
Tidak berbeda dengan Angga, CEO perusahaan juga sedang banyak pikiran. Dari pertama memasuki perusahaan raut wajah Presdir menjadi sangat dingin dan terlihat kejam sehingga membuat karyawan menjadi takut.
Di ruangan nya Ryan masih memikirkan apa yang harus di lakukan supaya Dani mau pulang dengan nya.
"Aku harus menjemput nya kesekolah hari ini" ujar Ryan langsung menyambar kunci mobilnya.
"Bos.. hari ini ada rapat jam 12 siang dengan klien kita yang sudah janjian kemarin" ujar Dion.
"Batalkan saja... jika perlu kau yang memimpin pertemuan dengan mereka" Ryan berlalu meninggalkan Dion yang masih tertegun.
"Aduh... kena lagi gue" ucap Dion menghela napas.
Ryan melaju kan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Ia menunggu sembari duduk di dalam mobil.
Setelah beberapa menit menunggu Ryan melihat bahwa anak anak di sekolah itu sudah pulang. Ryan hendak keluar dari mobil karena telah melihat tiga serangkai di pagar sekolah menunggu jemputan.
Namun Ryan mengurungkan niatnya membuka pintu mobil setelah melihat Dita yang menjemput putranya.
Ryan semakin terkejut melihat si kembar.
"Seperti nya anak anak itu yang di bicarakan oleh Angga dan Bang Zidan tempo hari"
"Tapi kenapa tiga serangkai pulang dengan kak Dita. Apa hubungannya mereka?"
"Seperti nya aku ikuti saja dulu kemana mereka pulang"
Ryan mengikuti mobil yang di kendarai Dita menuju rumah mereka.
Sesampainya di rumah Ryan tidak menghampiri anaknya, ia memperhatikan rumah itu dari jauh. Tidak lama setelah itu anak anak sudah keluar berpakaian santai dan mereka masuk kembali ke dalam mobil.
"Mereka mau kemana lagi? Aku ikuti saja"
"Toko roti?" bingung Ryan.
"Mungkin ini toko roti kak Dita"
Di dalam toko, tiga serangkai memperhatikan mobil yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Dan.. mobil papa mu masih mengikuti kita"
"Itulah bang.. tapi kenapa papa gk keluar dari mobilnya"
"Seperti nya papa mu sedang memikirkan bagaimana cara keluar dan berbicara dengan kamu Dan"
Seperti ucapan Zico, Ryan masih menimbang nimbang apa yang harus ia katakan jika bertemu Dani.
"Aku temui saja, aku harus membujuk nya untuk pulang" tekad Ryan dengan berani berjalan menuju toko roti Dita.
Ryan membuka pintu, Dita terkejut melihat kedatangan Ryan ke tokonya.
"Kak... " sapa Ryan.
"Eh.. iya.. masuklah" ujar Dita.
"Mau bertemu dengan anak anak ya?" tanya Dita.
"Iya kak, tapi bagaimana kakak bisa kenal dengan anak anak?"
__ADS_1
"Biar anak anak saja yang menjelaskan padamu, sebentar saya panggil kan anak anak" ucap Dita diangguki oleh Ryan.
Dita menaiki tangga menuju lantai dua untuk memanggil tiga serangkai.
"Silakan om.. cicipi kue nya" ujar Daisya.
Daisya sengaja menampilkan wajah di depan Ryan. Daisya dengan manisnya meletakkan teh untuk Ryan.
Degg....
Jantung Ryan seakan berhenti melihat pahatan dirinya yang lain. Pahatan kecil itu yang selama ini selalu mengganggu tidurnya.
"Anak ini.. kenapa seperti anak perempuan di mimpi ku selama ini?" batin Ryan.
"Namamu siapa nak?" tanya Ryan.
"Namaku Daisya om di panggil Syasya"
"Nama yang bagus, apa kamu anak kak Dita?"
"Bukan om.. Syasya bukan anak bunda, anak bunda si kembar, Syasya anak mama om"
Ryan tidak membalas ucapan Syasya. Ryan terdiam seribu bahasa. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Nama mama Syasya siapa?" tanya Ryan kembali setelah sadar dari keterkejutannya.
Ryan menunggu jawaban, jika nama yang sebutkan oleh anak perempuan itu nanti sama dengan nama wanita yang masih dia cintai, maka dugaan Ryan benar bahwa ia memiliki anak perempuan dengan Vina.
"Nama mama Vina Om" santai Syasya.
Duarrrrrr!!!!
