
Happy Reading ☺️
🌹
🌹
🌹
Berbeda dengan terlukanya si kembar, hari ini Tika akan menemui seorang pria yang akan menjadi bosnya selama ia bekerja di hotel itu.
Sebelum berangkat ke hotel untuk menemui si bos, Tika lebih dulu mampir untuk membelikan beberapa potong roti untuk ia makan di kantor agar tidak kelaparan menunggu jam makan siang.
"Kak.. aku pergi dulu ya" ucap Tika.
"Iya.. hati hati, semoga bos nya gk galak ya Tik" ucap Dita dengan tawanya.
"Hehe.. semoga kak, itu yang aku harapkan" balas Tika. Tika berlalu pergi dan meninggalkan Tika di toko roti nya.
Tak lama setelah itu akhirnya Tika sampai juga di hotel, Tika masih sangat gugup dan takut, ia sangat takut untuk menemui si bos. Tika pernah dengar dari bisik bisikan pegawai katanya di bos tampan, masih muda dan sedikit cuek saja ia tidak dingin dan kejam.
Meskipun seperti itu, Tika masih saja takut. Tika takut nanti pas ketemu dengan orangnya tiba tiba malah si bos tidak menyukai dirinya.
"Tapi kan aku udah tanda tangan kontrak kerja nya, jadi tidak mungkin aku di pecat lagi. Tapi kalau aku di pecat gimana dong? ya Tuhan tolong bantu aku" batin Tika.
Akhirnya Tika sampai di depan ruangan si bos, disana ada Dimas yang sedang menunggu nya.
"Apa anda adalah Tika?" tanya Dimas, ia menatap Tika dari atas ke bawah.
"Pantesan aja si Angga mencari keberadaan mantan istri nya, tau tau mantan nya sangat cantik" batin Angga.
"Iya pak" jawab Tika sopan.
"Baiklah.. mari ikut saya, CEO telah menunggu anda di ruangan nya" ujar Dimas.
"Baik" balas Dita. Ia mengikuti langkah kaki Dimas yang akan membawanya ke ruangan CEO hotel ini.
Sesampainya nya di depan ruangan, Dimas membuka pintu untuk mempersilakan Tika masuk.
"Permisi pak, sekretaris baru anda sudah datang" ujar Dimas.
CEO itu membelakangi mereka jadi Tika tidak melihat wajahnya.
"Iya, kau boleh pergi" jawabnya. Dimas membungkuk dan berlalu pergi menutup pintu kembali.
Tika di buat gugup bukan main. CEO tersebut belum juga membuka suara setelah kepergian Dimas tadi.
__ADS_1
"Gua harus gimana ni, tu orang gk ngomong apa apa, gk juga berpaling ngadap ke gua" batin Tika.
"Dia pasti sekarang bingung karena nunggu aku ngomong, tapi aku sekarang kok malah gugup ya. Ayo Angga bersikap seperti biasanya saja" batin Angga. Ia mencoba menetralkan kembali detak jantung yang berdebar itu.
"Maaf pak,, saya harus ngapain ya?" tanya Tika.
Angga tidak menjawab, ia berbalik badan menghadap ke arah Tika.
Seketika Tika melotot kan matanya melihat Angga di sana. Angga hanya tersenyum tipis melihat ke arah Tika.
"Lho!" ujar Tika terkejut.
"Kenapa harus dia yang menjadi CEO nya sih" batin Tika.
"Iya.. ini gua mantan suami lho, apa kabar mantan istriku?" tanya Angga dengan senyuman devil.
"Gua gk jadi kerja di sini" ujar Tika membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.
Melihat Tika ingin keluar, secepat kilat Angga berlari ke arah Tika dan menarik tangannya untuk menghentikan Tika keluar dari pintu.
"Mau ke mana??" tanya Angga yang berada di samping Tika sedang memegang tangannya.
"Ih.. lepasin, gua mau keluar. Gua gk jadi kerja di sini" balas Tika yang berusaha melepaskan genggaman tangan Angga.
Mendengar hal itu seketika Tika tidak meronta lagi. Ia kembali mengingat bahwa benar kemarin iya telah menandatangani kontrak kerja nya.
