
Zidan dan adik adik nya tidak membunyikan klakson mobil nya, tapi mereka langsung keluar dari mobil.
Tok...tok..
"Bunda... ayah udah datang" Ucap Zifa.
Selain tiga serangkai keempat anak yang lain langsung berlarian ke arah pintu untuk menyambut ayah, papa dan Daddy mereka.
"Eh.. kalian" ucap Zidan melihat anak anak yang membuka pintu.
Zifa dan Zafa langsung berhamburan memeluk ayahnya. Daisya juga memeluk Ryan meskipun sedikit malu. Sedangkan Angga dan El sama sama tercengang menatap wajah satu sama lain.
"Ini memang anakku, dia sangat mirip dengan ku" batin Angga.
"Daddy" panggil El dengan suara mungilnya.
"Iya sayang, nama kamu El kan" tanya Angga.
El mengangguk mengiyakan ucapan Angga.
"Daddy El juga tampan ya kak" ucap Ifa.
"Tampanan mana? Ayah atau Daddy Angga?"
tanya Zidan pada kedua putrinya.
"Tampan ayah Ifa lah tapi manis Daddy Angga" ujar Zifa tertawa.
Ryan dan Angga tertawa puas mendengar ucapan Zifa.
"Mana ada.. Daddy El juga tampan kok, nanti ketika El Dewasa pasti El kayak Daddy" ujar El.
Angga memeluk tubuh mungil El.
"Jelas dong sayang" balas Angga.
"Eh iya sayang... Dani mana Sya?" tanya Ryan.
"Masih di dalam papa, tadi kami keluar terus mendengar ada yang ketok pintu dan ternyata papa datang" jawab Syasya.
"O... Ya udah panggil Dani sayang biar kita berangkat ke sekolah agar tidak terlambat" ucap Ryan.
"Iya papa, sebentar ya"
Daisya masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil tiga serangkai.
"Dani... bang Zico... bang Jeno.. ayok buruan, kata papa kita mau berangkat" Daisya sedikit berteriak.
"Iya.." jawab mereka.
"Ayok bunda.. jadikan nganterin Zico ke sekolah" Zico menarik tangan Dita.
"Eh.. iya sayang" Dita gelagapan.
Jeno dan Dani juga melakukan hal yang sama menarik tangan ibu mereka untuk nganterin mereka ke sekolah.
"Papa.." ujar Daisya yang baru keluar berdiri di depan Ryan. Ryan langsung menyetarakan tinggi nya dengan putrinya.
"Iya sayang.. mana Dani"
"Udah mau keluar kok"
"Baiklah.. "
Mereka menunggu sebentar, bukan hanya putra nya yang muncul tapi juga dengan mantan istri nya.
Zidan tersenyum melihat Dita. Ryan sedikit tertegun sedangkan Angga menatap tajam ke arah Tika.
Tika yang tau arti tatapan Angga hanya menampilkan wajah yang biasa saja.
"Hemmm.... boleh kan bunda juga ikut nganterin Zico dan adik kembar ke sekolah?" tanya Zico ke Zidan.
"Iya boleh kok" ujar Zidan.
"Mama juga boleh kan?" tanya Dani. Ryan mengangguk kan kepala nya.
"Kalau mommy pasti boleh kan?" tanya Jeno.
"Iya sayang... ya udah ayo" ajak Angga.
Mereka akhirnya berjalan menuju mobil.
Dita membuka pintu belakang, anak anak masuk. Tiba Dita yang ingin masuk juga, langsung Zico menutup pintu kembali.
"Bunda di depan saja, di sini sempit" ucap Zico.
Dita menelan ludahnya.
"Eh..iya sayang" Dita malu.
__ADS_1
Zidan yang ingin berjalan ke sisi Dita untuk membukan pintu Dita langsung mengarah tangannya untuk berhenti.
"Gk usah.. aku bisa sendiri" ujar Dita membuka pintu dan langsung duduk di kursi depan.
"Gagal deh" batin Zidan.
Zidan akhirnya kembali ke sisi kemudinya dan duduk memasang seatbelt dan melajukan kendaraannya.
Di mobil Ryan masih berdebat disebabkan Vina tidak mau duduk di depan sampingnya.
"Mama duduk di depan saja, disini jadi sempit ya kan El?" ujar Jeno.
"Iya mama di depan aja"
"Gk ah.. mama di sini saja sama kalian" Vina tidak mau kalah.
"Ayo lah ma, di depan saja" bujuk El
"Duduknya di depan saja Vina, sejak kapan sih kamu mulai keras kepala" ujar Ryan.
"Sejak tujuh tahun lalu" sindir Vina
"Ya udah kalau gk mau di depan" Ryan mengalah.
"Mama cepetan pindah, di samping dia aja. Kasian tu duduk sendiri" usir Jeno.
"Meskipun Jeno masih marah tapi sepertinya aku dapat dukungan dari nya" batin Ryan bahagia.
"Hmmmmm... baiklah mama pindah" Tika mengalah karena anak anaknya.
Vina keluar dari kursi belakang menuju ke kursi depan.
"Vin.. nanti berangkat bareng aku kan?" tanya Ryan.
"Gk.. aku belum ganti baju lagi"
"Gk apa nanti kita kembali ke rumah kamu dan barengan ke kantor sama aku"
"Tapi... aku gk mau jadi bahan gosip nanti"
"Gk ada yang berani menggosipkan kita"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapian" ucap Ryan sudah tidak sabaran.
"Iya iya.. baiklah" Vina mengalah dengan kesal.
"Hehehe.. aku menang" batin Ryan kesenangan.
