Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Dita Hamil Lagi


__ADS_3

"Tika?? kamu cepat sekali datang" ujar Dita yang baru saja memasuki toko rotinya.


"Hehehe.. ada sesuatu yang aku mau tanya sama kakak, makanya cepat datangnya" jawab Tika dengan tawa cengir nya.


"Kamu mau bicara tentang apa Tik? kan biasanya kamu bicara melalui telepon"


"Itulah Dit, aku juga terkejut tadi. Aku kira Tika sedang tidak enak badan atau masih dalam tidur nya datang ke sini" canda Rina.


"Gak ada ya mbak. Aku sadar ke sini, ada ada aja mbak Rina" Tika geleng-geleng kepala.


"Ya sudah.. mari kita bicara di atas" ajak Dita.


"Iya kak"


Baru melangkah tiba tiba langkah Dita terhenti. "Rina tidak ikut?" tanya Dita melihat sang sahabat yang masih mengelap meja di toko.


"Ah.. aku tidak ikut Dit, kalian saja bicara. Aku akan menjaga toko dulu, Tania belum sampai lagi dan juga kuenya sebentar lagi matang" jawab Rina.


"Ya sudah.. kita bicara di sini saja" balas Tika.


"Boleh Tik"


"Tapi apa tidak apa jika aku mengetahui apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Rina yang merasa tidak enak hati.


"Ya ampun mbak.. gak lah mbak. Mbak kan juga bagian dari keluarga kami. Kita satu keluarga juga mbak. Mbak yang selama ini sudah selama kami. Diantara kita tidak ada rahasia mbak"


"Tadi aku sengaja mengatakan sesuatu yang penting agar aku mengatakan nya sekalian jika ada mbak Dita. Jadi aku tidak mengatakan nya dua kali" ucap Tika.


"Baiklah.. kita bicarakan di sini saja" ucap Rina.


Mereka bertiga duduk bertiga di meja toko roti.


"Kamu mau bicara apa ?" tanya Dita.


"Begini kak, apa kak Dita merasa ada yang aneh dengan bang Zi?"


"Maksud kamu?" tanya Dita bingung.


"Maksud aku tuh, bang Zi ada memunculkan sikap yang aneh dari biasanya tidak? misalnya dia lebih manja, atau lebih cepat marah, ngambek, sensitif, cengeng, atau seperti anak kecil?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Tik? emang kamu ada lihat Zidan berubah gitu?" tanya Rina mulai khawatir, dalam pikirannya ia memikirkan kalau Zidan punya perempuan lain selain Dita.


"Enggak sih, tapi aku denger dari teman aku yang bekerja di rumah sakit tempat bang Zi kelola. Katanya bang Zi berubah tidak seperti biasanya. Semua wangian di rumah sakit di ganti dengan wangi jeruk semuanya. Bahkan yang paling anehnya lagi adalah jika ada dokter atau perawat yang ingin menjumpai ataupun sebagai pembantu dalam mengoperasi pasien maka bang Zi melarang mereka semua menggunakan parfum apa pun selain wangi jeruk" jelas Tika.


"Hah!!" balas Dita terkejut.


"Kalau wangian sih itu benar, dirumah pun dia kadang tidak bisa mencium sesuatu yang agak menyengat padahal biasanya dia tidak mempermasalahkan itu"


"Berarti benar ya, Wah...." balas Tika berbinar-binar yang membuat Rina dan Dita bingung.


"Kenapa kamu bahagia Tik? aku heran dengan jalan pikiran mu" ucap Rina masih dalam bingung.

__ADS_1


"Ya .. karena sebentar lagi aku akan mendapatkan keponakan baru"


"Hah?? maksud mu apa?"


"Aduh kak.. masa gak tau. Bang Zi juga mual di pagi hari kan?" tanya Tika di angguki Dita.


Rina masih sibuk dengan pemikiran yang tiba tiba lambat loading. Namun.."Ah.. aku paham maksud mu Tik, jadi sekarang Zidan sedang mengalami morning sickness yang di alami ibu hamil tapi di alami sama Zidan kan Tik?" tanya Rina.


