Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Berhasil Menemukan Mereka


__ADS_3

Sudah satu jam mereka berjalan tapi tidak menemukan jalan keluar dari hutan itu. Langkah kaki Dita dan juga tidak sudah semakin melemah, terlebih lagi Dita.


Dita banyak mengeluarkan darah di lengan kanannya akibat goresan dari Bella. Meskipun sudah di perban menggunakan baju mereka, tetap saja darah itu masih mengalir.


Tika juga tidak kalah meringis akibat luka di telapak tangannya. Tapi ia sebisa mungkin menahan. Ia harus kuat agar bisa keluar dari hutan itu dan membawa Dita ke rumah sakit. Ia khawatir dengan kandungan Dita.


Dita menghentikan langkahnya, ia merasa sangat tidak sanggup lagi untuk berjalan.


"Kak.. biar aku memapah mu" Ujar Tika.


"Tidak usah Tika, kau juga sedang tidak baik baik saja"


"Kakak tenang saja. Aku masih kuat kok"


"Tapi Tika"


"Ayok kak,, kita harus cepat keluar dari hutan terkutuk ini"


Tika memapah tubuh Dita yang semakin melemah.


Sudah dua jam ia memapah Dita, dan di rasa tubuh Dita memang tidak sanggup lagi untuk berjalan.


"Tik.. tinggal kan saja aku di sini. Kamu cari sa bantuan. Aku tidak sanggup berjalan lagi" lirih Dita.


"Tidak kak.. tidak bisa.. Aku tidak akan meninggalkan kakak. Ayok kak, aku kan bantu kakak. Kita harus keluar bersama dari hutan ini"


"Tapi aku tidak sanggup lagi Tik" lirih Dita.


Tika menatap Dita dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak akan meninggalkan Tika di sini sediri.


Karena tidak mempunyai ide lagi, akhirnya Tika mencoba menggendong Dita di punggung nya. Badan mereka memang sama tinggi tapi tubuh Tika lebih sedikit berisi dari pada Dita. Sehingga ia sanggup menggendong Dita di punggung nya.


Satu jam lebih Tika menggendong Dita. Ia merasa tenaga nya tidak cukup lagi.


"Kak.. kita istirahat di sini dulu ya" ujar Tika meletakkan tubuh Dita dengan pelan di bawah pohon besar itu.


"Iya Tik". Dita menyenderkan kepalanya yang serasa sudah sangat pusing di pohon kayu itu.


Lima belas menit beristirahat, Tika dan Dita samar samar mendengar suara orang berjalan mendekati mereka.


Tika menajamkan pendengarannya dan penglihatan nya. Dan ternyata yang datang menjumpai mereka adalah Bella dan Lana berserta bawahannya.


Tika dan Dita menelan ludah nya dengan kasar. Mereka tidak memiliki tenaga untuk melakukan perlawanan.


"Mau apa kau?" tanya Tika berteriak melihat Bella dan Lana mendekati mereka


"Hahaha.. akhirnya kami menemukan kalian terlebih dahulu dari pada keluarga Malik itu"


Tika membuka matanya. "Sepertinya Angga sudah tau tempat ini. Tapi apa dia tau kami melarikan diri?" batin Tika.


"Bisa bisa nya kalian melarikan diri dari tahanan ku" balas Bella.


"Gila kami jika hanya berdiam diri menjadi sandera mu?" tanya Tika meledek.


"Lagian ya, seperti nya sebentar lagi suamiku akan datang ke sini dan menjemput kami dan tidak lupa juga akan memberikan hukuman yang pantas untuk kalian para jilatang kurang ajar"


"Hehehe.. kau kira semudah itu suami mu mengetahui keberadaan mu? mungkin saja mereka masih berduka dan mengira kalian sudah mati akibat ledakan gudang itu" balas Lana.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ternyata di belakang mereka orang orang suruhan keluarga Malik sudah mengepung mereka.


Dita yang menyadari itu tampak terdiam. Ia membiarkan orang orang itu mendekati mereka dan mencegah Bella dan Lana agar tidak melukai mereka.


Setelah mendekat dan berhasil mendekati.


Klek!!


Bunyi pistol yang sudah di kerahkan pada kepala para penjaga dan Lana. Sedangkan Bella yang dengan gerak cepat mendekati dan menarik Dita memaksanya berdiri dan mengarahkan pisau yang ada padanya ke leher Dita.


"Hentikan" ujar Tika yang sangat takut dengan adegan Bella itu.


"Jangan mendekat" lirih Dita pada Tika.


Zidan dan Angga terkejut bukan main melihat adegan tersebut.


"Jangan mendekat.. Jika kalian berani membunuh Lana dan penjaga itu maka aku akan membunuh wanita ini" ancam Bella yang sudah seperti orang kesetanan.


"Jangan berani menyentuh istri ku, Bella!!" pekik Zidan tak kalah keras.


"Zi.... tolong aku" lirih Dita dengan berkaca kaca.


"Bang.. sepertinya kita tidak boleh gegabah, bisa bisa nanti dia melukai kak Dita" ucap Angga pelan.


"Iya.. aku tau apa yang harus aku lakukan" balas Zidan.


"Hehehe... akhirnya kau di sini Zidan. Aku akan membunuh wanita ini, karena dia telah merebut kebahagiaan kita" Ujar Bella.


