Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Siapa mereka


__ADS_3

Melihat orang mendekat seketika membuat si kembar mendongak melihat orang itu.


Betapa terkejutnya Zidan melihat wajah anak kembar tanpa dosa itu sangat mirip dengan dirinya.


"Kenapa wajah mereka sama persis dengan Zico dan juga diriku?" tanya Zidan dalam hati.


"Kan aku benar wajah mereka itu sama persis dengan kak Zidan, tampak nya kak Zidan juga terlihat tertegun dengan wajah mereka" ujar Jeno dalam hati menatap Zidan.


"Nanti aku harus kasih tau sama bang Zico dan bang Dani" lanjut Jeno dalam hati.


"Wah.. om ini tampan sekali" ujar Zifa berbinar menatap wajah ayah nya.


Zidan hanya tersenyum mendengar tutur kata Zifa. Sedangkan Zafa melihat kearah Jeno.


"Om tampan mirip dengan aku dan Ifa, kok sekarang setelah aku lihat lihat anak laki-laki ini juga mirip dengan El, ada apa ini kok malah mirip mirip sih" batin Zafa.


"Terimakasih ya anak anak baik telah menolong adik om, om sangat berterima kasih banyak atas pertolongan kalian. Semua biaya pengobatannya om tanggung ya sebagai ucapan terimakasih telah menolong nyawa adik om" ujar Zidan.


"Iya om,, sama sama.." jawab Zafa menatap Zidan. Sedangkan Zifa hanya mengangguk kan kepala.


Zidan yang di tatap merasa bahwa mereka saling terikat satu sama lain.


"Kalau boleh tau nama kalian siapa ya?" tanya Zidan.


"Namaku Ifa dan ini kakak ku namanya Afa, kami ini anak kembal om" jawab Zifa.


"Tanpa kamu beritahu pun om itu tau kalau kita kembar, soalnya wajah kita sangat mirip" timpal Zafa. Zifa hanya mengerucut kan bibir nya.


Zidan terkekeh geli melihat interaksi anak kembar di depannya.


"Apakah ini anak-anak anda?" tanya Zidan ke Rina.


"Iya pak, ini anak-anak saya" jawab Rina.


"Kok perasaan ku mengatakan bahwa mereka itu anak anak ku, tapi selama ini aku tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain Dita. Tapi ini bukan sekedar kemiripan saja, sebab semua garis wajah itu sama seperti Zico" batin Zidan.


"Sudah siap, karena kalian terluka tidak parah jadi sudah boleh pulang. Hanya saja nanti lukanya jangan kena air dulu ya" ujar sang perawat.

__ADS_1


"Iya sus, terimakasih banyak" jawab Rina. suster hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka.


"Biarkan mang Kardi mengantarkan kalian ke rumah, anggap saja sebagai tanda terima kasih ku atas bantuan kalian" ucap Zidan.


"Baik pak terimakasih banyak" balas Rina.


Rina beranjak dari duduknya, Zifa di gendong Rina karena kakinya sedikit sakit. Melihat Zafa yang tidak mungkin di gendong oleh Rina, akhirnya Zafa di gendong oleh Zidan, sedangkan Jeno memilih memegang tangan Zidan sebelah kanan sebab kedua kakinya tidak sakit seperti si kembar.


Zafa yang dalam gendongan sang ayah terus menatap wajah Zidan dengan seksama dan sangat intens, ia masih merasa heran dengan kemiripan yang mereka miliki.


Berbeda dengan Zafa yang menatap dirinya, Zidan masih bergelut dengan pikirannya. Zidan juga bingung dengan keadaan ini. Berada sangat dekat dengan anak perempuan di gendongan nya makin membuat Zidan yakin ia memiliki ikatan dengan anak perempuan itu, ada rasa hangat yang menjalar di tubuh nya.


Menyadari ada yang menatapnya, Zidan melihat ke arah Zafa.


"Kenapa adik manis?? Om terlalu tampan ya" canda Zidan.


"Iya sih om tampan, tapi kenapa wajah om sangat mirip dengan aku dan adikku Ifa" jawab Zafa jujur.


"Mungkin hanya mirip saja" balas Zidan.


"Iya kali om ya, kan katanya kita memiliki tujuh kembaran di dunia ini, mungkin salah satu nya om" balas Zafa. Zidan hanya tersenyum menanggapi balasan Zafa.


Zidan menepuk bahunya mang Kardi dan menanyai kronologi kecelakaan kemudian mang Kardi pun menjelaskan bagaimana kejadian. Zidan hanya mengangguk dan mengelus bahu mang Kardi untuk mengatakannya jika kedepannya lebih hati hati lagi, mang Kardi mengangguk mengiyakan. Zidan tau sekarang mang Kardi sangat ketakutan, takut di pecat sebagai sopir keluarga Malik.


