
Kabar hamil Dita sudah terdengar di telinga Tika. Ia sangat bahagia dengan kehamilan Dita.
Ia juga berharap agar ia hamil seperti Dita.
Tapi ada kabar yang tak kalah membuat mereka terkejut.
"Apa!!" Pekik Dita.
"Ok.. aku tunggu di sini" balas Dita menutup sambungan telepon itu.
Sepuluh menit berlalu akhirnya tibalah Tika di lokasi. Tika yang menelpon Dita mengabari kalau Ryan kecelakaan, sekarang sedang berada di bawa ke rumah sakit dan ditangani oleh Zidan.
"Ayok kak" ucap Tika membuka pintu mobil nya.
"Iya" balas Dita segera memasuki mobil.
...****************...
Di rumah sakit terlihat seorang wanita yang sedang menangis dengan pilunya. Ia menangis dengan sejadi-jadinya.
Angga berusaha menenangkan wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Vina yang merupakan istri Ryan.
"Seharusnya aku saja. Kenapa harus Ryan. Maafkan aku Ryan" ucap Vina dengan tangisan.
"Ini semua takdir kak, kita tidak punya kuasa akan hal itu" hanya ucapan seperti itu yang bisa di katakan Angga dalam gundahnya.
"Tapi dia begini karena aku Angga, seharusnya dia tidak perlu menyelamatkan aku" ujar Vina dengan pilunya.
Ryan Kecelakaan tadi pagi setelah Ryan mengantarkan anak-anak ke sekolah dan ia kembali kerumahnya menjemput sang istri untuk ia bawa ke kantor.
Ketika hendak sampai di kantor, Vina meminta berhenti di swalayan ia ingin membeli minuman. Letak swalayan berada di seberang jalan.
Awalnya Ryan mengatakan akan membeli kan untuk Vina karena ia takut tertimpa hal yang buruk ketika hendak menyebrang tapi Vina kekeh ingin pergi sendiri.
Vina keluar dari mobil dan membeli minuman nya. Ryan tidak tenang, ia memilih keluar dari mobil dan menunggu Vina di luar mobil.
Vina yang sudah menyebrang setengah jalan Tiba tiba ada sebuah mobil melaju dengan sangat kencang. Ryan yang menyadari hal itu dengan sekuat tenaga dia berlari kearah Vina.
Ryan berhasil mendorong tubuh Vina tapi tidak berhasil menyelamatkan diri nya sendiri. Sehingga tubuh Ryan terlempar jauh akibat mengalami benturan keras dengan body mobil.
Seketika Vina langsung berlarian ke Ryan yang sudah bersimbah darah. Vina menangis dengan keras meminta pertolongan.
Sedangkan mobil yang telah menabrak mereka telah melarikan diri.
"Sabar kak.. kita berdoa supaya di beri kelancaran proses operasi nya" ucap Angga sembari mengelus punggung Vina untuk menenangkan kakak ipar nya.
"Kenapa Tika sama kak Dita lama sekali. Ini sudah satu jam. Biasanya perjalanan ke rumah sakit hanya butuh setengah jam saja" batin Angga.
"Apa mungkin mereka terjebak macet ya" lanjut nya.
...****************...
__ADS_1
Di tempat lainnya juga tidak kalah histeris. Sepasang suami istri yang tidak muda itu sedang dalam keadaan gundah gulana. Bagaimana tidak setelah mendengar ucapan Angga tentang kecelakaan yang menimpa Ryan. Mereka segera pulang dari acara keliling dunia.
"Udah sayang.. kamu jangan menangis terus, kita harus berdoa supaya sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Ryan"
"Tapi.. anakku.. pasti sangat kesakitan" Raung sang istri.
"Iya.. kita berdoa saja" ucap suaminya mencium puncak kepala sang istri.
...****************...
Kembali ke rumah sakit, Vina sudah terlihat tenang ia tidak menangis seperti tadi.
Angga sedang berbicara dengan Dion perihal Tika dan Dita yang sudah dua jam lebih tidak juga sampai di rumah sakit.
Tak lama datang Dimas yang telah menyelesaikan rapat dengan klien yang awalnya telah dipimpin oleh Angga. Namun terhenti setelah dokter Kevin mengabari mengenai kecelakaan Ryan.
Dimas segera berjalan menuju Angga dan Dion yang sedang terlibat percakapan serius. Angga juga mengatakan ada kejanggalan mengenai tabrakan Ryan.
