
"Pagi nona Tika..." sapa Dimas pada Tika yang ingin memasuki ruangan kerjanya.
"Pagi juga Dim" balas Tika.
"Kamu kok masih manggil saya nona sih Dim, panggil Tika aja biar terkesan akrab gitu" ucap Tika.
"Maaf nona... saya harus memanggil anda seperti itu jika tidak nanti gaji saya di potong sama pak bos. Kan anda tau sendiri alasan saya memanggil anda seperti itu" jelas Dimas.
"Iya saya tau, tapi si Angga jangan gitu juga dong. Aku aja bukan siapa-siapa dia kok" sanggah Tika.
"Tapi nanti juga jadi siapa siapa nya pak bos kan" goda Dimas.
"Gk akan Dimas kami hanya masa lalu yang sudah terhapus dan gk berbekas" elak Tika.
"Itukan pemikiran nona kalau pak bos nya mah enggak dong" Dimas memainkan alisnya.
"Terserah kamu dim. oh iya ini ada sarapan untuk kamu, kebetulan saya bawa lebih" Tika mengangkat tempat makan.
"Saya mau sih terima sarapannya, tapi untuk pak bos ada gk? kalau gk ada saya gk bisa terima takutnya pak bos mengamuk" Dimas bergidik ngeri.
"Kamu tenang saja.. untuk Angga alias pak bos udah ada ini. saya tau nanti kalau saya buat punya kamu takut nya sisi ke gilaan Angga muncul tanpa sebab. Makanya saya buat dua" Tika mengangkat kedua tempat makan itu.
"Eh.. iya nona.." ucap Dimas
Tika mengangguk kepalanya.
"Baiklah... terimakasih. Nona Tika udah cantik baik lagi. Terimakasih banyak" Dimas segera mengambil tempat makan yang ada di tangan Tika.
"Sama Sama.Ya udah.. saya masuk dulu"
Dimas mengangguk kepalanya dan tersenyum.
Tika membuka ruangan nya alias ruangan Angga.
"Pagi sayang..." ujar Angga.
"Pagi juga pak" ketus Tika.
"Eh.. itu kamu bawa apa sayang?? sarapan pagi untukku ya" kepedean Angga.
"Sebenarnya gk sih, karena saya bawa dua ya udah ini untuk bapak saja" ucap Tika meletakkan sarapan itu di meja Angga.
"Punya mu mana?" tanya angga
"Ada.. ini" tunjuk Tika.
"Ya udah kita sarapan bersama ya, soalnya aku belum sarapan" ucap Angga segera berdiri dari duduknya dan duduk di sofa di ruangan itu.
"Hemm"
Setelah mereka menyelesaikan sarapannya tak lama Dimas mengetok pintu. Angga menyuruh Dimas masuk.
"Pak bos.. soal yang pak bos cari kemarin itu sudah saya temukan" ucap Dimas.
"Oh itu...saya lupa memberi tau padamu kalau saya sudah tau semuanya" balas Angga.
"Lah.. jadi gk berguna dong kerja saya ini" Dimas cemberut.
"Salah kamu sih terlambat. Kenapa akhir-akhir ini kamu lemot sekali tidak seperti biasanya" tanya Angga.
"Hmmm... saya banyak pikiran pak bos" Dimas mulai curhat.
"Apa yang kamu pikirkan? seperti orang yang punya pikiran saja kamu" ledek Angga.
"Ih.. pak bos.. saya sedang bingung dan gk tau mau ngapain, soalnya ibu negara nyuruh saya nikah" curhat Dimas.
"Hahahaha.. akhirnya kamu di posisi itu Dim"
Tawa Angga yang menggelegar membuat Tika melihat ke arah Angga dan Dimas. Meskipun Tika tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi tawa itu membuat Tika kurang fokus.
"Jaga image kek sikik" bisik Dimas.
Angga berdehem setelah selesai tertawa mengejek Dimas.
