
...πππ...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Selama satu Minggu menyandang gelar menjadi seorang istri. Mereka tidak luput dari keseharian layaknya seorang istri.
Dita membangun kan suaminya ketika pagi hari. Menyiapkan keperluan suami baik untuk urusan kuliah ataupun kantor. Menyiapkan makanan. Mengikat dasi dan tali sepatu suami jika ingin ke kantor.
Vina juga melakukan hal yang sama seperti Dita. Hanya saja jika suami yang lain mandi sendiri. Maka Ryan selalu meminta Vina untuk menggosok kan badannya.
Tika kewalahan dengan Angga. Jika sudah tidur Angga benar seperti kebo, yang susah sekali untuk bangun. Tika kadang kehabisan akal untuk membangun kan Angga dari tidurnya. Pernah ia berpikir untuk menyiram wajah suami nya tapi dia tidak tega juga. Tika mencari cara lain untuk membangunkan suaminya dengan menaikkan volume suara alarm yang menggema seluruh kamar tidurnya, alhasil itu ampuh untuk membuat Angga bangun dari tidurnya. Tika juga menyiapkan keperluan suaminya untuk kuliah.
Mereka melakukan itu sebagai seorang istri. meskipun ini hanya pernikahan kontrak, setidaknya mereka harus membuat suaminya senang akan kehadiran mereka.
Meskipun sudah seminggu menjadi istri, suami mereka tetap mengabaikan mereka, tidak ada pembicaraan apa pun. Hanya sebatas memenuhi keperluan keseharian suami.
...****************...
"Ternyata seperti ini ya menjadi seorang istri" ujar Tika menghela nafas.
"Memang gk capek sih, tapi sedikit membosankan juga. Kita harus melakukan kegiatan itu itu saja" lanjutnya.
"Ya.. memang seperti ini menjadi istri dik.. lagian juga ini hanya 1 tahun" balas Dita.
"Iya juga kak. Kita harus cepat hamil dan keluar dari pernikahan ini" ujar Tika.
"Hmmm... tapi kek mana cara cepat hamil ya, melakukan hubungan suami istri aja belum pernah" tutur Tika lemah.
"Jadi kalian belum pernah melakukan itu??" tanya Dita heran.
Dita pikir semua rencana nya malam itu yang direncanakan oleh tuan Besar Malik juga dilakukan oleh Vina dan Tika.
"Iya memang belum. Emang kakak udah ya??" tanya Vina balik.
"Udah" cengir Dita.
"Haahh!!! beneran kak kapan? kok bisa?" pekik Tika.
"Eitsss.... jangan teriak dong, malu kalau sampai didengar ibu." balas Dita sambil menutup mulut Tika.
"Hehe.. sorry sorry.." ujar Tika melepaskan tangan Dita di mulutnya.
__ADS_1
" Kapan kak Dita melakukan itu sama Abang Zi?" tanya Vina kembali. Ia masih penasaran, karena menurut yang Vina lihat mereka pasti tidak mau melakukan hal seperti itu.
"Malam pernikahan kita lah" ujar Dita santai.
"What's!! wah..,,,hebat ya Abang Zi, langsung gas,, hahahah" balas Tika seraya bertepuk tangan.
"Kok bisa kak??" tanya Vina yang masih belum percaya.
"Kok kak Vina nanya gitu?? kan bisa aja Abang Zi terpesona dengan kecantikan kak Dita" balas Tika.
"Bukan gitu Tika. Menurut pandangan kakak ya, kayaknya Abang Zi gk mau melakukan hubungan suami istri dalam waktu dekat. Mungkin membutuhkan waktu dulu" tutur Vina.
"Tapi kan melakukan nya juga terpaksa kan kak. Mungkin Abang Zi mau cepat juga keluar dari pernikahan kontrak ini" Tika melihat Vina.
"Sebenarnya kami melakukan itu juga di luar kendali dia" balas Dita.
"Maksudnya? " tanya mereka bersamaan dan menatap intens Dita.
Dita menatap kedua iparnya dan menghela nafas.
"Maksud nya.. itu rencananya tuan besar Malik, beliau yang memasukkan obat di dalam minuman yang dibawakan oleh petugas hotel malam itu. Kakak kira itu juga berlaku untuk kalian. Makanya kakak sedikit heran tadi ketika Tika bilang belum begituan" Dita menjelaskan.
"Hah!!! wah... "Tika makin terkejut.
"Terus gimana dengan Abang Zi?? dia tau kalau tuan malik yang mempunyai rencana itu??" tanya Tika.
