
Ryan dan Vina sudah sampai di taman dekat Toko roti Dita. Mereka membeli minuman terlebih dahulu sebab Vina kehausan.
Ryan dan Vina duduk di kursi taman sembari melihat anak anak yang sedang bermain di sana.
Sepuluh menit berlalu tapi mereka belum memulai pembicaraan.
"Aku akan resign dari pekerjaan ku, masalah dendanya nanti akan aku bayar" ujar Vina memulai pembicaraan.
Sontak Ryan membulat mata nya, ia tidak terima jika Vina berhenti. Jika Vina tidak bekerja lagi dengannya bagaimana ia mendekati Vina.
"Tidak.. aku tidak terima. Kau tidak boleh berhenti Vin" Ryan tidak terima.
"Kau harus mau, aku tidak bisa bekerja dengan mu lagi" paksa Vina.
"Aku lah CEO nya jadi mau tidak mau kau harus menuruti perintah ku" Ryan tidak mau kalah.
"Lagian ya aku keluar dan membayar dendanya, jadi tidak ada yang salah" sanggah Vina.
"Tidak bisa. Pokoknya aku tidak akan menerima surat pengunduran diri dari mu. Kau tenang saja selama ini aku bekerja secara profesional kan, aku tidak pernah mengganggu mu. Aku hanya memandangi wajah mu saja" tolak Ryan dengan tegas.
Vina yang malas berdebat lagi dengan Ryan dan ujung-ujungnya nanti dia juga yang akan kalah.
"Baiklah.. aku tidak jadi resign" Ryan menarik lebar bibirnya membentuk lengkungan sempurna.
"Aku ingin bertanya pada mu Vin, Daisya anak kita kan?" Ryan butuh pengakuan dari Vina.
"Iya.. dia kembaran Dani"
"Tapi bagaimana bisa? ketika pemeriksaan dan melahirkan aku yang ada di samping mu" Ryan keheranan.
"Iya.. aku sengaja menutupinya dari mu, apa kau ingat, sebelum kau masuk aku lebih dulu memanggil Kak Dita dan Tika. Begitu juga ketika pemeriksaan aku meminta dokter nya menjelaskan tentang satu anak saja" Vina mencoba membuat Ryan ingat.
"Jadi pada masa itu Daisya lahir?"
"Aku beruntung hari itu, karena Tuhan mengizinkan aku melahirkan Daisya terlebih dahulu daripada Dani" ujar Vina
"Jadi Tuhan juga mengizinkan kau pergi dari aku" sendu Ryan.
"Itu memang perjanjian" balas Vina.
"Tapi kenapa kau tidak memberitahu aku kalau anak kita kembar?" lirih Ryan.
"Ya karena di dalam perjanjian hanya memberikan satu cucu dan alangkah lebih baiknya cucu laki laki saja untuk di jadikan ahli waris, dan juga biar aku tidak terlalu mengingat Dani, setidaknya dengan adanya Daisya hidupku menjadi semangat" Vina mengutarakan alasannya.
"Maafkan aku Vin...semuanya terjadi karena kesalahan ku. Aku tidak jujur padamu waktu itu. aku lebih memilih memperjuangkan masa depan ku dari pada mempertahankan dirimu di sisiku" penyesalan Ryan.
"Kau tidak salah, kau mengambil keputusan yang tepat. Lagian kau juga masih muda masa itu ya wajar saja dan juga kita tidak saling mencintai. Apalagi dirimu orang yang mengedepankan pendidikan, kan itu bagus" Vina menanggapi dengan dewasa.
"Iya Vin, seharusnya nya aku juga mempertahankan dirimu" balas Ryan.
"Sudah lah Ryan, jangan bahas masa lalu lagi. Lagian ya aku sudah melupakan semuanya" malas Vina.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa Vin, aku tidak ingin mengulangi kesalahan lagi. Sekarang aku akan mempertahankan dirimu di sisiku" tujuan Ryan.
Vina mengernyit keningnya mencerna perkataan Ryan. Ryan mengetahui jika sekarang Vina sedang bingung dengan ucapan nya.
Ryan memiringkan badannya ke arah Vina sehingga mereka berhadapan, Ryan memang tangan Vina.
"Vina... jika dulu bisa mengembalikan waktu, aku pasti tidak membiarkan dirimu pergi dari sisi ku Vin. Namun aku tau bahwa itu sudah sangat terlambat" Ryan Jujur.
"Aku ingin kau tau bahwa aku sudah jatuh hati padamu setelah kita menjadi suami istri. Kau sangat cantik, lembut dan sifat keibuan mu membuat ku jatuh hati Vin. Aku sangat senang karena kau mengurus ku, aku sangat menikmati keseharian ku dengan mu. Aku terlalu pengecut Vin untuk mengatakan kepadamu bahwa aku mencintaimu Vin" jelas Ryan.
"Aku sangat menyesal karena menolak hatimu yang kau berikan padaku, kebodohan ku membuat kau pergi dari ku. Aku bodoh menunggu cinta masa lalu, aku menunggu wanita yang pernah membuat aku jatuh hati padanya. Tiga tahun yang lalu aku berjumpa dengan nya, ia sudah bahagia dengan keluarga kecil nya. Aku sangat menyesal menyia-nyiakan dirimu Vin" lanjut Ryan.
