
"Saat itu aku....."
"Sudahlah, Bu. Nanti saja ceritanya. Apa kalian tidak merindukan adik kesayangan kami yang semakin cantik ini?" goda Faishal yang mencoba untuk mengalihkan perhatian semua orang.
Dia sengaja melakukannya, agar kedua orangtua mereka tidak terus-menerus diliputi oleh kesedihan. Karena hari ini adalah momen yang sangat penting sekaligus mengharukan bagi mereka.
Sedangkan Audrey yang sejak tadi terus menitikkan buliran air mata, seketika buliran bening tersebut berubah menjadi semburat merah di kedua pipinya.
"Jangan pernah menggoda wanitaku lagi, Fai! Apa kamu tidak tau, jika saat ini dia sedang malu-malu? Coba lihatlah, pipinya memerah seperti tomat yang sudah masak." cetus Reyhan, yang kini ikut menggoda Audrey.
Riki yang melihat tingkah putra-putrinya, kini hanya mengembangkan senyuman di kedua sudut bibirnya. Lalu dia pun langsung menengahi ketiganya, dan langsung melakukan pembelaan terhadap putri kesayangannya.
"Apa kalian ingin menggoda wanitaku? Apa kalian sudah bosan hidup? Huh?" cetus Riki yang kini berpura-pura menggertak kedua putranya.
Reyhan dan Faishal pun langsung terkekeh bersama, saat sang Ayah tidak ingin tertinggal untuk memperebutkan wanita muda yang saat ini berada di hadapan mereka.
"Ku peringatkan, jangan pernah berani menggoda putri kesayangan ku! Atau kalian akan berhadapan langsung denganku!" gertak Rosa sambil menatap tajam ketiga laki-lakinya.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama, rasa bahagia bercampur dengan rasa haru yang masih belum mempercayai tentang pertemuan mereka dengan sang putri tercinta.
Kimberly yang melihat kebahagiaan mereka kini justru mengerucutkan bibirnya. Karena saat ini dia mereka diabaikan oleh keempat orang dewasa tersebut.
"Turunkan Cimmy, Om!" sewot Kimberly yang masih mengerucutkan bibirnya.
Seketika tawa mereka pun langsung mereda, lalu pandangan mereka teralihkan oleh gadis kecil yang masih berada di gendongan Faishal.
"Lho, kamu kenapa, Cantik?" tanya Faishal yang saat ini merasa kebingungan.
"Turunin Cimmy!" pinta gadis kecil itu lagi.
Audrey yang sangat memahami bagaimana perangai sang putri saat sedang merajuk. Kini dia mengulurkan kedua tangannya ke arah sang putri. Namun, siapa sangka jika putrinya justru menolaknya secara mentah-mentah.
__ADS_1
"Tidak mau, Mom! Aku tidak mau di gendong oleh siapapun! Cimmy mau turun!" tegasnya lagi.
Sungguh benar-benar terlihat manis sekali saat Kimberly merajuk seperti itu. Bahkan Faishal yang menggendong gadis kecilnya, sama sekali tidak mengindahkan permintaannya.
"Om? Turunin Cimmy!"
Saat Faishal tidak segera menuruti permintaan gadis kecil itu, kini Kimberly justru memekik. Sehingga membuat pendengarannya berdengung. Jadi mau tidak mau, dia pun langsung menuruti permintaan gadis kecil kesayangannya itu.
"Cimmy Sayang?" panggil Audrey sambil mensejajarkan tingginya dengan sang putri, dengan kedua tangan terbentang, dan berharap sang putri berhambur ke dalamnya.
"No, Mom! Jangan sentuh Cimmy! Cimmy mau sendiri!" tolaknya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Semua orang yang berada di sana pun tertegun dan terperangah, saat melihat tingkah menggemaskan gadis kecil mereka.
"Oh dear, forgive mom! I'm sorry I didn't mean to ignore you, honey!" ucap Audrey dengan tatapan sendu.
Kimberly yang masih kekeuh pada pendiriannya, seketika langsung luluh dengan ucapan sang Ibu tercinta.
"Yes dear, not again. Mom promised." ucap Audrey sambil mengarahkan jari kelingkingnya kepada putrinya.
Kimberly pun langsung menyambut kelingking Audrey, kemudian senyum manisnya kembali mengembang sempurna di kedua sudut bibirnya.