"Tidak.. Jangan Bel.."


"Hahaha.. apa kurang aku Zi? hingga kau tidak ingin kehilangan wanita ini" balas Bella.


Zidan terdiam, dia menenangkan diri dan mencoba bernegosiasi dengan Bella dengan suara yang lembut.


"Bella.. kita bisa membicarakan hal ini dengan baik baik. Kau Bella temanku yang aku kenal adalah orang yang berhati lembut dan halus. Bella teman ku itu tidak melakukan semua tindak yang menyakiti orang lain" Ucap Zidan dengan lemah lembut sembari mendekati Bella dengan langkah pelan.


"Tapi kau mencintai dirinya Zi" balas Bella.


"Kau tau bel, kenapa aku menyukai wanita itu dari pada dirimu. Karena dia tidak pernah melukai orang lain. Jika kau benar menyukai ku, kau pasti akan melakukan hal itu kan?" tanya Zidan dengan lembut yang membuat pegangan pisau yang ada di leher Dita melemah.


Dengan gerak cepat, orang suruhan keluarga Malik yang sedari tadi sudah mendekati Bella akhirnya bisa melepaskan pisau itu tanpa melukai Dita dan Bella.


Dita sangat terkejut, bagaimana tidak. Sedikit saja orang suruhan keluarga Malik salah arah, bisa bisa leher Dita sudah mengeluarkan darah nya. Seketika Dita luruh di tanah dengan menumpu kedua lututnya.


"Lepaskan aku bajingan" pekik Bella yang sudah di sekap dan di borgol tangan nya.


"Bawa dia ke kantor polisi dan urus semua nya" ujar Zidan dengan Dingin.


Mereka membawa Bella dan anak buahnya tanpa mendengar amukan Bella yang tidak terima.


Zidan segera berlari ke arah istri nya, begitu juga dengan Angga yang berlari ke arah Tika.


Tika juga tampak shock dengan adegan pelumpuh Bella tadi.


"Sayang.. kau baik baik saja?" tanya Angga.


"Aku baik-baik saja" jawab Tika memandangi wajah angga setelah lamunannya buyar.

__ADS_1


"Ayok kita ke rumah sakit" ujar Angga hendak menggendong Tika.


"Sayang.. Kau terluka" ujar Zidan.


"Maafkan aku, aku datang terlambat" ujar Zidan bersalah. Dita terdiam dan memandangi wajah Zidan dengan tatapan kosong. Tak lama Dita pingsan.


"Sayang..." teriak Zidan.


Tika yang mendengar itu. "sebentar.." ujar nya pada Angga.


"Bang Zi.. Bawa kak Dita ke rumah sakit segera. Sepertinya dia kelelahan dan kehilangan banyak darah. Dan juga jangan lupa kalau kak Dita sedang mengandung baik bayi kalian" ujar Tika yang membuat Zidan tertegun. Angga membulatkan matanya tak percaya.


"Istriku hamil" gumam nya dan segera menggendong Dita.


Mereka segera membawa istri masing masing ke rumah sakit. Sedangkan Rina, Dimas dan Dion datang ke kantor polisi menjelaskan tentang kronologi kejadian nya beserta bukti bukti yang akan memberatkan Bella, Lana serta para penjaga itu.


...****************...


Di sisi lain.. di kantor polisi..


Plak!!


"Ini memang pantas kau dapatkan. Karena kau sudah kurang ajar kau telah melukai adik dan sahabatku" pekik Rina pada Bella.


Dion dan Dimas tercengang melihat atraksi penamparan itu.


"Ternyata dia sangat garang sekali" ujar Dion bergedik ngeri mendengar tamparan keras Rina.


"Jika kau selingkuh dari nya nanti, ku rasa kau pasti akan di kebiri" ujar Dion menakuti Dimas.


Dimas terdiam, ia menelan ludah nya dengan kasar.


"Kurang ajar! siapa kamu?" balas Bella.


"Kau tanya siapa aku? aku adalah sahabat Dita. Kau telah melukai Dita. Apa kau tau?" pekik Rina.


"Jika kau masih berani menyentuh sahabat ku itu akan aku pastikan aku yang akan membunuh mu" tekan Rina membuat Bella menelan ludah nya.


"Rin.. sudah.. dia tidak akan macam macam lagi. Dia akan segera mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya itu" ucap Dimas menengahi Bella dan Rina. Dimas segera menyuruh orang yang memegangi Bella untuk membawa Bella menjauh dan memasukkan ke dalam sel tahanan.


Rina terdiam menatap Dimas. Air matanya menggenang, ia sangat tidak sanggup melihat keadaan Tika dan Dita yang pingsan tadi.


Dimas mengerti dan segera memeluk tubuh Rina guna menenangkan wanita itu.


"Kita kerumah sakit ya, melihat keadaan Dita dan Tika" ujar Dimas lembut membuat Rina mengangguk kepalanya. Dimas menggenggam tangan Rina lembut.


Dion hanya terdiam dari tadi tak bersuara. Hanya melihat drama yang ada di depan matanya tanpa harus berkomentar apapun.


...****************...


Terimakasih atas dukungan nya untuk cerita ini


Jangan lupa untuk


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote πŸ˜‰πŸ€­


__ADS_2