Ketika kedua mobil sudah pergi. Mobil Angga juga sudah melaju. Tidak ada drama Tika yang tidak mau duduk di samping Angga.
Tika terpaksa duduk di kursi sebelah Angga, karena Angga menatap tajam seakan akan menerkamnya jika Tika menolak.
Akhirnya ketiga mobil mendarat sempurna di depan gerbang sekolah. Anak anak segera keluar, mereka pamit kepada kedua orangtuanya yang telah mengantarkan dan melambaikan tangan tanda perpisahan.
*Mobil Zidan
"Kau ku antar ke mana Dit?
"Ke rumah saja"
"Kau tidak buka toko roti hari ini?"
"Buka.. tapi aku lupa bawa kuncinya, jadi antar aku ke rumah saja"
"Aku tunggu kamu saja mengambil kunci setelah itu baru aku antarkan ke toko"
"Jangan.. nanti kamu terlambat ke rumah sakit"
tolak Zidan.
"Gk kok Dit, gk apa telat dikit kan aku direktur nya"
"Mentang mentang direktur seenaknya aja gitu, mana boleh kamu seharusnya memberikan contoh yang baik kepada bawahan mu. Biar nanti mereka tau kalau kamu memang pantas jadi direktur dan agar mereka disiplin waktu" omel Dita tanpa sadar.
Zidan ternganga dan sedetik kemudian dia tersenyum.
"Kau mengomeli diriku seperti aku ini suami mu saja Dit"
"Eh.. maaf.. aku tidak bermaksud mengomeli dirimu, hanya saja saran dari ku sebagai orang dewasa"
"Tapi aku suka kok kau mengomel padaku, aku senang lagi"
Dita tidak membalas ucapan Zidan, Dita membuang wajah nya ke arah jendela mobil untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
Zidan terkekeh geli melihat wajah Dita yang memerah dan itu menggemaskan buat Zidan.
*Mobil Angga
__ADS_1
"Cepat cerita kan pada gue, kenapa kamu nutupin kehadiran El Tik"
"Aku gk nutupin kok, aku saja baru tau kalau di rahimku ada bayi setelah sebulan berpisah dengan mu"
"Jadi sebelum kamu tidak tau"
"Ya enggak lah"
"Kalian hebat ya bisa menyembunyikan hal ini selama bertahun-tahun"
Tika diam tidak membalas ucapan Angga.
"Kau sendiri sama dengan ku, kau lebih jahat lagi masa Jeno selam tujuh tahun ini manggil kamu kakak" sindir Tika.
"Itu memang kesalahan ku Tik, aku sangat menyesal karena hal itu. Sekarang Jeno menjauhi aku dan marah padaku" sesal Angga.
"Itu memang pantas untuk mu karena kelakuan mu sendiri"
"Iya.. aku tau itu"
"El sangat mirip ya dengan ku, apa kau ketika mengandung El mengingat aku Tik" bangga Angga.
"Gk.. ngapain coba ingat kamu gk ada manfaatnya" elak Tika.
"Ada manfaatnya supaya anak kita tampan juga seperti aku"
"Bangga saja dengan ketampanan mu itu"
"Harus bangga dan bersyukur lah"
"Terserah kamu"
Angga tertawa melihat kekalahan Tika.
*Mobil Ryan
Mobil Ryan terparkir rapi di depan rumah Vina. Ryan sedang menunggu Vina mengganti kan bajunya.
"Kok Vina kejam sih, aku gk di ajak masuk lagi. Tapi aku senang Vina akhirnya mau barengan sama aku" ucap Ryan tertawa geli sambil mendudukkan pantat nya di depan mobil nya.
"Ayo!" ujar Vina membuat Ryan menyudahi tawa nya.
Vina langsung masuk tanpa perlu Ryan membuka pintu mobil.
Ryan sudah memasangkan seatbelt nya, sedangkan Vina tampak kesusahan memasang seatbelt nya.
"Kenapa ini malah macet, sedangkan tadi tidak" ucap Vina dalam hati.
Ryan menyadari Vina belum memasang seatbelt nya.
"Kenapa belum memasang nya?" tanya Ryan.
"Ini sangat susah" ujar Vina sembari menarik seatbelt itu.
"Masa? perasaan tadi baik baik saja, sini aku bantu" Ryan melepaskan seatbelt agar mudah menggapai seatbelt Vina.
Ryan menarik keras seatbelt Vina.
"Kok jadi susah ya"
Ryan akhirnya lebih mendekatkan diri pada Vina agar mudah menarik seatbelt itu.
"Aduh.. kok gue gugup sih" batin Vina melihat wajah Ryan sangat dekat dengan wajahnya.
Ryan tidak sadar kalau wajah mereka sangat dekat sebab ia fokus menarik seatbelt nya.
Akhirnya setelah berusaha seatbelt terpasang sempurna.
"Akhirnya..." ucapan Ryan terputus setelah menyadari jarak mereka sangat dekat hampir seperti orang yang berciuman.
Ryan memandang wajah Vina lekat lekat, tatapan Ryan jatuh pada bibir Vina. Vina sedikit terbuai dengan tatapan Ryan sebelum kesadaran nya muncul kembali.
"Eh.. sudah siap, terimakasih" ucap Vina mendorong tubuh Ryan agar menjauh darinya
Ryan hanya diam dan melajukan mobilnya ke kantor.
"Aku seperti serangan jantung saja tadi, jantung ku berdetak sangat kencang" ucap Ryan dalam hati sembari mengelus dada nya.
...****************...
Jangan Lupa
Like
Komentar
and Vote 😉
...Terimakasih banyak atas dukungan kalian para reader kesayangan untuk cerita ini🤗...
__ADS_1