
Keesokan paginya nya mereka menikmati sarapan pagi.
"Ibu... anak anak kemana?" tanya Zidan.
"Kamu baru pulang ya nak?" ibu malah bertanya balik pada Zidan.
"Iya Bu.. soalnya semalam banyak korban kecelakaan mobil beruntun, kami jadi sibuk semalaman merawat pasien" jawab Zidan menyendok nasi.
"Apa sekarang baik baik saja?" khawatir ibu.
"Sudah Bu, keadaan dapat di kendalikan" ucap Zidan.
"Baguslah.." lega ibu.
"Oh iya.. ibu belum menjawab pertanyaan Zidan. Kemana anak anak dan yang lainnya?" Zidan kembali mencari jawaban.
"Adik adikmu pergi ke kantor lebih pagi hari ini, ayahmu bertemu temannya, sedangkan anak anak menginap di rumah temannya" ujar Ibu.
"Apa!! menginap di mana?" sentak Zidan terkejut.
"Ibu tidak terlalu tau alamat nya, tapi mang Kardi tau" jawab ibu.
Sebenarnya ibu tau hanya saja ibu sudah berjanji dengan cucu cucu nya.
"Kenapa ibu mengizinkan mereka tinggal di rumah orang lain?" Zidan tidak terima.
"Ibu awalnya tidak mengizinkannya tapi mereka memaksa ibu, akhirnya ibu terpaksa mengizinkan mereka" Ibu menjawab dengan lemah.
"Mereka memang keras kepala" gumam Zidan.
"Sama seperti dirimu" potong ibu.
"Berapa lama mereka di sana?"
"Satu Minggu"
"Apa!! kenapa lama sekali" Zidan kembali memekik.
"Mereka mengatakan kepada ibu bahwa seminggu adalah waktu yang cukup untuk membuat mereka menerima kenyataan akan kebenaran yang baru mereka tau "
"Hemmm... seperti nya mereka sangat stress dengan kebenaran ini. Aku sangat menyesal seharusnya dulu aku mendengar kan ucapan ibu untuk mengakui keberadaan mereka. Namun aku sangat keras kepala, sekarang keadaannya malah semakin rumit" lesu Zidan.
"Menyesal boleh tapi sekarang yang harus dilakukan adalah memperbaiki hubungan kamu dengan anak kamu dan memberikan seorang ibu di sisi nya" nasehat ibu.
"Ibu menyuruh ku untuk menikah lagi? aku tidak bisa ibu" Zidan sedikit meninggi kan suaranya.
Zidan mudah marah dengan yang namanya pernikahan π. Ia tidak ingin menikahi siapapun.
"Tapi ini juga demi kebaikan Zico nak"
"Zidan gk mau menikah dengan siapa pun" ujar Zidan masih sedikit meninggi.
"Zidan maunya kembali membina rumah tangga dengan ibu Zico bukan wanita lain" lanjutnya dalam hati.
"Baiklah.. itu hanya saran, ibu tidak memaksa. Sebaiknya perbaiki hubungan mu dulu dengan cucu tampan ku itu" ibu menyerah.
Jika terus berdebat tentang menikah dengan Zidan yang ada nanti masalah baru muncul.
"Iya ibu.. "
"Mau kemana?" tanya Ibu melihat Zidan beranjak dari meja makan.
"Mau ke rumah teman Zico menjemput nya untuk pulang" balas Zidan.
__ADS_1
"Sayang.. sebaiknya kamu istirahat saja, lihat lah mukamu sangat pucat dan terlihat sangat lelah" ucap ibu prihatin.
"Besok saja kamu ke sana , biarkan mereka dulu di sana sehari. Nanti jika kalian buru buru menjemput mereka akan berulah lagi" saran ibu.
Zidan menimbang ucapan ibu yang ada benarnya.
"Baik lah Bu... Zidan akan istirahat saja"
...****************...
Di ruangan terlihat CEO tampan dengan raut wajah yang tidak biasa. Kening nya mengerutkan dengan tajam, ia menghadap ke arah jendela dan sesekali menghembuskan nafas berat.
"Kenapa dengannya? seperti sedang berpikir keras saja. Angga sudah punya pikiran ternyata" gumam Tika terkekeh kecil meledek Angga.
Tok tok... tok tok...
Angga menoleh kearah pintu.
"Masuklah"
Dimas memasuki ruangan.
"Ada apa Dim?"
"Begini boss, tentang pekerjaan yang bos suruh kemarin saya sudah menemukan jawabannya"
Dimas melirik Tika. Angga mengerti lirikan Dimas.
