Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Kecurigaan


__ADS_3

Sudah tiga bulan lebih para putra Malik bahagia dengan keluarga kecilnya. Mereka menikmati waktu bahagia dengan sang istri dan anak anaknya.


Kebahagiaan yang tidak dapat di ganti dengan apa pun.


"Kamu kenapa Vin?" tanya Dita melihat Vina melamun.


Selama dua bulan ini Vina dan Tika tidak bekerja. Suami mereka tidak mengizinkannya, ketika suntuk melanda mereka akan membantu Dita di toko roti.


Suami mereka tidak mengizinkannya tapi mereka meyakinkan dengan alasan akan bosan sendirian di rumah jika anak anak masih berada di sekolah.


suami mereka mengizinkan dengan catatan setiap jam makan siang mereka akan makan bersama baik dengan anak anak atau tanpa anak anak.


Vina tersentak oleh tepukan tangan Dita di bahunya.


"Kamu mikirin apa sih? dari tadi aku lihat kamu kebanyakan melamun, ada apa?" tanya Dita lalu ia duduk berhadapan dengan Vina.


"Enggak mikir apa apa sih kak" jawab Tika dengan gelengan kepala nya.


"Jangan bohong Vin, wajah kamu menggambarkan kalau kamu sedang memikirkan sesuatu" balas Dita mengerutkan keningnya.


"Mikir apa sih?? " Dita memicingkan matanya.


Vina terdiam tak menjawab. "Kenapa Dit? dan kenapa wajah Vina kayak ada sesuatu gitu? saut Rina melihat Dita memperhatikan Tika dengan seksama.


"Gk tau nih Rin, entah kenapa" balas Dita mengedik bahunya.


"Adikku yang manis kenapa?" tanya Rina lembut .


"Apa Ryan menyakiti kamu?" tebak Rina. Seketika ia mendapat cubitan cinta dari Dita di pinggangnya.


Rina meringis membulat mata nya kearah Dita.


Vina menggelengkan kepalanya. "Enggak kak"


"Terus kenapa juga?" tanya Rina masih penasaran.


"Em.. gini.. Aku gk tau ini hanya perasaan aku saja atau bagaimana" Tika menautkan kedua jari jari tangan nya.


"Maksud nya?" tanya Rina yang sudah terduduk di sebelah Dita. Rina begitu penasaran, ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan sikap Tika.


"Begini mbak.. sudah satu bulan belakangan ini, lebih tepatnya setelah aku rujuk kembali dengan Ryan. Ada hal yang selalu menghantuiku"


Rina dan Dita mengerutkan keningnya tidak mengerti serta mereka saling bertatapan. Mereka terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Vina.


"Aku merasa ada seseorang yang sedang mengikutiku"

__ADS_1


"Hah!!" pekik Rina terkejut. Dita menurup kedua telinganya mendengar pekikan Rina yang membuat gendang telinga nya serasa mau pecah.


"Maksudmu kamu di ikuti oleh seseorang Vin?" Tanya Dita memastikan.


"Iya kak"


"Bagaimana kamu tau? orang nya seperti apa? apa dia perempuan? apa dia laki laki? apa dia memakai pakaian seperti preman yang ada di tv? apa dia juga memakai baju hitam, kacamata hitam dan berbadan kekar?" rentetan pertanyaan yang di lontarkan Rina membuat Dita menggeleng geleng kepala.


"Sabar dulu donk Rin, biar Vina menyelesaikan kalimatnya" ujar Dita membuat Rina cengengesan dan mengangguk kepalanya.


"Sudah beberapa kali aku sering melihat nya. Pertama kali aku rasa saat sebelum rujuk saat aku dan kak Dita pergi bersama. Disitu aku juga melihat orang itu tapi aku mengacuhkan saja aku kira mungkin hanya perasaan aku saja" Vina melanjutkan kalimatnya.


"Apa maksudmu laki laki yang memakai baju hitam yang berbeda di belakang kita?" tanya Dita.


"Kamu melihat nya juga Dit?" tanya Rina terperangah.


"Aku melihat nya, tapi aku pikir mungkin perasaanku saja. Tapi hatiku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan orang itu" jelas Dita.


"Setelah itu apa kamu melihat nya kembali?" tanya Dita pada Vina.


"Iya kak, aku melihat mereka saat pertama kali pindah ke rumah baru. Hari itu ada seseorang yang aneh mengintai dan bolak balik di sekitar depan rumah. Di hari yang sama siangnya ada seseorang yang memperhatikan aku dan anak anak dari kejauhan di restoran saat kami makan siang bersama. Kemudian selang beberapa hari aku masih melihat orang-orang itu berkeliaran di sekitar rumah" jelas Vina.


