
Hari ini Vina akan ada wawancara eksklusif dengan Direktur utama perusahaan itu. Vina sangat gugup takutnya ia malah tidak jadi bekerja.
Vina mendengar bahwa direktur utama itu sangat galak dan tak berbelas kasian kepada siapa pun, meskipun begitu Vina akan tetap kembali semangat. Apapun keputusan nya nanti ia akan menerima nya dengan lapang dada.
Perusahaan di bawah naungan Malik Company jadi anaknya yang pasti Deni Andrian Malik. Malik Company memiliki berbagai gedung yang hebat, seperti Rumah Sakit Permata hati yabg di kelola oleh Zidan. Perusahaan D.A.M yang di kelola oleh Ryan yang bergerak di dalam proyek pembangunan, sedangkan Angga mengelola hotel dan restoran ternama di kota itu.
Tuan besar Malik sudah pensiun jadi ia menyerahkan sepenuhnya kepada putra putranya. Ia beristirahat dari penat kerja yang selama ini ia kerjakan.
Dan alangkah sialnya Vina tidak mengetahui asal usul perusahaan itu.
Kegundahan hati Vina makin bertambah setelah melihat ada beberapa orang yang di wawancara oleh direktur utama ada nya tidak lolos. Sekarang tinggallah Vina dan dua orang lainnya yang sedang berdoa agar di lulus kan dari tahap terakhir ini.
Perusahaan itu mencari dua orang untuk dua jabatan yaitu sekretaris dan karyawan biasa. Vina tidak memusingkan diri jika ia hanya di terima sebagai karyawan biasa, baginya yang penting bekerja dan gaji yang di terima sebagai karyawan biasa pun lumayan besar. Diterima saja ia sangat bersyukur.
Vina menunggu lama dan akhirnya namanya di panggil. Ketika masuk ke ruangan, ia melihat ada tiga meja, berarti ada tiga orang yang akan mewawancarai dirinya. Tapi Vina melihat meja tengah yang bertuliskan direktur utama itu terlihat kosong, "mungkin orang nya sedang di kamar mandi atau apa" batin Vina.
Dua orang lainnya mulai mengajukan pertanyaan ke pada Vina, Vina dengan semangat menjawabnya. Setelah pertanyaan habis di tanya kan sekarang mereka sedang menunggu direktur yang izin ke kamar mandi. Pertanyaan terakhir akan di ajukan oleh direktur utama itu.
Vina mulai merasakan perasaan tidak enak, "kenapa aku menjadi gelisah sih? Vina lupakan gosip gosip yang kau dengar tentang direktur itu, anggap saja hanya akal akalan mereka, kau belum bicara langsung dengannya" gumam Vina.
Akhirnya yang tunggu datang juga. Betapa terkejutnya Vina melihat mantan suaminya itu. Ryan yang melihat ke arah Vina bukan main terkejut nya. Seketika ingatan tujuh tahun yang lalu mulai menari nari di kepala Ryan.
Ryan masih berdiri dan menantap Vina. Mendapatkan tatapan seperti itu membuat Vina menunduk. Perasaan campur aduk antara senang, takut, gelisah dan malu. Senang karena ia bertemu kembali dengan Ryan maka ia akan bertemu dengan putra nya, takut dan gelisah karena takut Ryan mengetahui keberadaan putri mereka, dan malu karena Ryan terlalu dalam dan lama menatap dirinya.
"Pak.. bisa kita mulai wawancara nya?" ujar salah satu nya.
"Ekhemmm.... iya..bisa" Ryan gelagapan dan duduk kembali di kursinya.
Setelah Ryan duduk bukannya langsung menanyai Vina malah masih setia menatapnya. Seketika itu membuat dua orang di sebelah Ryan keheranan. Sebab Ryan setahu mereka Ryan orang nya tidak terlalu suka melihat wajah orang lain apa lagi wajah wanita, tapi pada peserta ini agak aneh menurut mereka.
Vina masih gugup dan menunduk. "Ih.. itu orang ngapain sih natap aku mulu, aku harus tenang dan menghadapi dirinya, dia pikir aku masih seperti Vina yang dulu polos ah" batin Vina. Ia memberikan diri melihat ke arah Ryan dan bersikap setenang mungkin.
Ryan yang kembali di tatap langsung menelan saliva nya. Ia berdehem dan tiba-tiba berdiri.
"Kau di terima, kau akan menjadi sekretaris ku, satu jam lagi asisten ku akan memanggil mu, sekarang keluar lah" ujar Ryan tegas.
"What!! apa apaan ini?? wawancara apa ini?? begitu mudahnya aku di terima" batin Vina keheranan mendengar ucapan Ryan.
Mau tak mau Vina keluar dari ruangan wawancara itu. Tiba di luar ia duduk kembali di kursi yang ia duduk ketika menunggu giliran wawancara.
