
Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang menghangatkan. Toko roti Dita di penuhi pelanggan yang sangat ramai. Dita, Rina dan Tania sedikit kelelahan.
Jam sudah menunjukkan jam setengah 12, mereka duduk beristirahat sejenak sebelum datangnya pelanggan lagi.
"Ini.. minum dulu Dit" ujar Rina.
"Baik.. terimakasih Rin"
Rina mengangguk dan tersenyum lebar.
"Seperti nya kita lagi beruntung sekali hari ini mbak ya, banyak sekali pelanggan yang datang" ujar Tania.
"Iya Tan.. kita bersyukur saja" ujar Dita.
"Iya mbak"
"Tania pamit ke belakang dulu mbak Dita dan Mbak Rina"
"Iya Tan" balas Rina.
Mereka hanya terdiam dan sesekali bercerita tentang perjalanan Rina di rumah pamannya di kota D.
Tak berselang lama, datang lah seorang pelanggan yang sangat Dita Tau, siapa lagi kalau bukan dokter tampan Kevin William.
"Kevin.. " pekik Dita.
"Hai Dit,, aku baru bisa berkunjung sekarang karena aku terlalu sibuk di rumah sakit" balas Kevin.
"iya Vin.. tidak apa apa" saut Dita.
"Mari duduk Vin" ajak Dita ke kursi.
"iya Dit.."
"eh.. ini kan Kevin! apa kabar Vin?" tanya Rina yang baru saja kembali dari kamar mandi.
"Kamu Rina kan? temannya Dita di sekolah?" tanya Kevin balik ia sedikit lupa dengan teman teman sekolah nya.
"Iya.. masa kamu hanya ingat sama Dita sih, kita juga satu kelas Vin" balas Rina.
"Maaf Rin.. kan kamu tau sendiri kalau aku kemarin tu kurang bisa berinteraksi dengan orang lain, kemarin itu saja hanya Dita yang memulai berbicara padaku" jelas Kevin.
"Iya juga ya Vin. kamu kan dulu nya gk suka dekat dengan orang lain, taunya hanya sama buku serta kacamata mu itu" Rina berbicara dengan gamblangnya.
"Rin.. kamu jangan gitu ngomong nya, ntar Kevin nya tersinggung kek mana?" bisik Dita menarik Rina sedikit lebih jauh, ia takut Kevin tersinggung dengan ucapan Rina.
"Eh.. maaf Vin.. aku gk maksud gitu kok" ujar Rina kembali.
"Iya rina... aku tau"
"Ya udah.. kamu duduk di sini aja Dit, temani Kevin. aku mau ke dapur dulu mau buat air minum" pamit Rina.
"Eh.. ok Rin"
Setelah kepergian Rina, Dita dan Kevin berbincang mengenai bisnis toko roti.
"Sudah berapa lama toko ini ada Dit?" tanya Kevin sambil menyeruput teh.
"Baru saja Vin.. dan rumah sakit tempat kamu berkerja adalah orderan pertama yang banyak Vin" jelas Dita.
"Benarkah?? tapi memang kue di sini enak Lo Dit." Kevin tak percaya.
"Iya.. aku sangat senang karena kalian menyukai kue buatan aku" Dita terlihat senang.
Kevin mengangguk mengiyakan ucapan Dita.
__ADS_1
"Kamu ternyata punya bakat yang bagus dalam membuat kue ya Dit" ujar Kevin.
"Eh.. tidak.. aku ikut kursus kemarin tu Vin, aku mencoba membuka toko ini dan akhirnya berhasil dan kue ku juga di sukai" balas Dita.
"Gitu ya Dit.. baguslah"
Rina datang membawa kan minuman untuk Kevin dan Dita.
"Rin.. kamu duduk di sini saja bareng kami, kita juga bisa bertukar cerita bertiga" ajak Dita.
"Eh.. gk usah dit, aku kedapur dulu membantu Tania, kasihan Tania nanti dia kelelahan. Kamu di sini saja ya Dit" tolak Rina yang tidak ingin mengganggu.
"Mana tau kamu bisa menemukan ayah baru untuk si kembar" bisik Rina di telinga Dita.
"Rina" Dita sedikit menekan.
Rina berlarian ke dapur sambil tertawa kecil.
"Kenapa raut wajah mu Dit? apa yang di katakan Rina?" tanya Kevin.
"eh... enggak Kok Vin,, biasalah Rina memang suka mengerjai diriku" balas Dita
"hehe... dia memang usil ya dari dulu. tidak berubah" saut Kevin.
"Itulah Rina Vin.. karena itu juga lah aku dan dia masih bersahabat hingga sekarang" senyuman Dita melebar mengingat persahabatan nya dengan Rina.
"Oh iya Vin.. kamu sudah berkeluarga?" tanya Dita tiba-tiba.
Kevin hanya terdiam.
"Maaf Vin.. aku hanya bertanya bukan maksud mengorek urusan pribadi mu" Dita meluruskan maksudnya.
"Enggak apa kok Dit.. aku terdiam karena tidak tau mau jawab bagaimana" kekeh Kevin.
"Maksudmu?" tanya Dita heran.