"Orang orang? maksudmu mereka ramai?" tanya Rina bingung.


"Aku tidak tau apa mereka berasal dari orang yang sama atau tidak"


"Sekarang bagaimana? apa kamu merasa mereka mengikuti lagi?" tanya Dita.


"Dua hari ini tidak lagi kak tapi sebelum sebelumnya iya. Aku takut kak, aku takut mereka melukai anak anak" khawatir Vina.


"Jangan berpikiran negatif dulu Vin" Ucap Dita menenangkan Vina.


"Apa gk sebaiknya kamu bilang dulu ke suami kamu?" saran Rina.


Vina terdiam. "Aku tidak mau kak, aku takut itu hanya perasaanku saja tidak lebih. Nanti membuat Ryan makin posesif sama aku. Mbak Rina tau sendiri, makin hari makin posesif saja dia" ujar Vina.


"Tapi ada benarnya juga apa yang di katakan Rina. Kita lebih baik mencegah kejadian yang tidak kita inginkan sebelum terlambat Vin" balas Dita.


"Benar kak, nanti aku akan bicarakan dengan Ryan. Tapi sebelum itu aku ingin minta tolong dengan kakak, mbak Rina dan Tika untuk lebih mengawasi anak anak. Takutnya memang kita semuanya yang menjadi mangsa"


"Betul tu Vin, aku setuju. Aku akan lebih memperhatikan anak anak. Bagaimanapun mereka anak anakku juga" balas Rina.


"Ryan sangat posesif ya Vin?" tanya Dita yang merasa Ryan dan suaminya sama saja. Posesif plus manja.


"Iya kak, aku terkadang jengah juga dengan tingkah nya itu. Tapi aku juga bersyukur karena dengan begitu artinya Ryan sangat mencintai diriku kan" balas Vina terkikik.

__ADS_1


"Baguslah.." balas Dita tersenyum.


"Aduh.. bagaimana lah dengan nasibku ini? kapan aku juga punya suami dan punya anak" keluh Rina membuat Dita dan Vina tertawa.


"Makanya nikah Rin. Kamu sih ngapain sok sok an nolak calon suami dari pamanmu itu. Bukan hanya itu, kamu juga enggan saat Dimas mencoba mendekati kamu" ucap Dita.


Rina memutar bola matanya malas mendengar nama Dimas disebutkan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia berumah tangga dengan Dimas.


Vina terkekeh geli mendengar ucapan Dita yang memojokkan Rina.


"Iya mbak.. coba saja buka hati untuk Dimas. Dimas orang baik kok kak aku jamin itu. Ntar Dimas di ambil orang baru menyesal mbaknya" timpal Vina.


"Biarin, biarkan saja dia menikah dengan orang lain aku tidak peduli" ucap Rina tidak peduli.


"Benar kamu tidak peduli? jujur saja Rina. Kalau kata Zifa Ndak boleh bohong onty, nanti Tuhan marah" ledek Dita dengan nada bicara Zifa sehari hari.


Rina geram dengan penuturan Dita yang memojokkan dirinya. sedangkan Vina masih tertawa.


"Em... iya..Nanti aku coba untuk membuka hati untuknya" balas Rina menyerah.


"Untuk siapa mbak? tanya Tika yang tiba-tiba muncul.


Rina memegang dadanya karena terkejut. Sedangkan Tika cengengesan.


"Untuk membuka hati agar Rina bisa menerima Dimas Tik" balas Dita.


"Yang benar mbak? bagus dong. Aku doakan semoga semuanya berjalan baik nya mbak" ucap Tika tulus. Rina tersenyum kaku menanggapi ucapan Tika.


"Ya sudah mari makan mangga muda nya mbak mbakku yang cantik" ujar Tania membawa mangga muda itu.


"Rasa nya pasti asem, tapi aku suka" balas Rina.


"Aku juga" saut Dita.


Mereka makan mangga muda yang mereka sukai. Vina dan Dita memunculkan wajah kecut karena mangga itu sangat lah asem. Tapi mereka tidak juga berhenti memakannya.


Sedangkan Rina, Tika dan Tania di buat tertawa melihat ekspresi wajah Vina dan Dita yang sangat lucu menurut mereka.


...****************...


...Terimakasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini πŸ€—πŸ˜...


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Komentar


and Vote πŸ˜‰πŸ€­


__ADS_2