
Malam ini tiga serangkai kembali mengajak ibu berbicara tentang apa yang pernah mereka tanya kan.
Mereka akan menggunakan berbagai cara agar ibu alias nenek mereka mau membuka suara.
Jika di perlukan nanti mereka akan memberikan hasil tes DNA yang telah mereka lakukan.
Sama dengan mereka ibu dan ayah malam ini akan mengungkapkan apa yang selama ini di rahasiakan.
Ibu dan tuan Malik tidak ingin menutupi nya lagi, sudah cukup menoreh luka di hati malaikat kecil mereka. Jika rahasia ini berlanjut takutnya tiga serangkai akan semakin dalam terluka.
Mereka sedang menikmati makan malam. Malam ini hanya ada tiga serangkai, ibu dan Tuan Malik.
Sedangkan tiga CEO tampan seperti nya tidak pulang ke rumah.
Tak lama waktu berselang, makan malam sudah selesai dan sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
Tiga serangkai bingung mau mulai bagaimana. Rencana mereka hanya ingin berbicara dengan ibu saja tetapi disini juga ada ayah.
Mereka sedikit segan untuk memulai dan memilih diam sembari menatap ke arah ibu.
Tuan Malik mengerti apa yang di pikirkan oleh tiga cucu pintar nya.
"Kalian pasti masih mempertanyakan hubungan kalian dengan kami kan?" tanya tuan Malik.
"Kok ayah tau?" ucap Dani
"Ibu sudah cerita kepada ayah?" tanya Jeno.
Ibu menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Jeno.
"Baiklah... aku akan mengatakan sebenarnya kepada kalian. Sebelum itu mari ikut aku" ajak ayah.
Tuan Malik membawa tiga serangkai menaiki tangga menuju lantai dua dan memanggil art di rumah itu untuk membawa tiga kunci dari kamar terlarang.
"Kenapa ayah membawa kita ke sini?" bisik Dani.
"Seperti nya memang benar kalau rahasia nya ada di sini" jawab jeno
"iya.. kita ikuti dan dengarkan saja" timpal Zico berbisik.
Kamar pertama kali yang di buka adalah kamar Ryan. Di sana terpampang jelas foto pernikahan Ryan dengan Vina dengan ukuran besar. Foto itu mulai terpajang di sana saat Ryan menyesali semua nya.
Tiga serangkai kaget, dugaan mereka benar dan sekarang terjawab sudah.
"Mama ku sangat cantik ketika menikahi ya" Ujar Dani.
"Iya kau benar" balas Jeno.
__ADS_1
Setelah itu mereka tidak mengeluarkan suara apa pun begitu juga dengan tuan Malik.
Setelah beberapa menit di kamar itu mereka keluar dan selanjutnya ke kamar Angga.
Seperti kamar Ryan, di kamar itu juga terpajang rapi foto pernikahan Angga dan Tika. Jeno sangat terpukau melihat kecantikan ibunya saat menikah dengan Angga. Jeno tersenyum bahagia.
Sama seperti sebelumnya tidak ada pembicaraan yang terjadi di kamar Angga. Dan room tour terakhir adalah kamar Zidan.
Sama seperti keduanya, hanya saja di kamar Zidan ada foto bayi Zico yang terpajang di atas nakas kamar, lebih tepatnya foto yang di ambil Zidan ketika Dita pertama kali menggendong Zico yang baru saja dilahirkan.
"Ternyata benar, Bunda adalah ibuku. Aku sangat senang mengetahui hal ini tapi kenapa kak Zidan dan juga kakak yang lainnya tidak ingin kami memanggil mereka dengan sebutan ayah atau yang lainnya" batin Zico.
Jeno dan Dani memikirkan yang sama seperti Zico, tapi mereka memilih untuk diam membiarkan ayah dan ibu menjelaskan nya.
Setelah puas menatapi kamar terlarang, mereka keluar dan kembali ke ruang keluarga, ibu yang sedari tadi menunggu kehadiran mereka kembali.
"Sebelum ayah mengatakan yang sebenarnya, ayah ingin tanya bagaimana tiga putra tampan ayah mengetahui ada sesuatu di rumah ini?" tanya ayah.
"Mudah saja, pertama kenapa kamu bertiga tidak sinkron dalam pemanggilan. Kami bertiga saling memanggil kepada yang tua dengan sebutan abang, sedang untuk tiga CEO itu kami memanggil nya kakak" ucap Dani.
"Dan juga kami merasa mereka seakan memilih salah satu dari kami untuk mereka berikan perhatian lebih, contohnya saja Dani lebih sering di antar di jemput oleh kak Ryan, keperluan Dani di penuhi oleh kak Ryan semuanya" lanjut Dani.
