
Dita dan Zidan masih di ruangan yang sama. Mereka akhirnya menyudahi memakan kue itu. awalnya Dita tidak ingin memakannya tapi Zidan memaksa.
"Dita.. aku ingin bertanya" nada datar Zidan mode on.
"Apa??"
"Sebenarnya kau dengan Kevin itu ada hubungan apa?" Zidan memulai.
"Emm?? siapa Kevin??" tanya Dita memastikan.
"iya" Zidan mengganguk kepalanya.
"Oh.. itu,, dia temanku saat SMA dulu" balas Dita.
"Tapi aku rasa Kevin suka denganmu Dit" Argumen Zidan.
"Ah.. benarkah?? seperti nya itu sangat menonjol ya" tanya Dita tidak bersalah.
"Apa maksudmu?" heran Zidan.
"Aku tau Kevin memang menyukai aku dari dulu, aku kira sekarang tidak lagi. Tapi sepertinya dia masih menyukai aku" Dita tersenyum.
Zidan mulai merasakan sesak mendengar ucapan dan wajah bahagia Dita.
"Kenapa Dita senang" batin Zidan.
"Kamu senang ya jika Kevin menyukai kamu?"
Tanya Zidan sendu.
"Ya.. senang lah. Karena mana ada janda seperti ku ini masih di sukai sama perjaka seperti dia. Dia kan tampan, kaya, lembut, sopan, dan bahkan dokter lagi. Tapi Kevin tidak tau juga ya kalau aku pernah menikah, bagaimana reaksi Kevin ya" santai Dita.
"Kevin pasti tidak menyukai dirimu jika tau kamu pernah menikah" mematahkan harapan Dita.
"Kenapa kamu bilang begitu?" Dita mengernyitkan dahinya.
"Ya... Dia sepertinya pasti mencari yang masih gadis" Zidan masih terlihat biasa saja.
"Hmmm.. berarti mungkin memang nasib ku menjadi janda selamanya" saut Dita.
"Gk mungkin lah.. pasti ada yang menyukai dirimu" Dita menaikkan alisnya.
"Ya... aku lah" lanjut Zidan.
"Hahaha.. Zidan.. kau jangan bercanda, nanti aku tanggapi serius Lo. Dari kemarin kamu bercanda terus sih" Dita tertawa menepuk-nepuk kedua tangan nya.
"Aku tidak bercanda Dita, aku serius ingin kembali bersama kamu, ingin kembali membina rumah tangga lagi, ingin memberikan cinta yang tulus untukmu, ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Zico dan si kembar" jelas Zidan.
"Aku kan udah bilang Zidan gk bisa" tolak Dita.
Mendapatkan penolakan Dita terhadap dirinya, Zidan sedikit menaikkan suaranya.
__ADS_1
"Kenapa gk bisa?? Kevin saja kamu bisa kok, kenapa aku gk bisa Dita? " Nada tinggi Zidan on.
"Karena.... aku tidak ingin terluka lagi Zidan. Sudah ya.. aku mau pulang, malas ketemu kamu, jika bukan karena balas Budi mengantarkan aku ke toko, aku tidak ingin menemui mu" Dita berdiri dari duduknya.
Zidan menarik tangan Dita untuk menghentikan langkah Dita.
"Kenapa kamu selalu menghindar Dita saat aku mengungkapkan apa yang aku inginkan. Apa karena Kevin sudah menyentuh mu?" Zidan merendahkan Dita.
"Kamu jangan bicara kurang ajar, meskipun aku janda aku masih menjaga kehormatan aku" tunjuk Dita pada Zidan, ia tidak terima perkataan Zidan.
"Maafkan aku Dita, aku terbawa emosi. Aku sangat takut kamu memilih orang lain dari pada aku" sesal Zidan dengan nada suara yang sudah merendah.
"Zidan aku rasa kita tidak bisa bersama, aku tau kamu hanya menginginkan aku karena anak anak. Jika anak anak tidak ada kamu pasti tidak menginginkan diriku Zidan karena kamu tidak mencintai aku" ujar Dita.
"Kamu jangan seenaknya menarik kesimpulan Dita. Berapa kali aku harus mengatakan kepada mu, aku serius kali ini. Aku ... tidak ingin kehilanganmu lagi aku tidak suka dan sakit hati saat kamu berdekatan dengan lelaki lain. Apakah itu bukan cinta Dita? bukankah cemburu itu bagian dari cinta?" Zidan kembali menjelaskan.
"Kamu tidak mencintai aku, kamu cemburu hanya karena terobsesi saja padaku sebab kamu hanya ingin memiliki ku saja" balas Dita.
