
β¨ Rumah Angga
"Bagus juga kamu pilih rumah ya" ujar Tika melihat bangunan rumah itu dari luar.
"Iya dong yang,, aku kan milihnya sembari mikirin kamu dan anak anak kita" balas Angga.
"Owh.." ketus Tika.
"Mari kita lihat kamar kita yang" ajak Angga untuk memasuki rumah baru mereka.
Tika mengikuti langkah kaki Angga dari belakang, mereka berjalan menuju kamar tidur untuk mereka berdua.
"Yang.. kok kamu jalannya di belakang aku sih, jalannya beriringan dong" ujar Angga setelah menghentikan langkah kaki nya.
Tika menatap Angga. "Aku lagi malas dekat sama kamu. Kamu tidak lupa kan sekarang ini kamu masih menjalani hukuman" ucap Tika.
Angga menghela nafas, mengusap wajahnya dan membuang mukanya sebentar ke arah lain.
"Baiklah.." ujar Angga mengalah. Ia memilih untuk tidak berdebat dan bersabar.
Angga melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Tika di belakangnya.
Mereka tiba di kamar tidur. Tika memperhatikan keseluruhan dekorasi kamar, ia sangat kagum dengan keindahan kamar mereka.
Saking terkagum-kagum dengan pemandangan di depannya, Tika menutup mulutnya dengan tangan dan berbinar binar melihat keindahan kamar tidur itu.
Angga melihat Tika yang senang dan sangat menyukai kamar mereka, Angga bernafas lega.
Meskipun ia masih dalam masa hukuman, setidaknya melihat wajah Tika yang bahagia membuat Angga juga merasakan kebahagiaan. Ia sangat bahagia bisa membahagiakan orang yang di cintai nya.
"Gimana yang?? kamu suka?" tanya Angga masih melihat Tika.
Tika mengangguk kepalanya. "Iya,, aku sangat suka, terimakasih" ujar Tika. Angga tersenyum bahagia.
"Tapi..." ujar Tika
Senyuman Angga langsung surut, ia melihat ke arah Tika yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa sayang? ada yang kurang? apa ada yang tidak kamu sukai?" tanya Angga beruntun.
"Em.... kenapa di kamar ini tidak ada sofa?" tanya Tika.
"Apa?? sofa?" Angga kembali bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Iya.. kan sekarang kamu masih dalam proses hukuman untuk tidak tidur satu ranjang denganku, jika di kamar ini tidak ada sofa nanti kamu tidur di mana?" ucap Tika. melihat Angga.
Angga terdiam tak menjawab. "Masa kamu tidur di lantai, udaranya dingin nanti kamu sakit. Aku tidak sekejam itu membiarkan kamu tidur di lantai" cibir Tika.
Angga tersenyum tipis mendengar kekhawatiran Tika. Entah mengapa Angga senang akan hal itu. Padahal kekhawatiran Tika terlihat seperti untuk lebih manusiawi buka karena dirinya.
"Owh.. kalau itu, di kamar ini punya kasur kecil dan hangat sayang. Kamu tenang saja aku sudah menyiapkan nya. Kasur itu terletak di dekat lemari pakaian kita" tunjuk Angga pada ruang yang menuju pada lemari pakaian mereka.
Tika melihat dan memastikan. "Baiklah... kalau begitu. Aku akan membereskan baju baju mu dan anak anak" ucap Tika hendak keluar dari kamar, tiba tiba tangan Tika di tahan oleh Angga.
"Jangan.. kamu tunggu di sini saja, biar aku mengambil koper kita dan anak anak" balas Angga.
"Baiklah" ujar Tika. Ia melangkah kaki nya menuju ranjang mereka dan duduk di sana. sedangkan Angga keluar dari kamar, turun ke bawah dan membawa semua koper miliknya dan anak anaknya.
Tika terlebih dahulu membereskan semua baju anak anaknya di kamar mereka masing-masing. setelah semua selesai barulah Tika membereskan bajunya dan baju suami nya.
Twins D sedang di rumah Dita. Mereka ingin bermain bersama Zico dan sikembar dahulu, sebelum nanti sore di jemput oleh Angga.