"Kamu cari aja wanita untuk di nikahi" saran Angga yang dianggap tak ikhlas oleh Dimas.
"Bos pikir cari wanita itu kayak nyari barang di toko online gitu" kesal Dimas.
"Hahaha.. kalau gk kamu tolak aja permintaan ibu kamu" lagi lagi saran tak bermutu menurut Dimas.
__ADS_1
"Gk bisa.. ntar aku di pecat jadi anak" Dimas cemberut.
Angga kembali tertawa mendengar ucapan yang mengancam jiwa Dimas.
"Ya sudah bos, saya permisi dulu. Dari pada di sini nanti pak bos gk berhenti menertawakan saya" ujar Dimas yang ingin keluar dari ruangan itu.
"Syuuuh.... pergi sana" usir Angga.
Sebelum keluar Dimas melirik Tika dan tersenyum.
"Permisi nona Tika dan terimakasih atas sarapannya" bisik Dimas.
Tika tersenyum Dimas kepada nya.
Angga yang melihat itu berhenti tertawa dan mulai mode judesnya.
"Dimas... " teriak Angga dari kursi kebesaran nya.
Dimas yang mengerti kemarahannya Angga langsung berlarian ke arah pintu dan dengan gerakan cepat menutup pintu.
"Gue balas Lo bos.. kira Lo doang yang bisa" ucap Dimas di balik pintu.
...****************...
"Pagi Dita" ucap Rina yang baru saja pulang dari perjalanan.
"Rina...." pekik Dita.
Dita berlarian ke arah Rina. Dita dan Rina berpelukan melepaskan rindu.
"Kamu kok gk bilang sama aku kalau hari ini balik" ucap Dita setelah pelukan itu terlepas.
"Hehehe.. sengaja mau buat surprise dong. kalau kasih tau gk surprise lagi lah" cengir Rina.
"Ih.. kamu selalu gitu" Dita memukul lengan Rina.
"Hehehe.. mana ponakan ponakan ku, aku juga kangen mereka" Rina clengak clinguk.
"Kamu tu ya baru juga pergi hanya dua minggu lebih sudah lupa kalau anak anak sekolah" balas Dita.
Rina menepuk dahinya.
Dita menggeleng geleng kan kepala.
"Ada yang aku mau bicara sama kamu Rin" ujar Dita tiba-tiba.
"Tentang apa?" tanya Rina mengerutkan keningnya.
"Tapi nanti, kamu mandi dulu ganti baju dulu kan kamu baru aja pulang Rin" Dita sengaja mempermainkan Rina.
"Hmm.. baiklah.. padahal aku sudah mulai penasaran" Rina menyunggingkan senyuman kesalnya.
Rina akhirnya menuruti perkataan Dita. Setelah selesai berganti baju, Rina kembali menemui Dita yang tengah menata Roti.
"Ayok Dit kita duduk.. kamu mau bicara apa?" ujar Rina.
"Sebentar Rin.. kamu duduk saja dulu. Aku masih belum selesai ini" ucap Dita tanpa melihat ke arah Rina.
"Aku bantu ya" tawar Rina.
"Jangan.. kamu pasti lelah kan setelah melakukan perjalanan" tolak Dita atas bantuan Rina.
"Ya udah" Rina menurut karena dirinya memang masih sedikit lelah.
Lama menunggu Dita menata kue, Rina malah tertidur dengan posisi tangan sebagai bantalan kepada.
Dita tidak membangun Rina, ia membiarkan sahabatnya itu istirahat sejenak.
setelah 30 menit berlalu akhirnya Rina terjaga dari tidurnya.
"kok kamu gk bangunin aku sih Dit" ucap Rina mengucek matanya.
"kamu terlihat lelah makanya gk aku bangunin Rin, aku biarkan kamu istirahat sebentar" balas Dita membawa air minum untuk Rina.
"Tapi aku penasaran apa yang ingin kamu bicarakan Dit" ucap Rina.
