Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Kejujuran Angga


__ADS_3

Setelah seharian di hotel tempat mereka menginap. Para putra Malik pulang kembali ke mansion.


Mereka akan tinggal di mansion selama satu minggu ke depan. Setelah itu mereka akan tinggal di rumah yang telah mereka persiapkan untuk keluarga kecilnya.


"Kita kembali juga ke sini" ujar Dita.


"Iya kak, aku tidak menyangka bisa kembali lagi" balas Tika.


"Hmm... sepertinya kita memang di ditakdirkan untuk menjadi bagian dari keluarga ini" saut Vina.


"Sepertinya memang begitu" ucap Dita.


"Kenapa leher kak Vin merah merah" tanya Tika dengan polosnya.


"Eh.. kelihatan ya, padahal aku sudah menutupinya" cicit malu Vina


"Kamu dengan Ryan?? semalam??" tebak Dita dengan melotot matanya.


"Iya kak" Vina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wah... Tik,, seperti nya duluan Vina ni dapat" Dita menepuk pelan bahu Tika.


"Dapat apa??" tanya Tika bingung.


"Aduh Tika.. kok kamu gk nyambung sih. Itu itu.. cucu dari keluarga Malik" Dita menggeleng geleng kepala tak percaya.


"Ahh!! benarkah?" Tika menepuk dahi nya.


"Maafkan aku kurang fokus tadi" cicit Tika terkekeh.


Para menantu sedang di dapur mempersiapkan air minum untuk suami mereka. Awalnya Ryan tidak ingin pulang ke mansion hari ini, tapi karena Vina meminta dan ada rapat yang harus di hadiri mau tidak mau harus pulang.


Zidan juga menghadiri rapat penting meskipun di lakukan secara online, namun Dita memaksa pulang. Sedangkan Angga pulang karena Tika yang memaksa dirinya, sehingga Angga terpaksa membawa Tika pulang ke mansion. Padahal ia masih ingin berduaan dengan istrinya di hotel itu.


"Yang!!!! Sayang!!" pekik Ryan menuruni tangga mencari keberadaan Vina.


"Di panggil tu kak, kayak nya ada yang udah gk bisa berjauhan" ledek Tika.


"Ish.. kau ini" Vina memukul pelan lengan Tika.


Tika dan Dita terkekeh geli melihat wajah Vina yang malu.


"Yang!!" teriak Ryan kembali.


"Iya Mas,, sebentar" saut Vina memekik.


"Aku pergi dulu"


"Pergilah cepat, nanti mengamuk tu singa" ledek Tika. Dita ikut tertawa saat Tika menggoda Vina.


Vina berlarian menuju ke arah Ryan dengan membawa secangkir teh madu untuk Ryan.


Ryan tersenyum lebar melihat Vina sudah mendekat ke arahnya.


"Sayang.. kemana sih? kok lama kali naiknya" rengek Ryan.


"Tadi aku di dapur jumpa sama ipar kamu, kami mengobrol sedikit. ini teh untuk kamu" balas Vina.


"Ke kamar yok, temani aku" pinta Ryan bergelayut manja pada lengan Vina.


"Baiklah".


*


"Apa aku kasih tau aja ya sama Tika, semenjak kejadian kebohongan itu dia semakin menjauh dari aku. Meskipun kami sekarang sudah menikah lagi tapi tetap saja ia masih menghindari dari aku" ucap Angga yang berada di balkon kamar nya.


"Tapi kalau nanti Tika marah gimana?"


"Gara gara aku bohongi dia dan dia minta pisah gimana?"

__ADS_1


"Tapi kalau aku tutupi dari nya kalau dia denger dari mulut orang lain bagaimana dong, nanti dia makin marah sama aku"


"gimana ini?" Angga dengan segala pikiran nya.


Angga menekan kepala untuk mendapatkan keputusan.


"Huff" helaan nafas Angga.


"Baiklah.. aku akan mengatakan kepadanya kalau sebenarnya tidak terjadi apa-apa malam itu. Terserahlah bagaimana reaksi nya nanti yang penting aku sudah jujur mengakui yang sebenarnya" ucap Angga dengan semangat.


"Tapi kemana ya sayang aku, udah lama ni dia belum balik ke kamar lagi"


"Aku akan pergi mencarinya" Angga bergegas menuju pintu keluar dari kamar tidurnya.


Ketika hendak menyentuh handle pintu nya, pintu kamar itu duluan di buka oleh Tika.


Tika kaget hingga memegang dadanya. Angga tertawa melihat wajah kaget Tika yang tidak tidak cantiknya. Itu sangat lucu bagi Angga.


"Jangan tertawa!!" ketus Tika.


"Abis muka kamu lucu sekali yang"


Tika menyingkirkan tubuh Angga yang menghalanginya untuk masuk ke kamar.


"Yang... aku mau bicara" ujar Angga mengikuti langkah Tika lemari pakaian mereka.


"Kamu mau apa?? tidak biasanya kalau bicara ajak dulu" Tika memicingkan matanya.


"Duduk dulu yok" Angga menuntun Tika agar duduk di balkon kamar mereka.


"Katanya mau bicara, bicaralah.. udah lima menit kita diam saja " ujar Tika mulai jengkel dengan kediaman Angga.


"Hufff"


"Baiklah.. tapi sayang jangan marah ya" ucap Angga menggenggam tangan Tika dengan tatapan memohon.


