
"Dani juga mau tau alasan mama kenapa meninggalkan Dani? Kenapa membawa kembaran Dani yaitu Daisya saja?" tanya Dani dengan nada lirih.
"Tunggu.. kembaran? siapa yang kembar?" Ryan bingung.
"Dani lah masa anda" jawab Dani.
"Jadi anak perempuan tadi itu anak kita Vin?" tanya Ryan penuh harap.
"Anakku saja bukan anakmu" ketus Vina.
"Dani juga anak Mama bukan anak anda, iyakan ma?" Dani mengedipkan matanya.
Vina tersenyum mendengar ucapan Dani. Ryan merasa seperti orang asing berada di antara mereka.
Ryan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
Disisi ruangan yang sama. Zico akhirnya mulai tenang dengan tangisnya.
"Om tampan" pekik Zifa yang baru datang dari taman bermain dengan El dan Tania, ia berlarian ke arah bunda dan om tampan nya.
"Sayang... " ujar Zidan.
"Om tampan ngapain sini? om tampan lindu Ifa ya?" tanyanya berbinar binar.
"Iya sayang, Om juga sangat lindu Ifa" Zidan menjawab seperti Zifa. Zifa sangat senang dengan penuturan Zidan.
Dita terkejut dengan tingkah Zifa yang sangat akrab dengan Zidan.
"Bunda,,, kenapa bang Iko angis? kata gulu Ifa di kolah nak aki aki ndak oleh angis?" ujar Ifa ke Zico. Zico tersenyum mendengar ucapan cadel Ifa.
Ifa biasanya sangat cemburu jika ada orang-orang mendekat pada bunda nya. Namun hari ini berbeda, ia tidak cemburu sebab ada om tampan di hadapannya.
"Mommy... ngapain mommy peluk peluk dia?" ujar El cemburu melihat Tika memeluk Jeno.
"Sekarang ini juga mommy ku bukan hanya mommy mu saja".
"Ih.. gk mau, mommy hanya punya El gk boleh yang lain"
"Gk boleh.. kau harus berbagi mommy pada ku"
"Gk mau.. mommy El gk mau"
"Sayang.. kita naik ke atas saja ya, El pasti capek kan? kita istirahat saja" ujar Tika membawa kedua anaknya naik ke lantai dua.
"Vin... itu anak Tika dengan?" tanya Ryan setelah melihat El.
"Iya.. dengan adikmu lah"
"Kenapa sekarang tiba tiba kami punya anak semua nya?" tanya Dani.
"Mama .. Dani juga mau ke atas, Dani juga mau istirahat dengan bang Jeno" ujar Dani.
"Ayok.. mama hantarkan"
"Tidak perlu mama, Dia ini pasti punya sesuatu yang ingin di bicarakan dengan mama" Tunjuk Dani pada Ryan.
"Ah... anak ku sangat pengertian, terimakasih sayang" ujar Ryan bahagia.
__ADS_1
"Ingat ya.. aku belum memaafkan dirimu" tegas Dani dan berpamitan dengan Vina.
Ryan menelan ludahnya dengan sedikit tertahan mendengar ucapan Dani yang sangat tajam.
Setelah kepergian Dani, Ryan mengajak Vina keluar ia ingin berbicara dengan Vina berdua saja. Awalnya Vina menolak tapi setelah ia pikir panjang dari nanti masalah ini terus berlanjut lebih baik di selesai secepatnya.
...----------------...
Zico sudah tidak menangis lagi. Zifa mengajak Zico untuk ke lantai atas agar Zico bermain bersama dengan yang lainnya. Seketika Zifa menjadi gadis kecil yang pengertian dengan Keadaan.
Tinggal lah Zidan dan Dita. Untuk Tania yang membawa Zifa, ia berada dapur toko roti itu.
"Sekarang aku meminta penjelasan Dit, apa benar si kembar yang menolong Jeno kemarin adalah anak kita?" tanya Zidan.
"Hemmm... iya" ketus Dita.
"Kenapa waktu di rumah sakit kau berbohong padaku" selidik Zidan.
"Ya jelaslah aku berbohong, aku tidak ingin kau juga mengambil si kembar dari ku. Cukup Zico saja jangan anak-anak itu lagi" tegas Dita.
"Aku tidak akan merebutnya Dit, kenapa kau berpikiran buruk tentang ku?"
"Ya.. aku kan hanya ingin melindungi orang yang harus aku lindungi"
"Tapi juga bukan berarti kau harus berbohong padaku kan Dit?"
"Terserah akulah, aku kan ibu mereka"
"Tapi kan mereka anakku juga Dita. Rupanya benih ku sangat unggul ya, sekali buat langsung jadi" kekeh kecil Zidan untuk kembali membuat suasana menjadi lebih santai.
"Ya sudah.. aku ingin naik ke atas, aku ingin bersama Zico"
Zidan menahan tangan Dita yang ingin pergi dengan tangan kekar nya.
"Jangan pergi dulu, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan"
Dita mendudukkan dirinya kembali di kursi.