"Ya sudah mang, antar kan mereka pulang ke rumah nya" ujar Zidan. Mang Kardi hanya mengangguk.


Mereka berpamitan dengan Zidan dan mulai memasuki mobil, Jeno melambaikan tangan ke arah Zidan sebagai ucapan selamat tinggal.


Di dalam mobil mereka masih larut dalam pikiran masing-masing kecuali El dan Zifa yang seperti nya tidak tau apa apa. Seketika Jeno melihat ke arah El, Jeno melihat wajah El dengan Jelas. Ketika jatuh tadi Ia tak melihat wajah El dengan seksama tapi kali ini betul betul Jeno melihat wajah El secara dekat.


"Ada apa ini lagi, sebagian besar wajah anak ini juga mirip dengan ku. Apa jangan jangan benar yang di katakan oleh bang Zico kalau mungkin kami punya adik yang lain, tapi kan ibu sudah tua tidak mungkin memiliki anak lagi. Apa jangan-jangan ibu di rumah bukan ibuku?" tanya Jeno dalam hati.


Jeno langsung menggelengkan kepalanya menepis semua pikirannya itu. Melihat Jeno menggelengkan kepalanya membuat Rina khawatir, ia fikir Jeno malah sakit kepala karena jatuh tadi.


"Kenapa dengan kepalamu adik?? sakit lagi kah? apa kita sebaiknya ke dokter lagi memeriksa kepala mu?" tanya Rina khawatir.


"Enggak apa Tante, hanya sedikit penat saja" bohong Jeno.

__ADS_1


"Ya udah kamu istirahat saja" ujar Rina.


"Iya Tante" jawab Jeno.


"Wajah bang Jeno sangat mirip dengan El, apa mereka saudara kami juga ya, tapi kalau aku tanya bunda pasti bunda marah nanti" batin Zafa.


"Seperti nya aku bilang sama kak Syasya saja nanti" lanjut Zafa dalam hatinya.


Di rumah sakit Zidan menelpon Dimas yaitu asisten Angga untuk menyelidiki tentang kedua anak itu. Sebenarnya Dimas awalnya asisten Zidan tapi karena keadaannya tidak terlalu membutuhkan jadi ia menugaskan Dimas ke Angga. Zidan di rumah sakit hanya butuh sekretaris saja.


"Tumben bang Zidan nyuruh aku cari orang, seperti nya ada sesuatu" gumam Dimas yang masih di dengar oleh Angga.


"Kau kenapa?? bang Zidan nyuruh apa?" tanya Angga.


"Kemarin kan bang Zidan menyuruh mencari keberadaan mantan istri sekarang menyuruh menyelidiki dua anak kembar" jawab Dimas.


"Dua anak kembar?? anak siapa?" tanya Angga, Dimas hanya menaikkan bahu menandakan bahwa Ia juga tidak tau.


"Kau tidak mencari keberadaan mantan istri mu lagi, kenapa operasi nya berhenti?" tanya Dimas.


"Dia sudah di dekat ku sekarang dan sudah masuk perangkap ku, ia tidak bisa lepas lagi" ujar Angga dengan seringai nya.


"Yang benar saja?? apa mungkin sekretaris baru itu?" tanya Dimas.


"Iya, itulah mantan istri ku" jawab Angga.


"Pantas saja kemarin ketika kau melihat namanya di nama calon yang mendaftar, ia langsung diterima, memintanya menandatangani kontrak kerja tanpa ada dirimu, setelah itu ia tidak bisa melepaskan pekerjaan ini karena terikat kontrak dan ia akan bertemu dengan mu sebentar lagi. Memang licik kau Angga" timpal Dimas.


Angga hanya tersenyum tanpa dosa menanggapi ucapan Dimas.


Masih ingat dengan karakter Dimas kan??


Sahabat Angga dari SMA hingga kuliah. Sosok manusia yang mengetahui pernikahan kontrak Angga, sekarang Dimas bekerja dengan Angga. Meskipun ia sahabat Angga, Dimas tetap profesional dalam kerjanya. Dimas bersikap santai jika hanya mereka berdua saja, jika di hadapan orang lain maka mereka akan seperti bos dan bawahan.


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


...akhirnya mereka bertemu juga meskipun dalam keadaan bingung sih😁...

__ADS_1


...THANKS YOU ALL TELAH MEMBACA CERITA MEMBOSANKAN INI😌😌, LOVE YOU ❤️...


__ADS_2