
Zidan berlari ke arah sang ibu yang ada di bawah sembari membawa alat tes kehamilan
"Ibu... ucapan mu benar. Dita sedang mengandung anakku" ucap Zidan senang dan menunjukkan alat tes kehamilan kepada ibu.
"Akhirnya sayang.." balas ibu tidak kalah senang.
Zidan mengangguk mantap. Zidan sangat senang meskipun itu tidak di dasari oleh cinta seketika Zidan tidak peduli akan hal itu.
Vina dan Tika terkejut mereka mendengar ucapan Zidan dengan ibu.
"Wah... selamat ya bang" ucap Tika menghampiri mereka.
"Iya.. terimakasih" balas Zidan tulus.
"Bang.. kami boleh ke kamar gk?? jumpa kak Dita mau ucapin selamat. " tanya Vina hati hati takut Zidan marah.
"Iya..boleh. silakan saja" jawab Zidan santai.
"Terimakasih bang" tutur Vina diangguki oleh Zidan.
"Ibu.. kami ke kamar kak Dita dulu ya. Mau nengok kak Dita." pamit Vina.
"Iya nak.. nanti ibu nyusul ya" ucap ibu.
Setelah mendapatkan izin Vina dan Tika berlari kecil ke kamar Dita.
Vina mengetok pelan pintu kamar sembari mengatakan kalau dia dan Tika yang datang. Mendengar dari dalam menjawab dan mempersilakan masuk mereka segera masuk.
"Kak.. selamat ya" ujar Tika.
"Iya.. terimakasih. kalian tau ya?? tanya Dita.
"Ya jelas lah kak. Abang Zi aja teriak memenuhi lantai bawah memanggil Ibu untuk memberitahu tentang kehamilan kakak" tutur Tika.
"Iya kak.. kayaknya Abang Zi seneng banget deh" ujar Vina.
"Iya.. kakak juga seneng setidaknya Zidan menerima anak ini sebagai anaknya" ucap Dita Sendu.
Mendengar ucapan Dita sendu membuat Vina dan Tika seketika duduk di samping ranjang itu mengerti akan apa yang di rasakan oleh Dita.
mereka tersenyum seakan memberikan kekuatan bahwa masih ada mereka yang selalu di samping Dita.
"Kak.. jangan sedih gitu" ucap Vina mengelus punggung tangan Dita.
"Kakak... kakak gk boleh sedih kak. Kasian adik bayi di perut kakak nanti ikutan sedih" Ujar Tika.
"Iya.. Kakak gk sedih kok." Dita memaksa untuk tersenyum. Seketika mereka berhamburan memeluk tubuh Dita.
Di balik pintu terlihat Ibu yang menatap sedih kearah mereka. Ibu tau apa yang di rasakan Dita.
Dita tidak memiliki banyak waktu untuk bersama anaknya nanti. Dita harus meninggalkan anaknya.
Ingin rasanya ibu memeluk mereka juga tapi ibu tak kuasa. Ingin ibu menyingkirkan belenggu perjanjian itu tapi ibu tidak bisa. Ibu hanya bisa menatap sedih seraya berdoa agar semua nya akan baik baik saja.
__ADS_1
Lama mereka berpelukan akhirnnya terlepas sudah pelukan itu.
"Ya udah.. kakak istirahat ya.. kata abang Zi Kakak masih sakit kepala ya.. " ujar Vina dan Dita hanya mengangguk.
"Kakak berbaring aja ya. Kami mau keluar dulu. Gk enak lama lama, nanti mungkin Abang Zi mau ke kamar." tutur Tika dengan senyum jahil.
"Kamu ini ya" ujar Dita tertawa.
"Kami keluar dulu ya kak,, bye.." ujar Vina. Dita hanya melambaikan tangan kepada kedua iparnya.
Tak lama setelah mereka keluar datanglah ibu.
"Ibu,, masuk Bu.." ujar Dita.
"Iya sayang. Bagaimana keadaan mu?? masih pusing?? " tanya ibu membelai rambut Dita.
"Iya Bu. Pusingnya udah sedikit berkurang" jawab Dita.
"Kapan kalian pergi ke dokter??" tanya ibu.
"Mas Zidan bilang siang nanti sekarang aku di suruh istirahat dulu" ujar Dita tersenyum.
"Ya udah.. istirahat lagi ya. Nanti kalau ada apa apa panggil ibu ya" ujar ibu sebelum pergi. Dita hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ibu.
......................