"Ibu mengatakan kalau kami kembar tetapi kenapa kami tidak mirip, seakan kami lebih seperti kembar dengan tiga kakak CEO. Dan juga ketika kami melihat akta kelahiran di sana tertera bahwa kami memiliki perbedaan bulan lahir. Ketika Jeno tanya ibu, ibu bilang itu kesalahan penulisan" ucap Jeno.
"Ah.. iya.. tentang kamar terlarang itu juga sesuatu yang membuat kami semakin merasa bahwa ada rahasia di rumah ini" tambah Jeno.
"Sebenarnya kami tidak menyadari selama ini, tapi setelah kami bertemu dengan anak kembar perempuan yang wajahnya mirip ku, makanya kami menyadari semua ini" timpal Zico
"Iya.. kalian benar ternyata kalian sangat jeli ternyata" balas ayah.
"Kalian benar, kami bukan lah ibu dan ayah kalian" ayah mengatakan sebenarnya.
"Jadi benar kami anak pungut dong" potong Dani.
"Tidak.. kalian bukan anak pungut, kalian itu cucu cucu kami. Aku ini kakek kalian dan ini nenek kalian" timpal ayah.
"Apa!! Jadi kami benar anak " Jeno tidak melanjutkan kalimatnya.
"Iya,, seperti di bilang Dani dan Jeno itulah kebenaran bahwa kalian anak dari masing-masing putra kami" balas ayah.
Mereka sangat terkejut mendengar ucapan ayah, meskipun awalnya mereka sudah menebak kebenaran ini tapi setelah ayah mengatakan nya mereka masih sangat sulit berkata-kata.
Disaat yang sama tiga CEO pulang ke rumah. Tiga CEO bingung dengan tatapan mereka.
"Jika mereka benar ayah kami, kenapa juga kami tidak memanggil mereka dengan sebutan ayah atau sebagai nya?" tanya Zico dengan menahan amarahnya menatap tajam ke arah Zidan.
Tiga CEO tersentak kaget mendengar pertanyaan Zico.
__ADS_1
"Jadi ibu sudah mengatakan kepada mereka?" tanya Angga.
"Iya.. maafkan ibu, ibu dan ayah sudah tidak sanggup lagi menutup semua rahasia ini Angga" jawab ibu.
"Tapi kan kami akan mengatakan yang sebenarnya ibu" balas Angga kesal.
"Kapan?? saat kami sudah besar begitu?" potong Jeno.
"Bukan begitu juga" jawab Angga gelagapan.
"Jawab saja pertanyaan bang Zico tadi kakak kakakku" ujar Jeno kembali dengan tajam menatap sang ayah yang baru saja ia tau.
Zidan masih setia menatap Zico, Angga mengusap kasar wajahnya sedangkan Ryan menghela nafas berat.
"Iya... kalian benar kami adalah ayah kalian" Ryan membuka suara.
"Tidak usah mengatakan itu kami sudah tau sekarang kami ingin kakak kakak menjawab pertanyaan bang Zico" potong Dani sangat marah.
"Itu semua ide dari ku, aku yang meminta kepada Angga dan Ryan supaya jika kalian lahir nanti kalian akan memanggil kami dengan sebutan kakak. Kami melakukan semua itu karena kami sangat muda masa itu" Zidan memberikan jawabannya.
"Oh.. jadi kalian merasa malu begitu?" tanya jeno tajam.
"Kakak kakak takut kalau kami akan menghancurkan masa depan kalian kan? Karena kami tau kami ada ketika kalian masih berada di dunia perkuliahan" lanjut Jeno.
"Jika kehadiran kami membuat kalian resah, kami bisa kok keluar dari sini" lanjut Jeno.
"Gk gitu dong sayang,, kami tau ini salah kami, kami minta maaf kepada kalian" balas Angga.
"Nenek dan kakek aku pamit ke kamar dulu, aku mau tidur" ujar Zico tiba-tiba.
Zico masih kesal dan marah mengetahui jawaban mereka. Ia ingin ke kamar untuk istirahat menenangkan diri.
"Aku juga.." balas Jeno.
"Dani juga"
Setelah pamit, tiga serangkai langsung berlari menuju kamar mereka. Angga mengejar tapi di tahan Zidan.
"Biarkan mereka tenang dulu" ujar Zidan.
Angga sangat frustasi melihat keadaan ini.
"Kenapa sekarang makin bertambah rumit jadinya" ucap Angga.
"Itulah.. kita harus membujuk anak anak kita agar mereka mau memaafkan kita" balas Ryan.
"Iya bang... hanya itu salah satu nya cara"jawab Angga.
__ADS_1
...****************...
...maaf jika cerita nya sesuai dengan ekspektasi kalian para reader kesayangan😩...