"Enggak.. ngapain di kasih tau" balas Dita.
"Tapi kan kak.. kalau gk di kasih tau takutnya Abang Zi mikir yang tidak baik tentang kakak" ujar Vina menasehati dan di anggukan oleh Tika.
Sebenarnya Dita juga mulai merasakan nyaman jika berada di dekat Zidan tapi dia menepis semua itu agar dirinya tidak terluka di kemudian hari.
"Kenapa seperti itu kak.. kalau bg zi makin marah dengan kakak gimana dong?" tanya Vina lagi.
"Yaa itu bagus. seperti yang kakak katakan tadi biarlah pernikahan ini berjalan tanpa ada rasa agar di ujung jalan pernikahan ini kitanya gk terluka" Dita menatap kedepan.
"Tapi..." Vina ingin menyanggah tapi terputus oleh ucapan Tika.
"Betul tu kak Vina yang di katakan kak Dita, aku juga setuju. Kita harus membuat pertahanan hati. Biarkan mereka terus membenci agar pernikahan ini segera selesai." Tika memotong ucapan Vina.
Vina hanya diam tidak menanggapi jawaban Tika. Vina mulai merasakan nyaman di dekat Ryan. Ryan memperlakukan Vina dengan lembut meskipun masih juga mengabaikan nya.
"Salahkah aku mas jika aku mulai sedikit rasa dengan mu" ucap Vina dalam hati.
Sedangkan Dita hanya angguk angguk kepala mendengar tutur kata Tika.
"Ya sudah.. mari kita pergi ke dapur, sebentar lagi suami kita akan akan pulang.. " Dita beranjak dari tempat duduknya.
"Iya kak.. ayok" ucap Tika bangkit dari tempat duduknya dan menarik kedua tangan kakak ipar nya.
Mereka akhirnya berjalan menuju dapur dan mulai membantu para bibi memasak, meskipun ibu melarang mereka, tapi mereka tetap kukuh ingin membantu jadi ibu membiarkan saja.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari tiba. semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan bersama. Tidak ada percakapan diantara mereka hanya ada suara sendok yang bertabrakan dengan piring.
Selang beberapa menit, ayah memulai pembicaraan.
"Bagaimana dengan kalian ?? sudah ada tanda tanda cucuku akan datang??" tanya tuan besar sembari melihat satu satu wajah menantu nya.
Mendengar pertanyaan yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri sontak semuanya terkejut bukan main. Mereka seketika menghentikan acara makan malam.
"Ayah.. bisa itu nanti saja di tanya kan?" jawab Ryan.
"Betul tu.. Masa iya ayah baru juga nikah seminggu masa langsung hamil, yang benar saja" balas Angga menyendok nasi ke mulutnya dengan tidak berselera.
"Masa iya langsung hamil orang juga belum melakukan apapun" gumam Ryan pelan tapi masih bisa di dengar Zidan.
"Apa?? mereka belumlah melakukan itu?? jadi kejadian malam itu murni akal akalan Dita saja?" tanya Zidan dalam hati menatap kearah sang istri.
"Apa??" ujar Dita tak bersuara. Sorot mata Dita seakan menanyai tatapan Zidan ke arah nya.
Zidan tidak menjawab. Ia memilih diam tapi tidak memalingkan wajahnya yang masih setia menantap istri nya. Hingga akhirnya Tuan besar berbicara barulah Zidan mengubah pandangan nya.
"Iya.. ayah tau.. pokoknya segera hadir kan cucu cucu ku. Kalian harus bisa membuat istri kalian hamil cepat apapun caranya" paksa tuan besar.
"Iya iya" jawab Angga.
"Mulai lagi.. masih sama.. masih dengan sifatnya yang pemaksaan itu" Lanjut Angga dalam hati.
Tika memicingkan matanya kearah Angga. Angga menyadari itu dan menantap balik ke istri yang seperti keheranan ucapannya.
"Kau jangan berpikir aku mau melakukan itu" bisik Angga kepada Tika.
"Sayang.. sudah bahas itu. Lihat lah para menantu kita jadi takut melihat mu" ujar ibu.
"Kita berdoa saja supaya Tuhan secepatnya memberikan cucu kepada kita" tersenyum kearah menantu dan anak anaknya.
Para menantu menantap hangat ke ibu dan tersenyum.
__ADS_1
......................
...Para reader juga bantu doa dong biar dede onlinenya cepat bersemayam di rahim kak Dita, Vina dan Tika.... π€...