Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Berbaikan


__ADS_3

Tiga serangkai sedang menikmati makan malam bersama nenek dan kakek. Mereka sudah mulai terbiasa dengan panggil baru itu.


"Sayang.. kok makanya sedikit sekali? apa masakannya tidak enak?" tanyanya pada Dani.


Dani tidak menjawab ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa Dan? kamu rindu mama ya?" tanya Jeno.


"Iya bang.. kenapa sekarang rasanya sangat tidak menyenangkan sama sekali" ucap Dani menunduk.


"Sabar Dan.. kita harus membuat ibu dan ayah kita kembali dulu. Kita harus berusaha dulu Dan" ujar Zico menepuk pelan bahu Dani.


Dani menoleh ke arah Zico.


"Iya bang.. "


"Ya udah.. kalian makan ya sayang.. sebentar lagi ayah kalian akan pulang. Nenek sudah memberitahu kepada ayah kalian bahwa kalian sudah pulang"


"Iya nenek"


"Ayok kita lanjutkan makannya" saut Ayah.


"Iya kek"


Setelah selesai makan malam tiga serangkai pamit ke kamar tidur masing-masing. Ibu dan ayah sedang bersantai di ruang televisi.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tiga CEO tampan telah menampakkan batang hidungnya di mansion mewah itu.


"Ibu.. mana anak-anak?" tanya Zidan.


"Mereka di kamar"


"Owh.. baiklah" balas Zidan.


Ryan dan Angga tanpa berbicara mereka melanjutkan langkahnya menuju kamar putra mereka.


"Nak.." panggil ibu membuat ke tiganya menghentikan langkahnya.


"Ada apa ibu?" tanya Angga.


"Begini.. apa kalian belum bisa meluluhkan hati mantan istri kalian?"


Mereka hanya menggelengkan kepala dengan pelan.


"Kasihan putra kalian, seperti nya mereka sangat menginginkan keluarga yang utuh, mereka tadi terlihat menyimpan kesedihan. Apalagi putramu Ryan, Dani nampak tak berselera makannya. Ia merindukan mama nya" ucap Ibu.


"Iya ibu.. kami juga tidak ingin keadaan nya seperti ini. Kami masih harus berusaha lebih keras lagi" balas Zidan.


"ternyata ada juga ya wanita wanita yang menolak pesona kalian" ejek ayah.


"Ini terjadi juga karena tradisi konyol mu itu" balas Angga dalam hati.


"Namanya juga karena udah sakit duluan, maka mereka terlalu takut untuk menerima kami takut akan kesakitan itu muncul lagi" balas Ryan.


"Em.. maaf kan ibu.. ibu tidak bisa melakukan apa pun"


"Ibu tenang saja.. kami akan berjuang hingga akhir. Kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apapun meskipun tingkat keberhasilan nya sangat kecil" ujar Angga semangat.


"Baiklah.. berjuang lah" balas ibu menyemangati.


Zidan mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ucapan ibu.


Tiga CEO tampan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur putranya masing-masing.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


*Kamar Dani


"Sayang.. papa masuk ya"


"Iya"


Ryan memasuki kamar Dani dan terlihat Dani sedang meringkuk di dalam selimut nya.


"Sayang.. kok gitu tidurnya, nanti kamu kepanasan. Papa buka ya"


Dani tidak menanggapi ucapan Ryan. Ryan akhirnya menyibak selimut dengan pelan. Melihat tidak ada penolakan dari Dani, akhirnya Ryan menyibak habis seluruh selimut hingga seukuran pinggang Dani.


Ryan segera duduk di samping Dani ketika melihat putra kecilnya menangis tertahan.


"Sayang.. kamu kenapa menangis?"


"Huaaa.... huaa.." Bukannya menjawab Dani makin mengencangkan tangisannya.


"Sayang.. kamu kenapa?" tanya Ryan sekali lagi.


Dani akhirnya bangun dan memeluk Ryan dengan erat. Ryan tertegun mendapatkan pelukan tiba tiba dari putranya.


"Papa.. apa papa tidak ingin kembali dengan mama?"


"Sayang... kenapa kamu bicara seperti itu, papa sangat ingin kembali dengan mamamu tapi untuk sekarang belum bisa"


"Kenapa?? apa papa punya mama baru"


"Tidak sayang... papa hanya mencintai mamamu, tidak ada perempuan lain"


"Beneran?"


"Iya"


"Kalau gitu papa harus bekerja keras lagi agar mama mau tinggal dengan kita"


"Iya sayang.. terimakasih banyak atas dukungan nya sehingga papa jadi makin semangat" ujar Ryan tersenyum hangat pada Dani dan Dani membalas senyumannya sembari mengangguk.


"Eits... tunggu.. kamu udah maafin papa sayang?"


"Ih.. papa mah itu aja gk ngerti.."


"Makasih sayang" Ryan kembali memeluk Dani.


"Tunggu.. kamu panggil "Papa" sayang?"