"Aku minta maaf pada Vin. Aku tau mungkin sekarang kau sudah membenciku tapi aku mohon padamu untuk memberikan aku kesempatan kedua untuk bersatu kembali dengan kamu Vina" pinta Ryan mengiba.
"Khemmm... Aku sudah memaafkan kamu dan juga tidak membenci mu. Tapi untuk kesempatan bersama dengan mu, aku rasa aku tidak bisa memberikan kesempatan itu. Maaf kan aku Ryan, aku tidak bisa kembali padamu" tolak Vina.
"Baiklah.. tapi izin kan aku berjuang merebut hati mu Vin" harap Ryan.
"Jangan Ryan... nanti kau akan terluka. Kau fokus saja pada anak anak. Aku tidak melarang mu menafkahi mereka tapi aku tidak butuh nafkah dari mu" lagi lagi Vina menolak.
"Tapi Vin..."
"Tidak ada tapi tapian Ryan. Sudahlah, aku mau kembali ke toko" Vina berdiri dari duduknya dan berjalan. Ryan nampak sedih tapi ia mengikuti langkah Vina dari belakang.
Ditengah jalan tiba tiba Vina berhenti sehingga Ryan pun berhenti.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Hemmmmm.... baiklah"
"Terimakasih pak Ryan" senyum Vina dan berjalan kembali.
"Senyuman nya itu masih manis sekali tapi aku tidak bisa melihat nya sebanyak yang aku mau" lirih Ryan.
"Meskipun Vina menolak ku aku tidak akan menyerah aku akan berusaha membuat Vina mau kembali ke padaku bagaimana pun caranya" tekad Ryan dalam hati.
Ryan melangkah kakinya menuju toko roti. Daisya di toko sedang menunggu Ryan. ia ingin menyapa Papa nya itu.
"Papa!!!" panggil Daisya.
"Iya sayang" Ryan menghangat mendengar panggilan Daisya dan segera berlari ke arah putrinya untuk memeluk nya.
Tika sudah memberi tahu kepada anak anak kalau Ryan dan Zidan adalah ayah mereka, hanya El yang belum tau bagaimana bentuk wajah sang ayah.
"Apa papa akan tinggal dengan kami?" tanya Daisya.
"Untuk saat ini tidak bisa Sya, tapi papa akan selalu mengunjungi mu" balas Ryan lembut.
"Hmm... Syasya pikir papa akan tinggal dengan aku dan mama. Syasya juga ingin keluarga yang lengkap seperti teman teman Syasya yang lain" lirih Syasya.
Srettt...
__ADS_1
Hati Vina teriris mendengar ucapan Putri nya.
"Maafkan mama sayang, mama belum bisa kembali dengan papa mu" batin Vina.
"Jangan sedih dong sayang, yang penting Syasya tau kalau Syasya punya papa dan adik kembar. Meskipun kita tidak bisa tinggal bersama tapi Syasya tetap putri papa yang sangat papa sayang" ujar Ryan memeluk Putri nya.
"Papa pulang dulu ya, baik baik sama Dani ya. Besok papa jemput saat kalian kesekolah"
"Iya papa" Daisya memeluk sang ayah sebelum berpisah.
...****************...
Dikamar tempat Zidan beristirahat ada Zafa, Zifa dan Zico yang sedang memperhatikan Zidan tertidur.
"Ayah kita sangat tampan ya bang" ujar Zafa.
"Iya"
"Ayah kenapa kk Afa? kenapa ayah tidak bangun dali tidul nya?" tanya Zifa.
"Ayah sedang istirahat kata bunda, ayah kurang enak badan kata bunda. Jadi kita jangan ribut ribut, biar ayah istirahat sebentar" Ujar Zico.
Zidan terusik dari tidurnya mendengar percakapan anak-anak nya. Zidan akhirnya membuka matanya.
"Ayah!!" pekik Zifa.
Nyawa Zidan terkumpul sudah mendengar suara cempreng putrinya.
"Eh.. iya sayang"
"Apa kau sudah baik baik saja? bunda menyuruh kami melihat mu?" ketus Zico.
"Ayah baik baik saja"
"Napa bang Iko manggil "kau" kan tadi dah di asih tau ama mommy Tika kalau kita halus panggil ayah bukan "kau". ujar Zifa.
"Eh..em.. em... abang Zico lagi marah sama ayah sayang" ujar Zidan.
"Ih.. Ndak boleh malah malah, nanti Tuhan malah" ujar Zifa menasehati Zico.
"Iya... Abang Zico tau kok dek, Abang cuma marah sebentar sama ayah, iyakan bang?" ujar Zafa menolong Zico. Zico hanya mengangguk kan kepala nya.
"O" ujar Zifa.
Hari sudah mulai sore, Zidan akhirnya kembali ke rumah. Sedangkan Ryan memang sudah kembali sebelum Zidan bangun dari tidurnya.
...****************...
...author up lagi🤭 hari ini mau update empat episode menebus cuti dua hari kemarin 😁...
...Terimakasih banyak atas dukungan kalian para reader tercintah untuk cerita ini🤗...
__ADS_1