
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Zidan duduk di balkon sembari masih memikirkan anaknya yang baru mengetahui kebenaran selama ini di tutupi.
Zidan akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar Zico. Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan Zico.
Zidan membuka handle pintu kamar dengan hati hati, takut Zico terbangun jika belum tidur.
"Zico sudah tidur rupanya" batin Zidan.
Ketika Zidan hendak menutup pintu kembali, Zico mengeluarkan suara.
"Ada apa?"
"Em... Zico belum tidur ya" Zidan kikuk yang masih berdiri di ambang pintu.
Zico hanya menatap tajam ke arah Zidan tanpa mengeluarkan suara nya.
"Boleh kah saya masuk?" tanya Zidan formal.
Zidan tidak bisa memanggil dirinya ayah di depan anaknya. Ia tau betul apa yang di rasakan Zico sekarang ini.
Zidan tidak akan memaksa Zico memanggil nya dengan sebutan "ayah" sebelum ia mendapatkan maaf dari anak nya yang tampan itu.
"Hmm... ya sudah masuk saja" ketus Zico.
Zico duduk dari baringan nya dan bersandar di dasbor ranjang nya.
"Dia memang anak ku, aku seakan melihat diriku di dalam dirinya. Dia sangat mirip denganku dari wajah hingga sifatnya" batin Zidan.
Zidan memasuki kamar Zico saat mendapat izin dari yang punya kamar.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Zico masih saja ketus.
"Kenapa sekarang setelah dia tau semuanya rasanya sangat sakit ketika anakku sendiri memanggil diriku dengan sebutan "kau". Tapi ini juga sepadan dengan apa yang lebih dulu aku lakukan padanya" batin Zidan.
Zidan mendekat dan mengambil kursi kecil yang ada di kamar Zico dan meletakkan nya di samping ranjang Zico.
"Aku ingin minta maaf kepada mu Zico, maafkan aku, aku terlalu egois dan tidak dewasa masa itu" ujar Zidan lembut.
"Aku paham mengapa kau melakukan semua itu, mungkin karena aku anak yang tidak di inginkan hadir di sisimu" sanggah Zico.
"Tidak begitu Zico, aku sangat menyayangimu" elak Zidan terhadap tuduhan Zico.
"Jika kau menyayangiku kenapa kau tutupi selama ini? apa jangan-jangan aku anak yang ada karena keterpaksaan" Zico mulai berkaca-kaca.
"Tidak seperti itu Zico, kau memang anakku. Kehadiran mu bukan karena keterpaksaan, kau adalah penyemangat ku" jawab Zidan .
"Tidak.. kau bohong" pekik Zico dengan mata yang makin lama bertambah muatan airnya.
"Zico.. percaya padaku, aku sangat menyayangimu. Maafkan aku selama ini berbohong, aku tidak akan membela diri lagi. Ini memang murni kesalahan ku, aku bersalah padamu, pada ibu yang pergi meninggalkan ku"
__ADS_1
sendu Zidan.
"Seperti nya percuma saja aku hidup di dunia ini, bagaimana bisa aku memiliki seorang ayah tapi ayah ku tidak mengakui keberadaan diriku, sedangkan ibuku pergi meninggalkan diriku" Zico mulai terisak.
"Dan memilih untuk merawat adik adik ku saja" lanjut Zico dalam hati.
"Jangan seperti itu Zico, aku memang salah karena tidak mengakui dirimu tapi ibumu tidak meninggalkan mu ia pergi karena diriku ini" balas Zidan.
"Kalian sama saja, jika aku tidak di inginkan mengapa membiarkan aku hidup? kenapa?" Isak Zico dengan sejadi jadinya.
Zico merasa sangat sakit hati, hilang sudah Zico yang dingin dan berhati kuat. Ia menjadi lemah setelah mengetahui kebenaran ini.
"Tidak sayang... Aku sangat menginginkan kamu, maaf kan ayahmu ini"
Zidan memeluk Zico yang masih menangis.
"Kalau begitu di mana ibuku? aku ingin tinggal bersama ibu ku saja. Mungkin ibuku mau mengakui keberadaan diriku" ucap Zico yang masih di dalam dekapan Zidan.
"Sayang... jangan berkata seperti itu. Ayah tau ayah salah.. tapi dirimu jangan pergi dari hidup ayah yang menyedihkan, jika kau juga pergi ayah tidak bisa menjalani hidup ini" balas Zidan dengan air mata yang jatuh ke pipi nya.
