
Vina menemui Dita terlebih dahulu sebelum ke ruangan Tika.
"Bagaimana dengan keadaan kakak? apa sekarang kakak sudah merasa baikkan? apa masih ada yang membuat kakak merasa tidak nyaman?" tanya Vina.
"Tidak Vin, Kakak baik baik saja"
"Syukur lah kalau begitu. Aku sangat khawatir, tapi sepertinya kakak baik baik saja. Oh iya... selamat ya kak. Tadi bang Zi mengatakan bahwa kakak sedang mengandung anak kalian" ucap Vina menggenggam tangan Dita.
"Terima kasih banyak Vin"
"Melihat kakak seperti ini, ingin rasanya aku mengandung juga" bisik Vina pada Dita.
Vina berbisik pelan agar Ryan tidak mendengar nya, ia akan malu nantinya.
"Hehehe.. Semoga kamu menyusul nanti" balas Dita dengan kembali berbisik-bisik. Vina tersenyum dan mengelus pelan perut Dita.
"Sayang.. kok bisik bisik sih ngomong nya" tanya Zidan yang tidak mendengar perkataan Dita dan Vina.
"Ehehhe... hanya membicarakan urusan wanita" balas Dita.
"Bagaimana dengan mu Ryan, apa keadaan mu sudah membaik?" tanya Dita pada adik iparnya.
"Sudah kak, ya meskipun untuk sementara waktu aku harus menggunakan bantuan kursi roda ini" ucap Ryan dengan santai.
"Syukurlah.. Maaf ya Ryan kami tidak sempat melihat mu tempo hari" ujar Dita.
"Tidak apa apa kak, aku sangat bersyukur kakak dan Tika kembali dengan keadaan selamat". balas Ryan.
Dita mengangguk kepalanya dan tersenyum.
"Kau pasti sangat takut nya kemarin melihat keadaan Ryan?" tanya Dita pada Vina.
Dita tau betul bagaimana sifat lembut Vina. Ia tau adiknya yang satu ini sangat melankolis dibandingkan dengan Tika.
"Iya kak.. Tapi aku juga sangat takut kehilangan kakak dan Tika" sendu Vina.
"Tidak apa sayang, sekarang kakak baik baik saja" ujar Dita memeluk tubuh Vina.
__ADS_1
Krekk...
Bunyi pintu di buka.
"Kakak" teriak wanita itu dengan bar bar nya sedikit berlarian menuju ke arah Dita dan Vina.
Dita dan Vina yang sedang berpelukan melerai pelukan mereka dan tersenyum melihat kedatangan Tika.
"Yank.. jangan lari lari, kau masih belum sembuh" ujar Angga sesegera mungkin mengejar tingkah bar bar istrinya.
"Heheh.. maaf ya, aku kesenangan" balasnya sambil cengengesan.
Angga dengan telaten membantu Tika duduk di dekat Dita dan Vina.
"Bagaimana dengan keadaan kakak dan calon ponakan ku?" tanya Angga.
"Kakak baik baik saja dan keponakan mu juga baik" ucap Dita tersenyum.
"Baguslah kak"
"Sudah sana.. duduk dengan bang Zi dan bang Ryan aja. Aku ingin mengobrol dengan kakakku ini" usir Tika pada suami tampan nya itu.
"Ingat.. dia berbeda Angga" ucap Ryan.
"Itulah.. dia memang istri bar bar ku" balas nya.
"Bagaimana dengan keadaan nya?" tanya Zidan.
"Dia baik baik saja, tadi dokter Kevin bilang tidak ada yang parah dengan nya. Hanya perlu istirahat saja"
"Syukurlah. Aku sangat berterima kasih kepada nya" ucap Zidan tulus.
"Sudahlah bang, dia melakukan sesuatu yang benar sebagai adik kak Dita."jawab Angga agar Zidan tidak terlalu terbebani.
"Bagaimana dengan keadaan Abang?" lanjut Angga.
"Aku baik baik saja seperti yang terlihat" balas Ryan mengedik bahunya.
__ADS_1
"Maaf..., aku dan bang Zi tidak pernah melihat keadaan mu setelah berita kehilangan istriku kemarin" ucap Angga merasa bersalah.
"Iya.. kamu dan bang Zi jangan merasa bersalah. Jika aku di posisi kalian aku akan melakukan hal yang sama" balas Ryan.
"Terima kasih atas pengertian mu" ujar Zidan merangkul tubuh Ryan.
"Iya bang ... Aku dengar kak Dita sedang hamil ya? kembar Tiga lagi.. selamat bang atas kehamilannya kak Dita, aku turut bahagia mendengar nya" ucap Ryan antusias.
"Iya terimakasih.. aku pun tidak menyangka" balas Zidan dengan raut wajah bahagia.
"Selamat bang.. Dan seperti nya bang Zi akan tutup pabrik" ujar Angga.
"Maksudmu?" tanya Ryan bingung.
"Iya.. tutup pabrik pembuatan anak, secara kan sudah dapat enam. Nanti pasti kak Dita tidak ingin menambah lagi" jawab Angga dengan cengir.
Zidan tersenyum mendengar ucapan Angga. "Kau mana tau, jika nanti bang Zi memaksa kan jadi juga" bantah Ryan dengan lembut.
"Tapi bang Zi kan bukan tipe pemaksa seperti mu" cetus Angga menaikkan alisnya.
"Kau ini" balas Ryan tidak terima.
Zidan terkekeh melihat pertengkaran kedua adiknya. "Kalian ini selalu saja berdebat, tidak dulu tidak sekarang sama saja" balas Zidan menggeleng geleng kepalanya.
Ryan dan Angga tertawa. "Bagaimana bang... jadi tutup pabrik?" tanya Angga kembali.
"Sepertinya iya" balas Zidan mengedik bahunya.
Ryan dan Angga tertawa mendengar jawaban Zidan yang seperti rela tak rela.
...****************...
Terimakasih atas dukungan nya untuk cerita ini
Jangan lupa untuk
Like
__ADS_1
Komentar
and Vote ππ€