"Iya mbak"


"Wah.. kamu cepat periksa Dita mana tau kamu memang sedang mengandung lagi Dit" balas Rina.


Dita membulatkan matanya. "Ah.. aku paham. Sebenarnya aku juga memikirkan ke arah sana, tapi aku kurang yakin. setelah mendengar perkataan kalian aku jadi yakin apa lagi aku telah telat datang bulan selama hampir satu bulan ini"


"Iya mbak.. periksa saja. Mana tau memang benar"


"Ok.. nanti aku beli alat tes kehamilan, jika memang ada maka akan aku periksa ke rumah sakit"


"Iya Dita. Lebih bagus lagi kamu periksa nya di rumah sakit Zidan" usul Rina.


"Ya.. nimbang nimbang kasih kejutan gitu" lanjut Rina.


"Iya kak, aku setuju dengan usulan mbak Rina"


"Baiklah." balas Dita dengan senyum dan mengelus perut nya yang masih datar itu.


"Semoga kamu sudah hadir di rahim bunda sayang" batin Dita.


"Ya sudah kak, aku pamit pulang dulu. Aku mau ke pasar belanja sebentar, biasalah kak stok di rumah sudah habis"


"Hehehe.. iya mbak, soalnya aku penasaran" balas Tika dengan kekehan.


"Dasar kamu" Rina menggeleng geleng kepala nya.


"Aku pamit ya. Jangan lupa kabari berita baiknya kak" Dita mengangguk kepalanya.


"Hati hati" balas Rina dan Dita.


Tika berlalu pergi meninggalkan toko. Tinggal lah Rina dan Dita.


"Ayo Dita, kamu beli alat tes itu, mumpung ini masih pagi. Kata orang hasilnya akan akurat jika pagi hari" ujar Rina


"Iya Rin, aku titip toko ya"


"Okeh"


......................


Lima belas menit berlalu, akhirnya Dita pulang dengan membawa alat tes kehamilan itu dan segera memeriksanya di kamar mandi.


Rina yang menunggu di luar harap harap cemas. Ia berharap Dita benar benar hamil tapi ia juga takut nanti Dita kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan.

__ADS_1


"Mbak!!" sentuhan tangan Tania di pundak Rina yang membuat Rina terlonjak kaget.


"Tania... kau membuat ku kaget saja" ucap Rina mengelus dadanya.


"Maaf mbak.. Aku tidak sengaja." ucap Tania.


"Mbak nunggu siapa sih, kok dari tadi aku lihat mbak maju mundur terus di depan kamar mandi ini"


"Aku lagi tunggu Dita"


"Memang mbak Dita lagi apa?"


"Dia lagi mengetes urine"


"Tes urine untuk apa?"


"Ish.. kau ini. Ya untuk memastikan apa benar Dita hamil atau tidak"


"Apa!! mbak Dita hamil?" pekik Tania.


"Tan.. pelan kan suaramu. Kita belum tau pasti. Makanya aku menunggu Dita keluar baru kita tau kebenaran nya"


"Hehehe.. iya mbak.. Aku tunggu juga lah"


Tania dan Rina menunggu Dita keluar dari kamar mandi. Sepuluh menit berlalu dan akhirnya yang mereka tunggu menampakkan batang hidungnya.


"Bagaimana Dit? apa hasilnya" tanya Rina dengan sangat antusias.


"Hmm.. aku.. .. aku hamil Rin" ucap Dita tersenyum.


"Hah!! akhirnya.. selamat Dita" ucap Rina memeluk sang sahabat.


"Selamat mbak" saut Tania tak kalah bahagia dan memeluk tubuh Dita.


"Makasih banyak. Aku sangat bahagia"


"Iya.. Sekarang kamu ke rumah sakit periksa lebih lanjut dan juga kejutan untuk Zidan" ucap Rina.


"Iya Rin"


"Apa perlu Tania temani mbak?" tanya Tania, ia khawatir jika ada sesuatu menimpa Dita.


"Tidak perlu Tan, Dita akan di temani suami nya nanti" balas Rina.


"Oh.. ok"


...****************...


Jangan lupa untuk


Like

__ADS_1


Komentar


and Vote πŸ˜‰πŸ€­


__ADS_2