"Kamu lucu Lo Vin, masa setampan kamu gk ada yang mau sih. Orang kamu nya udah tampan, baik, lembut, sopan dan kaya lagi" puji Dita yang membuat Kevin mengukir senyum di wajahnya.
"Memang sih Dit, tapi orang yang aku taksir tidak menginginkan aku" Kevin sendu.
"Kau menyukai siapa Vin?" tanya Dita.
"Ada.. kamu tidak tau orang itu Dit" balas Kevin
"Owh.. berjuanglah Vin, semoga kebahagiaan menghampiri dirimu" Dita menyemangati Kevin.
"Iya Dit"
"Seandainya kamu tau Dit, dari dulu hingga sekarang aku masih sangat menyukai dirimu, bukan hanya suka tapi aku sangat sangat mencintaimu Dita" batin Kevin.
"Kamu sendiri bagaimana Dit? kamu sudah memiliki seseorang yang kamu cintai?" Kevin bertanya kembali.
"Sudah Vin.. tapi orang itu tidak bisa membalas cintaku Vin" Dita menghela nafasnya.
"Kenapa Dit?"
"Karena.. ah.. sudahlah.. aku tidak ingin membahasnya" elak Dita yang tidak ingin memberitahu perihal hubungan nya dengan Zidan.
"Owh.. baiklah Dit.."
Kevin dan Dita berbincang cukup lama hingga akhirnya Kevin pamit untuk kembali ke rumah sakit karena ada pasien darurat.
"Eh.. anak bunda udah pulang sekolah?" ucap Dita melihat anak anaknya memasuki toko.
"Udah bunda" jawab Afa.
__ADS_1
"Kami baru saja pulang" balas Syasya.
"Pulang sama siapa sayang?" tanya Dita.
"Tadi di jemput sama mommy dan baru saja mommy kembali pergi ke kantor. Mommy bilang tidak bisa masuk menyapa bunda, sebab terlalu lama meninggal kantor" jelas El
"owh.. ya udah tidak apa apa.. kalian pasti lapar kan?" tanya Dita
"Iya bunda.. Ifa sangat lapal" balas Ifa.
"Ih.. kamu ini memang selalu lapar sayang..Ya sudah.. kalian duduk lah di sana, bunda ambil makanan untuk kalian dulu di dapur ya" ujar Dita dan berlalu pergi ke dapur.
"Iya bunda"
"Apa kita harus pulang sekarang bang?" tanya Jeno pada Zico.
Iya.. kenapa harus sekarang? Dani masih mau tinggal dengan mama" ucap Dani.
"Kita harus pulang agar kita bisa membuat ayah kita bisa kembali bersama dengan ibu kita. Kita harus berkerja sama dengan ayah kita. Jika kita tidak turun tangan takutnya ayah kita akan punya saingan, seperti yang kalian lihat tadi om Kevin kayaknya suka dengan bunda, dari tatapan nya saja aku tau itu" jelas Zico.
"Baiklah bang.. mari kita lakukan" balas Jeno dan diangguki oleh Dani.
Bukan tanpa alasan Zico berkata seperti itu karena ia melihat Dita dan Kevin berbicara tadinya.
"Ini sayang.. makanan kalian" Dita meletakkan makanan di meja anak anaknya.
"Iya bunda terimakasih kasih"
"Bunda.. ada yang mau Zico bicarakan" ujar Zico serius
"Bicaralah sayang" balas Dita.
"Bunda.. Zico, Jeno dan Dani sore ini akan kembali ke mansion" ucap Zico. Dita sedikit tersentak mendengar ucapan Zico.
"Apa! kalian ingin pergi? kalian tidak ingin tidak di sini lagi?" tanya Dita dengan lemah.
"Bukan di sini bunda, kami ingin bunda, mommy dan mama yang tinggal di mansion bersama kami" batin Zico.
"Bukan begitu bunda, kami sudah terlalu lama meninggalkan kakek dan nenek. Kami janji kemarin itu satu Minggu saja" jelas Jeno
"Dan juga kami akan berbaikan dengan ayah kami masing-masing bunda" saut Dani.
"Em.. bunda sangat sedih, tapi bunda dukung kok kalau itu yang ingin kalian bicarakan" Dita berusaha kuat.
"Apa gk malam saja pulangnya sayang?? tunggu mommy dan mama pulang kerja dulu" saran Dita.
"Tidak perlu bunda.. nanti Jeno dan Dani yang akan memberitahu mommy dan mama melalui telepon" jawab Jeno.
"Baiklah sayang, bunda juga tidak bisa memaksa kalian" hanya terpaksa rela yang bisa di lakukan Dita.
"Aku tidak bisa memaksa kalian, bagaimanapun aku tau dari dulu memang di sanalah rumah kalian" batin Dita menatap sedih ke pada ke tiganya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan akhirnya Tiga serangkai pulang ke mansion di jemput oleh mang Kardi.
Tiga serangkai baik mobil dan melambaikan kearah Dita sebagai tanda perpisahan.
"Aku sangat tidak ingin kembali ke mansion dan jauh dari mu, tapi kami harus membantu ayah kami yang bodoh itu" gerutu Zico dalam hati.
...****************...
...Terimakasih telah membaca cerita ini π€π€...
jangan lupa
Like
__ADS_1
Komentar
and Vote ππ