Menemukan Ibu

Menemukan Ibu
Menghancurkanmu


__ADS_3

Setelah seminggu menikah akhirnya mereka pergi dari mansion dan memulai hidup baru bersama keluarga kecilnya masing-masing.


Perpisahan mereka membuat anak anak merengek. Karena selama ini biasa bersama sekarang sudah tinggal berpisah.


Para ibu memberikan pengertian kepada anak anak nya dan akhir setelah membujuk lama barulah anak anak bisa menerima keadaan kalau sekarang mereka harus tinggal bersama orang tua masing-masing.


✨Rumah Ryan


"Pa.. bagus sekali rumahnya" ujar Syasya berbinar-binar melihat rumah baru mereka.


"Iya dong sayang.. papa membeli nya agar kalian nyaman tinggal di sini" balas Ryan mengelus rambut putrinya.


"Pasti nyaman kok pa" Syasya Mengangguk.


"Rumah ayah sama Daddy di mana?" tanya Dani.


"Rumah ayah sama Daddy tidak jauh dari sini sayang, kalian masih bisa bertemu dengan adik adik kalian. Papa sengaja membeli rumah berdekatan dengan ayah dan daddy" jelas Ryan.


"Asik.. Kakak suka kalau gitu pa" Ryan mengelus rambut Syasya.


"Tapi nanti Oma sama Opa kesepian dong di mansion" ujar Dani.


"Gk sayang.. sesekali nanti kita akan mengunjungi opa sama Oma di mansion"


"Baik pa" kedua anak itu berlarian menuju pintu rumah itu.


"Yang.. semoga kamu juga suka dengan rumah yang aku beli. Kalau kamu mau mengubahnya sesuai dengan keingananmu boleh kok sayang" ujar Ryan pada Vina.


"Iya Mas.. aku menyukai bentuk rumahnya. Nanti aku lihat lagi apa perlu aku ubah di bagian dalam nya" balas Vina.


"Iya sayang"


"Makasih banyak ya mas sudah memberi kebahagiaan untukku dan anak anak kita" ujar Vina.


"Kamu jangan begitu yang, aku melakukan semua ini kan karena kalian adalah orang yang aku sayangi" Ryan merangkul Vina.


"Ayo kita masuk" aja Ryan.


Sedangkan kedua anak nya sudah duluan masuk.


"Papa.. Kakak sangat suka dengan kamar Kakak pa.. terimakasih banyak papa" ucap Syasya memeluk Ryan.


"Sama sama sayang" Ryan membalas pelukan putrinya.


"Adik juga suka kok pa, tidak kalah bagus dengan kamar Dani di mansion" saut Dani.


"Baguslah sayang,, papa senang kalian menyukainya"


"Bagaimana denganmu sayang?? apa kamu suka dengan kamar kita tadi?"


"Suka kok mas penataan di dalam rumah ini aku juga suka. Jadi aku rasa tidak ingin mengubahnya" ujar Vina.


Ryan tersenyum. "Baiklah.. mari kita ganti baju semua nya. Kita akan makan di luar siang ini, sebab di dapur belum ada apa pun"

__ADS_1


"Nanti kita beli sekalian aja ya mas setelah makan siang"


"Iya sayang"


"Asik.. nanti kakak boleh minta es krim yang banyak dengan rasa yang beda beda ya ma"


"Boleh sayang. Ayo kita bersiap siap"


Twins D langsung berlarian ke kamar masing-masing. Mereka sudah terbiasa mandiri, jadi bersiap siap sendiri tanpa bantuan dari kedua orang tua nya.


Ryan dan Vina juga berjalan menuju kamar mereka bersiap siap untuk membersihkan diri.


"Yang... kita mandi bersama sama ya" pinta Ryan dengan senyum liciknya.


"Kamu aja duluan mas" elak Vina. Ia tau isi pikiran Ryan yang mengajak untuk mandi bersama.


"Ayok lah yang, aku ingin mandi dengan mu" ucap Ryan kembali.


"Gk mau mas, nanti kalau mandi bersama malah kelamaan. Kasian anak anak kita sudah kelaparan" balas Vina.


"Kamu kok mikir nya gitu sih, kan aku kan hanya ajak mandi sayang, gk ajak melakukan apa pun" balas Ryan dengan terkekeh.


"Ish.. mas" kesal Vina dengan penuturan Ryan, seakan membuat hanya dirinya yang memiliki pikiran kotor itu.


"Hahaha.. kita mandi bersama ya, aku janji tidak akan macam macam sama kamu" ucap Ryan kemudian dan akhirnya Vina mengangguk.


Sesampainya di kamar mandi tidak sesuai dengan perkataan Ryan yang hanya mengajak mandi bersama melainkan melakukan ritual panas di kamar mandi terdahulu sebelum mandi.


