Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Kesempatan Ryan


__ADS_3

Vina memberanikan diri memasuki apartemen Ryan. Vina menutup pintu kembali. Vina meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.


Vina berjalan pelan-pelan mencari sosok Ryan. Ketika membuka pintu kamar, Vina di buat terkejut melihat wajah Ryan yang sangat memucat.


Vina melangkah cepat menuju Ryan yang sedang berbaring terlentang di kasurnya.


Vina mendekati Ryan yang terlelap. Vina meletakkan punggung tangan nya di kening Ryan guna melihat apakah Ryan demam.


Alangkah terkejutnya Vina saat tau kalau Ryan demam tinggi.


"Ryan... Ryan..." panggil Vina menggoyang pelan bahu Ryan.


Tapi tidak ada tanda-tanda kalau Ryan akan bangun.


"Apa dia pingsan? aku harus membawa nya ke rumah sakit" gumam Vina.


"Ryan.. apa kamu mendengar aku?" panggil Vina sekali lagi.


Akhirnya Ryan membuka matanya perlahan.


"Syukurlah,, akhirnya kamu bangun" ucap Vina lega.


"Vin.. kamu di sini." lirih Ryan lemah.


"Kita ke rumah sakit ya, tubuhmu sangat panas" ujar Vina masih meletakkan tangan nya di dahi Ryan.


"Tidak usah Vin, aku baik baik saja " balas Ryan menggeleng kepala dengan lemah.


"Baik baik apa nya, badan kamu panas sekali. Ayo kita ke rumah sakit, biar nanti dokter menangani nya dengan obat yang tepat" Vina sedikit meninggi suara karena Ryan menolak ajakan.


Ryan hanya diam dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Vina menghela nafasnya "Ya sudah.. jika kamu tidak mau, tapi kamu harus mau aku merawat mu" ucap Vina kemudian


Dengan senang hati Ryan mengganguk.


"Dimana ponsel mu?? aku ingin bertanya pada bang Zi" ucap Vina.


Ryan menunjukkan letak ponsel nya yang berada di atas sofa panjang di kamar nya. Vina menelpon Zidan.


Tut...


Tut...


^^^Halo.^^^


Halo bang, ini aku Vina.


^^^Eh.. iya, kenapa Vin?^^^


Begini bang, Aku di apartemen Ryan, sekarang Ryan demam tinggi.


^^^Apa!! pekik Zidan.^^^


^^^Kenapa tidak bawa ke sini saja..^^^


Dia tidak mau bang aku sudah mencobanya.


^^^Bagaimana ini, aku pun sedang sibuk di rumah sakit. Begini saja, bagaimana jika kamu saja yang merawatnya untuk sementara, nanti malam aku ke sana untuk memeriksa nya.^^^


Baik bang, sekarang aku harus bagaimana?"


^^^Aku kan mengirim pesan, nanti kamu ikuti semua langkahnya.^^^


Baik bang.


Vina menutup teleponnya. Tak lama masuk pesan dari Zidan, Vina segera melakukan apa yang di katakan Zidan.


Ryan dengan senang hati mengikuti semua apa yang dilakukan Vina padanya.


Setelah melakukan semua yang di katakan Zidan, tak lupa pula Vina juga memberikan bubur untuk Ryan.


Sudah 4 jam berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Kenapa bang Zi lama sekali" ujar Vina.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia akan datang, mungkin masih ada urusan di rumah sakit" balas Ryan yang sudah sedikit membaik meskipun masih begitu pucat dan bersandar di dasbor ranjang nya.


Vina kembali mengecek panas di badan Ryan.


"Panas mu masih tinggi" ucap Vina meletakkan tangan di dahi Ryan.


"Kenapa kamu keras kepala sih, kalau dari tadi kita ke rumah sakit. Sekarang keadaan mu pasti sudah membaik" omel Vina.


Bukannya marah, Ryan malah tersenyum lebar melihat Vina sedang mengomeli dirinya.


"Vin.. kepala ku pusing" modus Ryan.


Ryan menggeser kan kepalanya hingga berada di pundak kanan Vina.


Vina membiarkan Ryan melakukan hal itu. Vina memutar kan tangan tangan kanannya dengan gerakan merangkul Ryan, setelah itu Vina memijat kening Ryan pelan.


Ryan sangat menikmati pijatan lembut Vina pada keningnya hingga ia menutupkan matanya.


Tak berselang ponsel Vina yang di letakkan di nakas Kamar Ryan berbunyi.


Di sana tertera nama Dita yang melakukan panggilan video. Vina mengangkat panggilan itu tanpa memindahkan tangan nya yang sedang memijat kening Ryan.


"Mama" panggil Syasya.


"Iya sayang.." jawab Vina.


Ryan tersenyum melihat putrinya di balik panggilan itu.


"Papa.. kenapa papa di pijat kening nya ma? apa papa sakit?" tanya Syasya.


"Iya sayang.. papa kamu demam" jawab Vina yang masih dengan posisi yang sama.


Dita yang juga melihat ke panggilan video itu terkejut melihat adegan Vina dan Ryan yang sedang berdekatan.


"Apa sekarang tidak apa lagi?" tanya Dita.


"Masih panas kak, sebentar lagi bang Zi yang ke sini" balas Vina.


"Ya sudah,, kita tutup telpon nya sayang ya, kasihan papa kamu sedang sakit, jadi butuh istirahat" ucap Dita dengan terkekeh kecil.


Daisya mengangguk kepalanya.


" Ya udah ma, kakak tutup ya ma. Cepat sembuh papa, dadah mama.. dah papa.."Daisya melambaikan tangannya.


