Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Dia


__ADS_3

"Ayok kita masuk, sudah waktunya filmnya tayang"


"Mbak duluan saja, aku mau ke toilet sebentar"


Tania berjalan menuju toilet setelah melihat anggukkan kepala Rina.


"Sudah ayo" ajak Rina.


Dimas tidak menanggapi, dia sibuk dengan ponsel miliknya.


"Oi...oi.." sentak Rina.


Dimas melihat kearah Rina.


"Ngapain sih? kok kamu tidak menjawab"


"Sebentar sayang, aku menunggu seseorang"


Rina memicingkan matanya tidak suka dengan perkataan Dimas yang memanggil nya dengan sebutan "sayang".


"Jangan gitu dong lihatnya, biasa saja. Nanti kamu terbiasa kok dengan panggilan itu" goda Dimas melihat raut wajah Rina yang bersungut-sungut.


Rina otomatis menyepak tulang kering milik Dimas. Dimas meringis kesakitan.


"kebiasaan kamu tidak ada yang berbeda ya, dari dulu kamu memang suka melukai tulang kering milikku" ujar Dimas dalam kesakitan yang di rasakan sembari mengelus tulang nya yang terasa sangat sakit.


"Itulah aku, kau yang memulai dulu" Rina membuang mukanya.


"Tapi tidak apa,, aku rela kok di gituin sama ayank" senyum Dimas menggoda Rina.


"Ck.. kau mau lagi" Rina bersiap melayangkan kakinya.


"Eh.. tidak!! jangan !! ini masih sakit. Aku hanya bercanda" ujar Dimas sedikit takut dan berupaya melindungi tulang kering miliknya satu lagi.


"Tau juga takut kamu" ujar Rina meledek Dimas.


"Aku sebenarnya tidak takut, tapi ini sangat sakit" elak Dimas.


"Sama saja"


"Sebenarnya kit tunggu siapa sih?? kenapa kita tidak masuk saja?" tanya Rina yang mulai bosan, dari tadi Dimas asik menelpon seseorang tapi tidak tau siapa yang di telpon Dimas.


"Tunggu sebentar. Dia sudah di parkiran. Sebentar lagi dia akan kesini"

__ADS_1


"o.. baguslah.. Aku tidak akan berduaan dengan mu saja. Dan juga kamu tidak kesepian karena ada teman mu itu" ujar Rina senang.


Dimas tersenyum miring melihat Rina. "Sudah aku tebak, dia sengaja mengajak Tania agar aku tidak bisa berduaan dengan nya. Aku lebih cepat dari pada kamu Rina" batin Dimas tersenyum bahagia hanya dengan memikirkan rencana nya.


Selan beberapa menit datanglah seorang laki laki yang berparas tampan berjalan ke arah Rina dan Dimas.


Dari arah toilet Tania juga keluar. Tania berdiri di samping Rina dan membelakangi pria yang sedang berjalan menuju mereka.


"Kok kamu lama sekali sih Tan? kamu ngapain? BAB kah?" tanya Rina sedikit pelan.


"Tidak.. aku hanya sedikit sakit perut tadi" jawab Tania dengan kekehan kecil dari mulut nya.


"Kenapa belum masuk lagi mbak? apa kalian menunggu ku" tanya Tania heran. Sudah beberapa menit dia di toilet yang terbilang cukup lama tapi Rina dan Dimas masih berada di dekat pintu masuk bioskop.


"Tidak... kami tidak menunggu mu" lugas Rina.


"Ini ni.. Dimas mengajak temannya, sekarang temannya belum muncul juga" ujar Rina.


"O" Jawab Tania singkat.


"Maaf ya Tan, sebentar lagi teman aku akan datang. Jadi tunggu sebentar lagi ya, biar sama sama kita masuk ke dalam" jelas Dimas.


"Iya Pak.. tidak apa apa"


"Kok kamu panggil saya pak sih, saya masih muda Tania"


"Tidak.. saya tidak mengatakan anda tua, cuma saya bingung mau bilang apa" Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Panggil mas aja, sebab kamu memanggil Rina dengan sebutan mbak, jadi kamu panggil saya dengan sebutan mas saja" ujar Dimas.


Rina diam tidak menjawab apa apa. Dia sangat malas jika untuk kembali berdebat dengan Dimas.


"Baik mas Dimas" ujar Tania.


"Hei.. Dion.. Sini.. sini.." ujar Dimas melambai lambaikan tangan nya ke udara.


Deg..!!!


Deg..!!!


Deg..!!!


"Aku harap hanya namanya saja yang sama" batin Tania. Tania mulai gugup, jantung nya berdetak lebih kencang dari biasanya.

__ADS_1


Tania merasakan gelisah dan takut yang luar biasa. Rina melihat perubahan warna wajah Tania, ingin dia bertanya tapi ia urungkan niatnya saat mendengar langkah kaki Dion sudah di dekat mereka.


"Ngapain sih ke sini? Loe mau ajak gue nonton bareng gitu" ucap Dion santai.


Tania tidak memutar tubuhnya. Ia mengendalikan emosi nya agar tidak terlalu terlihat.


"Iyalah.. sebenarnya gue sama Rina aja tadi, tapi Rina bawa kawannya. Kan gk mungkin nanti kawannya sendiri"


"O" balas Dion.


"Kenapa sekarang aku lebih sering berinteraksi dengan nya?" batin Dion. Ia tau kalau wanita yang membelakangi dirinya adalah Tania. ?Mantan terindah Dion yang hingga sekarang masih ada di hati Dion tapi ia berusaha untuk melupakannya dengan membenci nya.


"Aku harus bersikap biasa saja. Aku tidak boleh menampilkan wajah sendu ku. Aku masih sangat sakit hati melihat wajah nya" lanjut Dion dalam hati.


"Ini tiket kalian" Dimas memberikan tiket itu pada Dion dan Tania.


Dion dan Tania mendapatkan film yang berkisah antara seorang wanita dan kekasih nya yang saling mencintai tapi karena sang pria merantau ke kota, wanita nya menikah dengan orang kaya akibat desakan dari keluarga.


"Kenapa mereka beda filmnya?" tanya Rina tak terima.


"Aku hanya ingin berduaan dengan mu" ujar Dimas segera menarik tubuh Rina dan meninggalkan Tania dan Dion di sana.


"Ayok masuk" ujar Dion dingin.


Tania diam tak menjawab dan tidak bergerak sedikit pun.


"Cepat!! Aku tidak bisa menunggu. Aku hanya menghormati temanku. Jadi jangan buat ulah dengan hanya berdiri di situ" bisik Dion di telinga Tania. Dion segera berjalan meninggalkan Tania yang masih terdiam.


Tubuh Tania kembali menegang. Tania menghela nafasnya dan mulai melangkah memasuki bioskop.


...****************...


Maaf kan author teman teman πŸ™πŸ™


***Dalam beberapa Minggu ini author di sibukkan dengan acara keluarga jadi tidak bisa up cerita ini,


Sekali lagi author minta maaf kepada reader tersayang πŸ˜­πŸ™***


Terimakasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini 😊


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Komentar


and Vote seikhlasnya πŸ˜ŠπŸ€—


__ADS_2