"Dita... kenapa kamu berkata seperti itu"
"Sudahlah Zidan.. aku mau pulang, sebentar lagi si kembar pulang sekolah. Lain kali kita tidak perlu bertemu jika bukan karena anak anak" Dita buru buru keluar.
Zidan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa mulutku tadi merendahkan Dita, bakalan panjang ni urusan nya" gumam Zidan.
Zidan buru buru mengejar Dita dan akhirnya melihat Dita tapi dia sudah memasuki lift duluan. Karena takut kehilangan jejak, Zidan turun menggunakan tangga.
"Dita...."
Mendengar Zidan memanggil nya, Dita mempercepat jalannya. Tapi lagi-lagi Zidan berhasil menghentikan langkah Dita.
"Aku tau, aku salah telah mengatakan kata kurang ajar padamu. Maafkan aku Dita" Zidan memegang kedua tangan Dita.
Dita tidak menghiraukan dan menepis tangan Zidan. Zidan tidak mau kalah, ia berlari an dan langsung duduk dan menghentakkan kakinya di lantai seperti anak anak yang menginginkan sesuatu tapi di larang ibunya.
Dita membola matanya melihat kelakuan Zidan.
"Zidan.. kamu ngapain?" tanya Dita menatap tajam ke Zidan.
"Kamu gk mau maafin aku, kamu gk mau lagi bertemu sama aku. Aku gk mau itu Dita" ujar Zidan sendu.
"Zidan sudahlah.. malu di lihat orang" Dita menarik tangan Zidan.
"Aku tidak mau, sebelum kamu memaafkan aku, membiarkan aku menemui mu Dit" balas Zidan yang masih selonjoran di lantai.
"Iya.. aku maafin. Kamu cepat berdiri, malu dilihat orang" ucap Dita mengalah.
Mendengar itu Zidan langsung berdiri. Untung tidak banyak orang di lantai satu. Hanya beberapa perawat yang lalu lalang, yang lainnya sedang makan siang.
"Ya sudah.... kamu mau ikut dengan ku menjemput si kembar" ujar Dita
__ADS_1
Zidan mengangguk dan tersenyum sumringah dan menggandeng tangan Dita. Beberapa perawat yang lalu lalang ternganga melihat kelakuan Zidan yang biasanya terlihat dingin dan kejam tiba-tiba seperti singa tanpa taring.
Mereka mulai berbisik bisik melihat sisi penurut Zidan. Mereka tidak percaya apa yang dilihat, seakan Zidan berkepribadian ganda.
Ingin mengabadikan momen itu tapi mereka terlalu takut.
Zidan tidak menghiraukan, ia masih dengan senyum menggandeng tangan Dita keluar dari Rumah sakit menuju mobil.
...****************...
Mereka akhirnya sampai di sekolah, di sana terlihat Tika dan Angga yang sedang menunggu El.
Si kembar dan El setingkat jadi pulang sekolah lebih cepat, sedangkan kembar D, Jeno dan Zico setingkat lebih tinggi dari El dan si kembar makanya mereka pulang agak kesiangan dan terkadang mereka mengikuti les tambahan.
"Wah... kayak mau nyebrang saja, gandengan tangan" goda Angga melihat Zidan menggandeng tangan Dita.
"Dia ni maksa terus, kalau gk nanti marah kayak anak kecil. Malu dong aku nanti nya" kesal Dita.
Yang di omelin malah senyum melihat Dita.
"Hahaha... memang lah ya kalau udah pawang nya yang muncul, maka sisi kekanakan bang Zidan keluar. Padahal aku udah berpuluh tahun hidup bersama nya, tapi baru kali ini aku lihat bang Zidan seperti itu" Angga melipat tangannya di dadanya sembari tersenyum meledek.
"Kamu diam saja, kalau mau gandengan tu gandeng saja tangan Tika" ketus Zidan.
Angga melihat Tika.
"Jangan macam-macam kamu" ancam Tika.
"Galak bener" Angga cemberut.
"Zidan udah dong gandengan nya. Keringat ini tangan aku" pinta Dita.
"Baik" Zidan melepaskan tangan kiri Dita dan malah berjalan ke sisi kanan Dita dan menggandengnya lagi.
Dita membola matanya dan menepuk dahinya. Angga dan Tika tertawa melihat kelakuan manja Zidan.
"Belum juga aku setuju kembali padanya sudah begini saja kelakuannya. Bagaimana jika aku setuju ya, mungkin lebih parah dari ini" batin Dita.
...****************...
...Maaf jika part ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian π tapi inilah kenyataan nyaπ...
...Terimakasih telah mendukung cerita iniππ€...
Jangan lupa
Like
Komentar
and Vote π
__ADS_1