
Pada malam disaat semua orang penduduk rumah itu sudah terlelap, hanya Dita yang masih terjaga. Ia masih memikirkan anaknya setelah pertemuan mereka tadi siang.
Satu sisi ada rasa bahagia masih di berikan kesempatan untuk melihat dan berbicara dengan anaknya. Satu sisi lainnya perasaan bersalah makin besar bersarang di hatinya mengingat ia meninggalkan anak nya di keluarga mantan suaminya.
Dita tidak memberitahu kepada siapa pun bahwa ia telah bertemu anaknya. Ia hanya takut jika memberi tahu Vina dan Tika menjadi sedih karena mereka juga ingin sekali melihat putra pertama mereka.
*****
Di mansion tiga serangkai masih asik bermain di kamar Zico, malam ini mereka akan menginap di kamar Zico.
...Mansion mereka itu sangat besar ya gaes, banyak kamar di sana...
Dani sibuk dengan memainkan permainan robot nya, Jeno sibuk dengan game di hp nya sedangkan Zico masih bergulat dengan pikiran nya sendiri, ia merasa sedih mengingat Dota tidak mengakui keberadaan dirinya. Meskipun begitu Zico kembali memahami apa yang di rasakan Dita.
"Kalian belum tidur?" tanya ibu yang tiba tiba masuk ke kamar Zico.
Serempak mereka menengok ke arah pintu.
"Belum ibu, kami masih ingin bermain tidak tidur dulu" jawab Dani.
"Iya ibu, sebentar lagi kami akan tidur kok" balas Jeno.
Zico hanya terdiam tidak menanggapi. Ibu memperhatikan Zico dan mendekati nya.
"Abang kenapa? kok Abang diam aja" tanya ibu mengelus rambut Zico.
"Apakah harus aku tanya sama ibu mengenai permasalahan yang kami selidiki?" batin Zico menatap ibu.
"Tapi ini kesempatan bagus, karena hanya ada kami dan ibu di sini" lanjut Zico dalam hati.
"Ibu.. aku mau bertanya pada mu apakah boleh?" tanya Zico hati hati.
Jeno dan Dani membulat kan matanya dan saling memandang, mereka tau apa yang di pikirkan Zico saat ini. Mereka tau apa yang akan di tanya Zico.
"Boleh sayang" ibu tersenyum hangat.
"Memangnya mau tanya apa sayang?" ibu melanjutkan perkataannya.
"Jika Zico tanya Zico harap ibu tidak marah ya" ucap Zico.
"Iya.. ibu janji tidak akan marah. bagaimana bisa ibu marah dengan kalian" ujar ibu.
__ADS_1
"Ibu... apakah kami memang anak mu?" Zico berterus terang.
Kedua adik Zico tersentak kaget. Mereka sudah menebak Zico akan menanyakan perihal itu kepada ibu. Karena penasaran mereka berdua memilih untuk diam dan mendengarkan ucapan ibu.
"Maksud nya bagaimana? kok bertanya seperti itu?" ibu sedikit shock.
"Ibu.. di sekolah kami menemukan anak anak yang sangat mirip dengan kami ibu. Tidak ada celah jika kami dan mereka tidak memiliki ikatan keluarga" jelas Zico.
Ibu terdiam mendengar ucapan Zico. Ibu kembali mengingat tentang menantunya di masa lalu yang tak lain adalah ibu mereka.
"Ibu kok diam, ibu jawab dong pertanyaan Abang Zico" ujar Jeno mulai makin penasaran dengan kediaman ibu. Dani mengangguk setuju dengan ucapan Jeno.
"Ah sayang.. mungkin mereka hanya mirip saja" kilah Ibu.
"Jika mereka hanya mirip seperti kata ibu, maka ibu lihatlah ini" Zico memperlihat kan foto Daisya dan adik adiknya.
Ibu memperhatikan dengan seksama foto itu.
"Mereka sangat mirip. Siapa mereka? apa mereka juga cucu cucuku yang lainnya" batin ibu.
"Mirip saja itu, ya sudah kalian tidur lah ini sudah malam" ibu masih mengelak untuk menjawab pertanyaan tiga serangkai.
"Baiklah ibu.." ujar Zico.
Ibu tersenyum dan mencium kening mereka secara bergantian sebagai ucapan selamat tidur. Tiga serangkai hanya tersenyum.
🌼🌼🌼🌼🌼
Dimas berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ia tahu hari ini akan mendapatkan amukan dari Angga karena kemarin tidak mengangkat telpon nya, hanya membaca pesan Angga tanpa berniat membalasnya.
Dimas sudah biasa mendapatkan amukan Angga. Untuk Angga tidak terlalu memarahi dirinya ia memilih datang lebih awal setidaknya dengan begitu ia mendapat kan simpati dari si boss.
"Kau sudah datang" ujar Angga datar.
"Iya boss" jawab Dimas.
"Masuk keruangan ku sekarang" perintah Angga.
Dimas hanya mengangguk menanggapi ucapan Angga. Ia tidak langsung memberikan alasan kenapa kemarin tidak mengangkat telpon Angga. Dimas akan membicarakan tentang itu ketika sudah di ruangan Angga.
"Apa yang Lo lakukan kemarin sehingga kau berani tidak menghiraukan panggilan dari gue?" tanya Angga.
__ADS_1
Angga kembali bersikap santai terhadap Dimas. Ia akan seperti itu juga hanya ada mereka berdua.
"Begini pak bos, kemarin gue menyelesaikan penyelidikan yang di suruh pak Zidan" jawab Dimas.
"Jika lo punya pekerjaan masih bisa mengangkat telpon kan, bahkan pesan gue saja gk lo balas" geram Angga.
"Maaf kan gue pak bos" ucap Dimas menunduk.
"Okelah.. apa yang lo dapatkan dari penyelidikan kemarin?" tanya Angga.
"Gue nemuin sesuatu yang luar biasa bukan hanya menemukan keberadaan si kembar tetapi juga mantan istri pak Zidan" ujar Dimas.
"Maksud lo kak Dita?" tanya Angga terkejut.
"Iya bos" balas Dimas.
*
*
*
*
*
Hai hai reader author kembali menyapa😁
urusan author kemarin sudah selesai jadi author up deh ceritanya 😀
Semoga masih suka ya dengan cerita ini😊Terimakasih atas dukungan nya❤️
Jangan lupa beri
Like
Komentar
Vote ya
*gk maksa kok😁🤭
__ADS_1