Di kantor tidak kalah heboh. Ryan pun tersiksa dengan kabar gembira itu. Bagaimana tidak sang ayah makin memaksanya untuk memiliki anak. Ryan sedikit jengah mendengar ceramah ayahnya. Ryan hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Hmmm... Angga tau gk ya. Aku telpon ah" lanjut Ryan menghubungi nomor sang adik.
Tut.....
Tut....
Tut.....
"Halo... " akhirnya Angga mengangkat telepon itu.
"Iya. Dimana kamu??" tanya Ryan.
"Aku lagi jalan pulang ke rumah ni. kenapa bang? " tanya Angga.
"Hmm... begini.. apa kau tau kalau kak Dita hamil?? " tanya Ryan.
"Apa?? jadi berita tadi pagi itu benar??" tanya Angga meneriaki Ryan. Ryan menjauhkan telpon dari telinga mendengar teriakkan Angga.
"Iya.. Tapi kok bisa ya?? bukannya bang Zidan gk terlalu suka sama kak Dita??" tanya Ryan.
"Ya itu.. gua juga bingung bang" ujar Angga.
"Tapi aku penasaran juga. Nanti setelah Abang pulang kita tanya sama Abang Zidan. Gua betul penasaran" lanjut Angga.
"Iya ngga.. tunggu aku pulang jangan tanya dulu ya" jawab Ryan.
__ADS_1
"Ok bang. Ya udah bang aku hampir sampai rumah ini. aku matikan telpon nya ya.. " ujar Angga dan langsung mematikan telpon.
"Hmm.. gua juga bingung sih.. kok bisa?? kapan?? dimana??" Angga berbicara sendiri.
"Nanti aja aku tanya Tika. Dia pasti tau." lanjut Angga angguk angguk kepala.
Angga memasuki rumah. Terlihat sepi tidak ada orang. Angga memutuskan masuk ke kamarnya. Angga berlari kecil menuju kamar.
Dikamar juga tidak ada orang yang di cari yaitu istrinya. Angga menutup pintu kamar dan berbalik. Angga diam mematung melihat Tika yang membelakangi nya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang sedikit minim.
Tika tidak menyadari bahwa Angga ada di kamarnya. Ketika sedang berbalik dari pintu kamar mandi Tika terkejut melihat sosok pria berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!!!" teriak Tika.
Mendengar teriakkan Tika membuat Angga langsung berlari ke arahnya untuk menutup mulut Tika.
"Kamu kenapa berteriak??" Angga melotot matanya ke arah Tika.
"Lepasin.. Ya jelas lah. Masa lu lihat tubuh gua yang seksi ini?" gumam Tika dengan mulutnya di bungkam oleh tangan Angga.
Angga melepaskan tangannya.
"Tidak usah berteriak juga. Lagian ya body lu tu gk menarik buat gua" ujar Angga memperhatikan tubuh Tika
"Ih.. mesum lu ya. " ujar Tika langsung berlarian ke ruang gantinya.
"Lu masih disini??" tanya Tika melihat Angga masih duduk di sofa kamarnya. Tika pikir Angga sudah keluar kamar.
"Iya.. gua mau bicara sama lu" ujar Angga.
"Bicara apa?? pasti tentang kehamilan kak Dita ya??" tanya Tika mendekat duduk di sofa yang sama dengan Angga.
"Iya. Kamu pasti tau kan. Kenapa kak Dita bisa hamil??" pertanyaan bodoh Angga memunculkan gelak tawa Tika.
"Ngapain lu tertawa" kesal Angga.
"Ya jelas lah. Lu tu secara pinter kan. Masa lu tanya kenapa bisa, ya jelas bisa lah. secara kak Dita udah nikah sama Abang Zi. Ya bisa aja lah hamil" jengah Tika dan Angga hanya diam.
"Hmmm.... setelah ini, kita juga harus siap siap menghadapi ceramah ayah. Lu harus siapkan tubuh lu buat gua. Biar nanti lu bisa hamil juga agar ayah tidak terlalu lama ceramah in kita. Bisa makin gila kita nanti" ujar Angga.
Angga memikirkan kemungkinan ucapan sang ayah yang akan di dengar nya bersama Ryan.
...****************...
Siang hari tiba, mereka makan di rumah. Biasanya mereka jarang makan siang bersama tapi karena berita kehamilan Dita sang ayah meminta semua anaknya untuk makan siang bersama di rumah tidak ada penolakan.
"Gua merasa akan ada kemungkinan terburuk akan terjadi sama kita berdua bang" bisik Angga ke Ryan.
"Itulah.. gua udah tadi padahal di kantor" ujar Ryan berbisik juga.
"Kita iya in aja bang, kalau gk ntar ribet" lanjut Angga dan Ryan mengangguk mantap.
...****************...
__ADS_1