Saat melihat drama antara putri dengan Ibunya, keempat orang dewasa itu hanya menyaksikan drama tersebut, dan merasa sangat terharu dengan kasih sayang diantara keduanya.
Reyhan pun langsung ikut mensejajarkan dirinya dengan gadis manis tersebut, dan disusul oleh Faishal yang tidak ingin kalah oleh kakak laki-lakinya.
"Om Reyhan juga minta maaf ya, Sayang?" ucap Reyhan sambil mengusap lembut rambut hitam tersebut.
"Om Faishal juga ya, Sayang? I apologize to you too, sweetie?" ucapnya yang tak ingin tertinggal oleh kedua kakak dan adiknya.
Riki dan Rosa pun menatap penuh haru kepada keempat orang beda usia itu. Saat ini kebahagiaan mereka terasa lengkap kembali dengan kehadiran kedua wanita beda usia tersebut.
__ADS_1
***
"Jadi mereka sudah kembali ke rumah itu? Syukurlah! Setidaknya saat ini mereka berdua akan aman di rumah itu. Rumah yang seharusnya sejak dulu menjadi tempat mereka berada." ujar Aaron saat mendengar informasi yang diberikan oleh Rider.
"Iya, Pak Aaron. Saat itu Reyhan dan Faishal langsung menjemput adik perempuannya, dan membawanya pulang di hari yang sama. Kedatangan mereka pun juga disambut dengan hangat oleh kedua orangtuanya. Bahkan mereka juga sangat menerima Kimberly dengan tangan terbuka." jelas Rider yang saat ini memberikan informasinya secara detail.
Mungkin para reader bertanya-tanya, bagaimana Rider bisa mengetahuinya?
Ya, saat ini Rider memiliki dua orang yang selalu mengawasi setiap pergerakan keluarga Wijaya. Satu orang dia tugaskan sebagai salah satu petugas keamanan di rumah itu, dan satu orang lagi dia tugaskan untuk menjadi karyawan di perusahaan Wijaya group.
Rider memang sengaja melakukannya, bukan untuk melakukan misi kejahatan. Melainkan dia ingin memecahkan kasus yang selama tujuh tahun ini, belum satu orang pun yang berhasil dalam misi tersebut.
Saat mendengar kabar bahagia dari keluarga Wijaya, akhirnya Rider pun langsung merasa lega. Karena tugas utamanya sudah selesai.
"Terimakasih atas bantuannya, Rider. Setelah ini aku akan memberikan bonus 3x kepadamu." ucap Aaron dengan raut wajah yang berbinar.
Entah mengapa, perasaan bahagia itu datang menghampirinya, saat dia mendengar kabar tersebut. Rasa tenang dan damai sedikit melegakan hatinya. Namun, semua itu juga belum sepenuhnya membuat Aaron tenang sepenuhnya.
Saat ini hatinya masih diselimuti oleh rasa bersalah, dan rasa itu belum sirna. Meskipun saat ini wanitanya sudah kembali ke rumah itu, dan tempat dimana seharusnya dia berada.
"Terimakasih, Pak Aaron. Maaf! Jika saya boleh tau, apa rencana Anda selanjutnya, Pak? Bukankah Anda saat ini juga melakukan kerjasama dengan perusahaan Wijaya Group?" ujar Aaron yang masih penasaran dengan sosok yang berada di depannya.
Meskipun dia sudah sangat lama mengenal sosok Aaron, bahkan sejak mereka duduk di bangku Universitas yang sama. Namun, sosok misterius di depannya ini, penuh dengan teka-teki dan rahasia, yang tidak sembarang orang bisa mengetahuinya.
"Entahlah. Aku juga belum bisa memikirkan bagaimana langkah yang harus aku ambil selanjutnya. Meskipun aku tau, tidak akan lama lagi mereka pasti akan mengetahuinya juga. Tetapi bukan itu yang aku takutkan, Rider......"
"Yang paling aku takutkan adalah kehilangan kembali wanita itu, dan aku tidak bisa melihat gadis kecilku lagi, Rider." jelas Aaron dengan tatapan sendu.
Rider yang saat ini mencerna setiap ucapan Boss besarnya, kini hanya menatap penuh selidik. Dia bahkan belum sepenuhnya memahami, bagaimana situasi yang sedang di hadapi oleh Bossnya.
Entah bagaimana kelanjutan dari kisah cinta sang CEO Arogan ini, hanya Othor yang tau? hihihi
__ADS_1