
Pagi harinya Angga sudah bangun dan menyiapkan segala keperluan Jeno.
Angga tau kalau Jeno belum bisa memaafkan dirinya tapi tidak ada salahnya ia membujuk sang anak.
"Jeno udah bangun, biar em-em..." Angga bingung panggilan anak nya untuk dirinya.
Jika dulu sebelum rahasia mereka terkuak, Angga akan santai jika Jeno memanggil dirinya dengan sebutan kakak.
Namun sekarang keadaan sudah berubah, Angga sendiri tidak tau panggilan yang pas untuk dirinya dari Jeno.
"Apa?? Kau keluar lah, Jeno mau mandi" ujar Jeno.
"Bisakah aku saja yang memandikan Jeno" Angga akhir nya menyebut dirinya dengan sebutan "Aku".
Untuk saat ini itu lebih tepat pikir Angga.
"Tidak perlu, kau tidak usah perhatian berlebihan begitu. Jeno jadi risih, lagian ya Jeno selama ini mandi sendiri tidak pernah merepotkan orang lain" balas Jeno.
Ucapan Jeno benar benar menohok untuk Angga. Angga harus bersabar, salah nya juga yang lebih dulu menyakiti putranya.
Angga akhir nya menyerah untuk memandikan Jeno.
"Untuk saat ini biar lah seperti ini saja dulu" batin Angga.
"Ya sudah.. aku tunggu di bawah. Nanti aku akan mengantarkan Jeno ke sekolah ya" Angga tersenyum getir saat Jeno menatap acuh kepadanya.
Angga berjalan menuju meja makan.
"Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan" ujar Angga mengusap kepala nya.
Suasana di meja menjadi sangat dingin setelah kabar baik itu terucap. Biasanya suasana sarapan di rumah memang seperti itu, tapi kali ini menjadi sangat sangat dingin seperti musim salju.
"Ayo bang... kita berangkat" ujar Dani.
"Berangkat denganku saja ya" ucap Ryan langsung menyudahi sarapannya padahal ia belum memakannya.
"Tidak perlu, kami berangkat dengan mang Kardi aja" balas Dani.
"Iya.. ayok bang Zico dan Dani, kita berangkat bersama" tambah Jeno.
"Gk.. gk bisa Jeno aku yang antar ya" Angga berusaha membujuk lagi.
"Gk mau, Jeno gk mau" balas Jeno.
Tanpa aba-aba Zidan langsung memboyong Zico yang masih berdiri terdiam ke dalam gendongan nya.
"Zico berangkat denganku, kalian bawalah anak kalian masing-masing" ujar Zidan.
Zico tersentak kaget karena sudah berada dalam gendongan Zidan.
"Ih.. apaan sih.. Zico gk mau juga berangkat dengan mu, Zico mau berangkat dengan mereka" Zico meronta dalam gendongan Zidan.
Zidan berusaha sekuat tenaga menahan Zico agar tidak turun dari gendongan nya.
"Gk bisa,, Zico berangkat sama ayah pokoknya" paksa Zidan.
__ADS_1
Tanpa pamit terlebih dahulu dengan ayah dan ibunya, Zidan melangkah kakinya untuk keluar dari rumah itu. Zidan menurunkan Zico di kursi belakang mobilnya dan melajukan mobilnya.
Di rumah masih di ributkan dengan Dani yang tidak ingin di hantarkan oleh Ryan. Angga dan Ryan tidak kehabisan ide. Jika mereka tidak berangkat dengan mobil mereka maka Angga dan Ryan akan mengantarkan mereka dengan mobil yang di pakai mang Kardi.
"Ya sudah.. aku hantarkan sampai depan saja" ujar Angga.
Dani dan Jeno berpamitan dengan kakek dan nenek mereka.
Dani dan Jeno langsung menaiki mobil mang Kardi.
Mang Kardi yang telah menerima kode dari Ryan langsung menjauh dari mobil dan masuklah Ryan dan Angga di mobil yang sama.
Mereka berempat masuk mobil dengan Ryan yang menjadi sopirnya.
Dani dan Jeno mencebik kesal dengan kelakuan ayah ayah mereka.
"Mereka sangat lucu" bisik Dani ke Jeno.
"Iya.. aku sangat senang dengan usaha mereka mendekati kita" balas Jeno dengan terkekeh kecil sehingga Ryan dan Angga tidak mendengar nya.
