
Dita berjalan menuju kamar tidur nya setelah menidurkan anak anaknya. Sekarang Dita akan menidurkan bayi besar nya.
Dita memasuki kamarnya. Dita tersenyum melihat Zidan sedang duduk bersandar di dasbor ranjang memainkan ponselnya.
"Anak anak sudah tidur?" tanya Zidan.
"Sudah"
"Kalau begitu mari kita tidur"
"Sayang..." panggil Zidan.
"Iya.."
"Kamu tidur tidak usah memakai baju ya," Ujar Zidan tersenyum.
"Hah!! kamu ingin begituan?" Dita memicingkan matanya.
"Bukan.. Aku ingin memeluk mu dengan tidak mengenakan apa pun" balas Zidan santai.
"Hah!!" pekik Dita.
"Ayuklah sayang,, aku ingin memeluk mu sekarang. Aku ingin tidur" ujar Zidan menarik narik tangan Dita.
Dita terperangah tak percaya dengan tingkah laku Zidan.
"Dia ini kenapa sih?" batin Dita menatap heran pada Zidan.
Zidan menarik tangan Dita kembali. Dita membuyar kan lamunannya, akhirnya Dita melepaskan pakaiannya sesuai dengan permintaan Zidan. Meskipun dalam keadaan kebingungan tapi tetap saja melakukan itu.
"Kamu kok aneh sih?" tanya Dita pada Zidan yang memeluk nya. Dita mendongak menatap Zidan.
"Aneh kenapa?"
"Hmm... tingkah laku mu tidak biasa honey"
"Apa nya? aku hanya ingin saja"
"Ingin?" Dita membeo.
"Iya.. aku rasa lebih nyaman jika kita tidur seperti ini sayang" ucap Zidan memeluk tubuh Dita dengan lebih erat.
"Ada apa dengan dia ini? kok aku merasa ada yang aneh ya"
Tingkah laku Zidan yang baru itu bukan hanya pada malam itu saja tetapi juga pada berlanjut pada malam malam berikutnya.
Dita benar benar bingung dengan perubahan Zidan. Zidan lebih banyak makan, muntah di pagi hari, sensitif, mudah menangis.
Seperti tadi pagi. Zidan memuntahkan semua makanannya. Sehingga hari ini dia yang seharusnya memiliki jadwal pagi untuk mengontrol keadaan di rumah sakit di cancel.
Zidan menyuruh dokter Damian dan dokter Kevin untuk memantau.
Dita memijat pelan kening Zidan dan memberikan teh hangat padanya.
Dita menggeleng geleng kepala nya mengingat hal itu. Dilihat Zidan sedang bermain bersama dengan putra dan putri kembar nya terlihat sangat bahagia.
Karena hari libur mereka dan Zidan sedang kurang sehat, maka mereka bermain di rumah saja.
"Apa dia sedang sakit?" gumam Dita.
"Tapi katanya kemarin sudah di cek dan dinyatakan tidak ada yang salah pada tubuhnya" lanjutnya.
"Entahlah.. semoga Zidan sehat sehat saja. Aku hanya menghindari makanan yang berbau menyengat untuknya agar ia tidak muntah lagi"
......................
*Malam hari di rumah Anggaπππ
"Angga.. besok aku ke panti sebentar boleh?" ujar Tika.
"Ke panti? panti mana?" tanya Angga.
"Panti Asuhan permata"
"Owh.. ngapain sayang ke sana?"
"Mau jumpa adik adik dan ibu asuh. Aku sangat merindukan mereka, sudah lama tidak melihat mereka"
__ADS_1
"Baiklah.. silahkan pergi. Tapi nanti jangan lama lama di sana. Ingat! kamu masih punya suami yang tidak bisa makan jika tidak bersama istrinya yang cantik"
"Cih.. gombal"
"Beneran loh yank, aku tu gk bisa pisah sama kamu"
"Bohong.. buktinya tujuh tahun lalu bisa kok" sindir Tika.
"Ya itu kan lain cerita nya yank. Pokoknya kamu boleh pergi tapi pulang sebelum jam makan siang di kantor dengan aku"
"Ok.. makasih sayang"
"Upahnya dong" ujar Angga memajukan bibirnya.
Tika memukul pelan bibir itu. "Ingat.. di rumah ini bukan hanya kita tapi ada anak anak" tunjuk Tika pada Jeno dan El yang sedang fokus menonton film kartun kesukaan mereka.
"Mereka gk akan tau sayang. Ayo dong upahnya" Angga lagi lagi memanyunkan bibirnya.
Tika benar benar malu saat ini. Tapi terpaksa melakukan nya dari pada Angga minta lebih.
"Aku akan mencium mu tapi olahraga malamnya gk usah ada ya yank"
Angga hanya tersenyum. Melihat Angga tersenyum Tika pikir Angga akan memberikan waktu tidur lebih cepat malam ini.
Cup..
Tika mencium bibir suaminya dengan lembut sedikit ******* kan. Angga membalasnya. Angga tersenyum mendapatkan hadiahnya.
Tika melepaskan ciuman itu, ia takut kalau durasinya lama nanti anak anak melihat mereka.
"Sudah..."
"Aku ingin lagi sih, tapi tidak apa nanti di ranjang saja kita lakukan yang lebih" ujar Angga tersenyum devil.
"Hah!! tapi kamu sudah bilang tidak tadi" balas Tika protes.
"Aku tidak mengatakan tidak sayang, aku hanya tersenyum" balas Angga dengan cengir kudanya.