Vina hanya menghela nafas nya. Ia sudah menebak Ryan akan tetap melakukan hal itu. Ia tau betul Ryan terlalu gampang tersulut api nafsu nya jika berdekatan dengan Vina.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya kedua insan yang sudah melakukan ritualnya di kamar mandi itu keluar.


Ryan keluar dengan wajah berseri-seri bahagia. sedangkan Vina dengan raut wajah cemberut nya.


Twins D juga sudah siap dengan pakaian mereka masing-masing dan menunggu kedua orang tua nya di ruang tengah lantai bawah.


"Kenapa papa sama Mama lama sekali" gerutu Dani.


"Tunggu sebentar lagi dik.. mungkin mereka sedang bersiap siap"


"Hmm.. baiklah"


*Di kamar


"Yang.. sudah ?? ayok" ajak Ryan pada istri nya.


"Sudah" pasangan suami istri itu berjalan keluar menuju ruang tengah rumah itu. Terlihat di sana twins D sedang menunggu kedatangan mereka.


"Anak papa sudah pada siap ya" ujar Ryan.


"Sudah pa.. kami sudah siap dari tadi" sungut Dani.


"Hehe.. maaf kan papa sayang, papa tadi ada sedikit kesibukan yang membutuhkan bantuan mama mu"

__ADS_1


"Memang nya apa? apa papa sakit?"


"Iya sayang.. mama harus memberikan obatnya di tubuh papa yang sedikit sakit" ujar Ryan pura pura mengaduh kesakitan.


Vina melotot matanya agar menyudahi percakapan Ryan dan anak anaknya. Ryan terkekeh melihat ekspresi wajah Vina.


"Ya sudah.. mari kita pergi" ujar Ryan menggandeng tangan twins D.


Ryan melajukan mobilnya menuju restoran tempat mereka makan.


*Di restoran


"Apa makannya enak?" tanya Ryan pada twins D.


"Enak pa, sangat enak" balas Syasya. Dani hanya mengacungkan jempol nya ke arah Ryan.


"Baguslah.. " Ryan melirik Vina dan terlihat Vina sedang melihat ke arah lain.


"Yang.. kok kamu gk makan? kamu lihat siapa sih?" tanya Ryan.


"Eh.. iya mas,, gk ada aku hanya melihat seseorang di sana, ia terlihat seperti orang yang aku kenal. Tapi mungkin hanya mirip saja" balas Vina melanjutkan makannya.


Ryan hanya ber "o" ria mendengar ucapan Vina.


"Apa aku salah orang ya, tapi sepertinya mereka sudah mengikuti ku dari kemarin saat aku keluar dengan kak Dita. Sekarang di sini mereka mengikuti ku juga. Tapi dari bentuk tubuh nya seperti Dila, adik sepupu ku. Tapi alasan apa dia mengikutiku sampai sebegitu nya" ucap Vina dalam hati.


Ia menyudahi pikiran nya dan melanjutkan makannya agar suami dan anak-anaknya tidak curiga dengan kegelisahan Vina.


"Hmmm... sekarang ku beri waktu agar kamu bahagia, akan tiba masa nya kamu akan hancur. Aku akan menghancurkan dirimu tak bersisa, enak saja kamu bahagia sedangkan aku menderita. Seharusnya aku yang berada di posisi dirimu saat ini. Kamu tunggu saja pembalasan dari ku Vina Septia. Orang seperti kamu itu tidak berhak bahagia apa pun ceritanya" gerutu Dilla Budiman dengan mengepalkan tangannya di bawah meja restoran itu.


Dilla adalah orang yang sering mengikuti Vina semenjak ia tau Vina sudah menjadi istri dari salah satu putra Malik.


Dilla marah dengan Vina sebab bukanya menderita di keluarga Malik malah menjadi menantu di keluarga itu.


Ia akan mencari cara agar Vina hancur berkeping keping.


Ia tidak terima karena selama tujuh tahun ini ia menderita, semenjak ayah nya menjual Vina ke keluarga Malik. Keluarga nya jadi kekurangan, ayahnya tidak di terima di mana pun untuk bekerja. Sebab keluarga Malik memecat nya kemudian dan membatasi akses kerja untuk ayahnya.


Mau tak mau ia berhenti kuliah dan bekerja di klub malam untuk dapat uang banyak secara instan untuk kehidupan nya yang penuh glamor dari sang ayah.


Ia menyalahkan semua itu pada Vina. Ia menganggap Vina lah yang menjadi dalang di balik penderita yang mereka alami.


Dilla Budiman adalah anak pak Budi paman nya Vina yang merawatnya dan juga yang menjual Vina untuk di jadikan pembantu di mansion Malik tujuh tahun lalu.


...****************...


...Terimakasih banyak atas dukungan nya untuk cerita ini 😊...


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote 😉


__ADS_2