...aduh duh.. bisa bisanya kalian akting ya..π€¦...
...Jeno: Bisa dong Thor, mau lihat bagaimana usaha ayah kami untuk mendapatkan perhatian dan maaf dari kami lah..π...
Sesampainya mereka di sekolah, Dani dan Jeno langsung keluar dari mobil dan berlari an menuju gerbang sekolah tanpa berpamitan dengan ayah mereka.
"Yah.. mereka langsung lari" ujar Angga.
"Biarkan.. setidaknya kita sudah memastikan mereka sampai di sekolah dengan selamat" balas Ryan.
"Iya.. Dani juga menolak semua perhatian ku" Ryan menghela napas.
"Iya bang.. Jeno juga begitu" Angga mengusap kepala nya.
"Oh iya Angga, panggilan Jeno untuk mu sudah kau pikirkan?" tanya Ryan penasaran.
"Belum bang,, aku juga bingung Jeno panggil aku dengan apa ya?" tanya Angga.
"Mudah saja kau masih ingat kan ketika ibu Jeno menyebut dirinya di hadapan Jeno, jadi kau lawan kata nya saja"
"Emm... seingat ku Tika menyebut dirinya dengan sebutan "mommy" bang kalau tidak salah ingat"
"Ya sudah,. nanti Jeno panggil kau Daddy saja"
"Okeh.. kalau Dani bagaimana?"
"Dia akan memanggil ku dengan sebutan "Papa" karena Vina menyukai sebutan itu" sendu Ryan.
"Ya sudah bang.. kita balik saja dan segera bekerja" ajak Angga, mereka berdua kembali ke rumah mengambil perlengkapan kerja.
...****************...
Jam istirahat sekolah tiba, di kantin duduk lah tiga serangkai dengan adik adiknya.
Tiga serangkai menceritakan semuanya pada Daisya dan adik adiknya. Daisya dan Zafa sangat terkejut tapi kemudian mereka mengerti setelah Zico memberi tau kan alasannya.
__ADS_1
Zico juga memberi tau rencananya, mereka semua nya setuju.
"Okeh.. nanti kami kabari lagi setelah kami minta izin dengan nenek kami" ujar Jeno.
"Tapi bunda izinin gk ya?" khawatir Dani.
"Tenang saja kak, kami dapat memastikan bunda akan setuju"
"Tapi jangan sampai rahasia kita sampai tau bunda ya" ujar Zico.
"Okeh.. aman bang" balas Zafa.
Mereka memasuki kelas kembali karena Waktu istirahat telah habis.
...****************...
"Apa!! menginap di rumah ibu kalian?"
"Iya nek"
"Jangan... jika kalian tidak suka ayah kalian di sini nanti biar kakek yang menyuruh mereka pergi"
"Ayolah kakek harus membantu kami, ini satu satu jalan agar mereka bertemu secara alami saja dan agar cepat ibu kami kembali ke sisi ayah kami" balas Jeno.
"Benar nenek dan kakek, kita harus membuat ini sedrama mungkin, agar nanti hasilnya juga bagus" balas Zico.
Tuan besar Malik berpikir keras dengan ucapan mereka. Setelah lama memikirkan nya, taun Malik mengambil keputusan.
"Ya sudah.. tapi jika nanti nenek ingin berkunjung ke sana boleh ya"
"Iya.. aman itu" ujar Dani memberikan jempol nya ke udara.
Tidak berbeda dengan mansion begitu juga di rumah, Daisya dan Zafa sedang membujuk Dita agar mau menampung tiga serangkai.
Dita sangat senang tapi ia juga khawatir, takut takut nya keberadaan anak yang lain diketahui.
"Ayoklah bunda,, boleh ya"
"Baneran ya hanya satu Minggu tidak lebih"
"Iya bunda.."
"Okelah.. bunda mengizinkan mereka tinggal disini"
"Hore... Terimakasih banyak bunda" Syasya sangat senang dan mencium kening Dita dengan sayang.
Setelah mendapatkan izin dari bunda nya, Daisya langsung menelpon tiga serangkai dengan hp Dita.
Tiga serangkai senang, sekarang mereka sedang membereskan baju mereka.
Setelah membereskan baju dan berpamitan dengan nenek dan kakek mereka tiga serangkai melajukan kendaraannya ke rumah Daisya.
...****************...
...Maaf ya reader telat up nyaππ...
__ADS_1