"Hehehe.. aduh kasian nya sahabat aku ini, gk kebawa mimpi kan karena penasaran" saut Dita.
"Heheh.. gk sih" ucap Rina dan meneguk air minum nya.
__ADS_1
"Ya udah.. ayok cerita dit.." Rina sungguh penasaran.
"Gk ah.. nanti aja" ucap Dita membuat senyuman di bibir Rina menyusut.
"Jangan gitu dong Dita.. aku marah ni" Rina ngambek
"Aku bercanda Rin, jangan marah dong" Dita memeluk Rina dari samping.
"Emmm"
"Baiklah.. aku mau kasih tau sama kamu kalau kamu sebentar lagi akan ada ponakan baru" ucap Dita.
"Apa! maksud kamu anak kamu Dit?" pekik Rina
"Iya"
"Ya ampun Dita.. siapa lelaki yang telah menghamili kamu Dita? siapa lelaki itu? kurang aja sekali dia? kasih tau Dit siapa namanya? biar aku tonjok tu muka udah berani beraninya buat kamu hamil" sikap bar bar keluar sebab pikiran Rina yang sudah melayang jauh.
"Tapi aku baru pergi dua Minggu lebih Lo Dit. kok kamu langsung hamil sih" lanjut Rina.
Dita menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rina.
"Rin.. dengar kan dulu dong. Aku belum selesai ngomongnya" Dita meluruskan.
"Kamu kasih tau Dit siapa bajingan kampret itu?" lagi lagi pikiran Rina merembes ke mana mana.
"Aduh Rin... ini tidak seperti yang kamu pikirkan" ujar Dita.
"Terus apa dong?" tanya Rina.
"Sebenarnya keponakan yang aku maksud itu anak aku dulu yaitu Zico. Anakku sudah tau kalau aku ini ibunya" jelas Dita
"Apa!!! jadi semuanya udah tau dong? kamu udah temuin anak kamu juga?" Rina kembali memekik.
"Iya Rin.. bukan hanya aku tapi Vina dan Tika juga sudah menemui anak mereka" Dita tersenyum.
"Wah... bagus sekali.. aku bahagia Dit, akhirnya kamu juga bisa memeluk kembali anak kamu yang selama ini kamu rindukan" mata Rina berkaca kaca.
"Iya Rin.. aku juga bahagia"
Rina memeluk erat Dita, Rina menangis bahagia .
"Oh.. iya satu lagi,, anak anak kami tinggal di rumah kita, kadang mereka tidur di kamar aku dan juga terkadang mereka tidur di kamar kamu. Maaf ya Rina aku gk minta izin dulu sama kamu" ujar Dita.
"Gk apa dong Dit,, lagian kan mereka gk mengacak acak barang barang aku kan" Rina menaikkan alisnya.
"Enggak sih " geleng Dita.
"Apa juga, jadi gk apa dong" Rina tersenyum.
Dita juga tersenyum.
"Baru kali ini aku melihat Dita yang dulu, senyumannya sangat membahagiakan" batin Rina.
"Aku penasaran ini bagaimana wajah anak kamu ya? tampan kah?? seperti ayah nya kah?" tanya Rina.
"Iya Rin.. persis ayahnya dan sikapnya juga seperti ayahnya" balas Dita.
"Wah.. aku jadi tidak sabar melihat mereka" Rina berbinar binar.
"Mereka masih sekolah, nanti kita jemput saja biar Tania yang jaga Toko" ucap Dita.
"Ok Dit" Rina memberi tanda ok dengan tangan pada Dita.
Setelah berbincang akhirnya Rina dan Dita kembali di sibukkan dengan kedatangan pelanggan yang ingin membeli kue di toko.
...****************...
...Happy Reading ya reader.....
...Terimakasih telah membaca cerita ini 🤗😍 lope sekebon ❤️...
Jangan lupa
Like
Komentar
and Vote 😉
__ADS_1
*Hadiah juga boleh kok🤭*