Zico merasa jengah dengan permintaan maaf Zidan dan Zico mulai tenang dari tangisannya.
"Baiklah.. aku memaafkan mu dan tidak akan meninggalkan mu, Tapi jika aku menemukan Ibu ku, aku akan meninggalkan dirimu dan memilih untuk tinggal dengan ibuku" ujar Zico.
"Zico.. ayah mohon jangan ya.. kau anak ayah. Kau hanya boleh tinggal bersama ku" Zidan melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan malaikat kecil nya.
"Tapi kau tidak mengakui diriku" sanggah Zico.
"Baiklah.. aku akan tinggal dengan mu jika ibuku juga akan tinggal dengan mu, kalau ibu tidak kembali denganmu maka aku akan tinggal dengan ibu dan keluarga barunya" lanjut Zico.
"Ibu.. aku tau kau sangat sakit hati dengan ayahku ini, tapi aku juga ingin hidup bersama keluarga yang utuh. Maafkan aku ibu, aku bukannya memaksa dirimu untuk kembali ke sisi ayah, tapi permintaan ku pada ayah ini hanya demi hidupku dan hidup adik kembar ku" batin Zico.
Zico sengaja mengatakan seperti itu kepada Zidan agar Zidan kembali mengejar mantan istri.
"Baik sayang.. aku akan memenuhi permintaan mu, aku akan membawa ibumu kembali untuk tinggal bersama sama dengan kita" ujar Zidan mengangguk angguk mantap.
"Hmm"
"Ya sudah Zico tidur lah malam sudah sangat larut" ujar Zidan
Zidan membantu membenarkan selimut Zico.
"Maukah kau menemaniku di sini hingga aku tertidur dan memeluk ku" pinta Zico tiba-tiba.
Zidan ternganga dengan ucapan anak nya.
"Iya.. tentu saja mau sayang" jawab Zidan cepat.
Zidan langsung membaringkan diri di selimut yang sama dengan sang anak dan memeluk nya.
__ADS_1
"Aku tau sebenarnya kau tidak salah, tadi kakek sudah menceritakan semuanya hanya saja kami hanya perlu waktu saja untuk menerima nya. Aku sangat bahagia ternyata kau memang ayah ku. Tak dapat aku pungkiri bahwa aku sangat Ingin berdekatan dengan mu sebagai anak. Aku membutuhkan kasih sayang itu ayah.." batin Zico.
"Rasanya sangat hangat jika berdekatan dengan anakku sendiri. Aku tau kau belum memaafkan diriku tapi setidaknya aku bahagia kau mau berdekatan dengan ayahmu ini anakku" batin Zidan.
Tengah malam nya Zidan terbangun dan melihat putra kecil nya sudah tertidur. Zidan membenarkan posisi tidur sang anak.
"Terimakasih banyak sayang ku, Maaf kan diriku" ujar Zidan.
Zidan tersenyum hangat dan mencium kening putranya sebelum ia keluar dari kamar itu.
Zidan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ternyata di dapur ia tidak sendirian di sana ada Ryan yang sedang berpikir keras.
"Yan... kau sedang apa?"
"Ah.. tidak ada,, aku hanya sedang minum karena haus"
"Bang Zidan dari mana?"
"Dari kamar Zico, aku baru saja menemani nya tidur"
"Apa Zico memaafkan dirimu?"
"Ia baru setengah hati memaafkan diriku"
"Semudah itu Zico di bujuk? secepat itukah bang?"
"Aku berbicara baik baik dengannya dan bagusnya ia menerima dengan baik ucapan ku"
"Baguslah,, bagaimana dengan Dani ya"
"Kau bicaralah dengan nya, kau bicara dengan nya seperti kau bicara dengan dirimu sendiri. Tentu kau lebih paham dirimu kan?"
"Iya sih,, anak anak kita itu memang sepenuhnya mewarisi sifat kita ya bang"
"Iya.. kau coba saja besok pagi. sekarang Dani pasti sudah tidur. Ya sudah aku kembali ke kamar dulu untuk istirahat" ujar Zidan menepuk pundak Ryan.
"Iya bang"
Zidan berlalu pergi dan meninggalkan Ryan yang sedang berfikir untuk bicara dengan Dani putranya.
...****************...
... Alur nya memang agak cepat ya gaes😊...
Jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
and Vote ya😉