kita makan dulu ya, nanti setelah makan baru kita berangkat" ucap Zidan.


"Iya ayah"


🌙


Jam menunjukkan pukul 8 malam, Mereka sekeluarga sudah sampai di mall sesuai permintaan Zifa.


"Ayah.. bunda.. bolehkan kami mau ke kolam bola itu" tunjuk Zafa.


"Boleh sayang, Ayok"


"Bunda gk usah ikut, bunda duduk di sini saja sama ayah"


Dita dan Zidan duduk bersebelahan di kursi depan kolam bola itu. Mereka terdiam tidak ada yang memulai pembicaraan.


"Em.. bagaimana perkembangan toko roti mu Dit?" Zidan memulai pembicaraan.


"Baik baik saja"


"Syukurlah"


"Iya.."


"Kemarin Kevin mampir ke toko roti mu ya?"


"Kamu tau dari mana?"


"Dari Zico"


"Owh..."


"Ngapain dia ke sana?"


"Cuma hanya ingin mengobrol dengan ku"


Zidan diam, ia tidak melanjutkan pembicaraan. Ia takut nanti malah memarahi Dita karena ia mulai merasakan cemburu.


"Em.. em.. Zi.." panggil Dita terbata bata.


"Iya... kenapa Dit?"


"Apa kamu sekarang sudah memiliki calon istri?"


"Sudah.. tapi calon istri ku tidak mau menerima ku, aku sudah berusaha membujuk nya. Tapi dia dengan galaknya menolak cintaku"


"Aku bertanya serius jangan becanda"


"Aku serius Dita, aku tidak punya calon istri. Di hidup ku hanya kamu satu satunya wanita yang aku inginkan untuk menjadi istri ku" ucap Zidan.


"Dita.. apa aku memang tidak memiliki kesempatan untuk bersatu dengan mu? aku tau kamu pasti tidak memberikan aku kesempatan, tapi bisakah kamu melihat kebahagiaan anak-anak kita. Aku tidak masalah jika kamu mau kembali dengan ku atas dasar alasan anak anak. Aku tidak masalah kamu akan memperlakukan diriku dengan buruk tapi kamu bersama dengan ku. Aku tidak bisa mengubah masa lalu kita yang menyakitkan tapi aku janji padamu akan memberikan masa depan yang bahagia untukmu dan keluarga kecil kita. Dit.. tidak bisa kah kau kembali menerimaku kembali?" tanya Zidan sungguh sungguh.


Dita terdiam ia tidak tau mau bagaimana. Melihat Dita terdiam Zidan langsung menyimpulkan bahwa Dita kembali menolak nya.


"Maafkan aku Dit, seperti nya aku memang tidak memiliki kesempatan untuk bersatu dengan mu. Tapi tidak masalah kita masih bisa berteman" ujar Zidan putus asa dengan memaksakan senyuman di wajahnya.


Zidan menghela nafas berat nya dan kembali memperhatikan wajah anak-anaknya yang sedang bermain dengan wajah putus asa nya.


"Em.. bagaimana jika aku mau kembali dengan mu?" tanya Dita malu malu.


Mendapatkan angin bahagia, Zidan kembali melihat ke arah Dita.


"Maksud mu Dit??


"Aku.. em.. aku... aku akan kembali bersama mu" ujar Dita cepat.


"Benarkah?" tanya Zidan tak percaya.


Dita hanya mengangguk. Zidan menarik tubuh Dita dan memeluk nya erat.


"Terimakasih Dit.. Aku janji tidak akan menyakiti dirimu kembali dan selalu membahagiakan mu dan keluarga kecil kita" ucap Zidan menetes air matanya.


"Iya aku tau itu" balas Dita mengelus punggung Zidan yang bergetar karena menangis.


Lama mereka berpelukan dan akhirnya mereka melepaskan pelukannya.


Dita melihat wajah Zidan yang menunduk malu karena menangis di depan Dita. Dita tertawa merasa lucu.


"Jangan tertawa" ucap Zidan yang masih menghapus air matanya.


"Abis kamu lucu sih, aku baru tau kamu juga bisa menangis" balas Dita dengan tawanya.


...****************...


...Terimakasih banyak atas dukungan nya atas cerita ini 🤗😍...


Jangan lupa


Like


Komentar


and Vote 😉

__ADS_1


__ADS_2