"Yah.. udah dari tadi.. kenapa papa lemot sih, katanya pinter"


"Ya ampun sayang.. papa gk ngeh tadi.. coba panggil sekali lagi dong"


"papa" ujar Dani.


"Ya ampun.. anak papa"


"sayang.. malam ini kamu tidur sama papa ya"


"Iya.. tapi di kamar papa"


"Ok.. ayok ke kamar papa saja"


Dani mengangguk dan bangkit dari tempat tidur nya. Ryan menggendong sang putra. Dani awalnya menolak tapi karena Ryan memaksa akhirnya Dani pasrah saja.


Ryan membawa Dani ke kamar nya, ia mendudukkan sang anak di kasurnya. Ryan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


*Di kamar Zico


Zidan mengetok pintu kamar Zico.


Tok..


Tok...


"Siapa? tanya Zico


"Sayang.. bolehkah ayah masuk?"


"Masuklah"


Zidan membuka handle pintu dan melangkah masuk ke kamar Zico.


"Kamu sedang apa?"


"Sedang membuat tugas sekolah"


"Perlu ayah bantu?"


"Tidak usah, Zico bisa sendiri"


"Kamu kangen gk sama bunda?" tanya Zidan tiba-tiba membuat Zico menghentikan aktivitas menulis nya.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Maksud ayah, apa kamu mendukung ayah kembali dengan bundamu?"


"Iya"


"Yang benar?"


"Iya benar, biar bagaimanapun Zico juga ingin memiliki keluarga yang lengkap dan hangat"


"Sayang.. bicara di sini saja" Zidan menepuk kasur.


Tanpa menjawab Zico langsung berpindah tempat di samping Zidan.


"Tapi bagaimana caranya? ayah tidak tau lagi mau bagaimana membujuk hati bunda mu untuk mau menerima ayah kembali" ucap Zidan sedikit sendu.


"Zico mana tau harus bagaimana, itu yang harus nya ayah pikirkan caranya"


"Sayang.. kamu panggil apa tadi?? ayah??"


"Emm"


Zidan memeluk gemas putranya. Zico sedikit meronta karena Zidan terlalu berlebihan memeluk dirinya.


"Ayah.. Jangan terlalu erat, Zico sulit bernafas"


"Hehehe.. maaf kan ayah sayang"


"Zico beneran sudah maafin kebohongan ayah selama ini?"


"Iya"


"Kenapa bisa?"


"Ya karena sebenarnya Zico tidak marah dengan ayah hanya kesal saja, Zico dan adik adiknya mengerti mengapa ayah melakukan itu. Kemarin kakek juga sudah menjelaskan nya. Jadi Zico rasa ayah juga tidak terlalu bersalah"


"Ya ampun.. anak ayah sangat pintar dan pengertian"


"Emm"


"Ayah harus cepat membuat bunda dan adik kembar hidup bersama kita, Zico tidak mau memiliki ayah baru"


"Maksudnya?" tanya Zidan heran.


"Bunda udah ada yang deketin"


"Yang bener? siapa?" tanya Zidan.


"Om Kevin"


"Apa!! ternyata dugaan ku selama ini benar adanya" pekik Zidan di dalam hati.


"Kenapa Zico yakin om Kevin?"


"Karena tadi om Kevin ke toko bunda dan berbincang lama dengan bunda, seperti nya bunda terlihat nyaman dan sangat senang berbicara dengan om Kevin. Di sana juga terlihat bahwa om Kevin seperti nya sangat menyukai bunda, ia memberikan perhatian dan memandang bunda dengan sangat dalam" ucap Zico.


"Ayah harus melakukan sesuatu, agar bunda tidak jatuh dengan pesona om Kevin. Secara kan om Kevin juga tampan, kaya, dokter lagi. Siapa yang tidak mau" lanjut Zico.


"Zico dukung ayah kembali dengan bunda kan?"


"Iya ayah.. Zico sangat mendukung ayah"


"Makasih sayang" Zidan memeluk Zico.


Meskipun dalam otak Zidan tidak tau harus bagaimana, tapi dengan adanya dukungan dari sang putra membuat Zidan semakin semangat.


"Ya udah.. ayah keluar dulu mau mandi, setelah tugasnya selesai langsung tidur ya"


"Iya"


"Ayah.." panggil Zico membuat Zidan memberhentikan langkahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Zidan pelan.


"Ayah mau kan temani Zico tidur di sini malam ini?" Zico memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan Zidan. Sungguh Zico sangat malu pada ayahnya atas permintaan nya.


"Kamu sangat menggemaskan jika malu ya"


Zico makin memerah wajahnya.


"Ya udah.. nanti ayah temani putra ayah tidur, sekarang ayah mau mandi dulu. Nanti ayah balik lagi ke sini" ujar Zidan. Zico hanya mengangguk.


Setelah Zidan kembali ke kamar nya Zico melanjutkan tugasnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


*Kamar Jeno


"Sayang anak Daddy, bolehkah Daddy masuk?"


"Iya"


"Kamu sedang apa?"


"Jeno mau vidcall dengan mommy"


"Daddy juga ikut ya, mau lihat wajah El"


"Okeh" Jeno langsung mendial nomor telepon mommy nya.