"Aku tidak akan marah"


"Malam itu?? Angga mau jujur sama aku?" batin Tika.


"Kenapa malam itu? malam mana?" tanya Tika


"Malam kita ke kota lain, malam saat... paginya... kamu.. teriak.. itu.." Angga tergagap.


"Owh.. malam itu. Terus kenapa memang nya?" tanya Tika.


"Aku... berbohong.. padamu.. "


"Apa!!" pekik Tika. Tika sengaja berkata seperti itu padahal dia sudah tau semuanya. Ia menghargai Angga yang mencoba untuk jujur.


"Sayang..." rengek Angga.


"Jangan marah dulu" Angga berkaca kaca matanya, ia sangat takut Tika akan memarahi dirinya.


Tika mendengus kesal. "Kamu membohongi aku tentang apa?" tekan Tika.


"Sebenarnya malam itu di antara kita tidak terjadi apa-apa. Malam itu aku hanya memeluk sayang karena sayang kedinginan. Aku tidak melakukan hal yang terlarang itu"


"Meskipun aku hanya sedikit menyentuhnya" lanjut Angga dalam hati.


"Maafkan aku telah membohongi kamu sayang. aku melakukan semua itu karena kemarin kamu menolak untuk menerima perasaan aku"


"Aku tidak dapat memikirkan cara yang lainnya. Aku pikir dengan begitu kamu kembali kepada ku. Aku sangat tidak bisa melanjutkan hidupku kalau tidak denganmu sayang. Sekali lagi maaf aku" jelas Angga menatap Tika dengan sendu.


Tika menatap Angga tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.


"Sayang.. aku minta maaf" ujar Angga.


Tika masih dalam diamnya, ia hanya menatap tajam ke Angga.

__ADS_1


"Sayang.. kalau kamu mau marah sama aku, marahlah. Kamu boleh mencaci maki aku, kamu boleh mukul aku. Tapi kamu jangan diam begini dong" ujar Angga menatap memohon kepada Tika.


Tika tidak menanggapi ucapan Angga, ia masih setia dengan kediamannya.


"Ok.. Kamu boleh juga menghukum aku, apa pun keinginan kamu akan aku penuhi tapi jangan minta kita berpisah, aku tidak sanggup"


"Selain kata perpisahan apa pun akan aku penuhi"


Tika menghela nafasnya. "Baiklah.. aku tidak akan minta pisah sama kamu" ucap Tika dengan senyum liciknya.


Angga mengembangkan senyumannya.


"Tapi.. aku" lanjut Tika.


"Apa sayang?" tanya Angga tak sabaran.


"Aku ingin... selama tiga bulan kamu menjalani hukumannya agar aku dapat memaafkan diriku"


"Apa?? tiga bulan?? sayang.. itu kelamaan. Seminggu saja boleh ya? ya?" pinta Angga.


"Baiklah.. Satu bulan. Udah gk bisa nego lagi" tegas Tika.


"Hmm.. baiklah" Angga pasrah.


"Karena kamu sudah setuju, maka aku akan mengatakan hukuman nya"


Angga mengganguk kepalanya.


"Hukumannya adalah selama sebulan kedepan kita akan tidur berpisah" ujar Tika.


Duar!! Angga membulatkan matanya.


"Apa?? pisah ranjang?" tanya Angga memastikan.


"Iya.. kita pisah ranjang. Dengan waktu selama itu aku menimbang untuk memaafkan dirimu" jawab Tika santai.


"Tapi yang.. aku gk sanggup. Aku gk jika tidak memeluk dirimu. Seranjang saja jika kamu tidak memeluk ku aku tidak bisa tidur, bagaimana jika memang pisah tempat tidur" Angga memelas.


"Masa itu saja kamu tidak bisa, selama aku pergi dulu kamu juga tidur sendiri. Kamu masih bisa tidur kan" saut Tika.


"Jika kamu tidak mau maka sebaiknya kita tinggal berpisah selama enam bulan" lanjut Tika dengan ancamannya.


"Gk.. gk.. gk mau sayang.. ok.. aku akan memenuhi hukuman yang tidur terpisah, aku tidak mau tinggal terpisah sama kamu" ujar Angga.


"Ok.. mulai malam ini kamu menjalani hukumannya"


Angga menghela nafas berat nya dan mengganguk kepalanya.


"Aku akan tidur memeluk nya jika dia sudah tidur, paginya aku akan terbangun duluan" pikiran Angga.


"Tapi ingat.. jika suatu hari kamu kedapatan melanggar hukumannya, seperti kamu tidur seranjang dengan ku saat aku terlelap dan bangun saat aku masih tidur juga. Maka akan aku pastikan hari itu juga aku akan tinggal berpisah dengan kamu" peringatan Tika.


Angga menelan ludahnya dengan berat. "Bagaimana bisa dia tau pikiran ku" decih Angga dalam hati.


"Baiklah.. aku tidak akan melanggar janjiku. Tapi jika kamu yang melanggarnya maka hukuman aku berakhir" ujar Angga dengan seringai liciknya.


"Ok.. aku terima" jawab Tika.


Angga dan Tika berjabat tangan tanda persetujuan.


...****************...


...Terimakasih atas dukungan nya atas cerita ini πŸ€—πŸ˜...


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote πŸ˜‰


__ADS_2