Tak lama akhirnya tiga serangkai menampilkan batang hidungnya.
"Mau ngapain ke sini?" ketus Dani.
Syasya langsung pamit dari hadapan Ryan.
"Sayang.. kenapa kalian pergi dari rumah?" tanya Ryan lembut.
"Abis ya om.. di rumah itu kami tidak memiliki siapa pun" jawab Jeno.
"Jangan begitu, kalian masih memiliki ayah yang masih hidup?"
"Ayah katamu... ayah macam apa yang tidak mengakui anaknya" pekik Dani.
"Ayah seperti apa yang kau maksud kan? ayah yang tidak mengakui bahwa aku anaknya dan selama ini menyuruh aku untuk memanggilnya kakak" Pekik Dani dengan suara tangisnya.
"Kenapa Dani jadi seperti ini?" bisik Jeno ke Zico
"Kita lihat saja" balas Zico.
Ryan mematung mendengar ucapan anaknya.
"Apa maksudmu Dani?" tanya Vina yang entah datang dari mana.
Ryan menelan saliva nya melihat tatapan tajam Vina ke arah nya.
__ADS_1
Dita juga terkejut dengan ucapan Dani. Ia mendekat menggapai Zico dan Jeno untuk menjauh dari sana.
"Jadi selama ini kalian memanggil ayah kalian dengan sebutan kakak?" tanya Vina ke Dani.
Dani mengangguk kan kepala nya sembari menangis.
"Makanya Dani mau tinggal di sini saja bersama mama dan yang lainnya" lanjut Dani masih sesenggukan.
"Sayang.. jangan menangis ya. Naik dulu keatas ya main sama yang lainnya, kak Dita bawa Dani ke atas" ucap Vina
"Iya.. Ayok sayang" ajak Dita.
Dita dan anak anak pergi ke lantai dua, di bawah tinggal lah Ryan dan Vina. Seketika nyali Ryan menciut di depan Vina ia masih diam.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Vina kembali emosi.
"Sudah cukup dulu aku tidak kau akui dan sekarang aku tau bahwa selama tujuh tahun ini kau juga tidak mengakui anak kita?" lanjut Vina.
"Apakah dirimu sejijik itu terhadap anak yang keluar dari rahim ku?" tanya Vina berkaca kaca.
"Bukan begitu Vin.. aku... tidak maksud begitu?" jawab Ryan.
"Lantas apa juga hah?" Vina semakin emosi.
"Vin.. aku mohon kamu jangan salah paham dulu, aku memang kurang dewasa Vin masa itu dengan bodohnya aku tidak mengakui darah daging ku sendiri, aku sangat menyesal sekarang karena telah melakukan kesalahan yang membuat anak kita menjadi terluka. Aku memang bukan ayah yang baik Vin, maafkan aku" ucap Ryan.
"Kau tidak perlu minta maaf kepada ku, minta maaf lah kepada anakku. Dani akan tinggal dengan ku karena kau tidak mengakuinya" ujar Vina.
"Jangan Vin, aku tidak mau Dani jauh dari ku" pinta Ryan.
"Itu semua salah dirimu, aku sudah meninggalkan nya dulu supaya hidupnya bahagia dengan mu tapi sekarang yang aku tau, rupanya dengan kejam nya kau tidak mengakui nya" Vina kembali meninggikan suaranya.
"Vin.. aku minta maaf tapi aku menyayangi nya, aku tidak mau Dani jauh dari ku. Aku memang salah tidak mengakui Dani, tapi aku terpaksa waktu itu" Ryan mencoba menjelaskan.
"Benar yang di katakan Ryan Vin, itu semua ide ku, aku yang meminta mereka agar tidak mengakui keberadaan anak anak. Mereka tidak salah, yang seharusnya salah itu aku karena aku anak-anak terluka" ucap Zidan yang datang tiba-tiba ke toko roti setelah ia beristirahat sejenak di mansion.
Vina dan Ryan terdiam mendengar ucapan Zidan.
"Kau memang manusia tidak punya hati, kau memang kejam" ujar Dita emosi.
Dita meminta anak anak untuk tidak turun ke lantai satu. Dita turun ingin menengahi pertengkaran Vina dan Ryan.
Tapi ketika separuh jalan ke lantai satu, ia melihat Zidan memasuki toko roti nya.
Zidan terdiam mendengar ucapan Dita. Ia tau minta maaf tidak akan merubah segalanya tapi hanya itu yang bisa ia katakan.
"Maaf kan aku"
...****************...
Lanjut gk ni??
jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
and Vote ya π