Tut..

__ADS_1


Tut.


Tut.


Terlihat di sana wajah Tika dan El yang sedang di atas kasurnya.


"Daddy..." pekik El


"Hai sayang.. balas Angga.


"Mommy.." Panggil Jeno.


"Iya sayang mommy" balas Tika.


"Kenapa El tidak Daddy bawa untuk tinggal bersama? kenapa hanya bang Jeno saja?" tanya El mengernyitkan dahinya.


"Em... nanti sayang.. Daddy pasti bawa El dan mommy kok" balas Angga.


"Beneran ya Daddy? El tunggu loh" tanya El kegirangan.


"Iya sayang"


"Bang Jeno gk mau tinggal bareng El dan mommy di sini?" El beralih ke Jeno.


"Iya dik.. Abang sekarang tinggal dengan Daddy dulu, beberapa hari lagi baru Abang ke sana" ujar Jeno.


"Jeno memanggilku dengan sebutan Daddy" Angga kesenangan dalam hati nya.


"Okeh.. El tunggu"


"Anak Daddy akur ya ternyata" canda Angga.


"Iya.. meskipun El sedikit kesal dengan tingkah bang Jeno yang jail tapi El sudah terbiasa dengan kehadiran bang Jeno"


Tika memeluk El dan mendarat ciuman di puncak kepala El.


"Mommy.. Jeno juga mau di cium begitu" Jeno cemburu melihat pemandangan hangat itu.


Mendengar penuturan putranya Angga mendaratkan ciuman di puncak kepala Jeno.


Jeno menatap ke arah Angga dengan tatapan heran.


"Mommy kan jauh, jadi Daddy saja yang mencium Jeno" ujar Angga santai.


"Em"


"Mommy.. apa kita tidak bisa tinggal bersama? apa selamanya kita akan terpisah begini?" tanya Jeno serius.


Tika dan Angga terkejut atas pertanyaan Jeno.


"Sayang.. " ucap Angga.


"Bisa kok.. tapi nanti ya" balas Tika.


Angga seketika tersenyum mendengar ucapan Tika.


"Kapan mommy?" tanya El.


"Nanti.. iyakan Daddy?" tanya Tika melempar jawaban ke Angga.


"Iya sayang.. nanti" balas Angga.


"Ya sudah sayang.. sekarang sudah larut, besok kita lanjutkan bicara dengan mommy dan El. Lihat lah El sudah menguap dari tadi" ujar Angga.


"Iya Daddy" balas Jeno.


"Dadah Mommy.. Jeno sayang mommy, selamat tidur El dan mommy" ujar Jeno.


"Iya sayang.. " balas Tika.


Jeno menutup teleponnya.


"Sayang... Jeno sudah memaafkan Daddy kan?"


"Enggak" elak Jeno.


"Tadi panggil Daddy kok, panggil lagi dong sayang Daddy mau dengar dengan jelas"


"Ih.. gk mau"


"Ayolah" mohon Angga.


"Daddy.." ucap Jeno.


Angga memeluk tubuh mungil putranya.


"Makasih sayang.. Daddy janji akan membuat mommy dan El hidup bersama dengan kita" ujar Angga mengancung jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V ke udara.


"iya" balas Jeno.


"Jeno gk mau tidur bareng Daddy?"


"Gk.. Jeno tidur sendiri saja"


"Tapi Daddy ingin tidur dengan Jeno, kita tidak pernah tidur bersama sayang"


"Jeno gk mau, Daddy keluar saja tidur di kamar Daddy" usir Jeno.


Angga akhirnya mengalah dan keluar dari kamar Jeno.


Jeno mencoba untuk tidur tapi sudah dari tadi ia tidak bisa tidur, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Jeno tidak ingin terlambat ke sekolah besoknya, ia memikirkan ulang tentang ajakkan Angga. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Jeno melangkah ke kamar Angga.


tanpa mengetok pintu, Jeno membuka pintu kamar dan mencari sosok Daddy nya, tak lama Jeno mendengar pintu kamar mandi di buka dan terlihat sosok yang di cari.


Angga sedikit terkejut melihat Jeno di kamarnya.


"sayang.."


"Daddy.. malam ini bolehkan Jeno tidur di sini?, Jeno tidak bisa tidur" ujarnya malu malu.


"Boleh dong sayang.. ayok" ajak Angga dan menuntun sang putra ke kasur.


Angga membenarkan selimut Jeno dan dirinya. Tak lama Jeno sudah tertidur pulas. Angga tersenyum melihat pemandangan wajah mungil nya sedang tertidur. Angga mendaratkan ciuman di kening Jeno sebelum ikut bersama dengan Jeno ke alam mimpi.


...****************...


...Karena kesibukan author tidak up kemarin๐Ÿ™...


...Semoga para reader masih suka dengan jalan cerita ini....


...Terimakasih dukungan nya atas cerita ini ๐Ÿค—๐Ÿ˜...


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote ๐Ÿ˜‰


__ADS_2