
Happy reading πΊπΊπΊπΊ
π
π
π
Mobil Zidan terparkir rapi di toko Dita. Dita langsung keluar dari mobil Zidan.
"Terimakasih telah mengantarkan aku" ucap Dita yang sedikit menunduk.
"Kamu tidak ingin menawari aku minum teh? atau mencoba kue mu?" ucap Zidan.
"Lain kali saja, kamu harus ke rumah sakit kan?" tolak halus Dita.
"Iya.. tapi aku masih bisa telat kok datang nya" Zidan membalas dengan senyuman.
"Hemmm... begini saja, kapan kapan saja ya mampir nya, kue juga belum ada karena belum di masak" Dita menolak lagi.
"Hemmm.. Aku tidak mau kapan kapan atau besok pagi, aku mau hari ini. Aku ingin sekali memakan kue mu karena aku belum sarapan tadi pagi" Zidan beralasan dengan wajah mengiba.
"Em...em... bagaimana mana ya? lain kali saja lah ya" tolak Dita lagi.
"Gimana kalau nanti jam 10 kamu antar kan kue nya ke rumah sakit? tapi kamu yang harus mengantar kan, nanti di jemput sopir suruhan ku ya" saran Zidan.
Ia tidak mau kalah, pokok hari ini ia harus sering berjumpa dengan Dita.
"Aku gk mau ikut, nanti aku titipkan saja pada sopir mu" pinta Dita.
"Jika kamu tidak mau maka aku akan menunggu mu di sini seharian" ancam Zidan.
Zidan langsung keluar dari mobilnya dan sudah berdiri di depan pintu toko roti itu.
"Eh... jangan dong" Dita mendorong pelan tubuh Zidan.
"Mau ya mau" Zidan memelas pada Dita.
"Zidan kayak anak kecil saja" batin Dita.
Dita mengernyitkan dahinya melihat kelakuan Zidan yang tidak masuk akal itu.
"Baiklah.. sekarang kamu masuk lah ke mobil mu dan segera pergi ke tempat kerjamu" Dita akhirnya mengalah.
"Ok.. aku tunggu di rumah sakit, aku pergi" ucap Zidan langsung memasuki mobilnya kembali dan tidak lupa melambaikan tangannya sebelum pergi.
Zidan melajukan kendaraannya ke rumah sakit.
"Sebenarnya itu siapa sih mbak?" tanya Tania ke Dita yang sudah nongol entah dari mana.
"Ya ampun Tan... kamu bikin mbak terkejut saja" Dita memegang dadanya karena terkejut.
"Hehehe.. maaf mengangetkan mbak.. siapa sih itu mbak? kenapa wajah nya mirip si kembar?" jiwa kepo Tania keluar.
__ADS_1
"Ya itu ayahnya si kembar" balas Dita sembari membuka pintu toko.
"Wah.... sangat tampan ya mbak" balas Tania.
"Biasa saja.. ya sudah mari kita masuk" ajak Dita.
...****************...
"Ryan... stop... aku turun di sini saja ya" pinta Vina.
"Kok di sini sih, kantor kita di depan sedikit lagi" Ryan heran.
"Aku turun di sini, nanti ada yang lihat kalau aku turun dari mobil CEO kan jadi makin besar masalah nya" ujar Vina sembari membuka seatbelt nya.
"Ok.. tapi dengan satu syarat" ujar Ryan yang masih mengunci pintu mobil.
"Syarat?" tanya Vina heran.
"Iya"
"Em.. baiklah, apa syarat nya?"
"Mudah saja.. saat makan siang nanti kamu bareng aku di ruangan"
"Ih.. syarat apaan itu, aku gk mau.. aku makan di kantin saja" tolak Vina.
"Kamu gk bisa nolak Vina,,"
"Kamu apa apaan sih, jangan ngajak berdebat kamu" balas Tika tidak kalah sengit.
"Ih.. apa an sih kamu, kenapa kamu jadi pemaksa" ujar Vina mulai geram.
"Kalau kamu masih nolak aku bakal turunkan kamu di depan pintu masuk kantor dan bilangin satu kantor kalau kita adalah suami istri, mau kamu" ancam Ryan.
"Ih.. kok tiba-tiba jadi kekanak-kanakan sih" balas Vina.
