Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Tidak Seperti Yang Terlihat


__ADS_3

Dita sedang berjalan di lorong rumah sakit dengan si kembar. Dita dan si kembar pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan makan siang pada Zidan.


Sepanjang jalan banyak perawat dan pekerja rumah sakit tunduk hormat pada Dita. Mereka juga merasa gemas dengan keberadaan si kembar.


Mereka sangat yakin bahwa si kembar memang anak Zidan. Di lihat dari wajahnya saja memang sangat mirip.


Sikembar yang juga tipikal anak yang ramah dengan mudahnya membalas sapaan orang orang itu dengan tersenyum ramah.


Dita dan si kembar hampir sampai di ruangan Zidan. Tapi langkah Dita terhenti setelah melihat sosok makhluk yang berjenis kelamin perempuan yang sangat tidak suka dengan dirinya.


Siapa lagi kalau bukan dokter Bella. Ia menatap Dita dengan tatapan yang sangat tidak suka.


"Mau tunjuk muka ya pada semuanya bahwa sekarang sudah berganti kedudukan" sindir Bella.


Dita diam tidak ingin berdebat dengan Bella, yang ada membuang tenaganya saja secara percuma. Dita tak peduli, ingin melanjutkan langkahnya.


Tapi lagi lagi Bella menghadang Dita dan si kembar. Bella menarik tangan Dita sehingga Dita terjatuh dan untungnya di kembar dan makanan yang mereka bawa tidak ikutan jatuh.


"Tante.. kenapa Tante jahat sama bunda?" tanya Zafa.


"Bunda kalian itu memang pantas mendapatkan ini" saut Bella.


Si kembar membantu Dita berdiri.


"Kamu ini kenapa? apa salah saya sama kamu?" tanya Dita setelah berdiri tegak.


"Salah kamu itu karena kamu merebut kebahagiaan ku" balas Bella.


"Ck.. heh!! mbak gk salah ngomong ya? memangnya saya merebut suami mbak?" ucap Dita.


"Memang belum menjadi suami saya tapi kamu sudah merebut nya dari saya" balas Bella dengan percaya diri.


"Kan masih mau mbak, itu pun kalau dia nya mau sama mbak. Jadi gk salah saya dong. Mbak tu yang gk sadar diri masih aja mau suami orang" balas Dita dengan tak kalah telaknya dan menantang Bella.


"Dasar kamu ya" tangan Bella melayang di udara untuk memberikan sebuah tamparan di pipi Dita, tapi dengan cepat Dita menepis keras sehingga Bella hampir saja jatuh.


Adegan itu sontak membuat si kembar takut. Dita memeluk si kembar setelah menepis tangan Bella.


"Kenapa tante ini jahat sekali, nanti Tuhan marah sama tante" saut Zifa.


"Heh... Tuhan lebih marah pada kalian karena kalian aku tidak bisa memiliki Zidan. Aku jadi kurang yakin kalian itu anak Zidan" ujar Bella.


Dita mengepalkan tangannya dan melayangkan tamparan keras di pipi Bella.


"Mbak boleh tidak menyukai saya, tapi jangan bawa bawa anak saya" saut Dita dengan geram.


"Kurang ajar kamu" Bella yang kesakitan akibat tamparan Dita kembali melayang tamparan tapi masih bisa di tepis Dita. Kali ini bukan hanya hampir jatuh tapi memang jatuh di lantai.


"Mbak pikir saya ini gk bisa ngelawan hah? Kemarin itu saya tidak berbuat apa apa saat mbak menghina saya karena saya malas berdebat dengan orang seperti mbak. Tapi kalau mbak masih bersikap kurang ajar dengan saya jangan salahkan saya mbak. Jangan mbak kira saya ini lemah, saya bisa berbuat lebih dari ini jika menyangkut anak anak saya" ujar Dita dengan amarahnya

__ADS_1


Banyak perawat dan keluarga pasien yang keluar dari kamar setelah mendengar keributan. Mereka berdatangan ke tempat kejadian. Bella mulai dengan akting menangis nya.


Siapapun yang tidak melihat kejadian dari awal pasti mengira Dita yang bersikap kejam pada Bella.


Bella mengulurkan tangannya untuk meminta bantuan pada salah satu perawat di sana untuk membantu nya berdiri.


Salah satu perawat yang masih bingung dengan kejadian itu mau tidak mau menolong Bella.


"Aku tidak tau kenapa nyonya muda Malik sangat membenciku, Aku tidak tau apa salahku" ucap Bella memelas.


"Anda jangan membolak-balik kan fakta, anda yang memulainya terlebih dahulu" balas Dita masih dengan emosinya. Dita segera meredam emosi nya, ia takut si kembar takut melihat dirinya yang seperti itu.


"Aku hanya menyapa dirimu nyonya, tapi kenapa anda melakukan hal ini padaku" ujar Bella kembali memelas dengan air mata palsunya.