"Tika... kamu keluar lah, saya mau bicara sesuatu dengan Dimas" ucap Angga.
"Baik pak.. permisi" ujar Tika sopan.
Setelah Tika menutup pintu, Dimas langsung duduk di Sofa ruangan itu.
"Aneh sih ini tapi ini benar"
"Apa sih... gk jelas banget Lo Dim. Kalau gk ada temuan ya sudah keluar saja"
"Hehe.. sorry boss, jangan marah dong, ini masih pagi"
"Hemmm"
"Jadi begini bos.. setelah di selidiki ternyata selama ini alamat yang tertera di berkas lamaran nona bos adalah alamat kos nona ketika ia keluar dari panti. Makanya ketika bos pergi Minggu lalu tidak menemukan nona bos di sana"
...*Flashback...
"Apa benar di sini ada penghuni yang bernama Kartika Wulandari?" tanya orang suruhan Dimas.
"Tidak pak.. saya sudah lama tinggal di sini tidak anak nama yang bapak sebut kan itu" jawab salah satu penghuni kost.
"Benar kah?"
"Iya pak,, ngapain saya bohong. mungkin orang nya salah tulis atau dia menulis alamat palsu lagi" ucap penghuni lagi.
"Baiklah... terimakasih banyak ya mbak"
"Iya pak, sama sama"
...*Flashback end...
"Baiklah.. seperti nya Tika memang tidak ingin keadaan nya di ketahui, jika seperti itu semakin membuat gue curiga kalau Tika menutupi sesuatu dari gue"
"Nah.. itu bapak tau. Lagian ya bos ternyata nona bos belum menikah lagi"
__ADS_1
"Gue cuma curiga kali Dim, tapi gk tau apa yang di tutupi nya. Seperti nya masih ada kesempatan untuk bersatu kembali" bahagia Angga.
"Tentang anak itu bagaimana?" tanya Angga kembali.
"Ah.. itu, gue hampir lupa bos. Ini foto anak yang bernama El, kira kira dia mirip siapa bos?" pancing Dimas.
Angga memperhatikan anak lelaki yang ada di foto dengan seksama.
"Kok gue familiar sih mukanya, mirip siapa ya"
"Ya elahh bos.. otak pinter tapi malah gk bisa ngenalin anaknya" batin Dimas.
Dimas menepuk keningnya tak percaya.
"Kenapa Lo?"
"Masa bos gk kenal sih dengan wajah nya?"
"Gue pernah lihat tapi gk tau siapa"
"Coba bos ingat ingat lagi, El mirip siapa?"
Lama Angga berpikir namun ia tetap tidak menemukan jawabannya. Maklum sekarang Angga sedang kepikiran Jeno.
"Siapa sih Dimas.. jangan main-main sama gue, bonus Lo gue potong nanti"
"Eh.. jangan dong bos"
"Kalau begitu beritahu gue, anak ini mirip siapa?"
"Menurut pengamatan gue bos, anak ini mirip sama Bos dan Jeno lah"
Angga membola mata menatap Dimas dan beralih menatap tajam pada foto El.
"Iya Dim.. gue baru sadar"
"Ya ampun.. bos seperti nya banyak lagi pikiran ya, memang nya ada masalah apa bos? hotel ini? restoran?"
"Bukan... Jeno sudah mengetahui kebenaran bahwa gue ayah nya dan sekarang ia menginap di rumah temannya"
"Bagaimana bisa bos?"
Angga menceritakan semuanya pada Dimas. Hanya Dimas yang mengetahui pernikahan Angga meskipun ia tidak datang di pesta pernikahan tujuh tahun lalu.
"Jadi bagaimana mana anak itu bisa mirip denganku?" tanya Angga kembali.
"Mungkin nona hamil lagi ketika nona pergi tujuh tahun lalu dari rumah"
"Hemmm... tapi kenapa Tika memilih menutupi nya?"
"Mungkin nona takut bos akan merebut anak itu"
"Ya sudah... sekarang kamu cari bukti bahwa El anak ku apa bukan, meskipun aku yakin dia anakku. Tapi bukti harus tetap di temukan agar nanti Tika tidak dapat mengelak lagi"
"Baik bos.. saya mengerti. Kalau begitu saya pamit dulu"
Tika kembali memasuki ruangan kerjanya setelah Dimas pergi.
Tika melihat Angga sedang menatap tajam kearah nya melalui ekor matanya.
"Kenapa lagi tu anak. Tapi sebelum bertemu Dimas melamun tidak jelas sekarang malah menatap gue dengan tatapan tidak jelas" gumam Tika.
...****************...
__ADS_1