Ketiga putra Malik membeli rumah yang hampir berdekatan. Tidak terlalu jauh, mereka mengambil keputusan seperti itu agar jika anak anak nanti ingin bertemu dengan saudaranya yang lain tidak kejauhan untuk perjalanannya.
Tiga CEO itu tau kalau anak anak mereka kurang bisa berjauhan satu sama lain. mengingat selama ini mereka hidup bersama dan tak terpisahkan.
Beberapa jam berlalu akhirnya tibalah sore hari, Angga bergegas pergi menuju rumah Zidan.
"Sayang... kamu udah siap?" Angga teriak dari lantai bawah.
Tika terkadang lebih suka menggunakan celana jeans dari pada celana longgar, meskipun telah menjadi ibu dua anak.
Angga menghembuskan nafasnya, ia kembali duduk di sofa lantai bawah. Ia kesal dari tadi menunggu dan yang paling parahnya, Tika tidak memperbolehkan dirinya berada di kamar ketika Tika hendak memakai baju nya.
"Kenapa lah.. begini hidup ku?" cicit Angga dengan wajah murung.
"Kapan cintaku itu tidak marah lagi? kapan aku bisa kembali main manja dengannya?" lanjut Angga sembari mendongak kepalanya di sandaran sofa.
"Udah.. ayok" Tika sudah berada di atas pandangan Angga.
Angga tertegun, dari bawah pun istrinya terlihat sangat cantik. Meskipun dengan mode judes no senyuman.
"Baiklah.. Ayok" Ucap Angga setelah kesadarannya kembali. Mereka segera keluar dari rumah itu dan berjalan menuju mobil. Angga mengendarai mobil mereka menuju rumah Zidan.
β¨ Rumah Zidan
"Honey..." panggil Dita.
__ADS_1
Zidan di buat gemas dengan panggilan baru untuk nya dari sang istri.
"Iya sayang, ada apa?" tanya nya dengan nada manja.
"Apa Angga sudah di perjalanan ke sini?"
"Tidak tau, seperti nya ia" Zidan memeluk tubuh Dita dari belakang.
"Ish.. honey .. jangan begini dong. Nanti anak anak lihat" elak Dita.
"Gk kok yang... mereka sedang berkumpul di kamar Zico" balas Zidan sembari mengecup leher jenjang Dita.
Dita di buat geli dan mencoba sedikit menjauh.
"Yang... aku suka kamu panggil dengan sebutan honey" ujar Zidan menatap Dita dari samping.
"Em.. baguslah.. Kan kamu suruh milih, jadi aku rasa honey saja lebih cocok"
"Betul sekali. Makin gemas aku mendengar panggilan itu, apalagi dari kamu. Makin buat aku jatuh cinta pada mu honey" Zidan makin mempererat pelukannya.
"Honey.. sudah pelukannya.. nanti keburu Angga sampai sedangkan makanan ini belum siap di bungkus untuk mereka" ucap Dita.
"Em... baiklah.." Zidan melepaskan pelukannya tapi duduk di samping kursi dekat Dita dan memeluk pinggang ramping Dita dari samping.
Dita menghembuskan nafasnya. "Dia ini makin hari makin manja saja, seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta" batin Dita yang tidak percaya dengan kelakuan Zidan yang sangat berbeda.
"Tapi.. meskipun sedikit membuat aku Risih. Aku menyukainya" batin Dita. Dita terkekeh kecil dengan pemikiran nya sendiri.
Tak lama bunyi klakson mobil memenuhi teras depan rumah Zidan. Ia segera berjalan menuju pintu keluar rumah untuk menyambut adik dan adik iparnya.
Zidan menyuruh Angga untuk memasuki rumah baru mereka. Dita sangat senang melihat kedatangan Tika, mereka saling berpelukan seakan sudah terpisah sangat lama. Padahal baru saja beberapa jam berpisah.
Angga dan Zidan menggeleng geleng kepala melihat kelakuan istri mereka.
...****************...
***Terimakasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini. Terimakasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya β€οΈπΉ
Maaf reader tercintah selama beberapa hari ini gk up, di sebab kan author sedang dalam mood kurang baik.. maafkan aku ππ
Jangan lupa untuk
Like
__ADS_1
Komentar
and Vote π***