"Abis kamu gk mau Vin" ucap Ryan dengan nada mengiba.
Vina memutar bola matanya dengan membuang nafas berat.
"Baiklah.. nanti saya temani bapak makan siang" ucap Vina mengalah karena jika di teruskan menolak ajakan Ryan yang ada ia akan lewat absen kantor.
Ryan tersenyum sumringah dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Nanti jam makan siang kamu ke ruangan saya" Ryan dengan nada manja.
"Baiklah"
Vina keluar dari mobil dan berjalan sedikit menuju kantor, sedangkan Ryan memarkir mobil nya tepat di pintu masuk.
Sebenarnya Vina cuti hari ini, tapi karena tidak ada siapapun di rumah Vina membatalkan cutinya.
...****************...
__ADS_1
Di ruangan Angga tidak ada percakapan apa pun, mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Lebih tepatnya hanya Angga yang sedang berpikir keras sedangkan Tika fokus mengerjakan pekerjaan nya.
Angga hanya sedang membayangkan bagaimana Tika hamil El tanpa dirinya. Dulu selama hamil Jeno Tika sedikit kesulitan dan sangat manja, mau nya ia di sayang sayang oleh Angga.
"Apa Tika mengalami morning sickness parah ya? Apa El tidak rewel seperti Jeno dulu? apa Tika memang mengingat wajah ku sewaktu hamil sehingga El sangat mirip dengan ku?" khawatir Angga
"Aku sangat menyesal pernah menolak cintanya, alangkah lebih indah dulu dan sekarang jika aku menerima hatinya. Kebodohan dan ketololan diriku mengenai cinta memang sudah di ambang tak terselamatkan" sesal Angga.
"Kenapa sekarang baru aku menyadari nya jika yang aku lakukan dulu sangat bodoh, aku menyadari setelah semua nya terlambat. Aku tidak tau apa Tika bisa kembali membina rumah tangga kami yang sudah terputus kan."
Angga berbicara di dalam hatinya dan sesekali menghela nafas berat nya. Tatapan Angga terpaku pada Tika.
Panggilan Dimas tidak di hiraukan nya, padahal Dimas sudah memanggil nya dari 10 menit yang lalu.
Dimas berusaha memanggil dengan melambaikan lambaikan tangan nya di depan wajah Angga tapi tidak ada jawaban, hingga Dimas melihat apa yang sedang di tatap Angga. Dimas mengikuti dan ternyata bos nya sedang menatap wajah nona bos.
"Ya ampun bos.. segitunya kalau udah lihat nona, sampai panggilan aku tidak di dengar kan" batin Dimas.
Dimas kehabisan akal hingga ia berdehem dengan sedikit keras. Bukannya Angga yang melihat malah Tika.
"Kenapa??" tanya Tika pelan.
Dimas hanya memainkan mata ke Tika untuk memanggil si bos yang masih menatap nona bosnya.
Awalnya Tika tidak mengerti kode Dimas hingga Dimas melambaikan lambaikan tangan nya di depan Angga tapi Angga masih belum ngeh.
Tika yang sudah mengerti dengan kode Dimas langsung memanggil Angga.
"Pak... ada Dimas yang ingin bicara" ujar Tika menunjuk Dimas.
Seketika Angga sadar dan melihat ke arah Dimas.
"Aduh.. memang susah kalau udah jatuh hati, hanya suara kekasih saja yang di dengar sedangkan yang lain nya hanya angin saja" batin Dimas melihat Angga yang sudah menyadari keberadaan nya.
Angga berdehem untuk menetralisir keadaannya.
"Ada apa?" tanya Angga.
"Kita ada meeting pak dengan perusahaan D, mereka sudah menunggu di ruangan meeting pak"
"Kenapa kau tidak bang dari tadi" balas Angga langsung berdiri dan berjalan ke ruangan meeting.
"Lah.. gue di salahin lagi, di panggil saja tidak di dengar apa lagi kalau aku ucapkan" batin Dimas.
"Dasar Angga hanya dia lah yang benar sedangkan yang lainnya salah semuanya" gumam Tika setelah mereka pergi.
...****************...
...Terimakasih atas dukungan para reader kesayangan atas cerita iniπ lope sekebon β€οΈπ€...
Jangan lupa
Like
__ADS_1
Komentar
and Vote π