Satu jam berlalu, Vina mulai bosan. Kata Ryan asistennya akan memanggil nya. Tapi sang asisten belum muncul muncul juga.
__ADS_1
"Nona Vina kan?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah asisten Ryan.
"Iya pak"
"Ayok saya antar ke ruangan direktur, beliau sudah menunggu anda disana" ujar asisten itu lagi.
"Iya baik" jawab Vina.
Dalam setiap langkah menuju ruangan direktur ia berdoa semoga Ryan tidak buat macam macam padanya. Ia sungguh takut melihat kepribadian Ryan sekarang, ia berbeda jauh dari dulu. Ryan yang dulu sangat tegas tapi ada kelembutan di dalam matanya, sekarang malah makin menjadi sangat dingin dan kejam.
"Dia akhirnya kembali, aku sudah menunggu lama saat ini. Aku berharap ia masih sendiri" senyum sendu Ryan sambil menghela nafas beratnya.
Tak lama setelah itu terdengar ketokan pintu, orang yang ditunggu datang.
"Silakan nona"
"Iya.. terimakasih" Vina tersenyum kepada sang asisten.
Melihat Vina tersenyum manis kepada sang asisten seketika membuat hati Ryan terasa panas. Ia merindukan senyuman itu tapi malah sang asisten duluan yang mendapat kannya.
"Dion.. ambilkan kontrak kerja yang telah di sepakati, bawa kesini" mode datar dan tegas Ryan on.
"Baik pak" asisten menunduk dan berlalu meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Bagaimana keadaan mu?" Ryan tiba-tiba bertanya.
"Saya baik baik saja pak. Bagaimana dengan Dani? maaf jika saya lancang" Vina langsung menanyai keadaan putra nya.
"Ia baik baik juga. Kamu tidak menanyai keadaan diriku?" tanya Ryan dengan harap.
Vina melotot matanya, sejak kapan mantan suaminya itu peduli dengan sapaan orang lain.
"Ekhemm... Bapak sedang disini di hadapan saya, berarti bapak baik baik saja" ujar Vina dengan senyum tak ikhlas nya.
Ryan seketika tersenyum mendengar ucapan Vina dan merasa lucu dengan kesalnya Vina. Ryan rindu dengan ekspresi itu.
"Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Ryan dengan mode serius.
"Maaf pak saya tidak bisa menjawab, itulah adalah ranah pribadi saya" santai Vina.
Ryan mendengus kesal dengan jawaban Vina.
__ADS_1
"Kamu tinggal dimana?" tanya nya lagi.
"Maaf ya pak untuk urusan seperti itu anda bisa lihat di berkas saya saja, Saya terlalu malas menjawab pertanyaan seperti itu" ujar Vina. Ryan hanya terdiam.
"Apa saya boleh bertanya??" tanya Vina
"Iya silakan" jawab Ryan.
"Kenapa bapak menerima saya?? saya belum berpengalaman dalam bidang ini, saya juga baru mulai bekerja, kalau saya buat kesalahan bagaimana?" Vina mengspam pertanyaan kepada Ryan.
"Iya.. aku tau kamu belum pernah bekerja tapi saya bisa mengajarkan kamu" jawab Ryan dengan senyuman.
"Nih orang setelah tujuh tahun gk sama aku lagi kok makin ngeres ya otaknya makin alay" batin Vina merasa sekarang Ryan menjadi sosok yang berbeda.
Tak lama setelah itu datang lah asisten yang membawa kontrak kerja.
Vina membaca poin poin yang tertera. Vina merasa sedikit sama rasanya kontrak kerja dengan kontrak pernikahan nya dulu. Yaitu, ia mulai bekerja besok, selama bekerja ia tidak boleh mengundurkan diri sebelum satu tahun bekerja, jika ia mengundurkan diri maka akan di denda. Ketika direktur keluar kota maka Vina harus ikut dengannya. Ketika sedang bekerja ia tidak boleh mengangkat dan menelpon siapa pun kecuali dalam keadaan darurat.
Vina menggeleng geleng kan kepala membaca kontrak kerja itu, tapi mau bagaimana mana pun ia harus bekerja. Mau tak mau ia menandatangani kontrak kerja itu.
Melihat Vina sang mantan istri menandatangani kontrak, Ryan tersenyum senang dan bahagia di dalam hatinya. Seakan ia telah berhasil memasukkan rusa liar dalam perangkap nya.
"Itu adalah cara ku mengikatkan mu kembali sayang" batin Ryan dengan senyuman tak terbaca itu.
Vina tidak tau bahwa kontrak itu bisa membuat dirinya terjebak kembali.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...Abang Ryan makin aneh ya🤭...
...TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI...
... 🤗❤️...
__ADS_1
...maaf kalau ada yang typo😌...