"Apa? apa yang ingin kau sampaikan lagi?? untuk masalah Zico aku rasa ia telah memaafkan kan dirimu hanya saja ia butuh waktu untuk tenang dulu"
"Aku bukan membicarakan masalah Zico, aku hanya ingin membicarakan masalah kita"
"Kita?? tentang kita apa yang perlu di bicarakan lagi? kau sudah tau kalau kita punya anak perempuan kembar, jika kau ingin mereka menerima mu maka dekat dengan mereka, aku akan mengizinkan hal itu, aku tidak akan menjadi orang yang egois. Jadi tidak perlu kau takut kau tidak akan kehilangan mereka" ujar Dita panjang lebar.
"Iya aku tau kamu baik hati, tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya" lirih Zidan.
Deg....Deg...
Jantung Dita berhenti sejenak mendengar penuturan Zidan.
"Apa maksudmu?" tanya Dita.
"Aku ingin kau kembali padaku, tidak.. aku ingin kita kembali bersama. Aku ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Zico dan si kembar. Lebih tepatnya nya aku yang membutuhkan kehadiran mu di hidupku"
"Kau jangan bercanda Zidan"
"Aku serius Dit, aku tau sekarang kau tidak ingin kembali padaku, tapi izinkan aku mengejar mu Dita"
__ADS_1
"Haha... kau ini kenapa? apa kau sedang demam?" Dita reflek menyentuh kening Zidan.
Zidan membiarkan Dita menyentuh kening nya. Ia juga rindu dengan sentuhan Dita.
"Kenapa dia sangat panas" batin Dita.
Zidan demam karena ia belum istirahat yang cukup setelah kerja di rumah sakit semalaman.
"Ah.. tidak panas rupanya. Kenapa kau ingin kembali padaku? kita tidak saling mencintai Zidan" elak Dita segera memindahkan kepala tangan dari kening Zidan.
"Kita mungkin tidak saling mencintai tapi aku mencintaimu Dita"
"Hah?? kau ingin mempermainkan hidup ku lagi?"
"Tidak Dita, Aku serius kali ini. Sebenarnya dari dulu aku sudah jatuh hati padamu, hanya saja aku menuruti semua ego ku dan tidak mempertimbangkan perasaan ku. Kau tau aku tidak pernah jatuh cinta, aku sedikit takut dengan namanya cinta, aku takut tidak bisa membuat orang yang aku cintai bahagia.
"Jika kau memang menyukai ku kenapa kau tidak mencari ku dari dulu?"
"Bukan suka Dit, tapi cinta. Aku sudah mencari mu Dita selama tujuh tahun ini, semua sudah aku pertaruhkan. Tapi kalian dengan licik nya menyuruh orang lain berangkat ke kota yang di tuju di tiket penerbangan yang di berikan ayah kepada kalian. Makanya jejak kalian hilang begitu saja. Bukan hanya aku yang mencari kalian, Ryan dan Angga juga melakukan hal demikian" jelas Zidan.
"Ya.. itu terserah aku lah. Aku tetap tidak bisa kembali bersama mu. Kali ini aku akan mengikuti keinginan ku saja" ujar Dita.
"Iya Dit, aku tau kau tidak ingin kami tau keberadaan kalian. Jangan katakan tidak bisa Dit, katakan belum bisa. Biarkan aku mengejar mu untuk membuktikan keseriusan aku" ujar Zidan penuh harap.
"Terserah padamu, jika kau sakit hati nanti jangan salahkan aku"
Dita sebenarnya masih mencintai mantan suaminya, Dita tau suaminya juga tidak salah. Selama ini tau kalau suami tidak main perempuan dan tidak bersikap kasar padanya selama menjadi istri nya. Hanya saja Zidan mengabaikan dirinya.
Lebih tepatnya Zidan belum menemukan jawaban dari hatinya. Tapi Dita masih sakit hati mengingat Zidan menolak pengungkapan cintanya.
"Iya Dita.. aku tidak akan menyalahkan mu jika nanti kau tidak ingin kembali padaku. Aku pergi dulu" pamit Zidan.
"Tunggu.. ayo ikut aku" ajak Dita segera menarik tangan Zidan.
Dita mengajak Zidan ke kamar yang ada di dekat dapur toko. Dita ingin Zidan istirahat di sana. Dita merasakan kasihan melihat tubuh Zidan panas dan wajahnya memerah.
"Ngapain kita ke sini Dit? kau tidak ingin macam-macam padaku kan" Zidan melipatkan kedua tangan di dadanya.
"Kau seperti gadis perawan saja"
"Kau istirahat dulu disini, aku hanya takut kau pingsan nanti karena badan mu sangat panas. Aku keluar sebentar mengambil obat penurun panas" ujar Dita.
"Dita masih perhatian padaku" ujar Zidan setelah Dita keluar dari kamar itu.
Zidan kesenangan dengan perhatian Dita.
...****************...
lanjut gk??
Jangan lupa
Like
komentar
and Vote π
__ADS_1