Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Mengalah


__ADS_3

"Ada apa ini?" suara itu membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke sumber suara.


"Sayang... ada apa ini? mana putri kembar kita?" tanya Zidan lembut lalu merangkul Dita. Dita terdiam.


Selain mereka yang berada di sana, empat manusia lainnya terperangah tak percaya apa yang mereka dengar. Mereka tidak menyangka bahwa Zidan yang selama ini terkenal dingin dan tak terjangkau bisa bicara selembut itu pada istrinya.


Dua perawat itu tersebut merasa tersentuh dan terkagum dengan pesona Zidan. Mereka merasa Dita sangat beruntung memiliki dokter Zidan.


"Sepertinya sedikit salah paham dok" balas Bella dengan nada lirih.


Zidan memperhatikan wajah Bella, di sana terlihat jelas bekas tamparan seseorang. Kemudian dia melihat ke arah Dita. Dita terlihat baik baik saja, tapi Dita seperti sangat marah menatap tajam ke arah Bella.


"Si kembar sudah saya suruh tunggu di ruang dekat ruangan anda dok, di sana ada dua perawat yang menjaganya" saut Kevin.


"Hmm" balas Zidan sembari mengganguk.


"Sekarang jelaskan pada ku apa yang terjadi?" tanya Zidan kembali.


"Begini dok, maafkan saya. Saya tadi hanya menyapa istri dokter dan putri kembar anda. Namun saya tidak tau mengapa nyonya menampar saya. Saya tidak tau kesalahan saya terletak di mana" jawab Bella lirih.


"Heh!! rasain kamu Dita, aku mau kamu lawan. Kamu kira ada yang bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah? di lorong ini cctv-nya sedang di perbaiki jadi tidak ada jejak digital yang di tinggalkan" batin Bella tersenyum licik.


"Kamu jangan sembarang bicara!! kenapa kamu sampai kan setengah setengah? kamu yang lebih dulu memfitnah saya" geram Dita.


Zidan tersentak mendengar ucapan Dita dengan suara tinggi. Ia tau betul kalau hari hari Dita tidak akan mengeluarkan suara tinggi nya jika ia benar dalam keadaan marah. Seperti saat pertama Zidan kembali mendekati nya agar diberi kesempatan untuk bersatu kembali dengannya.


Zidan masih merangkul Dita, sebisanya ia menahan tubuh Dita.


"Sayang.. tenang kan dirimu. Dokter Bella sudah mengatakannya, sekarang aku mau dengar dari kamu" ujar Zidan lembut sembari mengelus lengan Dita.


Dita menatap kedua mata Zidan. Zidan tau di sana terlihat ada sesuatu yang tidak Dita sukai terhadap Bella. Ada genangan air mata di sana tanda istrinya benar benar menahan amarahnya.


"Maaf kan saya nyonya jika saya menyinggung perasaan anda" ujar Bella kembali.


Dita mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Teruskan saja dengan akting kamu itu. Saya tidak akan menampar kamu jika kamu tidak mengatakan perkataan kurang aja sama saya" ujar Dita penuh amarah.


"Karena kamu tidak tau apa penyebab saya menampar kamu tadi, saya akan katakan sekali lagi. Jika kamu tadi menghina saya sendiri, saya tidak masalah. Tapi kamu menghina anak anak saya, kamu mengatakan anak saya anak haram!" suara Dita meninggi.

__ADS_1


Duar!!! semua orang di sana terkejut.


"Apa maksudmu sayang? Bella mengatakan kalau si kembar anak haram?" tanya Zidan yang mulai tersulut emosi.


Dita mengangguk. "Dia juga mengatakan bahwa si kembar bukan anak kandung kamu" lanjut Dita.


"Apa maksud kamu mengatakan semua itu?" tanya Zidan yang sudah emosi.


Zidan sangat geram mendengar ada manusia yang menghina anak anaknya. Seharusnya semua itu adalah salah dari dirinya.


"Anda jangan memfitnah saya nyonya. Saya tidak mengerti mengapa anda sebenci itu dengan saya" elak Bella mulai menangis.


Dua perawat itu mulai mengelus elus Bella.