Tika memicingkan matanya. "Ish.. kau ini sangat menyebalkan" pukul Tika pada lengan Angga. Angga tersenyum.
"Aku ke ruang kerja dulu ya, ada berkas yang harus aku periksa. Jangan lupa dengan hakku ya" bisik Angga segera beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa mommy?" tanya El melihat Tika menghentakkan kakinya.
"Eh.. tidak apa sayang.. kaki mommy sedikit kram"
"Daddy mana?" tanya Jeno.
"Daddy di ruang kerja sayang. katanya ada sesuatu yang harus di periksa nya. Kalian lanjut saja nonton nya. Sebentar lagi kita akan tidur"
"Iya mommy" balas keduanya. Tika tersenyum melihat anak anaknya.
*Di rumah Ryanβ¨β¨
"Papa.. bacakan dongeng untuk kakak dong" pinta Syasya.
"Okeh sayang"
"Dongeng yang mana?"
"Tentang Snow white" jawab Daisya antusias.
"Jangan.. Dani tidak suka" tolak Dani tegas.
"Abis tu baca apa juga?" tanya Daisya.
"Tentang kancil saja" tunjuk Dani pada buku dongen itu.
"Hmm... baiklah. Ayo pa baca mengenai kancil"
Ryan tersenyum melihat Daisya mengalah pada adiknya. Ryan mulai membacakan cerita nya hingga ke dua anaknya tertidur.
Ryan melihat dengan seksama wajah ke dua anaknya. Rasa penyesalan akan kisah tujuh tahun lalu masih membekas di benaknya.
Ryan sangat bahagia wajah anaknya itu sangat mirip dengan dirinya. Setelah puas memandangi prince dan princess nya yang sedang terlelap.
Ryan bangkit dan mencari sang istri yang ternyata baru saja siap membersihkan peralatan masak.
__ADS_1
"Sayang.. kamu capek ya, kita cari art saja ya" ujar Angga memeluk tubuh Vina dari belakang.
Vina tersentak. "Tidak perlu, aku bisa melakukan nya sendiri. Lagian aku bosan jika tidak ngapa ngapain. Aku kan tidak bekerja lagi"
"Tapi nanti kamu lelah sayang" kata Ryan mengecup leher Vina.
"Tidak apa apa mas, aku sudah biasa seperti ini jauh sebelum kita menikah"
"Apa keluarga pamanmu selalu memperlakukan dirimu begitu?" tanya Ryan menatap iba pada sang istri.
"Ya begitulah. aku tidak menyalahkan mereka. Aku anggap itu sebagai bagian dari rasa terima kasih ku mereka yang telah bersedia merawat ku sepeninggal kedua orangtuaku" balas Vina dengan masih membelakangi Ryan.
"Maafkan aku" lirih Ryan.
"Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak salah" Vina membalikkan badannya menghadap sang suami.
"Aku seharusnya cepat menemukan kamu" ucap Ryan sendu.
"Hahaha.. cepat pun kita bertemu kan kita akhirnya berpisah selama tujuh tahun lalu" balas Vina dengan niat bercanda.
Ryan menanggapi nya serius. "Itu karena aku bodoh takut akan namanya cinta"
"Sudah.. jangan sedih lagi, semua sudah berlalu" Vina tersenyum.
"Aku makin mencintai istriku" ucap Ryan memeluk tubuh Vina.
"Ayok kita ke kamar"
Ryan berbaring memeluk Vina. Vina masih terjaga, pikiran melayang masih mengingat ucapan Rina agar memberitahu suaminya mengenai kejadian aneh itu.
"Mas.. ada yang ingin aku bicarakan"
"Bicaralah sayang"
"Aku sepertinya di ikuti oleh seseorang" Ryan menatap Vina.
"Aku tidak tau siapa yang mengikuti, tapi aku sudah beberapa kali melihat mereka. Orang orang nya berbeda beda tapi pakaian mereka sama"
"Sejak kapan itu sayang?"
"Sejak sebelum kita kembali bersama. Itu pertama kalinya"
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" ujar Ryan dengan tidak suka.
"Aku kira itu hanya perasaanku saja mas. aku takut merepotkan kamu"
"Sayang.. jangan bicara seperti itu, aku tidak suka. Kita itu suami istri tidak ada yang merepotkan" ucap Ryan merasa Vina tidak terbuka padanya.
"Iya.. maafkan aku" balas Vina melihat ada sedikit kemarahan di wajah suaminya.
"Hmm.. baiklah.. Sekarang bagaimana? apa masih mengikuti mu?"
"Dua hari ini tidak lagi, tapi sebelumnya iya mas"
Ryan memikirkan sesuatu. "Sepertinya aku akan meminta tolong pada Dion agar mencarikan pengawal yang dapat mengawasi kalian selama aku bekerja. Dia tau tempat pengawal yang bagus"
"Apa itu tidak berlebihan?"
"Tidak sayang, aku takut mereka benar akan berbuat jahat padamu dan anak anak"
"Baiklah.. jika itu yang terbaik"
Vina merasa lega setelah menceritakan semuanya pada suaminya. Vina mengeratkan pelukannya lalu memejamkan mata nya untuk tidur.
Ryan memeluk Vina dengan mata masih terjaga. Ia sedang memikirkan siapa tersangka yang akan sedang mengikuti istrinya.
Lama Ryan memikirkannya dan mencurigai seseorang. Setelah itu Ryan mencium kening Vina lalu menyusul sang istri ke alam mimpi.
...****************...
...Terimakasih atas dukungan nya untuk cerita ini π€π...
Jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
and Vote π