"Ya ampun,, bodoh banget gua. Kemarin kenapa gua tanda tangan terus ya kontrak nya harusnya gua lihat dulu siapa CEO nya" batin Tika.
"Hmmm... kenapa?? sayang kok diam aja?? udah ingat ya tentang kontrak kerjanya" bisik Angga lagi dengan terkekeh geli.
"Ih... lepasin.. dan gk usah ngomong sayang sayangan sama gua" judes Tika.
"Sayangnya aku gk berubah ya, masih tetap galak rupanya" balas Angga yang membuat kesal Tika makin meningkat. Tika menatap tajam ke arah Angga.
Melihat Tika yang sudah hampir memuncak emosinya. Buru buru Angga melepaskan tangannya, bia bagaimanapun ia juga agak takut kalau Tika ngamuk.
"Ya udah kita duduk di sana saja" ujar Angga menunjuk sofa.
Tika menuju sofa yang di tunjukkan Angga dan duduk.
"Angga.. gua gk jadi kerja disini ya" ujar Tika lagi.
Angga kesal mendengar hal itu, tapi ia berusaha untuk tenang.
"Sayang lupa ya dengan denda yang tertera di dalam kontrak kerja, denda yang harus di bayar jika belum satu tahun itu lumayan besar" balas Angga dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
"Angga .. lho gk usah panggil gua dengan sebutan itu, pokoknya lho harus mecat gua" balas Tika.
"Kalau gua nya gk mau gimana dong?" balas Angga lagi, emosi Tika kembali menyulut.
"Lho harus mau pokoknya, gua tetap mau keluar gk jadi kerja" balas Tika.
"Gk bisa, apapun alasannya gua gk bisa mecat kamu" balas Angga.
"Jika sayang ingin juga keluar bisa bayar dendanya, ya silakan bayar uang denda sekarang" ujar Angga dengan santai.
"Gila apa ni orang.. mentang mentang dia kaya, seenaknya aja sama gua yang miskin ini. Daripada gua harus bayar denda mendingan gua kerja ajalah sama dia. Gk apa lagian kan cuma setahun aja, setelah itu gua harus keluar dari pekerjaan ini" batin Tika.
"Ok.. gua gk jadi keluar, tapi lho gk usah panggil gua dengan sebutan "sayang" gitu, geli gua denger nya" balas Tika. Ia akhirnya mengalah dan tetap bekerja, dari pada debat sama Angga yang gk akan selesai, mana bayar denda nya lebih banyak lagi dari pada gajinya selama satu tahun.
"Ok.. tapi sayang harus terbiasa pokoknya, kalau kita berdua aja boleh ya, gua gk akan panggil itu jika di depan karyawan lainnya" paksa Angga. Tika hanya menatap Angga.
"Sayang.. itu meja kerja nya" tunjuk Angga polos.
"Kok saya satu ruangan sama bapak?" tanya Tika kembali sopan.
"Saya sengaja biar selalu berdekatan dengan mu" balas Angga tanpa dosa. Tika langsung berdecak kesal mendengar ucapan Angga.
"Tugasnya udah ada di meja, silakan bekerja. Semangat!" jahil Angga lagi.
Tika hanya diam tidak menanggapi Angga, ia berjalan menuju mejanya. Angga tertawa puas dalam hatinya telah berhasil mengerjai mantan istrinya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Dua jam berlalu dari kepergian Tika tadi, pulanglah Rina dengan tiga bocah, Rina membawa anak-anak ke toko karena di rumah tidak ada orang. Dita yang melihat Rina menggendong Zifa membuat Dita terkejut melihat luka yang telah di perban di siku Zifa.
"Kenapa ini Rin?" tanya Dita dan langsung mengambil Zafa yang juga dalam gendongan Rina.
"Nanti aku jelaskan Dit, ayo bawa mereka ke kamar" ucap Rina.
Mereka membawa anak anak ke kamar yang ada di lantai dua di toko itu, sengaja mereka membuat kamar di sana agar ketika mereka lelah atau anak-anak tidak ada yang menjaga di rumah maka itu akan menjadi tempat mereka.
.......
.......
.......
...Bang Angga makin jahil ya😄...
...Terimakasih telah membaca cerita ini, love you ❤️...
__ADS_1