
Hari ini pertama kali memulai aktivitas setelah beberapa tahun terakhir berada di kota C.
Memulai aktivitas dengan tersenyum dan melupakan rasa sakit yang masih membekas.
"Wah anak mama udah pada bangun ya" ujar Vina melihat ke empat anak nya sudah bangun yang sedang berdiri di depan Vina sambil mengucek mata.
"Mama... hari ini jadikan melihat sekolah baru untuk Syasya dan adik adik??" tanya Syasya.
"Iya dong sayang" senyum Vina. Syasya bahagia mendengar jawaban Vina.
"Bunda mana ma?" tanya Zafa.
"Bunda lagi ke pasar sama Mommy, katanya mau beli bahan makanan kesukaan kalian" jawab Vina.
"Yang etul ma?" tanya Zifa berbinar binar. Dari ke empat anak itu Zifa yang sangat suka dengan yang namanya makanan.
"Iya sayang" ujar Vina mengelus lembut rambut Zifa.
"Hore!!!"teriak ke empat anak itu dengan bahagia.
"Ya udah kita mandi dulu ya, biar nanti ketika mommy dan bunda datang udah pada wangi" ujar Vina.
"Iya ma" jawab mereka kompak. Mereka memulai kegiatan mandinya.
Tak lama setelah mandi, Rina datang membawa bubur ayam untuk sarapan pagi. Karena Tika sama Dita agak lama kalau ke pasar jadi Rina membelikan makanan untuk sarapan agar anak-anak tidak kelaparan.
"Wih.. anak Tante udah pada rapi ya dan wangi lagi" ujar Rina melihat mereka keluar kamar.
"Iya dong Tante, biar semangat pagi nya" jawab El.
"Iya ganteng Tante. hmmm.. melihat kalian Tante jadi pengen punya anak juga" canda Rina.
"Kami bisa kok jadi nak ante. Ifa ama kak afa kan kembal, jadi bisa ilih alah atu dali kami tuk jadi nak ante" ujar Zifa semangat.
"hahah... tapi Tante gk mau satu. mau kalian semuanya boleh?" tanya Rina dengan gelak tawa.
Mereka mengangguk dan tertawa memeluk Rina. Rina sangat senang di sayangi bocah-bocah lucu itu. Vina tersenyum mendengar percakapan Rina dan bocah-bocah itu.
"Ya udah mari kita makan dulu ya, biar nanti gk kelaparan mencari sekolah yang cocok untuk kalian" ujar Rina menggiring bocah bocah itu ke meja makan yang sudah di rapikan oleh Vina.
"Iya Tante" jawab mereka kompak. Suara cadel Zifa gk kedengaran ya karena ia sendiri yang masih cadel yang lain kan gk.
__ADS_1
Mereka memulai kegiatan makannya. Mereka makan dengan nikmat, sepanjang makan mereka juga saling tertawa dan bercanda hangat.
......................
Berbeda dengan keadaan saudara nya yang tidak pernah ia tahu selama ini. Di mansion mewah itu hanya ada suara dentuman sendok dan piring. Mereka makan seperti ingin berperang saja.
Ketiga bocah yang tak lain, Zico Pratama Malik, Jeno Anggara Malik dan Dani Adrian Malik menikmati makanan nya. mereka sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.
Bocah itu memiliki kemampuan yang luar biasa yang di turunkan dari ayah masing-masing. Bak melihat pinang di belah dua, begitu juga kelakuan bocah itu, like father like son.
Sifat jail Angga juga di turunkan ke Jeno. Begitu juga sikap dingin Zico dan Dani juga di dapatkan dari sang ayah.
Sepanjang sarapan pagi mereka hanya sesekali melihat ke arah ibu dan ibu tersenyum hangat ke arah mereka.
Bocah itu memanggil dengan sebutan Ibu kepada orang tua yang seharusnya menjadi Oma mereka.
Bocah bocah itu sekolah dengan angkatan yang sama, karena perbedaan bulan lahir yang tidak terlalu jauh, hanya berkisar 4-5 bulan.
"Ibu... Zico udah selesai" ujar si tampan Zico.
Zidan melihat ke arah anaknya. Zidan melihat benar bahwa makanan yang di sajikan sudah habis, dengan segera ia menyelesaikan makannya.
"Ayok.. kakak antar ke sekolah" ajak Zidan dan Zico mengangguk.
"Iya bang" Jawab mereka kompak.
Zico dan Zidan berangkat setelah berpamitan kepada semua orang di meja makan itu.