Mereka mulai berbisik bisik, mereka sangat tidak menyangka bahwa istri petinggi rumah sakit begitu kejam nya pada Bella.


Meskipun selama ini mereka tau Bella mencoba mendekati Zidan tapi apa yang mereka lihat sangat lah membuat mereka berpikir ulang tentang Dita.


Dita memeluk si kembar, si kembar mulai takut dengan semakin banyak orang mengerumuni mereka dan menatap tidak suka pada Dita.


Si kembar saling pandang. "Kamu pergilah ke ruangan ayah, bilang kita di sini sedang berhadapan dengan tante jahat itu" bisik Zafa pada Zifa.


Zifa menuruti perkataan Zafa. Zafa melepas diri dari kerumunan orang itu dan berjalan melangkah ke ruangan Zidan.


"Tante yang salah.. bukan bundaku. Tante yang dulu berbuat jahat sama bunda" saut si kecil Zafa.


"Kan tante hanya menyapa sayang, tapi bunda mu yang membuat tante jatuh" balas Bella.


Kevin langsung menghampiri Zifa yang terlihat meringis. "Kamu tidak apa apa sayang?" tanya Kevin.


"Om Kevin" ucap Zifa.


"Zifa!!" Kevin terkejut ternyata anak kecil yang jatuh tadi adalah Zifa.


"Kok kamu berlarian di sini sayang, mana bunda?" tanya Kevin.


"Om.. tolong antarkan Ifa ke ruangan Ayah. Kaki Ifa sakit" pinta Ifa mengiba.


"Baiklah.." Kevin berdiri sembari menggendong Ifa dan berjalan menuju ke ruangan Zidan.


Sesampainya di ruangan ternyata Zidan sedang melakukan rapat. Kevin terhenti tidak bisa masuk.


"Sayang.. ayah kamu sedang rapat, apa sebaiknya nanti saja kita masuk" ucap Kevin.


Zifa menggigit bibir bawahnya. Ia ingin memberitahu Zidan kalau bunda nya sedang di ganggu oleh tante jahat, tapi ayahnya sedang rapat.


"Kalau begitu ayok cepat Om bantu bunda di sana" ucap Zifa.


"Bunda? bantu?" tanya Kevin bingung.

__ADS_1


"Iya om.. bunda di ganggu oleh Tante jahat" ucap Zifa.


Kevin tidak mengerti ucapan Zifa namun segera berjalan dengan langkah besar menuju Dita setelah melihat mata kecil di dalam gendongan nya berkaca kaca.


Di sana Kevin dapat melihat Dita sedang di kerumunan orang orang. Kevin mendekat.


"Ada apa ini?" tanya Kevin membuat semuanya menoleh.


"Ibu ini mendorong dan menampar dokter Bella" ucap salah satu pengunjung pasien rumah sakit.


Kevin mengerutkan keningnya. Kevin melihat Dita, terlihat Dita takut dan menggeleng lemah.


Kevin menjadi tidak tega, tapi ia juga melihat wajah Bella yang menandakan ada benarnya Dita menampar Bella.


"Sebaiknya bubar, biar saya yang urus" ucap Kevin agar tidak ada kerumunan lagi.


Mereka semua nya bubar tapi masih banyak yang berbisik-bisik mengenai Dita.


Kevin juga menyuruh dua orang perawat untuk membawa si kembar di ruang tunggu dekat dengan ruangan Zidan.


"Ada apa ini Dit? kenapa seperti ini?" tanya Kevin setelah si kembar pergi.


"Dia yang mulai duluan Vin, dia yang memulai.." ucapan Dita terputus.


"Aku hanya menyapanya Vin, tapi dia menamparku dan mendorongku dengan kuat. aku tidak berbohong, kamu boleh tanya dengan mereka"


"Apa benar?" tanya Kevin pada perawat.


"Iya dok, kami melihat nya" ucap perawat itu jujur apa adanya.


"Vin.. dia duluan yang mulai. Kamu tau aku kan, aku tidak sekejam itu" ucap Dita.


"Aku tau Vin, kamu pasti takutkan nanti Zidan marah padamu. Ya sudah aku yang salah, aku minta maaf nyonya" ucap Bella menunduk, ia seakan mengalah untuk membuat orang mempercayai dirinya.


Kevin bingung dengan keadaan. Dita mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia menampar kembali Bella.


"Ada apa ini?" ucap seseorang di belakang mereka. Suara bariton itu sangat terdengar jelas di telinga. Siapa lagi kalau bukan Zidan.


...****************...


...Terimakasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini πŸ€—...


Terimakasih banyak atas saran dari teman teman. Untuk teman yang memberi saran agar cerita nya di pisah, maaf author tidak bisa memenuhinya πŸ™. Cerita ini memang seperti ini adanya. Author akan membuat batasan agar cerita nya tidak campur aduk. Sekali lagi terima atas sarannya. Sehat selalu 😊


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote πŸ˜‰


__ADS_2