"Aku tidak memfitnah nya Zi.. aku mengatakan yang sebenarnya"


"Bohong dia pak dokter, istri anda berbohong. Tadi saya lihat sendiri dengan mata kepala saya kalau dokter Bella di dorong oleh istri anda" ujar salah satu penjenguk pasien yang melihat kejadiannya.


"Tidak Zi.. aku tidak menyalahkan ibu itu. Aku memang mendorong dan menampar nya karena dia menghina anak kita" balas Dita berkaca kaca matanya.


"Tenanglah sayang.. aku percaya padamu. Dokter Bella, saya ingin bertanya pada anda dan tolong anda jawab dengan jujur. Apa benar yang di katakan istri saya, karena selama ini istri saya tidak pernah berbuat sekejam itu pada orang lain" tegas Zidan.


"Baiklah.. biar ini selesai secara damai. Saya dokter Bella meminta maaf kepada nyonya Zidan. Maafkan saya jika saya tadi menyinggung perasaan anda" lanjut Bella dengan menunduk sopan.


"Saya juga cukup mengenal nyonya Dita, dia tidak akan berbuat seperti itu pada orang lain" timpal Kevin membuat Zidan sedikit terkejut.


"Mentang mentang istri dokter, seenaknya saja. Anda harus minta maaf pada dokter Bella" ujar ibu itu kembali.


Orang yang tadi sempat berkumpul kembali mengeluarkan suara nya dan menyalahkan Dita.


Bella tersenyum penuh kemenangan. Ia mendapat kan simpati dari ibu ibu itu.


"Dokter Kevin, tolong lihat di cctv bagaimana kejadiannya" ujar Zidan.


"Jadi kamu tidak percaya padaku Zi?? tega kamu Zi.." saut Dita menepis tangan Zidan yang merangkul nya.


"Sayang.. bukan begitu. Tapi aku harus membuktikan bahwa kamu tidak bersalah" ucap Zidan.


"Maaf pak.. cctv di ruang ini sedang dalam perbaikan" ucap Kevin yang sudah kembali dari ruang keamanan.

__ADS_1


Zidan mendecih. Ia tidak tau bagaimana membuktikan bahwa istrinya tidak bersalah. Tapi orang pasti mengira Dita yang sudah berbuat kejam dengan Bella.


"Anda harus minta maaf nyonya" tekan ibu ibu itu kembali.


Dita menatap Zidan, Zidan mengangguk pelan kepalanya. Dita menghela nafasnya, ia juga tidak ingin membuat nama Zidan memburuk karena kejadian ini. "Aku minta maaf mungkin tadi aku terlalu impulsif pada kamu. Maafkan aku" ucap Dita mengalah.


Zidan menatap iba pada istri nya.


"Iya tidak apa apa nyonya" balas Bella dengan senyum seringai liciknya. Dita menatap tajam pada Bella.


"Kamu tetap kalah dengan aku Dita, dasar ****** tidak tau diri" batin Bella senang.


"Mari kita ke ruangan ku sayang" ujar Zidan setelah berdamai.


Zidan berusaha merangkul Dita tapi Dita menghindari. Mereka semua bubar.


Dita berjalan cepat menuju ruang Zidan lalu mengajak putri kembar nya untuk pulang. Si kembar terlihat bingung tiba tiba mereka di ajak untuk pulang.


Zidan menahan Dita. "Sayang.. jangan marah dulu, dengarkan dulu." ucap Zidan menahan Dita.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, semuanya sudah jelas. Aku yang salah, aku minta maaf telah mencoreng nama baik mu" Dita menepis tangan Zidan dan membawa kedua putrinya.


"Dita!!" suara Zidan meninggi.


Dita menghentikan langkahnya mendengar suara Zidan yang meninggi. Si kembar juga terlihat terkejut.


"Sayang.. anak ayah.. maafkan ayah. Tapi bisa kan anak ayah ini ke kamar ayah sebentar? ayah ingin bicara dengan bunda" ujar Zidan lembut pada kedua putrinya.


"Iya ayah" jawab kompak si kembar lalu melangkah kaki nya ke kamar Zidan yang berada di ruangan itu.


...****************...


...Terimakasih atas dukungan nya untuk cerita ini 😊 ikuti terus ya kelanjutannya 🌼...


Jangan lupa untuk


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote πŸ˜‰


__ADS_2