Mereka berangkat sekolah dengan ayah masing-masing, meskipun mereka tau nya itu kakak mereka. Hanya seperti itu yang bisa ketiga saudara itu lakukan demi sang anak.
Pulang sekolah mereka biasa di jemput oleh mang Kardi sopir keluarga ataupun Dimas sekretaris Angga.
Terkadang bocah-bocah itu sedikit curiga, pasalnya mereka berangkat tidak pernah sekalian selalu Zidan dengan Zico, Ryan dengan Dani dan Angga dengan Jeno. Tapi mereka tidak terlalu memikirkan hal itu.
Di sekolah mereka terkenal dengan bocah bocah pintar dan tidak pernah berbuat kesalahan. Mereka selalu kompak bertiga. Selalu barengan kemanapun.
...----------------...
"Bagaimana mana sayang? suka sama sekolah baru nya?" tanya Dita yang mengantarkan anak-anak kesekolah baru. Hari ini hanya Dita yang mengantarkan, karena Vina dan Tika ada wawancara lebih lanjut di perusahaan yang akan memperkerjakan mereka. Sedangkan Rina menata toko roti yang akan dibuka hari ini.
"Iya bunda.. El suka sekolah ini." jawab El pada Dita dengan mengancung jari jempol nya.
__ADS_1
"Yang lain gimana?? suka juga kan??" tanya Dita ke anak anak yang lain. Mereka mengangguk mantap untuk pertanyaan Dita
"Okey sayang.. tunggu disini dulu ya, bunda ngurus sebentar di ruang kepala sekolah nya" ujar Dita, mereka mengangguk.
Tak lama lewat lah tiga serangkai yaitu Zico, Jeno dan Dani. Mereka tidak terlalu memperhatikan wajah anak-anak yang mereka lewati tapi mereka sekilas saja melihatnya.
Setelah mereka melewati ke empat bocah itu. Mereka seakan familiar dengan wajah itu. Apa lagi Dani yang melihat wajah Daisya.
"Kok tadi wajah perempuan itu mirip sekali dengan ku ya, betul betul mirip" ujar Dani dalam hati.
"Hmm.. mungkin mirip aja kali ya, secara kan kita memang punya kemiripan di dunia ini" lanjut Dani.
"Kenapa wajah mereka mirip kak Zidan ya, tapi versi perempuan" ujar Jeno seakan ia lupa kalau wajah Zico juga memang mirip Zidan. Jeno membatin dan penuh tanda tanya melihat bocah kembar itu.
Sedangkan Zico tidak melihat apa pun, ia tidak memalingkan wajahnya ke arah empat bocah tadi. Ia lurus menatap ke depan.
Mereka tetap dengan langkah nya menuju ke kelas mereka.
...Author ingin kasih tau bahwa Para bocil bocil itu udah SD ya bukan Tk ...
Tak lama Dita menghampiri anaknya.
"Sayang kita pulang ya, urusan nya udah selesai" Ujar Dita.
"Tapi bunda bukannya kami mau sekolah kok pulang?" tanya Syasya kebingungan.
"Iya sayang sekolah. Tapi gk hari ini, besok pagi sekolah nya. kita beli seragam dulu hari ini ya" jawab Dita.
"Owh... gitu bunda.. " ucap Syasya.
"Iya sayang.. kita pergi beli seragam nya dulu ya. " ujar Dita.
"Iya bunda" jawab ke empat bocah itu. Dita tersenyum kearah mereka. Dita sangat bersyukur Tuhan masih memberikan anak-anak yang penurut dan penuh kasih sayang kepadanya.
Dita sedikit menghela nafas, ia kembali mengingat putra pertama nya. Dita ingin sekali melihat anak nya. Itulah salah satu alasan yang membuat Dita enggan kembali ke kota ini, ia akan kembali mengingat seseorang yang tidak bisa ia peluk di masa depan.
Dita kembali mengingat anaknya di karena ketika ia di ruangan kepala sekolah itu pintunya sedikit terbuka sekilas Dita melihat wajah anak laki-laki yang mirip dengan bayinya yang ditinggalkannya. Insting Dita mengatakan bahwa itu Zico anaknya, tapi Dita menepisnya karena ia tau itu tidak mungkin.
...****************...
...Sabar ya kak Dita.. nanti juga ketemu kok sama bayi kak Dita yang udah besarš¢...
__ADS_1
...TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INIš¤ LOVE YOU ALL ā¤ļø...