Ryan dan Vina tersenyum. Ryan kembali mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Vina. Vina ingin menolak tapi tidak kuasa mengingat Ryan sedang sakit.


"Kenapa dia sangat manja, aduh.. kalau begini tidak bagus untuk jantungku" batin Vina.


"Berbaring saja, begini pegal leher aku" ucap Vina.


Ryan menuruti untuk berbaring.


"Kamu harus di sini memeluk ku, aku kedinginan" pinta Ryan dengan nada lirih.


"What's?? memeluk nya?" batin Vina terkejut.


"Baiklah" ujar Vina pasrah.


Vina akhirnya ikut berbaring di samping Ryan, Vina menyamping menghadap ke arah Ryan.


Vina merentangkan tangannya, sehingga Ryan mudah untuk berada di pelukannya.


Ryan memeluk tubuh Vina dengan sangat dekat, sehingga kepalanya berada di dada Vina.


Ryan diam diam menghirup aroma tubuh sang pujaan. Vina masih senantiasa memeluk dan mengelus rambut belakang Ryan.


Mereka terdiam tanpa ada suara sedikitpun. Ryan dan Vina sama sama gugup dengan posisi mereka.


"Vin.. terimakasih telah bersedia datang ke tempat ini" ucap Ryan yang masih berada di pelukan intim itu.


"Hemmm.. iya sama sama"


"Cepatlah sembuh, kasian Dion sangat mengkhawatirkan dirimu. Dia yang memberitahukan kepada aku kalau kamu sakit"


"Bagus Dion.. kau mengatakan pada orang yang tepat" pikir Ryan.

__ADS_1


"Jadi kamu ke sini bukan karena khawatir dan rindu padaku sebab sudah lebih dari tiga minggu kita tidak bertemu" ucap Ryan sedikit mengerucut kan bibir.


"Tidaklah" jawab Vina cepat.


"Emm... ya sudah, tapi aku sangat merindukan dirimu Vin" ucap Ryan.


Vina hanya diam.


"Vin.. apa benar kita tidak bisa bersama lagi?" tanya Ryan mendongak wajahnya.


Ryan menatap iba dengan mata sedikit berair. Jika penolakan yang di dapatkan mungkin Ryan akan menangis sejadi-jadinya.


Vina menatap kembali, ia sedikit tertawa melihat mata Ryan yang menahan tangisnya seperti seorang anak yang meminta di belikan permen kepada ibu nya.


Karena tak ada jawaban, Ryan kembali menurunkan wajahnya ke posisi semula. Ia menangis tertahan.


Vina yang merasakan getaran tubuh Ryan mencoba melihat, dan ternyata Ryan tengah menyeka air matanya dengan pelan.


Vina terkekeh geli melihat kelakuan Ryan yang seperti anak kecil.


"Aku akan memberikan waktu pada mu untuk meluluhkan hatiku kembali" ucap Vina.


Ryan mendongak kembali menatap Vina masih dengan air matanya.


Vina menyeka air mata itu dan tersenyum hangat.


"Aku akan memberikan waktu 3 bulan lamanya, jikalau dalam waktu tersebut aku juga tidak bisa, maka maaf aku" lanjut Vina.


Ryan mengangguk dan memeluk erat tubuh Vina.


"Aku akan berusaha sayang, terimakasih banyak" ucap Ryan yang kembali menangis.


"Hahaha.. kau sangat lucu" ucap Vina dan mengelus belakang Ryan yang menangis bergetar.


"Sudah... jangan menangis lagi" ucap Vina setelah pelukan itu terurai.


Ponsel Ryan berbunyi dan di sana tertera nama Zidan.


"Halo bang.."


"Bagaimana keadaan Ryan Vin?" tanya Zidan.


"Demamnya masih tinggi tapi tidak sepanas tadi" jawab Vina.


"Begini saja, malam ini kamu saja yang merawatnya, nanti aku kirim obat ke sana dan suruh dia meminumnya. Aku tidak bisa ke sana karena masih ada urusan di rumah sakit. Lakukanlah perawatan sepenuhnya seperti yang aku kirimkan pesan tadi " ucap Zidan.


"Baik bang"


"Jika dalam dua jam panasnya kembali tinggi, nanti hubungi aku, aku akan menyuruh orang untuk membawanya ke sini" ucap Zidan.


"Baik bang, terimakasih banyak"


"Sama sama" Vina menutup teleponnya.


"Semoga kalian bisa kembali bersama Ryan" Ucap Zidan setelah teleponan itu terputus.


Sebenarnya Ryan sudah mengirimkan pesan pada Zidan dan mengatakan ia baik baik saja, demamnya tidak terlalu tinggi, jadi ia meminta Zidan untuk tidak jadi melihat nya, biar Vina yang akan di sisi nya malam ini.


Malam itu Vina akhirnya tidur menemani Ryan, Ryan memeluk Vina dengan posesif seakan takut Vina akan pergi esok hari.


Demam Ryan juga sudah menurun setelah meminum obat kiriman orang Zidan. Vina juga masih mengompres kepala Ryan.


Vina jengah dengan kelakuan Ryan, Vina mengompres kepala nya tapi Ryan malah menyembunyikan kepalanya yang masih berbalut handuk kecil itu di dada Vina. Sehingga baju Vina sedikit nya basah karena itu.


Sedangkan pelakunya dengan santai tidak menghiraukan hal itu, yang ia tau Vina sekarang memberikan kesempatan padanya. Ryan sangat bahagia.


...****************...


...Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua para reader kesayangan blue pada cerita ini ❤️...


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote😉


__ADS_2