Angga menyuruh Dimas untuk menyelidiki kasus dan juga menyusul Tika dan Dita.
"Memang nya kemana mereka?" tanya Dimas heran.
"Aku tidak tau, sudah dua jam lebih mereka belum muncul di sini" balas Angga khawatir.
"Apa maksudmu?" tanya Rina yang baru saja tiba dan tidak sengaja mendengar ucapan Angga.
"Rina.."
"Sabar dulu.. kita akan mencari nya" ujar Dimas mendekat pada Rina.
"Tapi.. ini sudah dua jam lebih Dim" balas Rina sendu.
"Makanya aku akan mencari nya sekarang"
"Aku ikut.."
"Baiklah.. Aku pergi bos" ujar Dimas meninggalkan Angga.
"Kabari aku" ujar Angga. Ingin sekali ia mencari istri tapi ia tidak berani meninggalkan Vina sendirian.
"Aku juga pergi, aku kan menelusuri jejak mereka" ucap Dion.
"Tidak.. Sebaiknya kamu dan Tania menjemput anak anak dari sekolah. Setelah itu kamu antarkan mereka di toko roti. Kemudian kamu baru ikut bergabung dengan Dimas. Jangan beritahu anak anak mengenai hal ini" ucap Angga.
"Baik" balas Dion segera pergi dan tak lupa pula Tania mengikuti nya. Meski ini sangat canggung tapi sekarang situasi darurat. Mereka sama sama sejenak melupakan masalah di antara mereka berdua.
Tak lama pintu operasi di buka, terlihat Zidan keluar dari sana.
Vina dan Angga mendekat. Mereka harap Zidan membawa berita bahagia.
"Bagaimana keadaan bang Ryan? apa semua baik baik saja?" tanya Angga.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suamiku bang?" Vina juga ikut bertanya dengan lemah nya.
"Sejauh ini semua baik baik saja" Angga dan Vina merasa lega dengan perkataan Zidan.
"Tapi Ryan masih koma meskipun ia sudah melewati masa kritis nya. Benturan keras di kepalanya yang membuat semua itu. Tapi masih bisa di katakan kalau ia baik baik saja. Kita hanya perlu berdoa agar semua akan baik baik saja. Aku akan mengawasi nya dengan ketat"
"Sebentar lagi ia akan di pindahkan ke ruangan ICU. Setelah itu kalian bisa menjenguk nya. " ucap Zidan tertuju pada Vina yang matanya sudah sangat sembab.
"Kamu sebaiknya periksa tubuh mu dulu. Takutnya ada yang terluka" ucap Zidan pada Vina, ia takut sang adik ipar juga ikut terluka.
"Aku tidak apa apa bang, aku baik baik saja" balas Vina dengan lemahnya.
"Baiklah.. jika begitu ganti dulu bajumu dengan baju baru. Setelah itu ikutilah dokter Kevin, dia akan menunjukkan jalan untukmu ke ruangan Ryan" ujar Zidan pada Vina.
"Baik bang.. terimakasih banyak" Zidan mengangguk kepalanya.
Vina berlalu meninggalkan Zidan dan Angga. Zidan mengernyitkan dahinya melihat helaan nafas berat Angga karena tidak ada yang menjawab telepon nya.
"Kamu kenapa? kamu menelpon siapa? kenapa kamu sangat gelisah seperti itu" tanya Angga.
"Sepertinya ada sesuatu yang sangat besar masalah nya. Ryan baik baik saja." ujar Zidan yang mengira Angga mengkhawatirkan keadaan Ryan.
"Bukan masalah bang Ryan"
"Terus?"
"Aku pamit dulu bang, aku mau pergi"
"Kamu tidak melihat Ryan dulu? kenapa buru buru sekali?"
"Em.. ini masalah nya lebih besar bang, dan mungkin saja ada hubungannya dengan kecelakaan Bang Ryan"
"Maksudmu apa Angga?"
"Em.. Tika dan kak Dita"
"Maksudmu? Dita dan Tika kenapa?" tanya Zidan mulai panik.
"Begini bang, aku tadi mengabari Tika agar kerumah sakit karena bang Ryan kecelakaan. Tapi masalahnya mereka juga belum sampai ke sini. Sudah dua jam lebih aku menunggu. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Aku sebaiknya segera menyusul Dimas yang sedang mencari mereka" jelas Angga.
Zidan tercengang dan membulat mata nya. Ia sangat terkejut dengan perkataan Angga.
...****************...
Jangan lupa
Like
Komentar
And Vote ππ€
__ADS_1